Bab 17: Mengandung
“Tan Yao, kegiatanmu hari ini selesai jam berapa? Aku ingin menjemputmu dan merayakannya!”
Pagi-pagi sekali, Tan Yao baru saja tiba di lokasi acara ketika ia menerima telepon dari Jiang Yin. Ia tahu tentang perjanjian satu minggu Tan Yao dengan Sang Bos Besar, dan juga tahu kalau hari ini adalah hari terakhir.
“Kira-kira jam empat atau lima sore!” Kali ini Tan Yao tidak menolak, karena ia memang perlu sedikit bersantai. Dari pengamatannya selama beberapa hari ini, ia menyadari bahwa meskipun Jiang Yin tidak mungkin menjadi pacarnya, namun pria itu adalah teman bicara yang sangat baik.
“Baik!” Jiang Yin tidak banyak bicara, setelah itu langsung menutup telepon.
Tan Yao pun mulai sibuk di dalam aula. Pukul sebelas siang, para klien mulai berdatangan. Dengan senyum di wajah, Tan Yao menyapa para tamu yang hadir, meski dalam hati ia merasa tidak nyaman harus berpura-pura ramah. Namun ia hanya bisa mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini adalah yang terakhir kalinya, dan berusaha agar senyumnya tidak luntur.
Tepat pukul dua belas, jamuan resmi dimulai. Lu Xiangyuan sebagai Bos memberikan sambutan, lalu Tan Yao selaku Direktur Pemasaran mengumumkan skema baru. Para tamu yang hadir mendapat keuntungan, sehingga mereka sangat senang, lalu acara dilanjutkan dengan santapan mewah.
Tan Yao baru saja akan duduk menikmati makan siang gratis terakhir dari perusahaan, namun sebelum makanan sampai ke mulut, dia mendengar keributan di meja sebelah. Tidak ingin segala upayanya selama ini sia-sia, Tan Yao segera meletakkan alat makannya dan berlari untuk melerai. Namun ia tetap terlambat satu langkah, karena ketika ia sampai, kedua klien itu sudah saling pukul.
“Kedua Bapak, mari kita bicarakan baik-baik, jangan bertindak kekerasan,” Tan Yao mencoba menengahi sambil menarik kedua orang yang sedang bergulat. Namun ia lupa bahwa pukulan tidak mengenal sasaran. Dalam usahanya melerai, entah kaki siapa yang melayang tepat mengenai perut Tan Yao. Seketika perutnya terasa seperti disayat pisau, ia tidak sanggup bergerak lagi.
Petugas keamanan hotel segera datang melerai kedua tamu yang berkelahi, dan baru saat itu seseorang menyadari Tan Yao sedang meringkuk kesakitan di lantai.
“Ada apa dengan Manajer Tan?” Orang-orang segera mengerumuninya, namun Tan Yao sudah kesakitan hingga tak bisa bicara, keringat dingin membasahi dahinya.
“Darah... Manajer Tan, Anda berdarah!” Entah siapa yang berteriak histeris saat itu.
Pandangan Tan Yao mulai mengabur karena rasa sakit yang menusuk. Saat ia merasa dirinya hampir mati, tiba-tiba seseorang mengangkat tubuhnya. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat wajah orang itu—ternyata Lu Xiangyuan.
Saat Tan Yao sadar kembali, ia sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Baru saja ingin bangkit, ia mendengar suara dingin menegur, “Berbaringlah dengan tenang.”
Nada bicara itu, selain milik Lu Xiangyuan, siapa lagi?
Mengingat bahwa dialah yang membawanya ke rumah sakit, Tan Yao tidak mempermasalahkan sikap buruk pria itu. Ia berkata, “Direktur Lu, terima kasih sudah membawa saya ke rumah sakit. Saya sudah baik-baik saja sekarang.”
Lu Xiangyuan tidak menanggapi ucapannya, ia hanya berjalan mendekati tempat tidur dari arah jendela. Tubuhnya yang tinggi besar semakin terasa mengintimidasi Tan Yao yang sedang berbaring. Tan Yao pun merasa tertekan hingga sulit bernapas, apalagi aura dingin yang memancar dari tubuh pria itu membuatnya yakin Lu Xiangyuan sedang tidak senang.
Hati seorang direktur, sedalam lautan!
Siapa lagi yang membuatnya marah kali ini?
Saat Tan Yao masih membatin, tiba-tiba Lu Xiangyuan bertanya, “Tanggal berapa haidmu terakhir?”
Hah?
Haidnya...
Tan Yao sedikit tercengang. Seorang pria dewasa bertanya soal privasi seperti itu, apa maksudnya?
“Jawab aku!” Saat Tan Yao hanya bisa berkedip bingung, tiba-tiba Lu Xiangyuan membungkuk mendekat, hidungnya hampir menyentuh Tan Yao.
Kedekatannya yang tiba-tiba, ditambah sorot matanya yang menuntut jawaban tanpa bisa ditolak, membuat Tan Yao menelan ludah dan tanpa sadar menjawab, “Tanggal satu...”
Begitu jawabannya keluar, ia melihat tatapan Lu Xiangyuan langsung berubah dalam, bahkan ada sedikit hawa dingin yang membuat Tan Yao menggigil. “Lu...”
“Kamu hamil!” Kalimat yang keluar dari mulut Lu Xiangyuan di detik berikutnya membuat Tan Yao membelalakkan mata karena terkejut.