Bab 7 Musibah dan Fitnah
Su Wan sama sekali tidak memedulikan urusan di luar jendela, pikirannya hanya tertuju pada kue-kue manis di hadapannya. Setelah menghabiskan semua camilan di halaman, perutnya terasa kenyang, sinar matahari hangat, dan suasana hatinya pun sangat baik. Ia pun memutuskan untuk kembali tidur siang, sambil menarik Su Luo untuk menemaninya.
Sebelum tidur, ia masih sempat berpesan pada Xiao Sang dan Xiao Shen agar mengawasi keadaan di halaman. Namun ketika ia terbangun, yang membangunkannya adalah teriakan cemas dari Xiao Sang—ternyata benar-benar telah terjadi sesuatu.
Setelah Su Ling meninggalkan meja, ia merasa kepalanya pusing dan akhirnya tertidur. Entah bagaimana, seseorang membantunya ke sebuah kamar di kebun persik untuk beristirahat. Tidak jelas apa yang terjadi, tiba-tiba saja seorang pria muncul di dalam kamar itu. Ketika orang-orang menemukannya, mereka berdua dalam keadaan pakaian berantakan dan berpelukan.
Pria itu hanyalah seorang berandalan dari ibu kota, mulutnya tak henti-hentinya mengaku cinta mati pada Su Ling. Kini ia sudah ditangkap dan dikurung.
Hati Su Wan terasa dingin. Sejak semula ia memang telah memerintahkan orang untuk mengawasi Su Ran dan Su Fu, agar kedua orang itu tidak berbuat macam-macam. Ia sendiri pun sangat berhati-hati, bahkan duduk satu meja dengan mereka saja ia enggan. Selama ini ia mengawasi dengan saksama, melihat mereka saling bertengkar dengan sengit, namun tak pernah sampai berbuat kesalahan besar. Baru saja ia merasa bisa sedikit tenang dan tidur, malapetaka pun terjadi.
Jika sesuatu yang bahkan ia tak bisa duga ini terjadi, pasti ada dalang yang luar biasa di balik semua itu!
“Nona, cepatlah bangun! Tuan Muda juga sudah kembali. Kali ini masalahnya...” Suara Xiao Sang tercekat oleh tangis, “Saat Tuan Muda kembali dan menginterogasi pria itu, dia malah mengaku bahwa Nona yang memberi uang dan memerintahnya melakukan semua ini!”
Su Wan melongo, berkedip dua kali, agak kebingungan, “Apa katamu?!”
Kapan urusan ini bisa menyeret-nyeret namanya?
Dalam cerita aslinya, tokoh utama memang terkena getah dari kejadian ini dan akhirnya tewas. Awalnya ia kira dirinya sudah berhasil menghindarinya, bisa hidup dengan baik, tapi tak disangka masalah ini tetap saja menyeret dirinya!
“Benar, Nona!” Xiao Sang hampir menangis sesenggukan, “Beberapa hari terakhir ini Nona menyuruh Xiao Shen sering keluar rumah, bukan? Pria itu menunjuk Xiao Shen yang mencarinya dan mengatakan ia menerima seratus tael perak, dan jika berhasil akan diberi seratus tael lagi.”
Su Wan terduduk lunglai di ranjang, hatinya terasa dingin dan hampa.
Bodoh sekali kalau masih belum sadar ada yang memang ingin menjerumuskannya. Jelas ini semua sudah direncanakan dengan sangat matang!
Su Wan menggigit bibirnya, lalu segera berdiri, “Bawakan baju untukku, aku harus segera ke sana.”
Xiao Sang tak berani banyak bicara, dengan tangan gemetar ia membantu mengenakan pakaian dan mantel luar untuk Su Wan, lalu mereka bergegas menuju ruang utama.
Sepanjang perjalanan, Su Wan mengerutkan kening, berpikir keras siapa yang ingin mencelakainya di rumah ini.
Kakek dan neneknya adalah keluarga kandung, meskipun tidak suka padanya, tak ada alasan ingin mencelakainya. Ayahnya juga ayah kandung, tentu tak akan merugikan dirinya. Ibu Li... Ibu Li juga bukan orang jahat, selama bertahun-tahun tidak pernah menyakitinya, tak ada alasan tiba-tiba bertindak sekarang.
Lagipula keluarga Li hanya pedagang, walaupun belakangan mendapat gelar pedagang istana, mereka tetap tak berani macam-macam karena keberadaan Keluarga Adipati Penjaga Negara.
Apalagi, di waktu yang sangat genting ini namanya ikut terseret... Sebenarnya sejak awal tokoh utama dalam cerita selalu rendah hati, setelah dirinya masuk ke cerita ini ia jadi makin tidak menonjol. Saudara-saudara di rumah pun tak ada yang ia sakiti, tak mungkin ada yang tiba-tiba ingin mencelakai dirinya, kecuali ada keuntungan besar yang bisa didapat.
Jika ia celaka, siapa yang akan diuntungkan?
Satu, Su Ran. Jika reputasinya rusak, kelak tak mungkin bisa menikah dengan Pangeran Zhao, Adipati Jin Ning pasti akan mencarikan suami seadanya untuk menyingkirkannya. Ini mirip dengan cara Su Ran dulu menjerumuskan Su Fu.
Yang lain, Su Fu. Ia teringat tatapan Su Fu padanya hari itu, tiba-tiba hatinya merinding.
Su Fu adalah orang yang hidup kembali, dalam ingatannya, di kehidupan pertama ia menikah dengan Putra Mahkota sebagai selir meski ditentang keluarga, lalu menarik keluarganya membantu Putra Mahkota naik takhta. Namun setelah berhasil, Putra Mahkota justru mengabaikannya, memberinya racun, menikahi Su Ran sebagai permaisuri, dan memusnahkan seluruh keluarga Su.
Di kehidupan itu, Su Wan tidak cepat mati, ia memang menikah dengan putra kedua Pangeran Zhao, Zhao Mingyan, tapi nasibnya singkat—wafat saat melahirkan beserta bayinya. Setelah itu, putra sulung Pangeran Zhao meninggal, putra kedua naik menggantikannya. Saat Putra Mahkota naik takhta, Zhao Mingyan sudah menjadi Pangeran Zhao yang berkuasa penuh, bahkan sang Kaisar sendiri harus mengalah.
Setelah Su Fu hidup kembali, tokoh utama sudah mati lebih awal. Saat itu, keluarga Pangeran Zhao ingin menjalin hubungan dengan keluarga Adipati Jin Ning. Su Fu sejak awal sudah mengincar Zhao Mingyan, yang kelak jadi penguasa besar, berusaha keras merebut hatinya, menjadi wanita yang paling dicintainya. Akhirnya mereka berdua bersama-sama membantu seorang kaisar muda naik takhta, dan Pangeran Zhao menjadi wali penguasa, satu-satunya orang terkuat di istana.
Su Fu mengincar pernikahannya, itu masih masuk akal. Selama reputasinya hancur, keluarga Pangeran Zhao pasti tak akan menerima dirinya.
Lalu tentang sual Su Ling... Su Ling adalah saudari tiri Su Fu, di kehidupan pertama sering membuat Su Fu kesal. Ia anak selir, jadi sejak awal sudah tak disukai Su Fu, bahkan berharap Su Ling mati. Merusak reputasi dan perjodohan Su Ling adalah hal sepele.
Jika dihitung, Su Fu lebih mencurigakan daripada Su Ran. Musuh terbesar Su Ran adalah Su Fu, kalaupun ingin bertindak, pasti menyasar Su Fu, tidak akan menyeretnya yang sudah bertunangan.
Setelah menata semua dugaan itu, Su Wan merasa dingin sampai ke tulang.
Sungguh ia tak mengerti, apa sebenarnya dendam antara dirinya dan Su Fu. Mereka adalah sepupu kandung, hanya karena mengincar pria yang sama, tega ingin menghancurkan hidupnya dan merebut perjodohan itu.
Kalau bicara terus terang, meski ia gagal menikah dengan putra kedua Pangeran Zhao, keluarga Pangeran Zhao pun tak pernah menunjukkan niat melanjutkan perjodohan dengan keluarga Adipati Jin Ning! Belum tentu akan jatuh padanya juga.
“Nona, kenapa berhenti?” tanya Xiao Sang dengan cemas, “Apa kaki Anda terkilir?”
“Tidak.” Su Wan menggeleng, menarik napas berat. Ia merasa dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang tertahan, mau dikeluarkan tak bisa, mau ditelan juga tidak bisa—sangat menyakitkan.
Beginikah rasanya menjadi putri keluarga bangsawan?
Ia merasa sangat tertekan, lebih baik hidupnya yang dulu, meski miskin tapi tidak ada yang berusaha mencelakainya.
“Ayo, kita lanjutkan.”
Xiao Sang mengikuti Su Wan ke aula utama. Saat ini, semua anggota keluarga yang mungkin kembali sudah berkumpul. Adipati Jin Ning dan Nyonya Wang duduk di kursi utama, di sisi mereka ada keluarga besar dan keluarga kedua. Keluarga ketiga hanya diwakili Nyonya Li beserta Su Luo dan Su Mu.
Su Ling duduk di kursi sambil terus menangis. Ketika melihat Su Wan masuk, ia menatap dengan penuh kebencian, lalu hendak menerjangnya. Namun Su Fu buru-buru memeluknya erat, membujuk lirih, “Kakak Tiga, tenanglah... Masalahnya belum jelas, belum tentu Adik Enam yang melakukannya!”
Rambut Su Ling agak berantakan, namun ia sudah tidak peduli. Ia benar-benar ingin mencabik-cabik Su Wan. Ia sudah bertunangan, namun karena pihak pria sedang berkabung, pernikahan baru diadakan tahun depan. Jika calon suami tahu kejadian hari ini, pasti tidak akan mau menerima dirinya.
Orang yang telah menghancurkan hidupnya itu, bagaimana mungkin ia tidak membencinya? Rasanya ingin memakan daging dan meminum darahnya.