Bab 52: Tak Boleh Ditunda Sedikit Pun

Biarkan dia Memetik Ranting Baru 1277kata 2026-03-06 08:57:03

“Nona, rumah perawatan itu direkomendasikan oleh dokter. Saat itu kondisi nyonya memang sangat buruk, jadi dokter menyarankan tempat itu kepada kami, dan segala izinnya juga lengkap. Pada saat bersamaan, Anda pun mengalami musibah, dan tak ada seorang pun di Keluarga Su yang bisa mengambil keputusan. Karena itu kami mengikuti saran dokter, dan Bibi Sun yang selalu membantu nyonya juga merasa itu pilihan yang masuk akal.”

“Dokter mana yang bisa dilacak sekarang…”

Li Yuan mengerutkan kening, memandang Jin Ran sejenak. Jin Ran menggigit bibirnya, sadar tak bisa membujuk Li Yuan, lalu keluar untuk mengusir orang-orang itu ke aula lain.

Sungai Putih menutupi langit, hujan deras mengguyur, dan di Kota Mawar Kabut, tak terhitung kaum iblis berlutut di tanah, memegang kendi air dengan kedua tangan, menadah embun paling berharga dari dunia asal para iblis.

Di saat itu, di jalanan yang tidak terlalu ramai, seorang pria gemuk menyelip di antara beberapa orang, sengaja menabrakkan bahunya ke arah Yang Hao, sementara tangannya menyelipkan sesuatu ke dalam pakaian Yang Hao.

Di depan, Luo Cheng menusuk mati seorang musuh dengan tombaknya, membuka jalan keluar. Tapi semua orang ini adalah pasukan Topi Kuning; Shifu Shang tak bisa membunuh mereka yang menghalangi jalannya. Namun hanya dalam waktu singkat, jarak antara Luo Cheng dan Shifu Shang pun melebar.

Yu Zi perlahan mengangkat kepala, menatap Gongsun Hua, bertemu dengan tatapan penuh harap dan kesungguhan di kedua matanya. Ia membuka bibir, janji yang tadinya sudah akan meluncur pun akhirnya tak terucapkan.

“Yang Hao dari Kediaman Raja Qin, ini adalah pengawalku, Qin Shubao,” Yang Hao memperkenalkan, melirik perwira muda itu.

Tong Nai mengangguk, tak berkata lagi, berjalan ke sofa ruang tamu dan duduk, lalu mengambil remote televisi dan menyalakan TV. Ia bahkan tak mengganti saluran, entah benar-benar menonton atau tidak.

Zhao Xing Shu bertubuh agak gemuk, tubuhnya yang memang tinggi besar tampak semakin perkasa. Dengan hidung pesek dan mata bulat besar, ia membawa aura kegagahan seorang jenderal.

Sebuah dorongan ringan, namun Odysseus seperti dihantam kekuatan besar, terbang cepat ke depan, meluncur rendah beberapa meter sebelum akhirnya jatuh dan meluncur di tanah, baru kemudian berhenti.

“Baiklah, jangan lupa tutup pintunya,” kata Luo Ge, tak ingin pintu terbuka lebar saat nanti ia berpakaian.

“Kalian istirahatlah dengan baik, aku tidak akan mengganggu lagi. Di kota masih ada rapat penting.” Pria itu bangkit berpamitan, aku pun ikut berdiri sebagai tanda hormat.

Jalan kegelapan menunjuk ke langit, udara seolah membeku pada saat itu. Namun pedang iblis justru seperti raksasa yang terbangun perlahan, aura kehancurannya makin kuat hingga udara pun bergetar.

Dua orang itu sangat berdedikasi, apapun cara yang Cen Kexin coba, mereka tetap tak goyah, sama sekali tak membiarkannya masuk menemui Cen Gang.

“Yang Jiahua di lingkaran kita, bahkan lebih luar biasa daripada kakaknya,” kata Ji Lian sembari menggenggam tangan Lou Lin, perlahan mengingat-ingat segala hal yang pernah didengarnya tentang pria itu, dan mencoba menyusun kata-kata agar Lou Lin bisa memahami.

Mereka pergi ke Restoran Tian Xiang. Cen Kexin pernah beberapa kali ke sana bersama Han Siyou, makanannya lumayan. Chen Feng adalah figur publik, sementara Jiang Yiwei meski sudah keluar dari dunia hiburan tetap punya banyak penggemar. Begitu turun dari mobil, kedua orang itu mengenakan topi dan menundukkan kepala, buru-buru masuk; Cen Kexin di belakang mereka merasa mereka benar-benar lelah.

Ia melirik Lin Xiaohan, yang membalas dengan anggukan lembut. Jian Si akhirnya memberanikan diri membawa Lin Xiaohuan keluar dari kamar.

Orang pertama yang maju adalah Zhuge Qianxue, dengan senyum cerah di wajahnya, sudah jelas mengapa ia begitu bahagia.

Qi Ming hanya mundur selangkah, langsung menyingkirkan dua lawan tangguh di depannya dengan gerakan sederhana dan anggun.

Adiknya, Zhong Yingqi, mendapatkan Pedang Cahaya Ungu; kedua saudari itu lahir dari satu kandungan, saling memahami tanpa kata. Ketika Pedang Ungu dan Biru digabungkan, kekuatannya semakin dahsyat.

Tampak dada Zhang Xiaofeng, begitu bersentuhan dengan senjata pusaka di tangan Lin Lulu, senjata itu langsung patah berkeping-keping, hanya menyisakan gagang pedang di tangan Lin Lulu.