Bab 5: Perguruan Bela Diri Angin dan Awan
Luzixin merasa agak canggung, buru-buru meletakkan kembali kain penutup dada itu. “Eh, ini kamarmu?” tanyanya. Qiu Lianlian tidak menjawab, hanya memandangnya dengan ekspresi rumit. Ini kamar mereka berdua, jadi apa maksudnya dia berkata begitu?
Luzixin merasa sangat kesal, adik perempuannya secantik ini, kenapa justru tidak suka bicara? “Ehm, aku pergi dulu,” pamit Luzixin.
“Kau mau ke mana?” tanya Qiu Lianlian tiba-tiba.
“Mau istirahat di kamar tamu.” Ketika Luzixin menoleh, ia melihat mata Qiu Lianlian yang bulat itu sudah berkilat air mata. Qiu Lianlian merasa sangat tersakiti, ia sudah menikah masuk ke keluarga Lu, melakukan begitu banyak hal untuk mereka. Siapa sangka suaminya justru menolaknya, bahkan enggan tinggal satu kamar dengannya.
“Ada apa denganmu?” tanya Luzixin heran.
“Bukan urusanmu, pergilah menjadi biksu sesukamu!” Qiu Lianlian berbalik masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras.
Luzixin hanya bisa mengelus kepala, menghela napas, “Perempuan memang makhluk yang aneh.” Ia pun menuju kamar tamu, memanggil pelayan untuk membersihkan kamar itu. Luzixin kemudian duduk bersila di ranjang, mengingat kembali metode latihan bela diri yang pernah ia pelajari.
Dalam ingatannya, ada satu metode kultivasi yang disebut “Mantra Angin dan Awan Menggetarkan Langit”, warisan keluarga Lu, tergolong sebagai metode tingkat Xuan.
Di Benua Wanluo, baik harta maupun teknik bela diri juga terbagi dalam beberapa tingkatan, sama dengan tingkat kemajuan bela diri: Tian, Di, Xuan, dan Huang. Namun, berbeda dengan tingkat bela diri yang terdiri dari sepuluh tingkat, kualitas harta dan teknik dilihat dari empat strata: bawah, menengah, atas, dan tertinggi.
Klasifikasi ini berdasarkan perbandingan, bukan berarti metode tingkat Xuan hanya bisa mencapai ranah Xuan. Banyak petarung di benua ini hanya berlatih metode tingkat Huang yang paling rendah, namun tetap bisa menembus hingga ranah Tian, bahkan lebih tinggi lagi!
Secara logika, “Mantra Angin dan Awan Menggetarkan Langit” tingkat Xuan sudah termasuk metode yang cukup baik. Namun Luzixin tetap enggan mempelajarinya. Alasannya sederhana, ia memiliki metode tertinggi warisan aliran Zen, yakni “Sutra Berlian Kebijaksanaan”.
“Sutra Berlian Kebijaksanaan” inilah yang di bumi nanti dikenal sebagai “Sutra Berlian”. Dalam kisah-kisah silat disebut sebagai teknik bela diri Buddha, padahal sebenarnya inti dari aliran Zen untuk melatih hati dan pikiran.
Meski Luzixin tak tahu pasti pada tingkatan apa “Sutra Berlian Kebijaksanaan” di Benua Wanluo, ia yakin kitab warisan Zen pasti lebih unggul dari “Mantra Angin dan Awan Menggetarkan Langit”.
“Beginilah yang kudengar…” Luzixin mulai melafalkan sutra dalam hati, masuk ke dalam meditasi. Kekuatan murni alam semesta pun perlahan meresap ke tubuhnya, mengalir di seluruh jalur energi.
Kekuatan murni alam semesta, atau yuanli, adalah kekuatan dasar segala makhluk. Konon, segalanya tercipta dari yuanli. Para pendekar legendaris yang bisa melampaui langit dan bumi bahkan dapat memanfaatkan yuanli untuk menciptakan apa pun! Para petarung yang mengolah yuanli mampu membersihkan urat dan sumsum, menguasai kekuatan yang tak terbayangkan oleh manusia biasa!
Dalam dunia bela diri, kekuatan adalah segalanya. Tanpa yuanli, semua hanyalah semut kecil. Inilah sebabnya Lu Maozhen begitu marah pada Luzixin; karena Luzixin menyia-nyiakan ilmu bela diri, masa depannya pun suram. Namun kini, Luzixin melatih metode Zen yang jauh lebih cepat daripada metode biasa, mungkin waktu yang hilang selama ini bisa ia kejar.
“Ci ci.” Entah sejak kapan, si monyet kecil menyelinap masuk. Melihat Luzixin sedang berlatih, matanya penuh rasa ingin tahu. Ia bersuara nyaring, melompat ke tubuh Luzixin, namun Luzixin tetap tidak memperdulikannya.
Bagi petarung biasa, latihan semacam ini tidak boleh diganggu, jika tidak bisa berbahaya. Tapi Luzixin berbeda, meditasi Zen bisa dihentikan dan dilanjutkan sewaktu-waktu, inilah keistimewaan metode Zen.
Si monyet kecil setelah bermain beberapa lama merasa bosan, lalu meniru posisi duduk Luzixin, seolah ikut bermeditasi. Saat ia menghirup dan menghembuskan napas, ternyata ada seberkas kecil yuanli yang keluar masuk tubuhnya.
Luzixin yang memperhatikan hal itu merasa sangat heran. Dari gerak-gerik Xiao Kong, jelas ia memang terlahir bisa berlatih. Di Benua Wanluo, kebanyakan binatang buas hanya menyerap yuanli berdasarkan naluri. Binatang yang bisa berlatih sendiri biasanya memiliki garis keturunan sangat mulia dan kuno. Penampilan si monyet kecil memang biasa saja, namun ternyata asal-usulnya luar biasa. Luzixin pun memutuskan untuk membina Xiao Kong dengan baik, siapa tahu kelak bisa menjadi bantuan yang kuat.
Malam pun berlalu tanpa terasa, Luzixin terus berlatih hingga fajar menyingsing. Saat mentari terbit, itulah waktu di mana yuanli di alam semesta paling melimpah. Luzixin memanfaatkan waktu itu untuk menyerap lebih banyak yuanli, yang kemudian mengalir lewat jalur energi dan berkumpul di lautan kebijaksanaan, tempat penyimpanan energi.
Lautan kebijaksanaan ini, dalam istilah aliran Zen, sama seperti dantian pada petarung. Fungsinya serupa, tempat menyimpan yuanli dan menjadi sumber kehidupan para biksu Zen!
“Pikiran tanpa nafsu, kesadaran tanpa keterikatan!” Dengan melafalkan mantra Zen, Luzixin pun mengakhiri latihannya. Ia membuka mata, menatap sang surya, seberkas cahaya spiritual melintas di matanya. Setelah semalam berlatih, tubuhnya penuh dengan yuanli, dan kemampuannya pada tingkat kedua ranah Huang semakin mantap.
Pada tingkat kedua ranah Huang, seseorang sudah memiliki kekuatan sekitar lima ratus kati; sekali pukul bisa merobohkan seekor sapi!
“Xiao Si, sudah kau selidiki semuanya?” tanya Luzixin di halaman. Zhao Xiao Si yang biasa berpura-pura jadi tuan muda, sudah lama mengetahui seluk beluk rumah ini.
Setelah mendengar penjelasan Zhao Xiao Si, barulah Luzixin sadar betapa genting keadaan keluarga Lu. Sejak Lu Maozhen jatuh sakit, istana memutuskan seluruh tunjangan, separuh sumber keuangan keluarga Lu langsung hilang.
Setelah itu, isyarat samar dari istana membuat para pejabat tinggi bersatu untuk menekan keluarga Lu. Sebagian besar pelayan dan petarung keluarga sudah pergi, yang tersisa hanya beberapa pelayan tua yang setia.
Yang paling parah, Lu Maozhen yang terluka parah harus mengkonsumsi banyak pil obat setiap hari. Pil-pil itu sangat langka dan mahal, sementara keluarga Lu yang kehilangan sumber penghasilan jelas tak mampu membelinya. Mereka terpaksa menjual sebagian harta benda untuk bertahan hidup, namun itu pun tak akan bertahan lama.
Jika saatnya tiba, luka Lu Maozhen tak bisa lagi ditahan, nyawanya pun terancam. Seluruh keluarga Lu bergantung padanya, sebagai guru negara, ia punya banyak musuh. Jika ia tiada, keluarga Lu pasti akan hancur lebur.
Kini Luzixin menjadi kepala keluarga, ia tak boleh membiarkan ini terjadi. Namun untuk menyembuhkan Lu Maozhen, ia pun tak sanggup. Jalan satu-satunya adalah mempertahankan sumber penghasilan terakhir keluarga Lu—Perguruan Angin dan Awan.
Di negeri Cang, budaya bela diri sangat maju, sehingga banyak perguruan. Perguruan Angin dan Awan adalah aset terpenting keluarga Lu. Dulu, dengan nama besar Guru Negara, muridnya sangat banyak dan keuangannya melimpah. Sejak istana memberi sinyal penindasan, anak-anak pejabat tinggi tak lagi mau belajar di sana.
Tak hanya itu, sebagian besar pelatih di perguruan telah direkrut orang-orang yang punya maksud tersembunyi dengan imbalan besar. Keluarga Lu sendiri kesulitan bertahan, kehilangan sebagian besar murid, tak mampu menggaji para pelatih. Terpaksa mereka menugaskan para petarung keluarga sendiri untuk mengajar, namun kemampuan dan keahlian mereka sangat terbatas. Nama baik perguruan pun semakin terpuruk.
Dalam lingkaran setan seperti ini, Perguruan Angin dan Awan kini telah menjadi perguruan kelas bawah di ibu kota. Murid yang tersisa hanyalah anak-anak petarung yang bersahabat dengan Lu Maozhen dan Ma Ruijin. Bahkan mereka pun kebanyakan hanya membayar uang sekolah tanpa benar-benar belajar. Bisa dikata, perguruan itu sudah berada di titik nadir.
“Ayo, kita lihat ke sana.” Setelah berpikir sejenak, Luzixin merasa masalah ini harus segera diselesaikan. Bagaimana caranya, ia harus melihat langsung ke perguruan itu. Zhao Xiao Si menggendong monyet kecil dan berjalan di depan.
“Ngomong-ngomong, di mana istriku yang baru itu?” Sejak kemarin Luzixin sibuk berlatih, sampai lupa memikirkan soal ini.
“Anda kan sudah bertemu Nyonya Muda?” tanya Zhao Xiao Si heran. Qiu Lianlian secantik itu, masa bisa diabaikan Tuan Muda?
“Maksudmu Lianlian?” Luzixin terkejut, Zhao Xiao Si mengangguk. “Pantas saja!” Luzixin teringat tatapan Qiu Lianlian kemarin, seketika ia paham perasaan gadis itu.
“Nyonya Muda sungguh luar biasa, saya dengar selama Tuan Besar sakit, semua urusan rumah tangga diatur olehnya. Tuan Muda, Anda benar-benar beruntung.” Zhao Xiao Si pun memuji.
Mendengar itu, Luzixin merasa malu. Dulu Luzixin benar-benar bukan laki-laki sejati, tega meninggalkan istri sebaik itu demi menjadi biksu.
“Qiu Lianlian, mulai sekarang biar aku yang menjagamu.” Luzixin teringat Qiu Lianlian, hatinya pun tersentuh. Istri secantik dan secerdas itu, hanya orang bodoh yang tak menginginkannya!