Bab 36 Bibi, apa kau sedang begitu lapar sampai bingung?
Banyak rintangan di bawah air yang harus dihindari agar perahu karet tidak robek, ditambah lagi harus waspada terhadap nyamuk beracun dan ular air. Perjalanan yang biasanya hanya setengah jam, kini memakan waktu lebih dari satu jam bagi Jiang Fei dan yang lainnya untuk tiba di alun-alun pusat.
Untuk mencegah perebutan barang bantuan atau kerusuhan, pihak berwenang menempatkan petugas bersenjata di lokasi tersebut.
Perahu karet hijau tentara dan kapal cepat tersusun rapi dua baris dari pintu masuk alun-alun hingga ke Hotel Keberuntungan yang terdekat, memandu para warga yang datang.
Kelompok penyintas pertama sudah mulai menerima bantuan di dalam hotel. Jiang Fei dan tiga rekannya termasuk yang paling cepat dari gelombang kedua.
Seorang tentara di pintu masuk berkata, "Tempat pengambilan bantuan ada di lantai empat Hotel Keberuntungan."
"Kalian bisa memarkirkan perahu karet di depan hotel, nanti akan ada yang mengantar naik untuk antre."
"Terima kasih," jawab Jiang Fei, lalu mereka mengayuh menuju Hotel Keberuntungan.
Saat melewati patung di alun-alun, Jiang Fei dan Xiao Chuxia tanpa sadar mendongak.
Patung itu berupa burung merpati putih raksasa, lambang perdamaian dan kebebasan. Kini tubuhnya terendam air, hanya kepala yang seolah merindukan langit tampak di permukaan, seperti sedang berjuang melepaskan diri dari belenggu yang menahan sayapnya.
Xiao Chuxia menghela napas, "Entah bagaimana nasib Paman Zheng dan yang lain..."
"Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing," ujar Jiang Fei, tak mau lagi memikirkan urusan komplek satu. Ia memilih sudut dekat dinding, membantu Lu Yu menambatkan perahu, lalu masuk melalui pintu masuk lantai tiga yang disediakan resmi.
Beberapa tentara berjaga dengan senjata di depan meja panjang. Di atas meja terdapat buku catatan.
"Silakan tunjukkan KTP untuk didaftarkan," kata mereka.
Jiang Fei dan ketiga rekannya satu per satu mengeluarkan KTP, mengisi data, lalu diantar naik.
Di dalam hotel sudah disemprot disinfektan, tak ada nyamuk atau serangga beracun.
Di koridor lantai empat, para penyintas berbaris menempel dinding. Di setiap lima jendela, berdiri seorang tentara menjaga ketertiban.
"Tempat ini aman, kita bisa melepas masker dan menghirup udara segar," ujar Jiang Fei pada Xiao Chuxia dan dua lainnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara penuh kebencian, "Dasar perempuan jalang!"
Li Yanping, yang kini jauh lebih kurus, berdiri dua orang di depan mereka. Lehernya terikat syal merah menyala, wajahnya penuh bisul dan bekas garukan, membuat penampilannya amat mengganggu.
Di depannya berdiri Jiang Zhengkang, membawa kantong plastik kumal, kulit yang tampak pun penuh bisul dan bekas gigitan serangga.
Dibandingkan keduanya, Jiang Zixuan tampak jauh lebih baik. Ia mengenakan pelindung buatan sendiri, hanya ada dua atau tiga bisul kecil di wajahnya, jelas terlindungi oleh Li Yanping dan Jiang Zhengkang.
Jiang Fei agak terkejut.
Keluarga bibi masih bisa bertahan juga rupanya.
Tatapan Li Yanping pada Jiang Fei penuh rasa benci dan dendam. "Zi Ming mati kena infeksi gara-gara kamu! Puas sekarang?!"
"Bibi belum menyusul sepupu ke alam sana, mana mungkin aku puas?" jawab Jiang Fei tenang, tanpa sedikit pun rasa bersalah, membuat Li Yanping makin geram ingin mencakar wajah bersih gadis itu.
Namun teringat pernah dipukuli habis-habisan, Li Yanping jadi ciut. Mendadak ia mendapat ide, lalu berteriak pada tentara yang berjaga beberapa langkah jauhnya, "Pak, saya mau melapor! Ada pembunuh di sini!"
Tentara itu mendekat, "Ada apa?"
Li Yanping langsung berkata, "Dia membunuh anak saya! Cepat tangkap dan tembak dia!"
Xiao Chuxia dan yang lain hendak membela, tapi Jiang Fei menahan.
Jiang Fei menampilkan ekspresi bingung, "Mana mungkin aku membunuh sepupuku sendiri?"
"Bibi, apa Anda kelaparan sampai hilang akal?"
"Segala tuduhan harus pakai bukti. Jangan karena tak suka aku, lalu menfitnahku."
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca.
Sementara Li Yanping terlihat makin beringas.
Melihat Jiang Fei berpura-pura menangis, Li Yanping langsung menarik seorang pria di belakangnya, "Kamu penghuni Blok A Perumahan Yulan, kan? Katakan, apa Jiang Fei pernah membunuh orang?"
Pria itu menepis tangan Li Yanping dengan jijik, "Tak tahu, jangan tanya aku."
Tak putus asa, Li Yanping kembali mencari saksi lain.
Namun semua orang diam atau menjawab tidak tahu.
Mereka hanya ingin segera menerima bantuan dan mengisi perut, tak mau ikut campur. Lagi pula, mereka memang tak pernah melihat Jiang Fei membunuh, hanya sering memukul dan menyiksa orang.
Menyadari tak ada yang membelanya, Li Yanping hampir gila, "Kalian takut apa?! Ada pemerintah di sini! Jiang Fei mana berani berbuat sesuatu?!"
"Bu, kalau tak bisa membuktikan gadis ini membunuh, harap tenang dan jangan mengganggu ketertiban," ucap tentara, lalu kembali ke posnya.
Li Yanping menahan amarah, hendak kembali ke barisan, tapi pria tadi menghalangi.
"Kamu sudah pergi, tempat ini milikku. Silakan antre lagi dari belakang."
Takut ditegur tentara, Li Yanping melotot marah, tapi akhirnya menyalip ke depan Jiang Zhengkang.
Beberapa penyintas yang baru datang dan mengantre paling belakang tak terima melihat itu.
"Heh, kok bisa-bisanya nyerobot antrean?"
Li Yanping menjawab galak, "Suamiku berdiri di sini, apa salahnya aku berdiri di depannya?!"
Kali ini baik yang di depan maupun di belakang tak bisa menerima.
"Kalau semua kayak kamu, ngapain kita antre? Mending semua langsung ke depan ambil bantuan."
"Semua di sini juga lapar, bukan cuma kamu. Apa kamu buru-buru mau mati biar cepat selesai?"
"Punya suami bukan berarti bisa seenaknya. Sungguh tak tahu aturan."
"Pak, ada yang nyerobot antrean! Merusak aturan!"
Mendengar ada yang melapor, Li Yanping jadi takut, "Ya sudah, antre lagi juga tak masalah! Ngapain pada ribut?!"
Xiao Chuxia nyeletuk, "Tapi kamu yang paling ribut."
Ling Zhaorui menimpali, "Udah jelek, nggak tahu aturan pula."
Li Yanping geram, "Kalian ini!"
"Cukup, Ma!" Jiang Zixuan tak tahan lagi, menarik Li Yanping ke barisan paling belakang.
Jiang Zhengkang pun mengikuti dengan lelah.
"Ma, diamlah sebentar, kalau pemerintah usir kita, kita tak dapat apa-apa!"
Li Yanping terpaksa menahan diri, dalam hati terus mengutuk Jiang Fei.
Jiang Zixuan melepaskan tangan ibunya dengan jijik, lalu melirik wajah mulus Jiang Fei di depan, matanya penuh kebencian.
Kenapa Jiang Fei tidak pernah digigit nyamuk beracun?
—
Dua jam kemudian, giliran Jiang Fei menerima bantuan.
Setelah memverifikasi data, petugas memberikan sebuah kotak kecil.
"Di dalam ini ada satu set pelindung wajah, satu kotak obat anti-inflamasi, satu kotak obat pengusir serangga, dua botol air mineral, tiga bungkus biskuit kompresi, tiga bungkus pembalut. Silakan kembali dua hari lagi untuk pengambilan berikutnya."
Jiang Fei mengucapkan terima kasih dan menerima ransel itu.
Pihak berwenang sebenarnya sudah membuat "daging olahan", namun belum dibagikan, mungkin ingin menyimpannya untuk saat darurat. Bagaimanapun, tak semua orang bisa menerima makanan dari bangkai serangga dan tikus.
Melirik papan pengumuman di samping, Jiang Fei membaca:
"Area air mancur di Alun-Alun Pusat akan dibuka khusus besok siang sebagai tempat bebas transaksi bagi warga yang membutuhkan."
Barangkali ia bisa memperoleh emas di sana.
Jiang Fei memutuskan untuk datang besok.
Sebelum pergi, ia sempat bertatap muka dengan Li Yanping dan Jiang Zixuan yang memandangnya penuh dendam, lalu tersenyum sinis pada mereka.