Bab 11 Rencana
Halaman (1/3)
Nyonya Zhu segera membulatkan tekad. “Ibu, kalau Ibu terus memaksaku, aku akan membenturkan kepala di sini sampai mati. Dengan ibu mertua sekejam dirimu yang tega memaksa menantu perempuan mati, lihat saja bagaimana kedua adik iparku bisa mendapatkan istri!”
Setelah berkata demikian, ia menatap Su Wanwan dengan pandangan mengancam, seolah-olah sesaat lagi benar-benar akan membenturkan kepalanya ke dinding.
“Memangnya kau tidak takut Ze’er dan Niu Niu membencimu?”
Benar saja, Chen Haoze yang berada di sampingnya sedang menatapnya dengan penuh kebencian.
Namun Su Wanwan bahkan tidak sudi melirik mereka. Ini sudah orang kedua yang menggunakan kematian untuk memaksanya.
Chen Sibao menyadari tatapan ibunya, lalu mengusap kepalanya dengan canggung.
Ini tidak ada hubungannya dengannya, bukan?
“Zhu Yaozu saja, meskipun memiliki keluarga yang serakus kalian, masih bisa berpikir untuk menikah. Apa yang harus kutakutkan?” Su Wanwan mengangkat bahu, sama sekali tidak terpengaruh oleh ancamannya. “Atau bagaimana kalau kusampaikan saja kejadian hari ini kepada semua orang, lalu kita lihat siapa sebenarnya yang bersalah?”
Begitu kata-kata itu terlontar, wajah keluarga Zhu langsung berubah sangat buruk.
Nyonya Zhu pun berada dalam posisi serba salah.
Kesabaran Su Wanwan benar-benar habis. “Sudahlah, untuk siapa kalian berakting?”
“Sekalipun langit runtuh, hari ini kalian tetap harus mengembalikan uang itu kepadaku. Mengenai akibat jika tidak membayar, kalian sendiri pasti tahu!”
Sambil berkata begitu, ia menyuruh Chen Sibao membawakan sebuah kursi, lalu duduk dengan tenang.
“Dasar kejam!” Zhu Fugui berpikir keras, tetapi pada akhirnya hanya bisa mengalah. Ia percaya Su Wanwan benar-benar sanggup menyerahkan mereka kepada pemerintah.
Jika sampai begitu, keluarga mereka benar-benar akan hancur.
Ia menatap Su Wanwan dengan penuh kebencian, seolah-olah ingin menembus tubuhnya dengan pandangan.
Bagaimana mungkin nenek tua sialan ini tiba-tiba menjadi begitu keras?
“Pergi ambil uangnya!” perintahnya kepada ibu Zhu.
Ibu Zhu tidak menyangka mereka benar-benar harus mengembalikan uang. Ia langsung duduk di tanah, menangis dan berguling-guling. Mengembalikan uang sebanyak itu terasa lebih menyakitkan daripada mengiris dagingnya sendiri.
“Langit benar-benar tidak adil! Keluarga Chen hendak memaksa orang sampai mati!”
Su Wanwan meliriknya. Aura dingin di sekeliling tubuhnya begitu menggetarkan.
Zhu Fugui tidak berani menunda. Ia menendang ibu Zhu. “Diam! Keluarkan uangnya!”
Ibu Zhu tidak berani membantah. Sambil menahan rasa sakit dan melotot tajam kepada Su Wanwan, ia masuk ke dalam rumah dengan enggan. Tak lama kemudian, ia keluar sambil membawa sebuah peti kayu. Di dalamnya terdapat beberapa batang perak yang berserakan serta setengah rangkaian koin tembaga.
“Ambil semuanya! Anggap saja keluarga Zhu berutang kepada kalian!”
Su Wanwan menerima peti itu. Ujung jarinya menyusuri batang-batang perak tersebut—ada tiga batang, masing-masing seberat sepuluh tael, ditambah beberapa keping perak kecil dan koin tembaga.
Setelah menghitungnya, jumlahnya tepat empat puluh tael.
Keluarga Zhu ternyata bisa mengeluarkan uang sebanyak itu sekaligus. Bukan hanya keluarga Chen yang terkejut, Nyonya Zhu pun sangat terpukul.
Bukankah ibunya berkata bahwa di rumah tidak ada uang sepeser pun, lalu menyuruhnya kembali ke keluarga Chen untuk meminta uang?
Kalau begitu, dari mana semua uang ini berasal?
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ia menatap ibunya, berharap mendapat penjelasan. Namun sorot mata sang ibu justru seakan-akan hendak menelannya hidup-hidup.
Dengan ketakutan, ia segera menarik diri.
Yang tidak diketahui semua orang adalah, pasangan suami istri keluarga Zhu itu tidak hanya meminta uang dari Nyonya Zhu. Mereka juga menggunakan alasan yang sama terhadap beberapa putri mereka. Rumah siapa pun yang menolak memberi uang akan mereka tinggali bersama-sama, sampai putri dan menantu laki-laki keluarga itu terpaksa menyerahkan uang.
Su Wanwan berbalik menatap Chen Ershuan. “Besok, jangan lupa bawa kemari peti bawaan nikah milik Nyonya Zhu.”
Ia lalu memandang Nyonya Zhu tanpa sedikit pun emosi. “Karena kau sudah menentukan pilihan, kuharap suatu hari nanti kau tidak menyesal. Kedua anak itu boleh kau rawat jika memang mau. Kalau tidak, aku akan menyuruh seseorang datang menjemput mereka.”
Setelah mereka pergi, Nyonya Zhu seakan kehilangan seluruh tenaganya dan terduduk di tanah.
Jadi, ia benar-benar diceraikan?
Namun, mengapa? Bukankah seorang kakak seharusnya membantu adik laki-lakinya?
Nenek tua sialan itu sendiri tidak dekat dengan keluarga asalnya, jadi ia iri karena Nyonya Zhu memiliki seorang adik laki-laki. Penghinaan hari ini pasti akan dibalasnya suatu hari nanti!
Dalam perjalanan pulang, Chen Sibao menatap kantong perak di pinggang ibunya sambil menyeringai. “Ibu, siapa sangka lelaki tua Zhu itu ternyata begitu mudah ditangani.”
“Dan siapa sangka keluarga mereka sekaya itu?”
“Selama seseorang masih manusia, pasti ia memiliki kelemahan!” Su Wanwan meliriknya. “Zhu Yaozu adalah kelemahan keluarga Zhu. Selama kita memegang kelemahan mereka, tentu ada cara untuk membuat mereka memuntahkan kembali apa yang telah mereka telan.”
Uang hasil penjualan toko masih tersisa seratus enam puluh enam tael. Ditambah empat puluh tael yang diperoleh hari ini, jumlahnya menjadi dua ratus enam tael.
Uang sebanyak ini… harus direncanakannya dengan baik.
Saat mereka tiba di kota kecil, hari sudah menjelang sore. Karena belum makan siang, perut ketiga bersaudara itu sudah keroncongan sejak tadi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Su Wanwan tidak menyusahkan ketiganya. Ia memesankan semangkuk pangsit kuah untuk masing-masing.
Itu juga merupakan makanan pertama yang benar-benar disantap Su Wanwan sejak berpindah ke dunia ini. Setiap hari hanya makan sayuran liar sampai-sampai ia merasa hampir berubah menjadi hijau.
Semangkuk pangsit kuah bagi anak laki-laki seusia mereka hanya cukup untuk mengganjal perut. Mereka menghabiskannya dalam dua atau tiga suapan. Chen Sibao kemudian menatap pangsit kuah di mangkuk Su Wanwan dengan mata berbinar.
Su Wanwan menahan keinginan untuk memutar mata, lalu mempercepat makannya, meniru mereka.
Ingin merebut makanan dari mulutnya? Bocah ini benar-benar sedang bermimpi.
Meskipun tubuh yang digunakannya adalah tubuh ibu mereka, jika dihitung-hitung, usia Su Wanwan sebenarnya hanya delapan tahun lebih tua daripada Chen Sibao. Karena itu, sama sekali tidak ada yang namanya “kasih sayang keibuan” terhadap mereka.
Chen Sibao agak kecewa karena ibunya tidak lagi menyisakan makanan untuknya seperti sebelumnya.
Setelah makan, Su Wanwan membawa mereka ke toko bahan pangan.
Semula ada dua toko bahan pangan di kota kecil itu. Satu milik keluarga Jiang, sedangkan yang lain milik keluarga mereka. Tentu saja, keduanya saling bersaing.
Biasanya, mereka hampir tidak pernah berhubungan.
Kini setelah toko bahan pangan keluarga Chen bangkrut, hanya tersisa toko keluarga Jiang. Bisnis mereka pun menjadi lebih baik. Karena itu, ketika menghadapi mereka, Kepala Toko Jiang tidak lagi bersikap setajam sebelumnya. Ia malah menyambut mereka dengan ramah.
“Adik ipar tua, angin apa yang membawa Anda kemari?”
Menghadapi orang yang tersenyum, orang tentu tidak akan membalas dengan kepalan tangan. Su Wanwan pun membalas senyumnya. “Aku datang untuk melihat-lihat bahan pangan.”
Begitu mendengar bahwa mereka hendak membeli bahan pangan, Kepala Toko Jiang semakin bersemangat melayani. Pada akhirnya, Su Wanwan memilih satu karung beras dan satu karung tepung putih, dengan total harga tiga tael perak.
Hal itu membuatnya tak bisa tidak menghela napas. Uang benar-benar cepat habis.
Chen Ershuan merasa sedikit sakit hati melihat tiga tael lenyap begitu saja. Ia membujuk, “Ibu, membeli jewawut saja sudah cukup. Kalau memang tidak bisa, beras lama juga lebih murah.”
“Kalau kau tidak makan, memangnya kedua anak itu juga tidak perlu makan?” Su Wanwan meliriknya. “Lihat saja Baozhu, sudah kurus sampai seperti apa.”
Uang diperoleh memang untuk dibelanjakan.
Sebelum pulang, ia juga membeli satu kilogram daging babi di toko daging. Sebenarnya ia masih ingin membeli beberapa kilogram lagi, tetapi tatapan Chen Ershuan kepadanya terlalu penuh keberatan, sehingga ia hanya bisa mengurungkan niat.
Mereka bertiga berjalan pulang di bawah cahaya senja. Su Wanwan memanfaatkan kesempatan itu untuk memindai beberapa tanaman, tetapi hanya memperoleh enam puluh poin.
Sepertinya besok ia harus pergi ke gunung.
Ketika pohon beringin tua di pintu masuk desa perlahan tampak jelas di hadapan mereka, sebidang tanah terlantar masuk ke dalam pandangan Su Wanwan.
Ia seketika tertarik. Matanya dipenuhi kegembiraan.
“Anak kedua, tanah itu milik siapa?”
Ketiga bersaudara itu mengikuti arah pandangannya dan melihat tanah terlantar di kaki gunung. Chen Ershuan bertanya dengan bingung, “Ibu, bukankah itu tanah terlantar milik desa?”
“Kalau begitu, kalian pernah mendengar apakah tanah itu dijual atau tidak?”
Sehari sebelumnya, ia sudah mencari tahu bahwa harga satu mu tanah subur sekitar sepuluh tael perak. Dengan uang yang dimilikinya, selain membeli tanah, ia juga masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, jadi tidak mungkin membeli terlalu banyak.
Terlebih lagi, jika ia ingin menanam gandum, sawah justru tidak sebaik tanah terlantar.
“Paman Kepala Desa selalu ingin menjualnya, tetapi siapa yang mau membeli tanah terlantar?”
Su Wanwan diam-diam mengingatnya. Sepertinya besok ia memang perlu berkunjung ke rumah kepala desa.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)