Bab 9 Aku Penghuni 2203

Bencana akhir zaman datang, aku bertahan hidup dengan mudah berkat swalayan menelan emas Uang kecil 4447kata 2026-02-09 00:58:36

“Halo! Aku mau ke pusat perbelanjaan! Antar aku ke sana! Aku kasih kalian tiga puluh ribu! Itu tiga kali lipat tarif taksi biasa!” teriak pria di luar mobil dengan suara lantang, penuh percaya diri seolah angka yang disebutnya adalah tiga juta.

Jiang Fei sama sekali tak menggubris, ia langsung menginjak pedal gas dan melajukan truk itu. Namun, di kaca spion, ia sempat melihat wajah pria tersebut.

Sekitar usia tiga puluhan, rambut cepak, dan ada bekas luka mencolok serta buruk rupa yang membentang dari tengah alis hingga ke rahang.

Zhou Lang!

Jiang Fei sangat mengingat orang ini. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah kabur dari rumah Li Yanping, lalu mencari perlindungan ke sebuah markas kecil milik pribadi.

Awalnya ia mengira akan hidup tenang, namun ternyata semua itu hanya tipuan. Orang-orang itu menggunakan janji “makan kenyang dan berpakaian hangat” untuk menipu para penyintas masuk ke markas, hanya menerima perempuan, remaja pria yang menarik, dan anak-anak.

Setelah masuk, mereka dipaksa dengan kekerasan untuk melayani setiap “pelanggan” yang datang ke markas, demi memperoleh bahan makanan. Mirip seperti tempat pelacuran zaman dulu.

Jika saja waktu itu ia tidak sempat kabur, ia pasti kehilangan kehormatannya hanya karena sebungkus roti basi.

Dan Zhou Lang adalah tangan kanan pemimpin markas itu.

Ia memandang nyawa manusia seperti sampah, mempermainkan dan merendahkan perempuan tanpa ampun. Dosa yang tak terampuni.

Sampah seperti itu, harus dicarikan kesempatan untuk disingkirkan.

Sorot mata Jiang Fei menajam, menyimpan niat membunuh.

Karena genangan air di jalan cukup dalam dan banyak rintangan tersembunyi di bawah air, Jiang Fei tidak mengemudikan truk terlalu cepat.

Meski truk itu memiliki gardan setinggi satu meter, tetap saja ia tak berani sembarangan.

Itu satu-satunya alat transportasi yang ia punya!

Beginilah getirnya jadi orang miskin.

Di sepanjang jalan, orang-orang yang melihat truk berjalan lambat mulai berteriak—

“Pak sopir! Bisa tolong berhenti sebentar, angkut saya juga!”

“Angkut aku dulu, aku bayar!”

“Lho, kok sopirnya perempuan? Ya sudah, cepat berhenti, biar aku naik!”

Jiang Fei tetap tak peduli dan melajukan truknya.

Namun di kursi penumpang, Xiao Chuxia tampak sedikit tak tega, “Kakak, kalau memang ada yang mau bayar lebih, bagaimana kalau kita angkut saja?”

“Kamu mau turun?”

Xiao Chuxia langsung bungkam.

Menyadari truk itu tetap tak memperlambat laju, orang-orang mulai menampakkan wajah aslinya—

“Tak dikasih tumpangan ya sudahlah, lagak banget bawa truk butut!”

“Dari awal aku bilang, sopir perempuan nggak bisa dipercaya!”

“Tak punya hati nurani! Hati-hati nanti bannya pecah, mampus kau!”

Cacian dan kutukan terdengar dari kejauhan. Di dalam truk, Xiao Chuxia tampak bingung, “Membantu itu kebaikan, tidak membantu juga bukan kesalahan. Kenapa mereka malah menyalahkan kita?”

Jiang Fei menjawab tenang, “Ada saja orang yang merasa dunia ini harus berputar mengelilinginya, kalau tidak, itu tak masuk akal menurut mereka.”

“Andai kita biarkan mereka naik gratis pun, mereka pasti tetap mengeluh soal kondisi di sini, bahkan mungkin akan merampas truk ini.”

“Di lingkungan yang buruk, barulah tampak sifat asli seseorang.”

Xiao Chuxia terdiam merenung.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Jiang Fei menepikan truk di sebuah gang, menjauh dari keramaian, lalu mengajak Xiao Chuxia turun.

Supermarket Segar Empat Musim terletak di dataran tinggi, ada karyawan yang rutin membersihkan genangan, sehingga keadaannya jauh lebih baik daripada di luar; air hanya semata kaki.

Penduduk sekitar hampir semuanya datang berbelanja di sana, di dalam supermarket penuh sesak seperti ikan sarden dalam kaleng.

Petugas kasir berdiri di atas meja, memegang pengeras suara untuk mengatur antrian, “Semua barang sudah ada harganya! Silakan antri dengan tertib! Jangan saling dorong!”

Xiao Chuxia yang berdiri di pintu masuk melongo, “Serius segininya? Baru hujan lebat beberapa hari, kenapa semua orang jadi seperti gila?”

Jiang Fei tak menjawab. Dengan cekatan, ia meraih dua keranjang belanja, satu diberikan ke Xiao Chuxia, lalu menariknya masuk ke dalam supermarket segar.

“Gila! Satu kantong sawi kecil seratus ribu?! Dulu tiga ribu pun tak ada yang mau! Ini apaan sih harga segini?!”

“Kalau kamu nggak mau, aku yang mau! Sini!”

“Air mineral lima puluh ribu sebotol? Sialan benar pemilik toko!”

“Ibu… di mana kamu, aku takut…”

Keluhan para pembeli bersahutan dengan tangis anak-anak kecil, terdengar jelas dan menyakitkan telinga.

Jiang Fei dengan gesit berhasil mendapatkan sekeranjang mi instan, lalu segera mundur.

Saat menoleh, ia melihat Xiao Chuxia sedang berebut dengan seorang nenek, “Ini mi kering aku yang ambil duluan! Tolong kembalikan!”

“Lepaskan! Kau tidak tahu menghormati yang tua dan menyayangi yang muda! Aduh, dadaku sakit sekali!”

Nenek itu pura-pura memegangi dadanya, mencari simpati.

Muka Xiao Chuxia memerah karena kesal, “Kamu… Tidak tahu malu sebagai orang tua!”

Jiang Fei melindungi mi instan di keranjangnya, mendekat, “Kalau tak mau kelaparan, rebut kembali.”

Setelah berkata begitu, Jiang Fei beranjak ke tempat lain.

Ia hanya bertanggung jawab mengantar Xiao Chuxia, bukan membantu sepenuhnya.

Xiao Chuxia menatap nenek galak itu, menggertakkan gigi, lalu merebut kembali mi keringnya dan membawa keranjang belanja.

Nenek itu murka, “Kembalikan! Itu punyaku!”

“Siapa yang dapat duluan, itu yang punya!” sahut Xiao Chuxia, lalu buru-buru mengejar Jiang Fei, bahkan sempat mengambil satu bungkus bihun dari keranjang si nenek.

Setelah bersusah payah mengantri dan membayar, Jiang Fei dan Xiao Chuxia keluar dengan dua kantong besar penuh belanjaan di tangan.

Xiao Chuxia masih menggerutu, “Supermarket Segar Empat Musim benar-benar merampok, memanfaatkan bencana. Biasanya cuma ratusan ribu, sekarang jadi berlipat-lipat.”

Jiang Fei menghitung saldo di kartu, tersisa sekitar lima ratus ribu. Ia sempat ragu apakah akan menghabiskan semuanya atau tidak, saat tiba-tiba melihat beberapa pria mendekati mereka.

Tangan mereka membawa besi, salah satunya bahkan membawa pisau.

Tatapan Jiang Fei langsung dingin, ia berikan semua belanjaan ke Xiao Chuxia, lalu menggenggam pisau pendek di ranselnya.

“Kakak, kenapa semua barang dikasih ke aku?”

Xiao Chuxia belum sempat paham, para pria itu sudah mengepung mereka.

Pria bertato di depan mengacungkan pisau, “Serahkan semua barang belanjaan kalian, juga barang berharga di tubuh!”

“Kalau tak mau mati, cepat lakukan!”

Wajah Xiao Chuxia pucat pasi, apalagi lokasi mereka sepi, tak ada yang bisa menolong.

Menahan rasa takut, Xiao Chuxia berdiri di depan Jiang Fei, berbisik, “Aku pernah belajar taekwondo, kamu lari saja cari bantuan, aku tahan mereka.”

Semoga ia masih ingat jurus-jurusnya!

Saat Xiao Chuxia hendak menyerahkan barang ke Jiang Fei, tiba-tiba, bayangan hitam menyambar.

Jiang Fei melesat maju, satu pukulan keras menghantam tulang pipi pria bertato.

Saat pria bertato limbung, Jiang Fei dengan cekatan mencabut pisau dan menebas bahunya.

Darah muncrat.

“Argh!”

“Kakak!” Para anak buah langsung menyerang Jiang Fei dengan besi.

Jiang Fei menghindar cepat, lalu menendang salah satu dari mereka dengan tendangan memutar yang indah.

Hanya butuh waktu sebentar, semua penyerang tumbang, pisau Jiang Fei menempel di leher pria bertato, tegas dan tanpa basa-basi,

“Kamu pasti sudah merampas banyak barang bagus, kan?”

“Serahkan semuanya.”

Pria bertato terdiam…

Dari mana muncul begal perempuan seperti ini?!

Tadinya memilih perempuan karena mudah dihadapi, bukan untuk dirampok balik!

Tapi nyawanya di tangan orang, mau tak mau ia mengalah, “A-aku… aku ambilkan sekarang!”

Tiba-tiba, suara kegirangan memotong ucapannya—

“Bos!”

Wang Pincang datang bersama rombongan.

Pria bertato langsung sumringah, ia tak sadar siapa yang dipanggil bos oleh Wang Pincang.

Akhirnya, penyelamat sudah tiba!

Pria bertato menegakkan badan, bahkan tak takut lagi pada pisau, “Perempuan sialan, tamatlah kamu! Bosku sudah datang!”

“Kuperingatkan, kalau mau selamat, lekas minta maaf. Kalau tidak, mayatmu pun tak akan ditemukan!”

Ekspresi Jiang Fei menjadi rumit.

Ia memang sering bertemu Wang Pincang.

Dua kali aksi saling rampok, selalu dengan dia.

Mengira Jiang Fei menarik pisau karena takut, pria bertato semakin jumawa, “Bos! Perempuan ini mau—”

Plak!

Wang Pincang menampar wajah pria bertato, “Kau panggil siapa perempuan sialan?!”

“Dia itu bosku!”

Pria bertato: ???

Ia teringat gosip yang diceritakan temannya beberapa waktu lalu—

“Tahu nggak, bos kita sekarang mengaku punya atasan, namanya Jiang Fei. Kalau dengar nama itu, jangan kepo, langsung saja jadi anjing setia.”

Oh.

Kini justru dia yang tamat.

Pria bertato langsung menampar dirinya sendiri, “Maaf Nona Jiang! Aku benar-benar bodoh, salah paham, tolong jangan marah! Aku mohon jangan pedulikan aku!”

Wang Pincang curiga, “Kau tadi sudah berbuat apa?”

Pria bertato, “Merampok…”

Jiang Fei menambahkan, “Barang rampasan sudah aku rebut kembali, dan semua barang yang sudah dia rampas sekarang jadi milikku.”

Wang Pincang hanya bisa terdiam.

Bosnya benar-benar suka menguras hartanya.

“Kalian, bawa semua barang rampasan hari ini ke mobil bos.”

“Termasuk yang ada di mobilku, sekalian, anggap saja kompensasi atas perbuatan tadi.”

Wang Pincang memerintah para anak buahnya bekerja.

Sembari mereka membawa barang, Wang Pincang mendekati Jiang Fei dengan senyum menjilat, “Bos, jangan diambil hati, anak buahku memang suka ceroboh.”

“Berkat Anda juga saya bisa selamat dan untung besar!”

Jiang Fei agak bingung, namun tetap tenang menanggapinya.

Wang Pincang lalu menjelaskan, “Setelah kita berpisah hari itu, saya langsung pulang, tidak ke toko. Ternyata malam itu badai menghancurkan pasar grosir, banyak yang tewas. Saya selamat berkat Anda.”

“Kebetulan, obat-obatan yang saya stok untuk Anda masih tersisa, karena hujan lebat, semuanya laku keras dengan harga tinggi. Jadi Anda benar-benar penyelamat saya! Apa pun yang Anda mau, saya akan penuhi!”

Jiang Fei mengerti.

Kambing ini bisa dipotong lagi.

“Ada emas?”

“Minimal satu ton.”

Wang Pincang terbatuk, “Bos, Anda memang tidak main-main.”

“Saya tidak biasa menimbun emas, tapi saya bisa cari. Sekarang mobilitas susah, saya hanya bisa sediakan sepuluh kilogram, itu pun butuh waktu seminggu, karena saya juga harus bertahan hidup.”

Kalau saja harga emas tak murah sekarang, ia tak berani memberi.

Anggap saja sebagai balas budi sudah diselamatkan.

Jiang Fei puas, “Kamu punya kontakku, kalau sudah dapat, kabari via pesan. Kalau tidak bisa dihubungi, kita janjian Jumat depan jam 12 siang, ketemu di sini.”

Dari hari ini sampai Jumat depan, tepat seminggu.

Wang Pincang setuju dengan mata berkaca-kaca.

Benar saja, tiap kali bertemu bos, pasti harus kehilangan sesuatu.

Pria bertato melapor, “Bos, Nona Jiang, barangnya sudah dimuat.”

Sebelum pergi, Jiang Fei mengingatkan, “Jangan lupa stok pembasmi hama.”

“Kondisi lembab sangat mudah mendatangkan serangga.”

Ini demi sepuluh kilogram emas.

Jangan sampai mati sia-sia.

Wang Pincang tertegun, mencoba memahami maksud Jiang Fei.

Sementara itu, Jiang Fei dan Xiao Chuxia kembali ke truk menuju Taman Yulan.

Xiao Chuxia masih syok.

Padahal ia sudah siap dipukuli… kok malah selesai begitu saja?

“Kakak, orang tadi memanggilmu bos, apa kamu orang dunia bawah?”

Melihat Xiao Chuxia mulai cerewet, Jiang Fei langsung tegas, “Kalau bicara lagi, turun.”

Xiao Chuxia langsung menutup mulut, matanya berbinar.

Walaupun kakak galak, tapi keren sekali!

Sampai di Taman Yulan, Jiang Fei mencari tempat baru untuk menyembunyikan truknya, “Kamu naik duluan, aku mau bereskan barang.”

Soal supermarket menelan emas, tak boleh sampai ada yang tahu.

Tiba-tiba, Jiang Fei melihat kantong belanja besar.

“Kamu sudah menyelamatkanku hari ini, jadi ini buatmu.”

“Aku pergi ya, Kak!”

Belum sempat Jiang Fei bicara, Xiao Chuxia sudah kabur membawa kantong belanjaannya, takut akan ditolak.

Jiang Fei menatap barang yang tertinggal di kursi, sejenak terdiam.

Pengalaman dua kehidupan membuatnya sulit percaya pada orang lain.

Ia tak terbiasa dengan kebaikan Xiao Chuxia.

Ia juga tak percaya ada orang yang benar-benar tulus.

Xiao Chuxia pasti tak tahu, betapa pentingnya barang-barang ini kelak.

Jiang Fei mengumpulkan semua barang ke gudang supermarket, lalu turun untuk memeriksa barang di bak truk.

Sepuluh kotak air mineral, sepuluh kotak mi instan, tujuh kotak sayur asin, lima kotak buah, lima bungkus rokok mahal, tiga kotak Maotai, dan bir.

Lumayan.

Hari ini tidak sia-sia keluar rumah.

Jiang Fei memindahkan semuanya ke gudang supermarket, lalu naik ke atas.

Begitu sampai di lantai dua puluh dua, ia melihat seseorang berdiri di depan pintu apartemennya.

Jiang Fei refleks menggenggam pisau pendek di ransel, namun orang itu berbalik.

Cahaya hangat lorong jatuh miring di wajahnya, menyorot alis mata yang indah dan tampak samar.

“Halo, saya penghuni 2203, nama saya Lu Yu.”