Bab 9: Su Yin Mengalami Masalah
Pada saat itu, hati Su Yin kacau balau. Ia menutup mulutnya rapat-rapat; meski rasa sakit membuatnya hampir pingsan beberapa kali, ia tetap tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Sebab ia tak tahu pasti, apakah pria yang berdiri beberapa meter darinya adalah malaikat penyelamat atau iblis yang akan menjerumuskannya ke jurang kehancuran.
Saat itu, ia sangat ingin berlari ke pelukan Fu Cisheng, menangis sejadi-jadinya, mengadu tentang segala penderitaan yang baru saja dilaluinya. Namun ia takut, kelemahannya justru akan menjadi senjata yang akan digunakan pria itu untuk melukainya.
Su Yin menggigit bibir bawahnya dengan keras, memaksa diri untuk tetap tenang. Darah menetes dari sela-sela jemarinya ke lantai, membentuk genangan kecil berwarna merah tua. Tepat ketika ia hampir kehilangan harapan untuk bertahan hidup, pintu utama vila tiba-tiba terbuka.
Seorang wanita anggun dengan penampilan menawan berlari ringan seperti kupu-kupu menuju Fu Cisheng. “A Sheng, aku sangat merindukanmu. Kenapa baru datang sekarang?” Dari posisinya, Su Yin bisa melihat dengan jelas bagaimana Gu Yurou menempel manja di pelukan Fu Cisheng.
Dari nada bicara mereka, sangat jelas bahwa keduanya sudah berjanji untuk bertemu di tempat ini. Seketika mata Su Yin meredup. Ia baru teringat bahwa vila ini adalah milik Fu Cisheng. Tak jauh dari vila, kurang dari tiga kilometer, terdapat pantai pribadi keluarga Fu. Seluruh hak pembangunan gunung dan danau di radius puluhan kilometer telah dibeli oleh Grup Fu, yang beberapa tahun ke depan akan disulap menjadi resor mewah.
Dan tujuan yang dituju oleh kelompok penjahat sebelumnya, tak lain adalah lautan luas yang sunyi itu...
Fu Cisheng sendiri pernah berkata, tak ada yang berani mencari gara-gara dengan keluarga Fu. Kecuali, jika itu memang atas kehendaknya sendiri.
Jantung Su Yin bergetar hebat. Semua teka-teki perlahan terjawab. Dalam sekejap, perasaan terhenyak karena mengetahui kebenaran dan luka mendalam karena dikhianati orang yang ia cintai menyerang bersamaan. Ia ingin menangis sekaligus tertawa, tiba-tiba merasa dirinya sangat bodoh telah dipermainkan Fu Cisheng selama ini.
Jika memang ingin membunuhnya, untuk apa harus repot-repot seperti ini? Atau... mungkinkah ia mengincar warisan Grup Su yang kini jatuh ke tangannya? Fu Cisheng bagaikan seekor singa jantan, dan Grup Su yang tengah porak-poranda adalah daging segar di depan matanya. Barangkali, sejak lama ia memang telah mengincar bisnis keluarga Su.
Ia tak boleh tumbang semudah ini, membiarkan pria itu melahap habis hasil jerih payah ayahnya. Su Yin menggigit ujung lidahnya hingga berdarah, memaksa dirinya tetap sadar. Dengan tangan gemetar, ia mengetik pesan singkat.
“Tolong selamatkan aku. Rahasia ramuan Yongan akan kuberikan padamu.”
Begitu menekan tombol kirim, tubuhnya ambruk ke lantai dengan suara keras. Suara itu menarik perhatian Fu Cisheng.
“Ada suara apa itu? Kok tercium bau amis darah?” gumam Gu Yurou.
Fu Cisheng mengerutkan kening, perasaannya tiba-tiba terasa sesak dan sakit. Ia menunduk melihat ponselnya.
Sejak Su Yin dibawa pergi, ia tak pernah mendapat kabar lagi. Ucapan tadi hanya karena emosi. Jika benar-benar terjadi apa-apa, mengingat status Su Yin sebagai mantan istrinya, mana mungkin ia tega membiarkannya sendirian?
Saat ia masih tertegun, Gu Yurou sudah menemukan Su Yin yang tergeletak tak sadarkan diri. “Aaa!” Ia menjerit ketakutan, lalu bersembunyi di belakang Fu Cisheng. “A Sheng, ada orang yang mati di sini...”
“Mati?” Dada Fu Cisheng semakin sesak. Ia memegang dadanya, lalu perlahan berjalan ke arah yang ditunjuk Gu Yurou.
Detik berikutnya, ia menatap wajah Su Yin yang pucat pasi tanpa setetes darah. Otaknya seperti dihantam petir. Telinganya mendadak tak mampu menangkap suara apa pun.
Su Yin... sudah mati?
Ia terus-menerus bertanya pada dirinya sendiri.
Barusan saja, bukankah ia masih baik-baik saja?
Bagaimana mungkin, kini terjadi seperti ini?