Bab 16: Terima Kasih, Aku Tidak Ingin Bebek
Dengan suara lirih, Jiang Fei berkata, “Aku punya satu unit kosong di lantai atas, maukah kamu pindah ke sana?”
“Di depan tangga lantai 22 sudah dipasang pintu listrik, jadi bukan cuma aman, di sana juga bisa pakai listrik.”
Jiang Fei menatap reaksi Xiao Chuxia dengan saksama.
Xiao Chuxia awalnya terkejut, lalu wajahnya menjadi serius dan dia berbisik, “Kak, tolong jangan ceritakan ini pada siapa pun.”
“Sekarang di Taman Yulan sedang mati listrik, dan sudah menampung banyak pengungsi. Kalau mereka tahu soal ini, pasti bakal mengira kamu punya banyak persediaan, dan mungkin akan bertindak nekat.”
“Aku tak perlu pindah ke atas, siapa tahu orang tuaku pulang mencariku. Kalau mereka lihat aku tak di rumah, pasti cemas.”
Ia juga tak mau merepotkan kakaknya itu.
Sejak awal hingga akhir, Xiao Chuxia sama sekali tak memperlihatkan rasa tamak.
Jiang Fei merasa lega. “Kalau begitu, biar aku ganti pintumu.”
“Pintu listrik jauh lebih tebal dari pintu biasa. Meski tak dialiri listrik, tetap lebih aman dari pintumu sekarang.”
Jiang Fei memang tak berniat memberikan generator pada Xiao Chuxia.
Tak baik memperlihatkan kekayaan. Lagi pula, dua keluarga lain di lantai 21, tak jelas manusia atau bukan. Kalau sampai menimbulkan masalah pada Xiao Chuxia, bisa gawat.
Orang lain baik padanya, ia pun harus berbalas kebaikan. Jiang Fei selalu memisahkan dengan jelas antara baik dan buruk.
Kali ini, Xiao Chuxia tak menolak. Bersama Jiang Fei, ia menurunkan pintu listrik dan menggantinya.
Saat Jiang Fei hendak pergi, Xiao Chuxia memanggilnya sebentar, lalu membawa keluar sebuah kantong belanja bermerek mewah dari kamarnya.
“Ini gaun baru yang kubeli sebelum badai, kupikir sangat cocok untukmu, Kak.”
“Kamu cantik sekali, tak seharusnya tiap hari hanya pakai baju olahraga hitam. Nanti setelah bencana banjir ini berakhir, kamu bisa memakainya, lalu kita jalan-jalan bareng. Kamu pilih, aku yang bayar.”
Tatapan Xiao Chuxia penuh harapan.
Jiang Fei tak ingin menghancurkan harapannya, ia hanya mengangguk pelan.
Dari sudut matanya, Jiang Fei sempat melirik label harga di gaun itu, dan mengira ia salah lihat. Ia memeriksa sekali lagi. “…99.999?”
“Murah sekali, kan?” Xiao Chuxia tampak bangga.
“Hari waktu aku beli itu pas ada promo, jadi hemat beberapa ratus lagi.”
“Andai saja uang di kartuku belum habis, pasti aku sudah beli enam warna lainnya juga.”
Jiang Fei baru paham, Xiao Chuxia ternyata gadis kaya.
“Di tempatku bisa isi daya ponsel, mau hubungi orang tuamu?”
“Mau!” Xiao Chuxia dengan bersemangat mengikuti Jiang Fei ke atas.
Ponselnya bisa fast charging.
Beberapa saat saja, sudah bisa dihidupkan.
Xiao Chuxia langsung menelpon orang tuanya, tapi tak ada yang mengangkat.
Beberapa kali mencoba, hasilnya tetap sama, akhirnya Xiao Chuxia hanya bisa mengirim pesan teks.
“Orang tuaku ada di luar negeri. Semoga saja mereka tidak kena bahaya, ya.”
Jiang Fei ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Mungkin bencana ini terjadi di seluruh dunia.”
Kalau hari ini tak dikatakan, pun, Xiao Chuxia sebentar lagi pasti akan mengerti sendiri.
Wajah Xiao Chuxia memucat, ia berusaha tersenyum dan mengalihkan topik, “Aku istirahat dulu, bolehkah ponselku di-charge di sini?”
“Boleh, kalau ada telepon atau pesan masuk, aku turun kasih tahu.”
Setelah Xiao Chuxia pergi, Jiang Fei meletakkan ponsel itu di samping bantal, supaya kalau tertidur, tetap bisa mendengar.
Setelah malam melelahkan itu, akhirnya ia bisa beristirahat.
—
Hujan rintik-rintik turun selama dua hari.
Jiang Fei sudah mengembalikan ponsel yang terisi penuh pada Xiao Chuxia, tapi kabar dari orang tuanya tetap belum ada.
Xiao Chuxia jadi murung dan tak bersemangat.
Karena tak tahu harus bagaimana menghibur, Jiang Fei diam-diam meninggalkan beberapa kantong permen buah dari supermarket untuknya, lalu pergi.
Wang Si Pincang sudah mengirim kabar, janjian bertemu hari ini jam dua belas siang.
Jiang Fei mengenakan jas hujan, membawa perahu karet ke bawah.
Para pengungsi yang berdesakan di tangga kini berpencar ke lorong-lorong di lantai lain.
Tak ada tanda-tanda Li Yanping dan kawan-kawan; entah mereka sudah pergi, atau bersembunyi di suatu tempat.
Beberapa pengungsi melihat Jiang Fei, ingin ikut keluar, namun ketika teringat nasib tragis Jiang Ziming, niat itu langsung padam.
Hidup saja sudah bagus.
Tak perlu cari mati.
Jiang Fei mengisi angin perahu karetnya, lalu mendayung keluar melalui jendela kaca pecah di lantai empat.
Belasan menit kemudian.
Di taman tak jauh dari Taman Yulan, Jiang Fei menemukan Wang Si Pincang duduk di atas kapal motor tempur.
Sepertinya akhir-akhir ini hidupnya susah. Lingkaran hitam di matanya tebal, tubuhnya kurus kering, dan ia memakai jas hujan hitam, benar-benar menyerupai arwah penjemput maut.
Di sampingnya terparkir beberapa kapal tempur, diduduki anak buahnya yang bersenjata, untuk berjaga-jaga jika ada yang nekat merampok.
Jiang Fei mendayung perahu karetnya mendekat.
“Bos, ini sepuluh kilogram emas, sesuai janjiku.”
Wang Si Pincang memberi isyarat pada anak buahnya untuk meletakkan peti emas ke perahu Jiang Fei. Ia tersenyum lebar, matanya menyipit, “Aku ada transaksi menarik, mau ikut?”
“Di daerah Distrik Timur, aku punya sebuah pabrik, isinya banyak stok: panel surya, solar, selimut, bahan pangan, macam-macam, semuanya dulu aku rampas dari pasar grosir. Sekarang pabrik itu sudah dikuasai orang lain.”
“Mereka mau pindahkan barang-barang itu hari ini, aku tak tahu berapa jumlah mereka, dan tak berani bertindak gegabah.”
“Aku butuh seseorang yang bisa masuk tanpa suara, mencari tahu situasi. Mau bantu aku?”
“Nanti setelah selesai, kamu boleh pilih sepuluh peti barang apapun, dan aku pastikan kamu pulang dengan selamat.”
Sebelumnya, bos ini sudah berhasil membuat banyak anak buahnya pingsan tanpa ketahuan. Itu sudah cukup membuktikan kemampuannya.
Jiang Fei setuju.
Siapa yang menolak tambahan persediaan?
“Kalian pimpin di depan, aku di belakang saja.”
“Oke.” Wang Si Pincang menyalakan kapal tempurnya dan melaju ke kejauhan.
Jiang Fei mengayuh perahu karetnya mengikuti dari belakang, lalu segera memindahkan emas di dalam peti ke supermarket.
Sistem: [Ding—Terdeteksi emas: 10.000 gram.]
[Ding—Selamat, Tuan Rumah berhasil membuka Kunci Area 1 Lantai 2 Supermarket [Bagian Segar—Area Daging], untuk membuka Area 2 diperlukan 32.000 gram emas lagi.]
[Emas yang dimiliki saat ini: 1.000 gram.]
[Bonus tambahan: kesempatan memutar roda keberuntungan satu kali. Apakah tuan rumah ingin menggunakan?]
Terima kasih, tidak untuk saat ini.
Sekarang tak sempat masuk ke supermarket, Jiang Fei hanya bisa mengawasi dengan pikiran.
Kabut putih di lantai dua mulai menipis seperlima, memperlihatkan sepuluh lemari pendingin super panjang.
Di dalamnya berisi daging segar: babi, sapi, kambing, ayam, angsa, kelinci, keledai, rusa, dan lain-lain.
Tiap jenis daging tersedia dalam beberapa varian.
Misalnya pada lemari pendingin daging sapi, ada daging sapi kuning, sapi yak, sapi Tar, sapi Angus, sapi Wagyu, dan lain-lain.
Setiap bagian tubuh juga tersedia.
Seumur hidup, ia takkan kekurangan daging lagi!
Jiang Fei menahan kegembiraannya, lalu berkata pada sistem, “Gunakan roda keberuntungan.”
Sekalipun nanti dapat bebek lagi, suasana hatinya takkan rusak!
Setelah alunan musik aneh, sistem berkata:
[Ding—Setiap orang punya keberuntungannya masing-masing, jangan bersedih. Selamat, Anda memperoleh “Telapak 88.”]
Jiang Fei: “?”
Apa-apaan ini?