Bab 68 Tetangga Sepertinya Agak Merasa Bersalah?
“Ini di atas es! Kau melempar bom, mau kita semua mati bersama, ya?!”
“Aku sudah terbiasa melemparnya, lupa kalau sekarang situasinya berbeda. Semua gara-gara cuaca sialan ini! Setelah banjir, malah membeku! Ayo cepat periksa yang lain!”
Dua pria itu terus berdebat.
Jiang Fei mengikuti arah suara itu dengan hati-hati.
Di dalam lubang es yang besar, sebuah mobil off-road terbalik, sementara satu lagi mengalami kerusakan yang mirip dengan truk pikap mereka.
Empat pria berseragam tebal sedang berusaha menolong orang di dalam mobil yang terbalik itu.
Jiang Fei mengangkat senapan otomatis dan menembak tanpa ragu.
Tak lama, keempat pria itu jatuh mati bersimbah darah.
Melihat yang tersisa terjebak di dalam mobil dan tak bisa keluar, serta medan lubang es yang mireng, Jiang Fei mengenakan sepatu es lalu meluncur ke bawah.
Di dalam mobil, ada lima orang—tiga pingsan, dua lagi terluka dan terjepit oleh kursi.
Tanpa banyak bicara, Jiang Fei menghabisi mereka dengan tembakan cepat, lalu mulai menggeledah barang-barang.
Orang-orang brengsek ini hampir saja membunuhnya dengan bom, jadi mengambil sedikit kompensasi tentu saja bukan masalah.
Karena mobil terbalik, mencari barang jadi sulit. Jiang Fei berlutut di samping, memasukkan tangan lewat jendela yang pecah.
Ia menemukan sebuah senapan runduk.
Ia menggeledah lagi.
Beberapa kantong vakum persegi dari aluminium foil berwarna perak seukuran telapak tangan.
Jiang Fei membuka satu kantong.
Di dalamnya ada cairan kental berwarna putih susu tanpa bau sama sekali.
Ia menyimpannya dulu, nanti akan diuji pada tikus putih, siapa tahu bisa dimakan.
Setelah selesai dengan mobil off-road, Jiang Fei memeriksa mobil lain.
Total hasil rampasan: satu kotak berisi dua puluh kantong vakum aluminium foil, lebih dari seratus butir peluru, delapan pistol, dua sekop lipat untuk kegiatan luar ruang.
Barang-barang lain sebagian besar rusak dan tak bisa digunakan.
Sayang sekali dua senapan mesin berat itu sudah hancur.
Jiang Fei pun sekalian mengambil mantel tebal, topi kulit, dan syal dari mayat-mayat itu.
Untuk menghangatkan badan nanti, ia tidak akan meninggalkan apa pun untuk mereka.
Namun ketika hendak melepas syal, ia melihat tato di leher salah satu mayat.
Bunga lili hitam-putih, dengan tengkorak bermata dan berhidung memanjang tumbuh di tengah kelopaknya.
Ia pernah melihat tato itu, di pusat perbelanjaan kecil.
Mengingat reaksi Lu Yu barusan, Jiang Fei yakin mereka saling mengenal.
Apa hubungan mereka, dan kenapa memburu Lu Yu, itu masih jadi tanda tanya.
Menahan rasa penasaran, Jiang Fei baru saja hendak mengeluarkan alat panjat untuk naik, suara Xu Qianyao terdengar.
“Jiang Fei? Jiang Fei?”
Jiang Fei langsung mengganti alat dengan cakar harimau dan memanjat es.
Begitu sampai di permukaan, Xu Qianyao dan yang lain sudah tiba di sana.
Xu Qianyao segera memeriksa kondisi tubuh Jiang Fei, begitu melihat Jiang Fei baik-baik saja tanpa luka, ia tampak terkejut, “Tadi aku lihat Lu Yu tergeletak pingsan di atas es, separuh wajahnya penuh darah, kau sendiri kenapa tak apa-apa meski terpental sejauh ini?”
“Aku ke sini sendiri, dan sudah menghabisi mereka.”
Mendengar itu, Xu Qianyao lega.
Ia sempat mengira Jiang Fei sudah berubah jadi manusia super, tubuhnya kebal segalanya.
Xu Qianyao menyuruh rekannya menggendong Lu Yu yang pingsan, lalu bertanya pada Jiang Fei, “Mobil kami diparkir dua blok dari sini, butuh setengah jam jalan kaki. Kau kuat berjalan? Perlu kugendong?”
“Tak perlu. Kalian tidak terkena dampak ledakan?”
Xu Qianyao masih trauma, “Untung Lu Yu menyuruh kami lewat jalan kecil di selatan. Kami hanya merasakan getaran di permukaan es beberapa kali.”
“Kau dan Lu Yu memang beruntung, mobil pikap di dalam lubang itu saja sampai gepeng.”
“Tapi aneh, tak ada benda berat di dalam lubang, kenapa mobil pikap bisa gepeng seperti kue?”
Jiang Fei langsung berdeham, hendak berpura-pura sakit demi mengalihkan pembicaraan, namun tiba-tiba dari lubang es terdengar suara batuk keras.
“Tolong... selamatkan aku...”
Mengeluarkan pistol, Jiang Fei dan Xu Qianyao berjalan mendekat.
Di lubang es kecil, sebuah motor terjungkal.
Seorang pria berbaju bulu putih tergeletak bersandar pada motor, tangan kanannya berlumuran darah.
Jiang Fei mengenali pria itu.
Pedagang senjata dari pasar gelap yang dikenal Lu Yu.
Su Liuyuan juga melihat Jiang Fei di atas permukaan, sudut matanya membentuk senyum, “Kau keberatan membawaku pergi?”
“Aku saudara Lu Yu, namaku Su Liuyuan, dia pasti akan membalas kebaikanmu.”
Andai bukan karena mendengar nama Lu Yu, Su Liuyuan tidak akan mungkin meminta tolong.
Xu Qianyao meminjam alat panjat dari Jiang Fei, turun dan membawa Su Liuyuan ke atas.
“Tahan sebentar, nanti di tempat aman akan kuobati lukamu.”
Untuk menghindari rekan-rekan dari mobil off-road datang mengejar, Xu Qianyao buru-buru membawa Su Liuyuan pergi tanpa sempat memikirkan kenapa mobil pikap bisa gepeng.
—
Di sebuah gedung apartemen terbengkalai.
Jiang Fei dan rombongan menemukan kamar kosong untuk beristirahat.
Xu Qianyao mengambil batu bara dan kotak obat dari mobil.
Para anggota bertugas menyalakan api, Xu Qianyao membantu Su Liuyuan melepaskan mantel tebalnya.
Darah di lengan kanan sudah mengering dan menempel pada lengan baju.
“Tak ada obat bius, gigit kayu ini saja.”
Xu Qianyao lebih dulu mengiris sambungan lengan baju dan bahu dengan pisau, lalu menyodorkan potongan kayu ke Su Liuyuan, diam-diam memberi isyarat pada Jiang Fei.
Kalau Xu Qianyao yang menarik, Su Liuyuan pasti akan refleks melawan.
Harus dilakukan saat lawan lengah, dalam sekejap.
Jiang Fei langsung paham, lalu bergerak tanpa suara.
Begitu Su Liuyuan menggigit kayu, Jiang Fei menarik dengan cepat.
“Aaaaargh!” Su Liuyuan menjerit kesakitan, tak mau lagi membiarkan Xu Qianyao menyentuh lengannya.
Jiang Fei mengarahkan pistol ke lehernya, “Jangan bergerak.”
Su Liuyuan pun jadi patuh.
Xu Qianyao segera membersihkan dan mengobati luka.
Lengan Su Liuyuan terluka benda tajam, sebagian cukup dalam hingga perlu dijahit.
Untung kotak obat mereka lengkap.
“Tenang saja, aku berpengalaman, jangan bergerak,” Xu Qianyao mulai menjahit luka Su Liuyuan.
Dengan pistol menempel di leher, Su Liuyuan bukan hanya tak berani bergerak, teriak pun tak berani.
Nasibnya sungguh malang.
Sudah terluka, masih harus diancam senjata.
Setelah luka dijahit dan dibalut kain kasa, Lu Yu yang berbaring di atas kasur pun sadar.
Su Liuyuan berjalan tertatih mendekat, tubuh berkeringat dan wajah pucat pasi seperti hantu air, “Temanmu tadi mengancamku dengan senjata.”
Lu Yu tak peduli, malah balik bertanya, “Kenapa kau ada di sini?”
Karena ada orang luar, Su Liuyuan duduk di samping Lu Yu, lalu berbisik, “Aku baru saja keluar dari sana.”
“Baru dua minggu, tikus-tikus itu mengejarku.”
‘Sana’ adalah organisasi yang dulu diikuti Lu Yu dan Su Liuyuan.
Sedang ‘tikus’ adalah para pembunuh bayaran.
Memahami kode Su Liuyuan, tatapan Lu Yu jadi gelap, hampir saja ia ingin memukul wajah rekannya itu.
Ia mengira ‘tikus’ itu datang untuk membunuhnya.
Ternyata karena Su Liuyuan, dirinya jadi ikut terlibat.
Tapi, kenapa ia bisa pingsan?
Sepertinya... gara-gara tetangga?
Lu Yu melirik ke arah Jiang Fei yang duduk di kursi.
Tak sengaja bertemu pandang, Jiang Fei mengalihkan mata dengan tenang, “Aku sudah mengambil ransel dari mobil, isinya tidak rusak. Makanlah sedikit.”
Lu Yu menerima ransel, mengambil biskuit kompresi untuk dibagi dengan Su Liuyuan, sambil membersihkan luka di sekitar matanya.
Tetangga itu... sepertinya agak mencurigakan?
Xu Qianyao memberikan beberapa alat steril dan kain kasa pada Su Liuyuan, “Kami ini tim penyelamat resmi. Kami harus mencari obat, jadi tak bisa mengantarmu ke tempat aman. Tapi kau boleh ikut bersama kami.”
Su Liuyuan bertanya, “Kalian mencari obat?”
“Di Lincheng sedang terjadi wabah flu dan schistosomiasis, persediaan obat tidak cukup, jadi kami harus mencari ke berbagai tempat.”
Lu Yu melirik Su Liuyuan.
Kami sudah menyelamatkan nyawamu, hampir saja mati karena bommu, masa tak dapat kompensasi?
Zeanxian adalah markas utama Su Liuyuan.
Sebagai pedagang senjata, ia punya banyak musuh, sehingga ia membangun rumah aman di sini sebagai gudang, penuh barang berharga.
Paham maksud Lu Yu, hati Su Liuyuan terasa perih, lalu berkata pada Xu Qianyao, “Di rumahku banyak obat, kalian boleh ambil.”
Xu Qianyao tampak gembira, “Bagus sekali, nanti kita langsung ke rumahmu!”
Setelah makan, mereka berangkat ke rumah Su Liuyuan.
Karena mobil Jiang Fei rusak, ia menumpang mobil pikap Xu Qianyao bersama Lu Yu dan Su Liuyuan.
Lebih dari sejam kemudian, mereka tiba di puncak sebuah bukit tandus.
Sebuah vila dua lantai tersembunyi di antara hutan pohon kering.
Di belakang vila, ada gudang besar bertingkat rendah.
Karena berada di ketinggian, kawasan itu tidak terkena banjir, namun banyak bangkai ular, serangga, tikus, dan nyamuk yang membeku menjadi patung es.
Su Liuyuan membuka pintu utama vila, hawa hangat segera menyambut.
Begitu ia menyalakan saklar, lampu dalam ruangan menyala satu per satu. Xu Qianyao tampak terkejut, “Berapa banyak generator yang kau pakai untuk menghidupkan seluruh vila?”
“Tak banyak, hanya belasan.” Su Liuyuan menjawab santai.
“Obatnya di gudang, kalian istirahatlah di ruang tamu, aku mau ganti pakaian dulu, nanti baru kuantar ke sana.”
“Kulkas penuh makanan dan minuman, ambil saja sesukamu.”
Masih ada barang berbahaya di gudang, harus disembunyikan dulu!
Setelah Su Liuyuan meninggalkan ruang tamu, Xu Qianyao dan timnya duduk di kursi agar tidak mengotori sofa, sambil memandangi sekeliling dengan kagum.
“Lampu gantung kristal ini indah sekali, begitu besar, menggantung dari lantai dua. Pasti mahal harganya.”
“Tak kusangka hari ini aku masih bisa melihat cahaya lampu. Rasanya seperti mimpi.”
“Semoga suatu saat seluruh rumah di Lincheng bisa kembali terang benderang.”
Saat Xu Qianyao dan yang lain asyik mengobrol, Lu Yu mendekati Jiang Fei, lalu berbisik pelan, “Ayo ikut aku. Aku akan membawamu ke tempat barang-barang bagus.”