Bab Seratus Tiga Puluh Tiga: Putri Durhaka
"Kau, putri durhaka! Apakah kau berniat membuatku mati agar bisa menemani ibumu di liang lahat? Tenang saja, aku tidak akan membiarkan keinginanmu terkabul," bentak Qin Minghong dengan murka.
Qin Meng sudah terbiasa mendengar makian seperti itu, sehingga ia tetap tenang tanpa emosi. Ia mencibir dengan nada meremehkan, "Kalau begitu, mari kita tunggu saja. Lagipula, kau pasti akan mati lebih dulu dariku."
Itu kutukan! Itu benar-benar kutukan!
Dosa apa yang telah diperbuat Qin Minghong seumur hidupnya hingga melahirkan putri yang begitu durhaka!
Qin Minghong terengah-engah karena marah, ia nyaris pingsan. Dalam kegelapan, suara napasnya terdengar jelas. Qin Meng hanya mendengarkan dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ekspresinya sedingin es. Namun, kesepian yang menyelimutinya seolah menyatu dengan sinar rembulan, membuatnya tampak begitu murung dan sunyi.
Ming Haoran diam-diam keluar dan menyaksikan pemandangan itu. Seketika itu juga, hatinya dipenuhi rasa iba. Ia nyaris tidak mampu menahan diri untuk merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya, ingin mengatakan bahwa mulai sekarang ada dirinya, dan Qin Meng tidak perlu merasa kesepian lagi. Namun, mengingat status Qin Meng sebagai wanita yang sudah menikah, akal sehatnya masih terjaga. Ia pun menekan kembali keinginan dan dorongan di dalam hatinya. Ia berdiri diam di ambang pintu, menjaga dan mengawasinya dalam diam layaknya seorang ksatria yang melindungi putri raja.
Setelah tenang sejenak, akal sehat Qin Minghong mulai pulih. Dengan suara dingin, ia berkata, "Aku punya cara untuk menyelesaikan masalah Gu Sisi. Masalah hari ini, anggap saja kau sudah melampiaskan amarahmu. Jadi, tolong berbaik hatilah, minta Gu Beihuan untuk berhenti mempermainkanku dan temui aku!"
Jadi, dia marah seperti ini karena Gu Beihuan mempermainkannya?
Namun, apa tujuan Gu Beihuan melakukan hal itu? Apakah seperti yang dikatakan Qin Minghong, untuk membela dirinya? Tapi atas dasar apa pria itu membela dirinya? Apakah sebagai bentuk kompensasi?
Qin Meng mengerutkan kening, gurat kesedihan melintas di matanya. Tangannya yang terkulai di samping tubuh mengepal tanpa sadar. Ia bergumam pelan, "Aku tidak pernah menyuruhnya melakukan itu..."
"Kau masih mau membela diri!"
Qin Minghong membentak, memotong ucapannya. Karena marah, nada bicaranya kembali terburu-buru, "Kalau begitu, kenapa dia mempermainkanku dan membiarkanku menunggu dengan sia-sia di Grup Gu selama empat jam? Kalau bukan mempermainkan, lantas apa namanya?"
Pria itu sudah yakin bahwa dialah dalangnya, tidak ada gunanya lagi berbicara panjang lebar.
Qin Meng mencibir, "Terserah kau mau berpikir apa, itu urusanmu. Tidak ada hubungannya denganku."
"Kau..."
Qin Minghong yang sedang naik pitam hendak memaki kembali, namun Qin Meng memotongnya, "Demi Gu Sisi, aku akan meminta Gu Beihuan meneleponmu!" Setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawaban Qin Minghong, ia langsung menutup teleponnya.
Setelah memutuskan sambungan, Qin Meng berdiri diam di tempat selama beberapa menit sebelum menarik napas dalam-dalam dan menekan nomor telepon yang sudah sangat ia kenal. Orang di seberang sana seolah sedang menunggu, karena dering pertama pun langsung diangkat.
"Ada apa?"
Suara berat pria itu terdengar di telinganya, membuat mata Qin Meng seketika berkaca-kaca. Sosok yang selalu membanggakan diri sebagai orang yang kuat, saat ini tiba-tiba merasa begitu rapuh hingga ingin menangis.
Keheningan Qin Meng membuat Gu Beihuan mengerutkan kening, suaranya berubah menjadi cemas dan terburu-buru, "Qin Meng, kau di mana? Ada apa? Apa yang terjadi?"
Pertanyaannya terdengar tidak teratur, namun nada cemasnya tidak bisa dibohongi. Pria ini benar-benar mengkhawatirkannya!
"Kau ternyata masih peduli padaku ya!" Qin Meng tidak bisa menahan rasa manis di hatinya, hingga kalimat itu terlontar begitu saja.
Mendengar itu, jari Gu Beihuan gemetar hingga ponselnya nyaris terjatuh. Wajahnya yang kaku merona merah di balik kegelapan malam, dan nada bicaranya menjadi sedikit canggung, "Jadi, kau baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa, kan?"
"Hmm," jawab Qin Meng pelan.
Gu Beihuan tidak mendengar suara lain, ia pun memecah keheningan, "Ada apa denganmu? Qin Meng, apakah kau sedang mengalami ketidakadilan?"
Teringat suara isak tangis yang tertahan tadi, Gu Beihuan bertanya dengan penuh kekhawatiran. Konon, ketika seseorang sedang bersedih, jangan pernah ditanya, karena orang yang ditanya akan segera melepaskan semua pertahanannya dan berubah menjadi cengeng! Qin Meng saat ini persis seperti itu. Rasa sesak yang terpendam selama berhari-hari seolah meledak saat ini juga. Air matanya mengalir deras seperti tetesan hujan di wajahnya. Isak tangis wanita itu seketika merambat melalui kabel telepon, menyentuh pendengaran dan hati Gu Beihuan.
Dia menangis!
Dalam malam yang gelap, wajah kaku Gu Beihuan tampak muram. Suaranya yang dingin kini terdengar mendesak, "Qin Meng, sebenarnya apa yang terjadi? Jangan menangis..."
Namun, hanya keheningan yang menjawabnya dari seberang telepon. Bahkan suara isak tangisnya pun menghilang. Wanita itu selalu kuat, bagaimana mungkin dia menangis? Apakah dia mengalami ketidakadilan? Atau dalam bahaya... Pikiran buruk terlintas di kepalanya. Gu Beihuan panik, "Tunggulah di sana, aku akan segera menjemputmu!" Tanpa ragu sedikit pun, ia bangkit dari kursinya dan bergegas menuju pintu.
"Gu Beihuan, tidak perlu!"
Mendengar Gu Beihuan akan datang, Qin Meng tersadar dan segera mencegahnya. Di sini sedang ada wabah, jika dia datang dan tertular...
"Kau jangan pernah datang!" tegas Qin Meng sekali lagi.
Sementara itu, Ming Haoran yang berada di sampingnya dan hendak maju untuk menenangkan Qin Meng, seketika berhenti melangkah saat mendengar nama 'Gu Beihuan'. Ternyata dia sedang menelepon pria berengsek itu! Lagi-lagi pria itu yang membuat Xiao Meng menangis!
Memikirkan hal itu, Ming Haoran mengepalkan tangannya dengan erat. Amarah meluap di dadanya, ia nyaris menerjang untuk mengambil ponsel itu dan memaki habis-habisan pria berengsek bernama Gu Beihuan. Namun, pada akhirnya ia mengurungkan niat setelah mendengar betapa pedulinya Qin Meng terhadap pria itu.
Xiao Meng memiliki perasaan yang mendalam pada Gu Beihuan! Dengan posisi apa lagi ia harus peduli atau memaki? Ming Haoran pun diam-diam mundur kembali ke balik pintu, menyembunyikan sosoknya.
Suara parau terdengar dari telepon, jelas menunjukkan sisa tangisan wanita itu. Gu Beihuan, yang sudah melangkah sampai ke pintu kantor, menghentikan langkahnya. Meski hatinya sedikit lega, keningnya yang berkerut tidak sedikit pun mengendur. Ucapan Qin Meng tadi jelas menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terjadi di Kota Kecil Xiaoli!
Apa yang terjadi? Atau, apakah ada bahaya di sana?
Gu Beihuan semakin mengerutkan kening, ia berkata dengan suara dingin, "Kirimkan alamatnya padaku, aku akan menyusul malam ini juga."
"Sudah kubilang tidak perlu!" Qin Meng tidak menyangka Gu Beihuan akan sekeras kepala itu, ia menekankan kembali.
Mendengar itu, tatapan mata Gu Beihuan menjadi gelap. Penolakan wanita itu yang berulang kali membuatnya semakin merasa tidak tenang. Kota Kecil Xiaoli pasti bermasalah, dan Qin Meng pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya!
Memikirkan hal itu, ia tidak bertanya lagi, "Istirahatlah dengan baik, kita bicarakan sisanya besok!"
Tanpa menunggu tanggapan Qin Meng, Gu Beihuan langsung menutup telepon.
"Halo, Gu Beihuan, dengarkan aku, jangan datang..."
Sebelum ucapan Qin Meng selesai, ia hanya mendengar bunyi tut di seberang sana. Ia mengerutkan kening, merasa tak berdaya sekaligus kecewa, ia bergumam pelan, "Ah, sebenarnya apa maksud Gu Beihuan? Apakah dia marah karena aku menolaknya?"
"Cih, dasar pelit. Padahal aku melakukan ini demi kebaikannya sendiri, di sini ada wabah!"
"Seandainya mereka tidak bisa mengendalikannya dan wabah ini merebak luas, aku takut..." Qin Meng terdiam, pikirannya melayang pada laporan analisis wabah yang baru dibacanya setengah jalan. Kekhawatiran dan rasa cemas yang mendalam memenuhi matanya.
Di kantor presiden Grup Gu, Gu Beihuan mengeluarkan ponselnya dan menelepon Zhou Qi.
"Bantu aku selidiki apakah ada kejadian baru-baru ini di Kota Kecil Xiaoli."
"Selain itu, selidiki semua data hotel dan penginapan di sana, pastikan aku tahu di hotel mana Qin Meng menginap."
Setelah mendengar perintah itu, Zhou Qi segera menjawab, "Baik, Pak Gu, akan segera saya laksanakan."
Setelah menutup telepon, Gu Beihuan segera melangkah lebar menuju lift. Pintu lift terbuka, Lin Zhao yang baru saja tiba segera memberi jalan dengan hormat.
"Pak Gu, sopir sudah disiapkan, perjalanan memakan waktu sekitar empat jam." Lin Zhao terdiam sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati, "Apakah perlu saya temani?"
"Tidak perlu."
Gu Beihuan menjawab dengan cepat. Sesaat kemudian, seolah teringat sesuatu, ia berpesan, "Sikap Tao Dongchen belakangan ini agak melunak, dia mungkin akan menghubungiku kapan saja. Awasi dia, jika ada masalah, segera laporkan padaku!"
"Baik, dimengerti."
Begitu ucapan Lin Zhao selesai, lift sampai di lantai satu. Mobil sudah menunggu di depan pintu. Gu Beihuan segera melangkah lebar menuju mobil tersebut.