Bab 3: Guru?
Berterima kasih pada guru sendiri? Apa tidak salah? Kapan aku punya guru, aku sendiri pun tidak tahu? Pasti orang ini telah salah sangka. Kalau begitu, lebih baik aku coba menanyakannya lebih dulu.
“Guru?” Sudut bibir Sun Hao terangkat, ia bertanya, “Kalau begitu, apakah kau tahu siapa nama guru ku?”
“Ini…” Raut wajah Chen Daoming berubah canggung, setitik keringat muncul di dahinya. Mana mungkin dia tahu!
“Tuan, saya tidak tahu,” jawab Chen Daoming jujur.
“Kalau begitu, pernahkah kau bertemu dengan guruku?” Sun Hao bertanya lagi.
“Tuan, saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab Chen Daoming.
“Belum pernah bertemu dan tak tahu namanya, lalu bagaimana kau bisa yakin bahwa guruku yang telah menyelamatkanmu?” tanya Sun Hao.
“Tuan, tadi guru Anda berada di kaki gunung, membantu saya menembus batas, membunuh boneka manusia. Walau beliau tak menampakkan diri, tetapi caranya benar-benar luar biasa, seperti dewa! Itu, saya benar-benar bisa memastikan!” kata Chen Daoming.
Mendengar itu, Sun Hao dalam hati mengangguk pelan. Sepertinya memang ada seorang ahli yang kebetulan lewat dan menyelamatkan anak ini. Masalah ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Tentu saja, ia tak bisa mengakuinya. Kalau nanti orang ini tahu ia berbohong, bisa-bisa ia langsung ditebas.
Sret!
Bukankah itu mati konyol namanya!
“Saudara Chen, aku tidak punya guru! Mungkin yang menyelamatkanmu itu orang lain,” ucap Sun Hao.
“Apa?” Chen Daoming tampak terkejut, berdiri canggung di tempat. Ternyata dirinya diselamatkan orang lain? Tapi kenapa malah datang ke rumah seorang manusia biasa begini, memalukan sekali. Namun, tuan di hadapannya ini berwibawa dan tampak luar biasa, jelas bukan orang sembarangan.
“Saudara Chen, kalau kau bisa menemukan tempat ini, berarti ada jodoh di antara kita. Bagaimana kalau masuk ke dalam, kita berbincang sambil minum teh?” tawar Sun Hao.
Orang bilang, sudah makan di rumah orang, tak enak hati untuk berbuat jahat. Selama anak ini sudah minum tehnya, pastilah hatinya jadi lebih lunak dan tidak akan membunuhnya.
Memikirkan itu, sudut bibir Sun Hao pun terangkat.
Minum teh? Chen Daoming menggeleng pelan dalam hati. Bagi seorang kultivator, setelah mencapai tahap penyaluran qi, ia sudah tak lagi menghirup makanan duniawi, begitu pula dengan teh dunia biasa. Apalagi dirinya sudah mencapai tahap pondasi. Namun, karena sudah mengganggu tuan rumah, ia tak enak hati menolak. Minum secangkir lalu pergi, itu sudah cukup.
“Terima kasih, Tuan!” Chen Daoming membungkuk memberi hormat.
“Silakan!” Dengan sambutan hangat Sun Hao, mereka berdua pun masuk ke dalam halaman.
Di halaman depan, terdapat sebuah kolam. Daun teratai hijau tampak segar berkilauan. Bunga-bunga teratai berdiri anggun, bagaikan gadis-gadis pemalu dengan wajah merona.
“Ini baru bulan ketiga, kok sudah bermekaran bunga teratai?”
“Bagaimana mungkin?” Melihat kolam penuh bunga teratai itu, Chen Daoming tampak terkejut. Reaksi Chen Daoming itu tak luput dari pengamatan Sun Hao. Sudut bibir Sun Hao melengkung, menampakkan sedikit rasa bangga. Kemampuannya dalam bercocok tanam telah mencapai tingkat tertinggi. Kolam teratai ini bisa ia buat bermekaran sepanjang waktu, tak pernah layu.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di depan sebuah paviliun. Paviliun itu menjulang setinggi tiga puluh meter, laksana istana langit yang berdiri megah, membuat siapa pun yang memandangnya merasa kecil dan segan. Di kiri depan paviliun, ada dua pohon sakura yang sedang bermekaran, berpadu dengan bunga teratai, menciptakan pemandangan yang indah.
Di bawah pohon sakura, ada sebuah pendopo. Di dalamnya, terdapat sebuah meja teh dan beberapa kursi. Sun Hao mengajak Chen Daoming duduk di pendopo itu.
“Saudara Chen, silakan!”
“Terima kasih, Tuan!” Chen Daoming duduk dengan hati-hati, wajahnya tampak tegang. Ia sempat melirik ke arah aula besar itu, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Aula itu begitu megah, laksana istana para dewa, membuat siapa pun yang berdiri di depannya merasa tak berarti.
“Seorang manusia biasa, bisa tinggal di tempat seperti ini!” “Luar biasa!” “Sepertinya tuan muda ini pastilah berasal dari keluarga besar!” Chen Daoming membatin.
“Saudara Chen, tunggu sebentar!” Sun Hao pun mulai menunjukkan keahliannya dalam meracik teh. Ia mencuci tangan, memanaskan teko, membilas daun teh, lalu menyeduhnya... Seluruh proses itu dilakukan dengan cekatan dan penuh keanggunan. Di kehidupan sebelumnya, ia pasti sudah menjadi master teh.
Tak lama kemudian, tehnya sudah matang. Aroma teh yang harum semerbak memenuhi udara. Hanya dengan menghirupnya saja, tubuh langsung terasa segar dan ingin segera mencicipinya.
Teh apa ini, kok wangi sekali? Ingin sekali meminumnya. Chen Daoming menatap gerak-gerik Sun Hao, matanya tak berkedip.
“Ayo... ayo, silakan minum!” Sun Hao menyodorkan secangkir teh ke hadapan Chen Daoming.
“Terima kasih!” Chen Daoming mengambil cangkir itu dan menyesap sedikit.
“Duar!” Seolah-olah petir menyambar di atas kepalanya, membuatnya tak bisa tenang dalam waktu lama.
“Ini... ini...” Ia begitu terkejut sampai tak bisa bicara, wajahnya penuh keterpukauan.
Seteguk teh itu membawa aliran aura spiritual yang luar biasa pekat, berputar-putar dalam tubuhnya, seolah-olah hendak merobek tubuhnya dari dalam. Chen Daoming buru-buru menenangkan diri dan mulai mengarahkan aura itu. Butuh waktu hampir setengah jam sampai semua energi spiritual itu berhasil ia bawa ke dalam dantiannya.
“Hoo...” Dantiannya membesar beberapa kali lipat. Kekuatan yang semula berada di tahap awal pondasi, kini langsung menembus ke tahap menengah.
Hati Chen Daoming bergemuruh, sulit sekali menenangkan diri. Sedikit lagi, tubuhnya bisa saja meledak. Sungguh mengerikan!
“Astagfirullah, aura spiritualnya begitu kental, teh apa ini sebenarnya?” “Seteguk ini setara dengan seratus batu spiritual kelas rendah! Bahkan, lebih mudah diserap ribuan kali dibanding batu spiritual!” “Teh spiritual seperti ini, kalau beredar di luar sana, pasti akan menimbulkan pertumpahan darah!” Semakin dipikirkan, jantung Chen Daoming semakin berdebar kencang.
“Tunggu, tuan muda ini manusia biasa, mana mungkin bisa minum teh seperti ini?” Saat ia menoleh, Sun Hao sudah menyiapkan untuk menyesap cangkir kedua. Tanpa ragu, ia langsung menenggak habis teh itu.
“Wah, benar-benar teh yang luar biasa!” Melihat itu, jantung Chen Daoming serasa mau copot. Diam-diam ia mengusap keringat dingin.
Tuan muda ini bukan manusia biasa, jelas seorang ahli luar biasa. Aura spiritual sekental ini bisa ia telan dengan mudah! Kemampuannya setidaknya sudah sampai tahap bayi roh, atau bahkan tahap dewa.
Untung saja sikapnya tadi cukup sopan. Kalau sampai menyinggung tuan muda ini, satu tamparan saja bisa membuatnya lenyap tak berbekas. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding.
“Saudara Chen, jangan melamun, ayo minum!” kata Sun Hao.
“Ya, Tuan!” Setelah sadar, Chen Daoming pun mengangkat cangkir itu dan menyesap sedikit lagi.
...