Bab 47: Abnormal
Halaman 1 dari 3
Walaupun agak enggan, mengingat penghasilan dari transaksi ini cukup besar, mengantarnya pulang secara cuma-cuma bukanlah masalah.
Begitulah, aku turun bersamanya. Sun Qian datang dengan sebuah BMW Mini merah. Penglihatannya kurang baik, sehingga mudah menyerempet sesuatu saat mengemudi malam-malam. Karena itu, ia menyerahkan kunci mobil kepadaku.
Aku mengantarnya pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba aku bertanya, “Setiap hari kau berurusan dengan delapan pria, apa kau tidak lelah?”
Sun Qian melirikku dengan kesal. “Apa yang kau tahu? Sebenarnya aku tidak terlalu kekurangan uang. Yang benar-benar kunikmati adalah perasaan dikelilingi oleh pria-pria yang berbeda. Itu memberiku rasa puas yang sulit dijelaskan.”
Sial, ternyata dia benar-benar mesum.
Saat kami sedang berbicara, ponsel Sun Qian tiba-tiba berdering. Ia buru-buru memberi isyarat agar aku diam, lalu menjawab telepon dengan suara manja, “Halo, Kak Li. Tumben hari ini ingat menghubungiku?”
Dari seberang terdengar suara seorang pria yang menuduh, “Sun Qian, jangan berpura-pura lagi. Aku sudah mendengar soal kau yang mendua. Sebenarnya sampai kapan kau mau membohongiku? Bukankah kau sudah berjanji akan menikah denganku tahun depan?”
Sun Qian segera menyangkal, “Kak Li, kau dengar dari siapa? Di hatiku hanya ada dirimu. Mendua apanya? Jelas ada orang yang iri melihat hubungan kita baik-baik saja, lalu sengaja menyebarkan fitnah untuk mencemarkan namaku.”
Aku benar-benar kagum pada Sun Qian. Perempuan ini berbohong dengan penuh keyakinan tanpa berkedip sedikit pun. Hanya dengan beberapa kalimat, ia berhasil menenangkan pria di seberang sana.
Pria itu masih setengah percaya. Sebelum menutup telepon, ia kembali memastikan, “Kau benar-benar hanya menyukaiku seorang?”
Sun Qian langsung bersumpah, “Tentu saja. Kalau aku pernah mengkhianatimu, biar aku langsung mengalami kecelakaan saat ini juga!”
Pria itu pun merasa lega dan segera menutup telepon. Namun, aku langsung menginjak rem mendadak. Sambil memeluk kemudi, tubuhku gemetar ketakutan.
“Kak, jangan sembarangan bersumpah saat berada di dalam mobil. Di sini bukan hanya ada dirimu seorang.”
“Lihat, kau sampai ketakutan begitu. Dasar pengecut!”
Sun Qian melirikku dan menyuruhku melanjutkan perjalanan.
Selebihnya, aku mengemudi dengan sangat pelan karena takut sumpahnya benar-benar menjadi kenyataan. Sial, seandainya tahu akan begini, sejak awal aku seharusnya menjauh dari perempuan ini. Tingkah lakunya tidak bermoral, masih suka mengucapkan sumpah serapah. Kalau sampai disambar petir, bisa-bisa aku ikut terseret.
Untungnya, perjalanan berlangsung tanpa insiden. Kami akhirnya tiba dengan selamat di tempat tujuan. Setelah mengantarkan Sun Qian sampai di depan pintu, aku berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba seorang pria yang tubuhnya dipenuhi bau alkohol menerobos keluar dari lorong.
“Sun Qian, sebenarnya apa hubunganmu dengan Pak Huang? Kenapa malam itu dia ada di rumahmu... Eh, tunggu. Siapa berondong ini? Kau sudah berganti pria lagi?”
Pria itu tampak cukup emosional. Sun Qian terlihat ketakutan dan langsung bersembunyi di belakangku. Tindakan spontan itu justru membuat pria tersebut semakin salah paham. Ia mencengkeram kerah bajuku dan memaki dengan keras.
“Bocah sialan, sejak kapan kau dan Qian Qian berhubungan? Berani-beraninya kau merebut wanitaku. Apa kau sudah bosan hidup?”
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Aku mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah. “Bang, tenang dulu. Kali ini kau benar-benar salah paham. Sun Qian hanya klienku. Hubungan kami murni hubungan profesional.”
Jelas sekali dia sudah terlalu mabuk. Alkohol telah menguasai pikirannya, sehingga dia sama sekali tidak peduli dengan penjelasanku.
“Sudah sampai bicara soal hubungan pria dan wanita, masih berani bilang murni?”
Sun Qian tiba-tiba menyela, “Kak Zhang, bisa tidak kau lepaskan Lin Feng dulu? Aku tidak mengizinkanmu menyakitinya.”
Kalimat itu tampaknya hendak membantuku, tetapi jelas-jelas mengandung maksud mengadu domba.
Aku terkejut bukan main dan menatap Sun Qian dengan tak percaya. Benar saja, Kak Zhang menjadi semakin murka. Ia mengayunkan telapak tangannya ke wajahku.
“Akan kubunuh kau, bocah sialan!”
Tamparan itu juga menyulut amarahku. Aku membalasnya dengan melayangkan tinju ke batang hidungnya.
Tak lama kemudian, kami berdua bergulat. Kak Zhang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun, stamina fisiknya tidak sebaik aku, ditambah lagi ia sedang mabuk. Tidak lama kemudian, aku berhasil menekannya ke tanah. Sambil menjambak rambutnya, aku memperingatkan,
“Sekali lagi kukatakan, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Sun Qian. Selesaikan urusan kalian sendiri dan jangan mengganggu aku!”
Kak Zhang bukan lawanku. Ia pun pergi sambil terus memaki. Ketika aku bangkit, aku mendapati Sun Qian berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, bersandar penuh minat pada kusen pintu seperti sedang menonton pertunjukan.
“Tak kusangka kau cukup berani kalau berkelahi. Terima kasih untuk hari ini. Eh, sudut bibirmu sepertinya berdarah. Masuklah, biar kubantu mengompres bengkaknya dengan kapas.”
“Tidak perlu. Sepertinya mulai sekarang kita sebaiknya tidak berhubungan lagi.”
Aku mengusap sudut bibirku dengan dingin, lalu melangkah lebar menuju lift.
Sepanjang malam itu aku merasa sangat kesal. Sun Qian bukan hanya perempuan yang suka mempermainkan banyak pria, tetapi juga perempuan menyebalkan yang gemar mencari gara-gara. Masalah yang sebenarnya bisa dijelaskan hanya dengan satu atau dua kalimat malah sengaja ia campuri, membuat Kak Zhang semakin salah paham.
Jelas sekali ia melakukannya dengan sengaja. Perempuan ini tampaknya sangat menikmati melihat pria-pria lain cemburu dan berkelahi demi dirinya. Wajahnya bahkan dipenuhi kenikmatan.
Aku hanya bisa memakinya dalam hati sebagai perempuan mesum. Rasanya, mulai sekarang aku memang harus menjauh darinya.
Tiga hari setelah kejadian itu, aku kembali menerima telepon dari Sun Qian. Ia meminta maaf atas apa yang terjadi malam itu.
Aku mendengus. “Kau sebenarnya sangat menikmati melihat para pria berkelahi demi dirimu, ya?”
Sun Qian berkata pelan, “Maaf, aku sungguh tidak sengaja. Begini saja, aku akan mentraktirmu makan sebagai permintaan maaf. Kau datang lagi ke rumahku, ya. Aku masih ingin membicarakan urusan bisnis denganmu.”
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Awalnya aku sama sekali tidak berniat menanggapinya. Namun, setelah mendengar masih ada urusan bisnis lanjutan, aku mempertimbangkannya sejenak sebelum akhirnya menyetujui.
Sore itu, aku kembali mendatangi rumah Sun Qian. Begitu pintunya kubuka, aku langsung terkejut.
Perempuan itu berdandan sangat menggoda. Ia hanya mengenakan gaun tidur berbahan sutra, dengan pakaian dalam berwarna merah muda keunguan yang samar-samar tampak dari baliknya. Dengan suara manja, ia menarikku menuju sofa sambil menanyakan beberapa hal tentang kehidupanku di Thailand.
Pada awalnya suasananya masih normal. Namun, perlahan-lahan keadaan menjadi semakin aneh. Entah sejak kapan, perempuan ini sudah melilit tubuhku seperti ular air. Ia bergelayut manja di tubuhku, mendekatkan wajahnya ke wajahku, sementara aroma harum dari napasnya menyebar ke seluruh wajahku.
Hidungku terasa gatal dan kepalaku tiba-tiba menjadi linglung. Untungnya, tepat pada saat yang paling genting, aku tersadar. Melihat sudut bibirnya yang jelas telah diolesi lipstik, aku langsung merinding dan segera menggigit ujung lidahku sendiri sampai terluka.
Rasa sakit yang menusuk dari ujung lidah membuatku tersadar seketika. Ketika melihat Sun Qian lagi, perempuan itu sudah mulai menarik ikat pinggangku. Aku buru-buru mendorongnya dan melompat bangkit dari sofa.
“Kau ini sakit jiwa, ya? Berani-beraninya kau memakai lipstik yang kujual untuk mencelakai aku!”
Sun Qian terdorong menjauh dan tampak cukup terkejut. Ia mengerucutkan bibir, menampilkan ekspresi yang sangat menggoda.
“Kau hebat juga. Kukira efek lipstik ini begitu kuat sampai bisa membuatmu takluk.”
Kata-katanya membuat keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Sial sekali nasibku. Aku benar-benar bertemu klien perempuan yang begitu mesum.
Sun Qian mengusap sudut bibirnya, lalu kembali menggodaku. “Kau ini sebenarnya laki-laki atau bukan? Mengapa kesempatan sebaik ini tidak mau kau manfaatkan?”
Dengan wajah muram, aku memperingatkannya, “Kau harus memahami satu hal. Lipstik itu kujual kepadamu. Kalau kau ingin menggunakannya untuk membius dan menipuku, itu sama sekali tidak mungkin!”
Begitulah yang kukatakan, tetapi sebenarnya aku ketakutan setengah mati. Tadi aku nyaris saja terjebak. Kehidupan pribadi perempuan ini begitu kacau. Entah sudah berapa banyak pria yang pernah berhubungan dengannya. Bisa-bisa ia membawa berbagai macam penyakit menular.
Setelah menenangkan diri, aku menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya sedang ia lakukan.
Sun Qian melambaikan jarinya kepadaku sambil tersenyum. “Jangan tegang begitu. Aku hanya ingin menguji efek lipstik ini, ingin melihat apakah benar-benar sehebat itu.”
Aku tertawa dingin. “Kurasa bukan hanya itu. Kau tahu aku menjual benda-benda gaib, lalu ingin memancingku dengan cara seperti ini agar bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan untuk dirimu sendiri, bukan?”
Halaman 3 dari 3