Bab 19: Ini Adalah Balasan untuk Dirinya
Jiang Yin pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, namun ekspresi marah dan malu di wajahnya seperti sebilah pisau yang menusuk hati Tan Yao. Ia memang tidak mencintainya, tetapi juga tak pernah berniat melukainya. Namun, Lu Xiangyuan, si bajingan itu, hanya dengan sebuah kalimat telah menginjak-injak harga diri Jiang Yin sebagai pria.
Tan Yao benar-benar ingin bangkit dan mencabik-cabik pria bermarga Lu itu, tapi ia sudah terlalu marah hingga tak punya tenaga lagi, bahkan untuk memakinya pun ia sudah tak sanggup.
"Sudah, sekarang semuanya beres. Pria bermarga Jiang itu seharusnya takkan mengusikmu lagi," kata Lu Xiangyuan dengan nada seolah-olah baru saja memberantas kejahatan demi rakyat.
Tinju Tan Yao mengepal hingga berbunyi, matanya menatap tajam ke arahnya. Andai saja pandangan bisa membunuh, Lu Xiangyuan pasti sudah mati berkali-kali di bawah tatapan matanya.
Berlawanan dengan kemarahan Tan Yao, Lu Xiangyuan justru tampak sangat senang. Ia tersenyum santai dan berkata lagi, "Sebenarnya kau harus berterima kasih padaku. Pria bermarga Jiang itu tidak sebaik yang terlihat. Keahliannya mengupas udang itu didapat dari banyak wanita."
Mendengar itu, Tan Yao semakin geram. Bajingan ini, ternyata ia sampai menyelidiki Jiang Yin.
"Sudahlah, jangan marah-marah. Marah saat begini tidak baik untuk kesehatan," kata Lu Xiangyuan sambil dengan manis membetulkan selimut Tan Yao.
Namun detik berikutnya, Tan Yao menendangnya, "Pergi! Keluar dari sini!"
Lu Xiangyuan tidak pergi. Ia justru mendekatkan diri ke telinganya dan berbisik, "Setelah tidur denganku, dengan pria bermarga Jiang yang pengecut itu kau pasti tak akan sanggup melakukannya. Kalau tebakanku benar, bahkan tanganmu pun belum pernah ia sentuh, kan?"
"Dasar bajingan!" Tan Yao mengangkat tangan hendak mencakar wajahnya.
Ia menahan tangan Tan Yao, menatapnya yang sudah hampir kehilangan kendali, lalu tersenyum tipis dan melemparkan ciuman nakal dari kejauhan. "Beristirahatlah yang baik. Nanti saat kau sudah sembuh, kita akan hitung-hitung lagi urusan ini!"
"Mau hitung sama nenekmu! Pergi! Pergi sana!"
Lu Xiangyuan pergi dengan gaya elegan, sementara air mata Tan Yao akhirnya tumpah. Ia kehilangan anaknya, dan masih harus menanggung malu akibat perbuatan Lu Xiangyuan. Setelah ini, ia benar-benar tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Jiang Yin.
Dulu ia mengira Lu Xiangyuan punya gen yang bagus untuk menjadi ayah anaknya, tapi kini ia sadar, betapa bodohnya ia pernah memilih pria seperti itu.
Telepon kembali berdering. Kali ini dari ibunya. Tan Yao menarik napas panjang, menenangkan diri, lalu mengangkat telepon. "Ma..."
"Yao Yao, kapan kau pulang? Ibu sudah membuatkan pangsit kesukaanmu!" suara ibunya lembut dan hangat, membuat hati Tan Yao yang baru saja kehilangan anak semakin perih.
"Ma..." suara Tan Yao agak serak, "Aku... aku sedang dinas ke luar kota. Mungkin seminggu lagi baru bisa pulang."
Masalah keguguran ini tentu saja tak mungkin ia ceritakan pada ibunya. Ia hanya bisa berbohong seperti itu.
"Kok tiba-tiba harus dinas? Bukannya kau bilang mau resign?"
"Itu... nanti saja kujelaskan setelah aku pulang. Aku masih ada urusan, Ma. Dadah!"
Tan Yao buru-buru memutuskan sambungan telepon. Saat itu juga, terdengar suara tawa sinis dari arah pintu, "Hebat sekali kemampuanmu berbohong, Kakak."
Mendengar suara itu, Tan Yao langsung menggertakkan gigi. Ia menoleh ke arah Tan Huanyan dan mendengus, "Hidungmu benar-benar tajam, ya!"
Baru saja ia masuk rumah sakit, perempuan itu langsung muncul, begitu cepat dan tepat tahu segala kabarnya. Tan Huanyan pasti sudah lama menaruh mata-mata di sekelilingnya.
Dibilang seperti anjing, wajah Tan Huanyan langsung berubah, namun ia segera tersenyum. "Kak, sebenarnya kau orang yang cukup baik, hanya saja mulutmu terlalu tajam. Seharusnya belajar menjaga ucapan, kalau tidak pasti akan dapat balasannya."
Saat mengatakan itu, Tan Huanyan sengaja melirik ke arah perut Tan Yao, jelas sekali maksudnya bahwa keguguran Tan Yao adalah balasan atas mulutnya yang tajam.