Bab 129: Tuan Muda Menyelamatkanku Lagi [Bagian Pertama]
"Tiada awidya, dan tiada berakhirnya awidya..."
Sang Buddha emas setinggi seribu meter itu terus melafalkan mantra. Suaranya terdengar semakin cepat. Aksara-aksara emas saling menjalin, membungkus Hanba dengan rapat.
"Ah..."
Hanba berlutut, mendekap kepalanya, dan menjerit kesakitan. Aura hitam di tubuhnya melesat pergi dengan cepat. Pemandangan itu tampak seperti roh jahat yang sedang disucikan. Seiring dengan semakin pekatnya aksara mantra, aura Hanba pun kian melemah. Akhirnya, seluruh aura hitam di tubuhnya lenyap tak bersisa. Ia jatuh tersungkur ke tanah, tak bergerak lagi.
Namun, mantra itu tidak berhenti, justru semakin terkumpul dengan deras. Aksara-aksara itu membentuk helaian benang yang meresap ke dalam tubuh Hanba. Kulitnya yang legam perlahan berubah menjadi keemasan. Otot-ototnya yang kering mulai mengembang dengan cepat, dan matanya yang semula kelabu pun berubah menjadi emas.
Sesaat kemudian, Hanba duduk tegak dengan posisi bersila, kedua tangannya terkatup, tampak seperti seorang murid Buddha yang saleh.
"Huu..."
Buddha emas menjulurkan jarinya dan menunjuk tepat ke dahi Hanba.
"Om..."
Suara gaung bergetar. Ribuan aksara mantra menari-nari di antara dahi Hanba, membentuk sebuah simbol suci. Kemudian, tangan kanan Buddha emas melambai. Rantai besi yang tadinya hancur menjadi debu kini menyatu kembali.
"Be-li-gu-qian..."
Seiring dengan lantunan mantra sang Buddha, rantai besi itu berubah dengan cepat menjadi butiran-butiran manik emas. Akhirnya, ia membentuk tasbih yang melingkar di leher Hanba.
"Selesai!"
Buddha emas menunjuk dengan tangan kanannya, membuat tubuh Hanba mengecil dengan cepat hingga seukuran manusia biasa, tampak seperti seorang Arhat Vajra.
Buddha emas menatap Ning Mingzhi dan berujar, "Mulai hari ini, bawalah dia bersamamu! Lafalkan mantra tiga kali sehari sampai seluruh aura kotor di dalam tubuhnya benar-benar tersucikan."
Ning Mingzhi segera mengatupkan kedua tangannya, "Baik!"
Buddha emas berbalik, menatap Luo Liuyan dan yang lainnya. Ia mengayunkan jarinya.
"Om..."
Cahaya emas yang tak terhitung jumlahnya meluncur turun bagaikan benang-benang sutra. Cahaya itu membungkus tubuh Luo Liuyan dan yang lainnya, lalu perlahan mengangkat mereka. Saat cahaya itu meresap ke dalam tubuh, luka-luka mereka segera pulih dan fisik mereka ditempa kembali. Ekspresi kesakitan di wajah mereka sirna dengan cepat. Wajah mereka kini tampak tenang, sudut bibir mereka sedikit terangkat, dan rasa nyaman yang tak terlukiskan menyelimuti seluruh tubuh.
Setelah menyelesaikan semuanya, Buddha emas memandang sekeliling yang porak-poranda. Ia menjulurkan tangan raksasanya ke arah bumi.
"Huu..."
Cahaya keemasan mengalir turun bagaikan air terjun, membasahi tanah dan pegunungan. Saat itu juga, seolah waktu berputar balik, segala sesuatu di sekitar pulih dengan cepat. Dalam sekejap, danau menghilang, tanah menjadi rata, serta rumput dan pepohonan kembali tumbuh. Puncak gunung tempat tinggal Sun Hao pun pulih kembali. Segalanya kembali seperti sedia kala, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Berhasil..."
Buddha emas menatap sekeliling sejenak, lalu tubuhnya meledak menjadi ribuan aksara mantra yang terbang ke angkasa dan menghilang. Suasana kembali tenang.
Ning Mingzhi menatap pemandangan itu dengan terpaku, sulit untuk menenangkan hatinya.
"Huu..."
Setelah menarik napas panjang, ia menatap ke langit sambil bergumam, "Tuan, Anda yang telah menyelamatkan kami!"
"Kebaikan ini akan selalu saya ingat di dalam hati! Jika ada kesempatan, saya pasti akan membalasnya!"
Mengalihkan pandangan, Ning Mingzhi melihat ke arah Hanba dengan mata yang bersinar tajam. "Apakah ini monster lain yang dimaksud oleh Tuan?"
"Tuan, jangan khawatir, setelah saya benar-benar menyucikannya, saya akan segera melanjutkan perjalanan ke Barat! Apa yang Anda perintahkan tidak akan pernah saya lupakan!" Wajah Ning Mingzhi penuh dengan rasa syukur.
"Guru!"
Siluman kera berjuang bangkit dari debu dan berlari menghampiri. Disusul oleh siluman babi dan siluman kuda. Mereka memandang Hanba dengan penuh kewaspadaan. Hanba tidak bergerak, hanya berdiri diam di tempatnya.
Ning Mingzhi berkata, "Mulai hari ini, dia adalah adik seperguruan keempat kalian!"
"Guru, dia... dia adalah..." Siluman babi bersembunyi di balik punggung Ning Mingzhi dengan suara gemetar.
"Sudahlah, ikuti aku!"
"Baik, Guru!"
Hanba mengatupkan tangan dan membungkuk memberi hormat.
...
Di tempat lain.
"Segar sekali!"
Su Yiling meregangkan tubuhnya, sudut bibirnya terangkat hingga membentuk lesung pipit yang manis. Setelah berdiri, ia menatap sekeliling dengan bingung.
"Aku ingat tadi hampir mati dihajar Hanba, kenapa jadi seperti ini?"
"Apa tadi itu hanya mimpi?" gumam Su Yiling.
"Pletakk..."
Sebuah jitakan mendarat di kepala Su Yiling. Pelakunya tak lain adalah Luo Liuyan.
"Guru, kenapa memukulku?" Su Yiling tampak merajuk.
"Muridku, apakah otakmu rusak?"
"Tadi jelas-jelas Tuan yang menyelamatkan kita, kamu malah bilang mimpi. Katakan, pantaskah kamu dipukul?" ujar Luo Liuyan.
"Tuan? Benarkah?" Su Yiling penuh kebingungan.
"Benarkah? Kamu tidak melihat Buddha emas setinggi dua ribu meter tadi?" sahut Luo Liuyan ketus.
"Ah... itu kiriman Tuan? Kalau begitu, Tuan hebat sekali!" Mata Su Yiling berbinar penuh kekaguman.
"Kemampuan Tuan, manalah bisa kita bayangkan?"
"Lain kali, jangan berteriak-teriak hanya karena Tuan menunjukkan sedikit kemampuannya. Itu membuatmu terlihat bodoh, mengerti?" nasihat Luo Liuyan.
"Murid mengerti!" Su Yiling mengangguk mantap.
"Ketua Aliansi Luo, tindakan Tuan yang turun tangan secara diam-diam kali ini pasti memiliki makna mendalam!" Chen Daoming melangkah maju sambil mengerutkan kening.
"Benar!" Luo Liuyan mengangguk pelan. "Tuan sedang mengisyaratkan bahwa kita harus segera melenyapkan kaum jahat!"
"Benarkah?" Su Yiling menggaruk kepalanya, masih bingung.
"Jangan menyela!" tegur Luo Liuyan.
"Ketua Aliansi Luo, saya juga tidak memahami isyarat Tuan, mohon pencerahannya!" Wen Renshi tampak malu.
"Benar, Ketua Aliansi Luo, apakah Tuan benar-benar memberi isyarat seperti itu?" tanya Mu Bing.
Semua mata tertuju pada Luo Liuyan. Luo Liuyan tersenyum tipis, menjulurkan tangan kanannya, dan memobilisasi energi keabadian di dalam tubuhnya.
"Om..."
Sebuah segel Buddha muncul di telapak tangannya.
"Lihat?" tanya Luo Liuyan.
"Ini adalah?"
Pupil mata mereka mengecil, wajah mereka menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.
"Ini... ini segel jalan Buddha? Ketua Aliansi Luo, Anda telah menguasai jalan Buddha?"
"Guru, Anda luar biasa! Bisa membentuk segel jalan Buddha!"
Melihat keterkejutan mereka, Luo Liuyan tersenyum, "Coba rasakan Dantian kalian!"
Mereka mulai memusatkan perhatian ke Dantian masing-masing.
"Boom!"
Seolah petir menyambar otak mereka. Wajah setiap orang menunjukkan ekspresi tercengang. Di atas Yuan Ying dalam Dantian mereka, garis-garis emas memenuhi dan menyatu dengannya. Mulai saat ini, mereka bisa mengendalikan jalan Buddha. Seiring bertambahnya kekuatan, fisik dan jiwa mereka akan semakin kuat. Mereka bahkan mungkin bisa memahami jalan waktu dan menembus segala rahasia. Memikirkannya saja sudah membuat hati mereka bergetar. Keberuntungan seperti ini belum pernah ada sebelumnya dan sungguh melampaui logika. Semuanya tampak seperti anugerah dari Tuan.
Lama kemudian.
"Huu..."
Mereka menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri dari rasa terkejut.
"Ketua Aliansi Luo, Tuan memberi kita segel jalan Buddha, ini artinya?" tanya Wen Renshi.
"Coba kalian pikirkan, apa fungsi segel jalan Buddha?" tanya Luo Liuyan.
"Guru, saya tahu, segel jalan Buddha secara alami menekan makhluk jahat!" jawab Su Yiling.
"Benar!" Luo Liuyan mengangguk. "Segel ini bisa digunakan untuk menyucikan pengikut sesat, dan juga bisa digunakan untuk memusnahkan kaum jahat!"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Chen Daoming.
"Sederhana saja, hancurkan semua fondasi kaum jahat di Benua Tianluo!" tegas Luo Liuyan.
Mereka pun mengangguk setuju. Tak lama kemudian, mereka terbang ke gunung dan berdiri di angkasa.
"Eh, ke mana pemuda yang bertarung dengan kita tadi?" Chen Daoming menatap langit, mencari-cari.
"Sepertinya dia kabur!" ujar Luo Liuyan.
"Kabur? Lalu bagaimana ini?"
"Tidak apa-apa. Karena dia bisa kabur, pasti itu sudah dalam perhitungan Tuan, tidak perlu dipedulikan!" sahut Luo Liuyan.
Mereka semua mengangguk diam-diam. Lie Shang tidak mengetahui hal ini. Saat ini, ia berada di sebuah gua di Benua Tianluo. Tubuhnya penuh luka dan bersimbah darah kering. Sedikit saja bergerak, ia meringis kesakitan dan keringat dingin bercucuran.
"Sial, sial!"
"Seandainya saja aku mendengarkan perkataan orang itu dan tidak pergi ke Gunung Siluman Besar!" Wajah Lie Shang penuh penyesalan.
Sebagai ahli tingkat setengah dewa tahap satu yang memiliki kekuatan tingkat tiga, ia justru babak belur di tangan lima orang praktisi tingkat kenaikan. Ia hampir saja mati di sana.
"Tidak bisa, lukaku terlalu parah. Jika begini terus, aku pasti mati!"
"Aku harus meminta bantuan Guru!"
Dengan pikiran itu, Lie Shang mengeluarkan batu giok komunikasi. Dengan sisa kesadarannya, ia menuliskan: Guru, selamatkan aku!
Setelah mengirim pesan itu, Lie Shang jatuh ke tanah dan pingsan tak sadarkan diri.