Bab 126: Semuanya, aku akan segera pergi
"Huu..."
Lie Shang mengembuskan napas panjang, tubuhnya yang semula kaku kini kembali bebas.
"Te... terima kasih!"
Lie Shang menangkupkan tangan sebagai tanda syukur. Segera setelah itu, ia menatap Luo Liuyan dan keempat rekannya dengan raut wajah yang sangat serius.
Apakah aku benar-benar harus menggunakan jurus itu?
Lie Shang mengerutkan kening, terus berpikir keras. Akhirnya, ia mengertakkan gigi dengan tatapan tajam.
"Kalau memang harus begitu, aku akan bertarung habis-habisan dengan kalian!"
Setelah berkata demikian, Lie Shang mengambil Bulu Leluhur Gagak dan meraung lantang.
"Leluhur, turunlah!"
Energi darah dalam tubuh Lie Shang mengalir deras ke dalam Bulu Leluhur Gagak.
"Huu..."
Bulu itu menyala dengan cahaya merah yang menyilaukan. Seekor burung raksasa berwarna merah menyala perlahan muncul di langit, sosoknya kian lama kian nyata. Saat kepakan sayapnya menggetarkan udara, langit seolah tertutup oleh bayangannya. Aura kekuatan abadi terpancar darinya, membuat siapa pun yang melihatnya tidak berani melawan. Ia adalah perwujudan dari Bulu Leluhur Gagak yang menyimpan sisa jiwa Leluhur Gagak.
"Abadi?"
Luo Liuyan dan keempat rekannya terperanjat melihat pemandangan itu. Mereka saling bertukar pandang, menunjukkan tekad yang tak gentar.
"Siapa yang berani menindas keturunanku?"
Burung api raksasa itu mengeluarkan suara manusia dan menyapu pandangan ke sekeliling. Namun sedetik kemudian, bulu kuduknya berdiri, sekujur tubuhnya terasa seperti tenggelam ke neraka, dan keringat dingin bercucuran.
"Itu... itu Yang Mulia Teratai Hijau?! Itu Iblis Agung Ying You!"
"Di langit itu, bukankah itu Leluhur Naga Ruang Angkasa?!"
"Dan mereka berdua... mereka adalah Sepasang Suci Asura!"
"Di dalam rumah itu saja, masih ada ratusan aura yang membuatku ketakutan!"
Tempat macam apa ini? Bagaimana mungkin keturunanku bisa senekat ini membuat keributan di tempat seperti ini? Apa otaknya sudah ditendang keledai? Atau sudah dibuat bodoh oleh pantat babi? Kau ingin mati sendiri, jangan seret aku!
Apa yang harus kulakukan?
Sisa jiwa Leluhur Gagak gemetar hebat, wajahnya menunjukkan penyesalan yang tak terhingga. Sosoknya menyusut dengan cepat dan berubah menjadi seorang lelaki tua berjubah merah.
"Leluhur, ini..."
Belum sempat Lie Shang menyelesaikan kalimatnya, "Plak!"
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Lie Shang. Lie Shang memegang pipinya dengan wajah bingung, "Leluhur, Anda..."
"Leluhur kepalamu! Aku tidak ada hubungan apa pun denganmu!"
Setelah berkata begitu, Leluhur Gagak menjauh dari Lie Shang untuk menjaga jarak. Kemudian, ia berlutut di tanah.
"Para senior sekalian, saya sadar telah berbuat salah. Mohon berikan saya kesempatan, saya akan segera pergi!"
Leluhur Gagak bersujud dengan keras hingga setiap benturannya menciptakan riak di ruang angkasa.
"Pergilah!"
Suara Yang Mulia Teratai Hijau terdengar. Leluhur Gagak merasa seperti mendapatkan pengampunan, ia kembali bersujud, "Terima kasih, Senior! Terima kasih, Senior!"
Tanpa membuang waktu, ia segera kabur tunggang-langgang dengan sangat memalukan. Dalam sekejap mata, ia menghilang di cakrawala tanpa jejak.
Pemandangan ini benar-benar mengguncang saraf Lie Shang. Ia ternganga lebar, terdiam di tempat tanpa bisa bereaksi selama beberapa lama. Orang-orang hebat di depannya ini, ia pikir hanyalah makhluk abadi biasa. Ia mengira kemunculan Leluhur Gagak akan mampu mengatasi mereka. Tak disangka, setelah muncul, Leluhur malah menamparnya dan kabur dengan penuh rasa takut. Leluhur Gagak yang dulu namanya begitu disegani, bisa berakhir sememalukan ini? Jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, mana mungkin ia percaya?
Sampai saat ini, Lie Shang masih belum bisa mencerna kenyataan. Semua ini sungguh di luar nalar.
"Sss..."
Lie Shang menarik napas dalam-dalam, tubuhnya gemetar hebat. Hari ini, tamatlah riwayatnya! Namun, kalaupun harus mati, ia harus mati dengan berdiri tegak!
"Ayo!"
Lie Shang mengayunkan pengocok debunya dan menerjang ke arah Mu Bing.
...
Di bawah gunung.
"Bum! Bum..."
Suara ledakan terus terdengar. Mo Shan dipukul oleh kera raksasa hingga memuntahkan darah berkali-kali, lukanya cukup parah.
"Sialan, sialan!"
"Sampai dipermalukan oleh seekor monster kecil seperti ini, kau sudah cukup hebat bisa mati dengan bangga!"
Mo Shan menggerakkan pikirannya, mengerahkan kekuatan dalam tubuhnya.
"Huu..."
Kabut hitam pekat menyelimuti sekeliling, membentuk perisai hitam yang menahan serangan kera raksasa.
"Kepala monyet, sadarlah!"
Mo Shan mengarahkan jari telunjuknya, seberkas energi hitam menembus titik di antara alis kera raksasa itu. Gerakan kera itu melambat, matanya kini diselimuti kabut hitam. Ia berdiri di depan Mo Shan seperti boneka. Mo Shan tersenyum memandang kera tersebut.
"Bagus sekali, setelah kembali nanti, aku akan melatihnya menjadi boneka. Pasti kekuatannya tidak akan kalah dari Empat Jenderal Perang!"
Mo Shan mengangguk puas dan bersiap untuk kembali, saat tiba-tiba...
"Bum!"
Sebuah ledakan terdengar. Ning Mingzhi muncul dari kepulan debu dengan gigi terkatup rapat. Ia menatap Mo Shan dengan tatapan membunuh.
"Kau... kau berani membuat lipatan pada gulungan lukisanku?!"
"Kau tidak tahu ini adalah pemberian dari Tuan?"
"Tidak bisa dimaafkan, tidak bisa dimaafkan!"
"Kaum iblis rendahan, berani-beraninya kau berulah di sini, matilah!"
Ning Mingzhi meraung marah sambil membentangkan gulungan lukisannya. Ia duduk bersila di tanah dan mulai merapalkan mantra.
"Sariputra, bentuk tidak berbeda dari kekosongan, kekosongan tidak berbeda dari bentuk..."
Kalimat-kalimat suci meluncur dari mulutnya, mengalir deras ke dalam gulungan lukisan. Kemudian, tulisan-tulisan itu terbang keluar dari gulungan, membentuk aksara emas yang menari-nari di langit. Dari jauh, tampak seperti jutaan kupu-kupu emas yang sangat indah.
Aksara-aksara ini menumpuk dengan cepat, tak lama kemudian membentuk sosok Buddha emas setinggi puluhan meter. Buddha itu mengikuti Ning Mingzhi merapalkan mantra. Suara-suara mistis berubah menjadi aksara yang menyerang kera raksasa dan Mo Shan. Begitu mendengarnya, kabut hitam di mata kera raksasa itu sirna seketika. Tubuhnya menyusut cepat menjadi monyet kecil yang duduk bersila dan mulai mendengarkan dengan khidmat.
"Argh..."
Mo Shan memegangi kepalanya, menjerit kesakitan. Ia tampak seolah sedang menerima hukuman yang paling kejam. Aksara-aksara emas terus terbang mendekat, membuat energi hitam di tubuhnya terus menguap. Seiring berjalannya waktu, kekuatannya semakin melemah. Ia berlutut di tanah dengan wajah kesakitan.
"Dasar biksu botak sialan, diam! Diamlah!"
"Berhenti merapal, kumohon berhentilah!"
"Kalau kau masih terus merapal, jangan salahkan aku jika aku tidak punya belas kasihan!"
Mo Shan meraung-raung, namun Ning Mingzhi sama sekali tidak berniat berhenti. Sebaliknya, ia merapal semakin cepat. Aksara yang memenuhi langit terbang mengerumuni Mo Shan.
"Ini semua ulahmu! Ini semua karena kau memaksaku!"
"Pergilah ke neraka, dasar biksu botak sialan!"
"Sudah bagus tinggal di Surga Keabadian, malah berani datang ke sini membuat kekacauan!"
Mo Shan berteriak histeris, seolah kehilangan akal sehat. Ia mengertakkan gigi, berusaha tetap berdiri. Ia mengeluarkan selembar jimat hitam dan membakarnya seketika.
"Keluarlah, Yang Mulia Hantu Kekeringan, hancurkan semuanya sesukamu!"
"Musnahkan biksu botak ini!"
Mo Shan menyeringai kejam.
"Huu..."
Sebuah pusaran teleportasi hitam muncul di depannya. Mo Shan mundur dengan sekuat tenaga. Setelah ia berhasil mundur sejauh seratus meter, "Aum..."
Terdengar raungan yang mengerikan seperti hantu neraka yang sedang berebut makanan. Sesaat kemudian, sebuah tangan hitam raksasa setinggi seratus meter muncul dari pusaran tersebut dan menghantam tanah dengan keras.
"Bum..."
Suara ledakan dahsyat membuat debu membubung ke langit. Bumi berguncang hebat. Tangan raksasa itu mencengkeram tanah.
"Bum! Bum..."
Seluruh tanah bergetar hebat, seolah hendak terbelah. Melihat pemandangan ini, bulu kuduk Ning Mingzhi berdiri, sekujur tubuhnya terasa dingin.
"Gawat, tamatlah sudah!"