Bab 17 Tahu Campur Daun Aromatik
Halaman (1/3)
Su Wanwan meliriknya dengan kesal. “Besok kakak keduamu akan ikut kepala desa mengurus pemindahan hak tanah. Jadi, pembukaan lahan tandus akan mengandalkanmu.”
Wajah Chen Sibao langsung dipenuhi penolakan. “Ibu, putra bungsu Ibu ini bahunya tak sanggup memikul dan tangannya tak kuat mengangkat. Tolong lepaskan aku…”
“Kalau benar-benar tidak bisa, suruh saja kakak ipar keduamu pergi.”
Su Wanwan merasa Chen Sibao terlalu banyak bicara selama dua hari terakhir. Ia menatapnya dengan kesal. “Kalau belum selesai, jangan harap makan. Urus sendiri!”
Nyonya Liu sibuk mondar-mandir di dapur. Sementara itu, Su Wanwan membawa kedua anaknya ke kebun sayur di belakang rumah. Chen Ershuan dan Chen Sibao diusirnya untuk memperbaiki atap.
Setiap kali hujan, rumah ini selalu bocor. Tampaknya urusan memperbaiki rumah juga harus segera dimasukkan ke dalam rencana.
Hanya dalam beberapa hari, suasana hati Su Wanwan telah mengalami perubahan besar. Dari yang semula kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa, kini ia perlahan mulai terbiasa.
Dulu, melihat orang-orang yang sebaya dengannya memanggilnya “Ibu” masih terasa canggung. Namun sekarang, menghadapi beberapa anak durhaka itu, tangannya justru terasa gatal setiap hari.
Chen Sanlang memandangi pemandangan keluarga yang penuh kehangatan itu dengan perasaan campur aduk.
Sesampainya di kebun sayur, kedua anak bermain menangkap serangga di sampingnya. Su Wanwan mengamati lahan tersebut dan mulai menyusun rencana. Ia mendapati bahwa orang-orang di sini menanam terlalu sedikit jenis sayuran.
Selain itu, ragam sayurannya juga terbatas. Tak lebih dari sawi putih dan lobak.
Ia suka makan sayuran, jadi lahan ini harus dipenuhi berbagai macam sayuran.
Benih-benih sayuran di toko sistem sangat beraneka ragam, hanya saja harganya tidak murah…
Tampaknya ia harus bergegas mengumpulkan poin.
Ia menemukan sebatang dompet gembala dan segera memindainya.
【Pemindaian berhasil. Dompet gembala, kaya akan vitamin C, membantu melancarkan pencernaan dan mengatur tekanan darah. Memperoleh 10 poin.】
Mata Su Wanwan berbinar. Ini benar-benar barang bagus. Dijadikan isian pangsit atau ditumis dengan telur pasti sangat lezat.
Membayangkan pangsit berisi dompet gembala, ia tanpa sadar menelan ludah.
Lahan itu tidak luas. Untungnya, dompet gembala tumbuh sangat lebat. Su Wanwan menggali hingga memenuhi satu keranjang besar. Ia merasa benar-benar mulai menyukai kegiatan menggali sayuran liar.
Rasanya sangat memuaskan.
Di dekat parit yang sudah tidak terpakai, tumbuh pula sebidang besar bayam liar. Setelah memindainya, Su Wanwan kembali larut dalam kegiatan menggali sayuran liar.
Bayam liar sangat lezat dijadikan isian bakpao atau salad dingin.
Karena terlalu asyik, ia sama sekali tidak menyadari bahwa di antara tanaman itu bercampur jenis lain. Ketika tiba-tiba tangannya terasa perih, barulah ia melihat sebatang jelatang yang sedang tumbuh angkuh di bawah sinar matahari.
“Ceroboh sekali,” gumamnya dalam hati.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Lingkungan yang teduh seperti ini paling cocok untuk pertumbuhan jelatang.
Jelatang juga disebut rami dewa dalam dialek setempat. Tanaman ini sangat lezat dijadikan salad dingin atau dipanggang menjadi lempeng. Namun, ada pepatah yang mengatakan, “Jelatang dewa di bulan keenam bahkan sang keledai pun tak tahan disengat.”
Dari sini saja sudah terlihat bahwa tanaman ini tidak mudah dipetik. Ia harus mencari alat terlebih dahulu.
Ia memindainya lebih dulu. Tak disangka, tanaman ini ternyata bernilai hingga 20 poin, membuatnya seketika melupakan rasa sakit tadi.
Saat memandangi angka poin yang terus berubah di antarmuka sistem, pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada sebatang pohon bengkok di sudut pagar. Tunas-tunas mudanya tampak berwarna merah gelap.
Ia berdiri dan menepuk-nepuk tanah di lututnya, lalu mendekat mengikuti aroma harum yang tercium.
Angin musim semi menyapu pucuk pohon. Beberapa helai daun muda berbentuk menyirip bergoyang lembut. Aroma dedaunan yang pekat, bercampur kehangatan, menerpa wajahnya.
“Pucuk surian!” Mata Su Wanwan langsung berbinar. Ia menjulurkan tangan dan memetik beberapa tangkai tunas muda. “Ini benar-benar barang bagus.”
Entah berapa banyak poin yang akan diperolehnya?
Tak lama kemudian, bunyi pemberitahuan sistem terdengar.
【Pemindaian berhasil. Pucuk surian, dapat dimakan, berkhasiat mengusir angin dan lembap serta menyehatkan limpa dan meningkatkan selera makan. Memperoleh 30 poin.】
Jumlah poinnya kembali mencapai tiga ratus. Ia memanggil Chen Sibao untuk memetik seluruh pucuk surian di pohon itu.
Chen Sibao datang dengan enggan, lalu mencium aromanya. Ia mengernyitkan hidung dan mundur setengah langkah. “Ibu, kenapa baunya aneh sekali?”
“Tidak tahu saja, ya?” Su Wanwan melemparkan pucuk surian ke dalam keranjang bambu dengan wajah tenang. Banyak orang urung mencicipinya hanya karena aroma ini, padahal mereka tidak tahu bahwa tanaman tersebut sebenarnya sangat lezat. “Nanti Ibu akan menunjukkan keahlian Ibu. Ibu jamin kau akan memakannya sampai-sampai ingin menelan lidahmu sendiri.”
“Hah? Meninggalkan daging dan sayuran lalu makan ini?” Chen Sibao tidak percaya. Namun, ia tetap menurut dan memetik semua pucuk surian.
Sejak kecil, anak itu memang seperti monyet kecil yang nakal. Memanjat pohon sama sekali bukan perkara sulit baginya.
Setelah pucuk surian selesai dipetik, Nyonya Liu datang memanggil mereka untuk pulang makan. Su Wanwan asal memindai sebatang sayur mi, lalu ikut pulang.
Ia tidak suka tanaman itu, jadi tidak memetiknya.
Nyonya Liu menerima sayuran liar tersebut. Ketika melihat semua orang membawa pucuk surian di pelukan masing-masing, ia bertanya dengan heran, “Ibu, apakah tanaman ini bisa dimakan?”
Untuk pertama kalinya, Chen Sibao merasa bahwa pendapatnya ternyata sama dengan kakak ipar keduanya.
Su Wanwan adalah seorang ahli teori dalam urusan memasak. Dulu, ketika menonton video-video pendek, ia senang melihat video memasak dan mengetahui cukup banyak resep, tetapi belum pernah mempraktikkan satu pun.
Karena itu, ia hanya bisa meminta Nyonya Liu yang memasaknya.
“Tanaman ini paling enak dicampur dengan tahu.” Sambil berkata demikian, ia mengambil tahu yang dibeli sore tadi dan mulai mengatur Nyonya Liu untuk memasaknya.
Sampai Nyonya Liu menyajikan sepiring tahu campur pucuk surian di atas meja, semua orang masih belum berani mengulurkan sumpit. Hanya Su Wanwan yang mengambil sesendok besar dan memasukkannya ke mulut.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Aroma khas segera memenuhi mulutnya. Ia tersenyum puas.
Ya, rasa inilah yang ia ingat. Nyonya Liu benar-benar berbakat dalam memasak.
Melihat ekspresinya yang jelas-jelas bukan pura-pura, semua orang pun mengambil sumpit dan mencicipinya.
Eh… suapan pertama terasa agak aneh. Suapan kedua ternyata tidak buruk. Lalu, mengapa suapan ketiga terasa agak lezat?
Pada akhirnya, setelah masing-masing mengambil beberapa suapan, sepiring tahu campur pucuk surian itu habis disantap. Bahkan, mereka masih merasa belum puas.
Nyonya Liu mencicipinya, lalu berseru kagum, “Selama ini kukira pohon ini hanya tempat bersarangnya serangga. Siapa sangka ternyata bisa diolah menjadi makanan selezat ini. Ibu, bagaimana Ibu bisa tahu begitu banyak?”
Su Wanwan menyendok nasi dua kali. Ia tertawa diam-diam dalam hati. Mana mungkin ia memberi tahu bahwa dirinya berasal dari beberapa ratus tahun mendatang dan mampu menghafal lebih dari belasan resep berbahan pucuk surian?
Namun, wajahnya tetap tenang. Ia hanya melambaikan tangan. “Kakek dari pihak ibumu dulu sering bepergian ke berbagai tempat mengikuti pedagang keliling. Wawasannya luas. Aku hanya pernah mendengar sedikit darinya. Di dunia ini ada begitu banyak sayuran liar yang bisa dimakan. Mulai sekarang, kebun sayur kita akan menjadi semakin ramai.”
Ia telah menemukan alasan yang bagus untuk dirinya sendiri.
Setelah makan, ia berpesan kepada Nyonya Liu, “Besok pagi, buatlah bakpao isi bayam liar. Tambahkan banyak ampas minyak yang renyah, lalu bawakan beberapa untuk Ershuan sebagai bekal perjalanan.”
Mendengar ia hendak menggunakan tepung terigu putih dan ampas minyak, hati Nyonya Liu langsung berdegup cemas. Ibu rupanya sudah tidak berniat menjalani hidup hemat.
Bagaimana mungkin tepung putih dihabiskan sebanyak itu?
Chen Sibao justru merasa sangat gembira. Ibunya memang menjadi sedikit lebih galak, tetapi makanan di rumah benar-benar semakin enak.
“Malam nanti, buatlah pangsit dari dompet gembala ini agar kedua anak bisa memuaskan selera.”
Kali ini Nyonya Liu benar-benar tidak bisa duduk tenang. “Masih harus membuat pangsit juga?”
Bahkan keluarga tuan tanah terkaya di kota pun mungkin tidak sanggup makan seperti itu tiga kali sehari.
“Sudahlah. Kalau ingin kudanya berlari, tentu harus memberinya makan sampai kenyang.” Su Wanwan langsung mengambil keputusan.
Malam pun tiba. Lampu minyak memantulkan bayangan cahaya yang bergoyang-goyang di kertas jendela.
Su Wanwan membungkuk di atas meja kang sambil menghitung uang. Jumlah perak yang semula sudah tidak seberapa kembali berkurang tiga puluh delapan tahil. Ketika teringat Chen Dailang, si serigala tak tahu berterima kasih, ia berpikir bahwa jika suatu hari nanti lelaki itu pulang dan meminta uang, harta mereka pasti akan berkurang lagi.
“Baru menjadi kepala keluarga, sudah tahu betapa mahalnya beras dan kayu bakar.” Ia mengusap alisnya dan menghela napas.
Tampaknya ia masih harus mencari cara untuk mendapatkan uang.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Chen Sanlang keluar rumah secara diam-diam setelah semua orang tertidur.
Halaman (3/3)