Bab Sembilan Puluh Delapan: Gu Bei Huan Berselingkuh
Dengan suara dingin, Ming Haoran bertanya, “Kau melihatnya sendiri?”
“Tentu saja, Direktur Gu itu sudah beberapa kali mengantar Dokter Nan. Waktu itu aku bahkan melihat Dokter Nan mengenakan jas jas milik Direktur Gu,” kata Xiao Liu dengan nada kesal. “Kalau bukan ada hubungan khusus, mana mungkin seseorang tiba-tiba memakai baju pria begitu saja?”
“Bahkan soal Dokter Nan bisa kembali bekerja juga karena Direktur Gu yang minta bantuan ke dewan direksi. Kalau tidak, masalah sebesar itu, mana mungkin Dokter Nan bisa menyelesaikannya secepat itu?”
Mendengar semua itu, wajah Ming Haoran langsung berubah muram, tatapannya tak lagi sehangat biasanya, malah tampak dingin dan tajam. “Semua itu kau dengar dari mana?”
Dalam ingatannya, Ming Haoran dikenal sebagai dokter dengan temperamen terbaik di rumah sakit kota. Namun saat ini, Xiao Liu merasa dokter di depannya itu tampak seperti iblis yang sangat menakutkan.
Wajah Ming Haoran yang suram membuat Xiao Liu ketakutan, suaranya pun mengecil, “Itu… semua orang juga membicarakannya. Lagi pula, kalau Dokter Nan itu benar-benar jujur dan bersih, kenapa orang-orang hanya membuat gosip tentang dia, bukan tentang yang lain?”
“Tak ada asap kalau tak ada api!”
Ucapan terakhir Xiao Liu seakan gema keras yang terus terngiang di benak Ming Haoran.
“Dokter Ming, apa Anda menyukai Dokter Nan?” Siapa pun yang melihat sikap Ming Haoran pasti akan curiga, dan Xiao Liu pun tak kuasa menahan pertanyaannya. Lagipula, selama ini ia selalu merasa Dokter Ming berbeda dari pria lain di departemen, dan tidak pernah punya hubungan dengan Nan Yunshuo.
Apakah citra dokter idamannya selama ini juga akan runtuh?
Wajah Xiao Liu langsung murung, ia merasa hari ini mengalami terlalu banyak hal di luar dugaan!
“Apa yang kau pikirkan? Mana mungkin aku…” Ming Haoran merasa jengkel sekaligus geli, namun dia sudah bisa mengendalikan emosinya, dan wajahnya kembali menampilkan senyum hangat seperti biasa. Ia menatap Xiao Liu dan mengingatkannya, “Mulai sekarang jangan bergosip seperti ini di rumah sakit. Kalau sampai pasien atau keluarga mereka dengar, itu akan berdampak buruk pada rumah sakit. Lagi pula, kau tak takut dimarahi?”
Melihat wajah tampan dan lembut Dokter Ming, pesona lelaki idamannya itu kembali membuat Xiao Liu tersipu dan mengangguk cepat-cepat.
Melihat itu, Ming Haoran pun tidak lagi mempersulitnya, “Sudahlah, kau lanjutkan pekerjaanmu!”
“Dokter Ming, sampai jumpa!”
Xiao Liu pun melompat-lompat gembira dan berlari pergi.
Ming Haoran menatap punggungnya yang menjauh, lalu senyumnya perlahan menghilang.
Setelah ragu sesaat, akhirnya ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon Qin Meng.
Qin Meng sedang memeriksa pasien di klinik. Hari ini baru saja menghabiskan waktu bersama Gu Beihuan, suasana hatinya sangat baik. Melihat panggilan dari Ming Haoran, ia langsung mengangkat, “Paman Kecil, ada apa?”
Mendengar suara ceria Qin Meng di ujung telepon, Ming Haoran yang semula ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba menelan kembali kata-katanya. Ia tak ingin menyampaikan kabar pahit ini padanya.
Ia bisa melihat, Qin Meng memang punya perasaan pada Gu Beihuan.
Melihat Ming Haoran terdiam lama, Qin Meng jadi khawatir, “Paman Kecil, ada sesuatu yang terjadi?”
“Tidak apa-apa,” jawab Ming Haoran sembari tersenyum.
Mendengar itu, Qin Meng baru saja merasa lega, nadanya tetap ceria, “Kukira kondisi Kakek Lin memburuk lagi. Paman Kecil, aku ini tak kuat menerima kejutan, lain kali jangan begitu lagi…”
Qin Meng terus berceloteh, dan setelah sekian lama baru sadar Ming Haoran tidak menjawab. Ia pun berhenti dan bertanya, “Paman Kecil, sebenarnya ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya tiba-tiba kangen padamu!” kata Ming Haoran dengan nada penuh kasih sayang.
“Mau makan bareng kapan, dong?” sahut Qin Meng.
“Malam ini bagaimana?” tanya Ming Haoran dengan senyum.
Sempat terdiam sebentar, lalu Qin Meng minta maaf, “Mungkin tidak bisa malam ini.”
“Malam ini aku mau akupunktur Kakek Lin.”
“Dan aku juga sudah janji dengan orang lain!” Qin Meng berhenti sejenak sebelum menambahkan.
Orang lain? Apakah dengan Gu Beihuan?
Memikirkan nama itu, dahi Ming Haoran berkerut. Ia ingin bertanya, namun sadar bahwa ia sebenarnya tidak punya hak untuk menanyakan hal itu.
“Kalau begitu lain waktu saja,” kata Ming Haoran dengan berpura-pura santai.
Qin Meng tak menyadari ada yang aneh, dan menjawab dengan tawa setuju.
Mereka sempat membicarakan kondisi Kakek Lin sebentar, lalu He Dongdong datang membawa pasien, sehingga telepon pun diakhiri.
Usai menutup telepon, tatapan Ming Haoran menjadi suram. Ia berdiri diam di tempat, berpikir lama, lalu kembali mengambil ponsel dan menelepon seorang temannya yang bekerja sebagai detektif swasta.
“Xiao Lin, bantu aku cari tahu tentang seseorang!”
Lin Qing di seberang sana langsung menjawab tanpa ragu, “Kalau Abang Ming butuh bantuan, pasti aku bantu. Siapa yang harus dicari?”
“Hubungan antara Gu Beihuan, Presiden Grup Gu, dengan Nan Yunshuo dari Rumah Sakit Pusat Kota!”
“Baik, tidak masalah!”
Setelah menutup telepon, suasana hati Ming Haoran perlahan menjadi lebih tenang.
Memberi tahu Qin Meng soal perselingkuhan Gu Beihuan tidak akan membawa kebaikan baginya, malah hanya akan menambah luka. Lebih baik ia mencari bukti kuat perselingkuhan itu, membantu Qin Meng dalam perceraian, dan memperjuangkan hak-haknya. Meski luka telah terlanjur, setidaknya masih bisa mendapat ganti rugi secara mental.
Di sisi lain, di kantor presiden Grup Gu, Gu Beihuan sedang menelepon asistennya, Zhou Qi.
“Direktur Gu, si Xiao Lin yang mengaku dari perusahaan farmasi dan menculik Nona Qin sudah ditemukan. Nama aslinya Lin Chen, salah satu pentolan preman yang sedang naik daun dari keluarga Rong, dikenal dengan panggilan Kakak Lin.”
Zhou Qi melaporkan dengan suara dingin dan serius, “Orang di balik Lin Chen, memang sesuai dugaan Anda, adalah Zhu Rongguang.”
Setahunya, seluruh Grup Zhu kini dikelola oleh Zhu Rongguang, jadi urusan ini pasti akan menjadi rumit.
Gu Beihuan menangkap makna ucapan Zhou Qi, tatapannya langsung menjadi kelam, “Selidiki, kalau Zhu Rongguang bisa berhubungan dengan preman seperti Lin Chen, pasti ada bisnis gelap di baliknya!”
Mendengar itu, Zhou Qi segera paham, urusan ini pasti akan diusut tuntas. Grup Zhu tampaknya tak akan tenang dalam beberapa waktu ke depan...
“Lalu bagaimana dengan Lin Chen?” tanya Zhou Qi.
Telepon sempat hening lama, sebelum Gu Beihuan menjawab dingin bagaikan es, “Kalau dia begitu suka memperdagangkan perempuan, maka jual saja dia juga!”
Bagaimana cara menjual seorang pria dewasa? Sudah pasti dengan tubuhnya... Memikirkan itu, Zhou Qi bergidik ngeri, tapi siapa suruh Lin Chen berani menyinggung Direktur Gu... itu sudah setimpal dengan perbuatannya.
Setelah menutup telepon, Gu Beihuan melirik jam. Sudah pukul tujuh malam.
Mengingat ada janji dengan seorang wanita, raut wajah dinginnya perlahan tersenyum.
“Paman, mau ke mana?”
Gu Beihuan baru saja keluar dari kantor, tiba-tiba bertemu dengan Gu Sisi. Gu Sisi memandangnya penuh tanya.
“Sejak kapan urusanku jadi urusanmu juga?” Suara Gu Beihuan dalam dan tegas, penuh wibawa tak terbantahkan. Gu Sisi langsung manyun, merasa sedikit kesal, “Paman, kau galak sekali. Aku cuma tanya kok!”
“Mau apa kau ke sini?”
Sudah terbiasa dengan sifat Gu Sisi yang cepat lupa pelajaran, Gu Beihuan tidak terlalu menanggapinya. Ia hanya melirik Gu Sisi dari atas ke bawah.
“Aku, kan, sudah janjian makan malam dengan Kak Wenya!”
Gu Sisi menjawab dengan wajah penuh senyum, lalu mengajak, “Paman belum makan juga, kan? Kenapa tidak ikut makan bareng kami saja? Kak Wenya kemarin bahkan sempat mengeluh, sudah lama tidak bertemu denganmu!”
Mendengar nama Tao Wenya, tatapan Gu Beihuan sejenak meredup.