Bab 26: Aroma yang Dikenal

Biarkan dia Memetik Ranting Baru 1268kata 2026-03-06 08:55:32

“Tsk tsk, keponakanku, aku ini sudah melihatmu tumbuh sejak kecil, waktu ayahmu masih ada.” Pemilik Su memamerkan gigi kuning bekas rokoknya.

“Kau masih ingat kejadian waktu kecilmu?”

Mendengar ucapannya, Su Yin langsung merasa mual. Sungguh disayangkan, ia sempat mengira pria itu sahabat lama ayahnya dan kerja sama kali ini akan berjalan lancar. Tapi ternyata...

“Aku memanggilmu Paman Su sebagai bentuk hormat, dan karena kau sahabat ayahku. Tapi dengan perbuatanmu ini, apakah kau tidak takut mengecewakan dia?” Su Yin menuntut.

“Hahaha,” Pemilik Su tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon terbesar di dunia.

“Anaknya aku yang mengurus, mana mungkin dia tidak bahagia? Mungkin dia akan tersenyum di alam sana.”

“Keponakan, benar kan menurutmu?”

Belum pernah Su Yin bertemu orang setidakak tahu malu ini. Ia hendak segera meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing dan kesadarannya mulai mengabur.

Barulah ia sadar, jus buah yang diminumnya tadi ada sesuatu yang tidak beres!

“Kau... Kau benar-benar rendah!” Su Yin berpegangan pada sofa dengan satu tangan, mencoba bertahan sambil memaki.

“Hahaha, keponakan, aku sudah lama memikirkanmu.”

Pemilik Su tertawa penuh nafsu, matanya menyapu tubuh Su Yin, berhenti lama di wajahnya yang cantik.

“Tenang saja, keponakanku. Aku pasti akan memperlakukanmu dengan baik.” Pemilik Su menggosok-gosokkan tangannya, hendak mendekat.

Su Yin segera menghindar ke samping, meraih botol minuman di meja dan memecahkannya di tepian meja, mengacungkan pecahan kaca tajam ke arahnya.

“Kalau kau berani mendekat lagi, aku tak segan membunuhmu!”

Nada suara Su Yin sengaja ditegaskan, seolah masih punya kekuatan penuh. Namun di mata Pemilik Su, ia hanya tampak seperti kelinci kecil yang marah, sama sekali tidak menakutkan, justru semakin membuatnya tergoda.

“Letakkan itu! Jangan melawan percuma, lebih baik menurut saja. Siapa tahu, kalau aku senang, aku akan membantumu?”

Melihat pria itu semakin mendekat, Su Yin terus mundur ke arah pintu. Begitu melihat kesempatan, ia mengayunkan botol di tangannya sekuat tenaga ke kepala pria itu.

“Aaaargh!” Lelaki itu menjerit parau.

Darah merah segar mengalir dari dahinya. Ia meraba dahinya, amarah meluap di matanya.

“Perempuan jalang! Kau menolak baik-baik, tapi malah cari masalah!”

Selesai memukul, Su Yin yang tubuhnya terasa melayang segera berlari tertatih-tatih keluar. Seluruh tubuhnya terasa panas membara, lampu yang menyilaukan membuatnya makin pusing. Terdengar suara pria itu memburu dari belakang.

Su Yin menggigit bibir, menggunakan rasa sakit untuk tetap sadar. Ia harus pergi dari sini.

Brak!

Su Yin mendadak menabrak ‘tembok’ berdaging, aroma yang familiar memenuhi hidungnya. Pandangannya yang berkunang-kunang membuatnya tak bisa melihat jelas pria di depannya, hanya samar-samar tubuhnya terasa pernah ia lihat.

“Tolong, Pak... Tolong hubungi seseorang untukku,” lirih Su Yin sebelum jatuh ke pelukan Fu Cisheng.

Fu Cisheng sama sekali tak menyangka akan bertemu Su Yin di sini, apalagi dengan keadaannya yang tampak telah diberi obat. Melihat wanita itu terus menggelendot di pelukannya, wajah Fu Cisheng langsung mengeras.

“Direktur Fu, saya... Saya akan segera membawa dia pergi.” Pemilik Su yang belum tahu situasi sesungguhnya mengira Su Yin telah berbuat onar pada ‘sang dewa besar’ di depannya. Ia tersenyum memelas, “Maaf, Direktur Fu, saya yang salah. Seharusnya saya menjaga wanita ini baik-baik.”

“Kau memang pantas mati!” suara Fu Cisheng dingin dan berat.

Nada rendah yang sedingin es itu membuat Pemilik Su tetap mengira kemarahan Fu Cisheng karena suasananya telah dirusak oleh Su Yin.