Bab 42: Teman Sekamar Keempat?
Naik pesat?
Sedikit terkejut sejenak, Su Yu yang sedang berbaring di tempat tidur membalas, “Sekarang berapa harga per meter persegi?”
Bahwa harga rumah akan naik, Su Yu sudah sangat maklum. Maka, ia pun tak merasa heran.
Sekarang ini belum seberapa, nanti tahun depan, rumah milik Zhou Qiang itu paling tidak akan bernilai sekitar tiga ratus juta, sebuah potret zaman aneh di tahun 2014.
Setelahnya, seiring menurunnya nilai rumah kawasan sekolah di seluruh negeri, harga rumah yang puluhan kali melampaui harga pasar itu akhirnya dihentikan secara tiba-tiba, harga pun turun drastis dan akhirnya stabil.
Budi yang ia berikan pada Zhou Qiang, jelas sangat besar.
Lagipula, ia sendiri tak mampu membeli, jadi memang lebih baik memberikan bantuan pada Zhou Qiang sekalian.
Akumulasi relasi tak kasat mata di tahap awal seperti ini, sangat bermanfaat bagi Su Yu. Balasan yang akan ia dapatkan di masa depan pun akan datang mengalir deras, berkali-kali lipat.
“Sekarang sudah dua ratus juta per meter persegi, baru sebulan, Bro! Saat tahu kabarnya, aku sampai bengong, rasanya seperti mimpi!”
Kabar dari Zhou Qiang pun segera dikirimkan pada Su Yu. Saat ini, Zhou Qiang jelas sangat bersemangat.
Sampai-sampai, ia langsung menelpon Su Yu.
Begitu telepon tersambung, suara Zhou Qiang terdengar sangat antusias, “Su Yu, kau memang luar biasa! Aku benar-benar kagum padamu, kalau aku perempuan, pasti langsung mau menikah denganmu!”
Ujung-ujungnya, Zhou Qiang sampai agak terbata-bata.
Bulan lalu ia membeli rumah itu, per meter hampir seratus delapan puluh juta.
Tak disangka bulan ini, per meter langsung melonjak ke dua ratus juta.
Naik dua puluh juta per meter, tujuh puluh meter, berarti bertambah seratus empat puluh juta!
Pagi ini, ketika ayahnya menelpon, Zhou Qiang seolah melayang di awan, belum juga sadar.
Setelah ayah dan anak itu bicara lama, barulah Zhou Qiang benar-benar paham duduk perkaranya: rumah mereka yang dulu bernilai satu miliar dua ratus lima puluh juta, sekarang sudah melonjak jadi satu miliar empat ratus juta!
Dalam sebulan, naik lebih dari seratus juta.
Kenaikan ratusan juta per bulan itu, hanya terjadi di SD Eksperimen Nomor Dua, satu-satunya di seluruh negeri!
Su Yu hanya bisa terdiam.
Anak ini, dengan wajahmu itu, meski kau jadi perempuan juga tak akan cantik-cantik amat!
Sudahlah, aku pass saja.
Su Yu berdeham pelan, lalu tertawa, “Sebenarnya, ini bukan sepenuhnya karena aku. Kalau bukan keluargamu sudah mantap mau beli, aku bicara apapun juga percuma. Kuncinya ayahmu memang tegas, bilang beli ya langsung beli.”
Mengatakan itu, Su Yu pun sedikit terharu.
Semua orang bisa saja meramal dan memberi saran.
Tapi tidak semua orang punya keberanian sebesar itu untuk membeli rumah tua dan jelek, hanya demi masa depan anaknya.
Apakah keluarga Zhou punya satu miliar?
Mungkin ada.
Tapi itu pun sudah maksimal.
Membeli rumah itu, jelas menguras sebagian besar harta keluarga Zhou.
Kalau bukan karena ada orang dalam, atau orang yang benar-benar dipercaya, hanya mengandalkan saran dari Su Yu saja, mustahil mereka akan gegabah membeli.
Dari sini, Su Yu menyadari satu hal: relasi keluarga Zhou di Kota Yanjing ternyata lebih kuat dari yang ia bayangkan.
Paling tidak, mereka punya orang dalam di beberapa bidang, dan cukup punya pengaruh sehingga ayah Zhou merasa tenang.
Seperti misalnya, dekan universitas yang ia kenal, ternyata masih kerabat Zhou Qiang.
Identitas seperti ini sudah sangat besar.
Jaringan relasi yang rumit seperti ini... sepertinya memang memberitahu Su Yu, bersahabat dengan Zhou Qiang ternyata jauh lebih baik dari dugaan awalnya.
Setelahnya, Zhou Qiang dengan bersemangat bilang ingin mentraktir Su Yu makan, sebagai ucapan terima kasih.
Di saat yang sama, Zhou Qiang juga berjanji akan memberikan sebagian uang pada Su Yu, karena memang sudah disepakati sebelumnya, tak boleh ingkar janji.
Su Yu setuju untuk makan bersama, tapi menolak soal uang.
Kalau ia memang menginginkan uang, ia tak akan berbicara pada Zhou Qiang. Yang ia butuhkan hanya seorang teman terpercaya, serta jaringan relasi dan dukungan di balik ayah Zhou Qiang, itu saja.
Mungkin memang terlalu banyak yang ia berikan, tapi hanya Zhou Qiang yang percaya padanya dan mau membeli rumah itu.
Orang lain mana ada yang mau beli rumah tua jelek seharga lebih dari satu miliar?
Jadi pada dasarnya, ini memang sudah menjadi hak Zhou Qiang.
“Oh ya, Su Yu, ada satu hal lagi yang bikin aku ingin marah! Kau harus jadi penengah, mantan pemilik rumahku kemarin menemui ayahku, minta tambahan uang, katanya harga naik terlalu gila, harus ada kompensasi. Tapi ayahku langsung menolak mentah-mentah, memangnya kalau harga turun, dia mau ganti rugi ke aku?”
Zhou Qiang mengeluh beberapa kalimat.
Setelah itu, ia mengobrol sebentar dengan Su Yu, membicarakan soal mengajak Wang Hao jalan bareng lain kali, lalu menutup telepon.
Selesai menutup telepon, Zhou Qiang dengan semangat masuk ke rumah barunya, penuh kepuasan menatap rumahnya yang kini bernilai satu miliar empat ratus juta...
Saat itu, Su Yu melihat waktu masih pagi, jadi ia sempat tidur sebentar.
Belakangan, ia dibangunkan oleh Gao Qi, mengingatkan bahwa Su Yu harus mengikuti rapat besar organisasi mahasiswa.
Su Yu pun bangkit, mencuci muka seadanya, lalu berangkat bersama Gao Qi.
Hari ini adalah rapat seluruh anggota organisasi mahasiswa angkatan 2013, mereka harus berangkat setengah jam lebih awal.
Saat mengunci pintu kamar, Su Yu sempat melirik ke samping.
Saat itu, tetangga sebelah, Dong Tua, juga baru keluar sambil mengunci pintu.
Dong Tua tersenyum pada Su Yu, “Yu-ge, mau ke rapat organisasi mahasiswa juga?”
Su Yu tertawa, “Iya, sekalian saja.”
Dari kelompok laki-laki, yang masuk organisasi mahasiswa memang sedikit, cuma enam orang. Selain tiga sekamar mereka, yang lain tersebar di kamar berbeda.
“Oh ya Yu-ge, teman sekamar barumu belum datang juga?”
Dong Tua adalah mahasiswa kamar 312, wajahnya kotak, penuh jerawat, rambut cepak, tampak ramah.
Tentu, itu hanya penampilan luarnya saja.
Kabar yang beredar, Dong Tua adalah ahli koleksi film. Koleksinya mungkin sudah ratusan giga, kalau ada yang penasaran, pasti ke kamar Dong Tua untuk konsultasi, makanya ia lumayan terkenal di lantai itu.
Su Yu pun berkata, “Belum, aku malah ragu dia bakal datang, katanya harus datang sebelum November, kan?”
Memang, teman sekamar baru itu luar biasa, sudah sampai November belum juga datang.
“Aku juga kurang tahu, tapi kayaknya pasti akan datang. Soalnya tadi pagi aku ketemu Kak Chuan, dia sempat bicara soal itu sama pembimbing lain, katanya teman sekamar kalian akan tiba dalam tiga hari ini, Kak Chuan sedang mengurus administrasi masuknya. Luar biasa, harus Kak Chuan sendiri yang turun tangan, benar-benar istimewa!”
Dong Tua bergumam sendiri.
Su Yu dan Gao Qi sama-sama terkejut.
Teman sekamar keempat?
Ternyata memang ada orang seperti itu?