Bab 25: CEO yang Mendominasi dan Gadis Polos (25)
Larut malam, Jiang Shu terbangun saat mendengar suara pintu kamar rumah sakit terbuka.
Ia diam-diam menarik selimutnya ke atas agar tidak ketahuan bahwa ia sudah terjaga.
Seorang pria bertubuh kurus jangkung menyelinap masuk dalam kegelapan. Ia sempat menjulurkan kepala untuk mengintip ke arah ranjang pasien, lalu melangkah menuju ranjang pendamping tempat Jiang Shu berbaring.
Melihat itu, Jiang Shu segera memejamkan mata dan berpura-pura tidur nyenyak.
Pria itu sengaja mengeluarkan suara, lalu menatapnya lekat-lekat. Jiang Shu tetap diam tak bergerak seolah terlelap dalam. Akhirnya, pria itu merasa tenang dan melangkah menuju ranjang pasien.
Sambil berjalan, ia mengeluarkan sebuah jarum suntik dari saku jas putihnya dan perlahan menyingkap selimut yang menutupi sosok di ranjang...
"Kau ditangkap!"
Tepat saat pria itu hendak menyuntikkan jarum ke lengan orang di ranjang, sosok yang terbaring itu tiba-tiba membuka mata, melompat bangun, dan dengan sigap melumpuhkan pria tersebut serta menjatuhkan jarum suntiknya.
Detik berikutnya, lampu kamar menyala. Pria itu baru menyadari bahwa orang yang berbaring di ranjang bukanlah Tuan Besar Zhou, melainkan seorang pria bertubuh kekar. Orang-orang lain yang bersembunyi di kegelapan pun bermunculan. Pada saat itulah, Tuan Besar Zhou yang asli muncul di ambang pintu dengan dipapah oleh Zhou Lin.
Jiang Shu pun menghampiri pria yang tertangkap itu. Ia merenggut masker yang menutupi wajah pria tersebut. Benar saja, dia adalah perawat pria yang beberapa hari ini ditugaskan untuk merawat Tuan Besar Zhou.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu mencelakai orang?" Jiang Shu memungut jarum suntik yang jatuh, mengarahkannya ke lampu untuk memeriksa isinya, lalu menoleh dengan senyum manis. "Kami semua penasaran apa isi jarum ini. Bagaimana kalau kau yang mencobanya?"
Sambil berkata demikian, senyumnya menghilang. Ia mencengkeram lengan pria itu dan hendak menusukkan jarum tersebut.
"Jangan—jangan lakukan itu!"
"Aku tahu aku salah! Harusnya aku tidak gelap mata karena uang!"
Isi jarum itu pasti bukan sesuatu yang main-main. Mendengar ucapan Jiang Shu, pria itu ketakutan setengah mati dan langsung mengaku, "Tuan Muda Zhou, Zhou Jialiang, yang menyuruhku! Dia memberiku uang dalam jumlah besar agar aku mencari kesempatan menyuntikkan ini ke tubuh Tuan Besar Zhou. Setelah berhasil, dia akan memberiku uang lagi dan mengirimku ke luar negeri. Dia bilang tidak akan ada yang curiga padaku... Jadi, aku tergiur karena uang..."
"Aku sungguh menyesal! Aku tidak akan berani lagi! Mohon, berikan aku kesempatan!"
Jika saja tubuhnya tidak ditahan, pria itu pasti sudah bersujud memohon ampun.
Mendengar nama Zhou Jialiang, meski Tuan Besar Zhou sudah memiliki firasat, tubuhnya tetap gemetar. Zhou Lin segera menepuk punggung kakeknya untuk menenangkan. "Kakek, perlukah aku memanggil dokter?"
Tuan Besar Zhou tersenyum menenangkan dan melambaikan tangan, "Tidak apa-apa, aku tidak selemah itu."
Selama hampir sebulan di rumah sakit, Jiang Shu dan Zhou Lin adalah orang yang paling lama menemaninya. Terutama Jiang Shu, yang merawatnya dengan penuh ketulusan, membuat kondisi mental Tuan Besar Zhou semakin baik. Ia merasakan kebahagiaan memiliki cucu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kini, bisnis keluarga Zhou dikelola oleh Zhou Lin dan Zhou Huaijing sehingga ia tidak perlu cemas. Hari-harinya terasa bahagia layaknya kakek biasa yang dimanjakan oleh cucunya, hingga ia hampir melupakan aib keluarga yang terjadi sebulan lalu.
Sampai kemarin, Jiang Shu datang memberitahunya bahwa ada seseorang yang berniat mencelakainya.
Di masa mudanya, Tuan Besar Zhou bukannya tidak pernah menghadapi percobaan pembunuhan. Bagaimanapun, saat ia memimpin, Grup Zhou berkembang pesat dan ia menarik banyak musuh. Namun, kini ia sudah mundur dari garda depan. Di usia senja seperti ini, siapa yang masih ingin mencelakainya?
Jiang Shu memberi petunjuk bahwa orang yang berniat jahat kemungkinan besar adalah orang terdekatnya.
Tuan Besar Zhou merenung semalaman, dan pagi tadi ia menemui Jiang Shu untuk bekerja sama. Ia ingin melihat sendiri siapa yang tega mencelakainya. Sebenarnya ia sudah memiliki nama dalam benaknya, hanya saja ia tidak sudi percaya bahwa anak kandungnya sendiri ingin membunuhnya.
Di sisi lain, mendengar pengakuan pria yang menangis itu, Jiang Shu terbelalak kaget. Ia menarik napas panjang dan berkata dengan tidak percaya, "Apakah kau sadar apa yang kau katakan? Tuan Besar Zhou dan Zhou Jialiang itu ayah dan anak kandung! Lagi pula, apa buktinya bahwa Zhou Jialiang yang menyuruhmu, bukan kau yang ingin menjebaknya?"
Ia kemudian menepuk keningnya sendiri, "Ah, otakku ini, aku lupa. Kau sudah tertangkap, serahkan saja pada polisi, mereka pasti akan mencari kebenarannya."
"Ada, ada! Semua buktinya ada!"
Mendengar akan diserahkan ke polisi, pria itu hanya berpikir untuk menyerahkan diri demi meringankan hukuman. Ia pun membeberkan semuanya, "Di ponselku tersimpan akun transfer uang dari dia! Ada juga rekaman percakapan antara aku dan asistennya! Aku juga bisa bekerja sama menangkap Zhou Jialiang. Kami sudah berjanji, setelah ini berhasil, besok jam enam di pabrik pinggiran kota akan ada orang yang menemuiku untuk memberikan sisa uangnya sebelum aku pergi!"
Seorang wanita berambut pendek yang cekatan bertukar pandang dengan rekannya. Ia mengambil ponsel dari saku pria itu, menanyakan kata sandinya, lalu memeriksa isinya.
Setelah itu, mereka menyerahkan ponsel kepada Tuan Besar Zhou. Saat mendengar rekaman itu, hatinya benar-benar hancur. Dengan wajah tegang, ia berucap, "Chaomu, Xiaolin, uruslah semuanya sesuai hukum. Anggap saja aku tidak pernah memiliki anak seperti dia."
*
Keesokan harinya pukul enam pagi.
Polisi mengantar pria itu hingga tak jauh dari lokasi tujuan, lalu membiarkannya berjalan sendiri sementara mereka berjaga di sekitar pabrik tua.
Saat pria itu dengan gemetar mendorong pintu pabrik, sudah ada seorang pria berdiri di dalam. Itu adalah Yan Fei, asisten yang selalu berada di sisi Zhou Jialiang.
Melihat pria itu masuk, Yan Fei langsung bertanya, "Bagaimana, tugasmu sudah selesai? Tidak ada yang curiga bahwa itu perbuatanmu, kan?"
Pria itu mengepalkan tangannya, mengeluarkan jarum suntik kosong dari saku, dan berusaha tenang saat melapor, "Sesuai perintah, isinya sudah disuntikkan ke tubuh Tuan Besar Zhou. Asisten Yan, tenang saja, tidak ada yang tahu ini perbuatanku. CCTV koridor rumah sakit sudah kurusak."
Ia kemudian mengeluarkan setumpuk foto dari sakunya dan menyerahkannya. Foto-foto itu memperlihatkan Tuan Besar Zhou yang sedang tidur dan aksi saat jarum suntik ditusukkan ke lengannya.
Pria itu mengamati ekspresi Yan Fei sambil tersenyum canggung, tangannya meremas dengan hati-hati. "Karena urusan sudah selesai, lalu... uang yang dijanjikan Tuan Muda dan kepergianku ke luar negeri..."
Yan Fei terdiam. Siapa sangka ada orang sebodoh ini?
Jika Zhou Jialiang berani menyewa pembunuh, bagaimana mungkin ia membiarkan orang itu tetap hidup? Hanya orang matilah yang bisa menjaga rahasia.
"Tuan Muda kami bilang, dia tidak bisa membiarkanmu pergi..."
Mendengar ucapan Yan Fei, pria itu sadar mereka ingin membunuhnya untuk menghilangkan jejak. Tiba-tiba, Yan Fei melambaikan tangan dan muncul beberapa pria berbaju hitam yang memegang senjata, mendekat selangkah demi selangkah.
Zhou Jialiang benar-benar manusia keji. Orang yang tega membunuh ayah kandungnya sendiri, tentu tidak akan membiarkannya hidup.
Pria itu meludah ke tanah dengan geram, "Zhou Jialiang, kau benar-benar tidak punya hati nurani!"
Yan Fei tidak menyangka bahwa pria ini sudah ditemukan polisi dan sengaja dikirim ke sana sebagai umpan. Pada saat itu, polisi yang berjaga di sekitar pabrik segera meringkus para pria berbaju hitam dan Yan Fei sekaligus.