Bab 89: Segenggam Beras Mendatangkan Syukur, Segantang Beras Menimbulkan Dendam
Menghadapi tingkah laku Gao Qi yang tidak seperti biasanya, Su Yu pun bertanya, “Ada apa denganmu? Apa kau baru saja bertengkar dengan pacarmu?”
Gao Qi menggeleng.
Setelah itu, ia kembali mengisap rokoknya beberapa kali. Ketika rokoknya habis, Gao Qi menghela napas berat dan berkata, “Sekarang aku mulai meragukan beberapa keyakinan yang selama ini kupegang. Keputusan-keputusan yang kuambil selama ini, apakah sebenarnya benar atau tidak…”
Su Yu tidak menjawab, hanya menunggu Gao Qi melanjutkan.
“Kau juga tahu, Su Yu, aku memang punya kebiasaan menyumbang uang ke daerah-daerah miskin…”
Hal itu memang diketahui oleh Su Yu. Soalnya, Su Yu sudah beberapa kali memergoki sendiri. Jujur saja, orang tua Gao Qi pun tidak tahu soal ini, hanya Su Yu yang mengetahuinya.
Su Yu menaikkan alis, lalu bertanya, “Ada masalah dengan itu?”
Menurut cerita Gao Qi, waktu itu ia hanya melihat seseorang yang sedang kesulitan di internet, lalu menghubungi orang tersebut, dan akhirnya mulai rutin mengirim uang. Mungkin jalurnya memang tidak terlalu resmi.
Tentu saja, setelah tahu, Su Yu sangat mengagumi temannya itu.
Kadang-kadang, cukup berniat baik saja. Ada hal yang lebih baik dipercaya daripada tidak. Tindakan seperti Gao Qi ini sangat didukung oleh Su Yu. Kalau dia sendiri, pasti tidak mampu melakukannya.
“Benar... seperti yang kau bilang, sejak aku mulai punya pacar beberapa waktu lalu, kadang-kadang keluar bareng, belikan hadiah, uangku cepat habis. Jadi aku terpaksa mengurangi bantuan, hanya membantu dua orang saja. Itu pun sudah seribu yuan sebulan. Kalau aku punya dua ribu, hidup hemat saja sudah pas-pasan…”
Gao Qi melanjutkan, “Tapi masalahnya tadi, setelah mereka tahu aku mau bantu dua anak saja, mereka malah bertanya-tanya ke mana uangku pergi, kenapa tiba-tiba tidak berniat membantu lagi?”
“Aku benar-benar tidak habis pikir, mereka malah menuntutku!”
Wajah Gao Qi tampak sangat terganggu.
Su Yu mendengarkan dengan tenang, tanpa berkomentar apa-apa.
Ia mulai menyadari sesuatu.
Sebenarnya, sejak Gao Qi pernah menunjukkan pesan-pesan itu padanya, Su Yu sudah merasa bahwa pihak sana cenderung menuntut seolah-olah itu hak mereka. Nada percakapan dalam pesan itu sama sekali tidak seperti sikap penerima sumbangan yang seharusnya.
Jadi ketika muncul masalah seperti ini, Su Yu merasa itu wajar.
Gao Qi berkata lagi, “Aku sudah menjelaskan, uang jatahan hidupku sedikit, kalau memberi lebih lagi, aku sendiri harus mengurangi makan. Bagaimanapun, aku hanya mahasiswa... Tapi kau tahu apa yang ia katakan?”
“Apa?”
“Ia malah bilang, kenapa aku tidak lebih berhemat lagi!”
Saat berkata begitu, Gao Qi seperti melihat lelucon terbesar di dunia.
Ingin tertawa.
Ingin menangis.
Tak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa.
Mungkin ia merasa selama ini, uang yang ia berikan hanya sia-sia.
“Kau tahu? Saat kalimat itu keluar, aku langsung marah. Seolah-olah uang yang kuberikan tiap bulan itu sudah menjadi hak mereka, sampai-sampai mereka menuntutku! Dan nada bicaranya di akhir benar-benar membuatku tak nyaman. Katanya, kalau tidak membantu tiga orang sekalian, lebih baik tidak usah membantu sama sekali. Mana ada orang seperti itu?!”
Wajah Gao Qi benar-benar tak enak dilihat.
Saat ini,
Ia mulai meragukan apakah benar ia harus memberikan uang setiap bulan kepada orang-orang itu.
Ia benar-benar merasa kesal!
Padahal sedang berbuat baik,
Kenapa hasilnya justru tidak sesuai harapan?
Apa sebenarnya penyebabnya?
Su Yu tersenyum tipis, lalu berkata pelan, “Gao Qi, maukah kau kalau kubantu menganalisisnya?”
Gao Qi menatap Su Yu.
Selama ini, ia selalu merasa Su Yu sangat dewasa, punya ketenangan yang melampaui usianya.
Karena itu, apa pun masalahnya, Gao Qi selalu mau berbagi dengan Su Yu.
Su Yu pun berkata, “Pertama, ada pepatah tua yang berbunyi ‘Beri sedikit jadi jasa, beri banyak jadi musuh.’ Maksudnya, kalau kau sekali-kali memberi sesuatu yang besar, orang itu mungkin akan sangat berterima kasih, karena pemberianmu saat itu adalah anugerah yang luar biasa. Tapi kalau setiap saat kau memberi, sedikit demi sedikit, walaupun jumlah totalnya jauh lebih banyak, suatu saat ketika kau berhenti, apa yang akan terjadi?”
“Jadi musuh?”
Gao Qi tentu tahu pepatah itu.
Ia juga baru sadar, pihak sana memang lama-lama merasa semua itu jadi hak mereka!
Terutama bulan saat Tahun Baru, mereka bahkan meminta lebih, minta uang angpao. Dan itu pun dengan terang-terangan meminta.
Waktu itu saja, ia sudah merasa tidak nyaman untuk beberapa saat.
Tentu saja, rasa tidak nyaman itu tidak sebesar yang baru saja ia rasakan.
Semakin lama membantu, semakin tidak dihargai.
Mana ada hal yang tak masuk akal seperti ini?
Su Yu mengangguk, “Tadi dia bilang apa saja? Coba ceritakan lebih rinci.”
Lalu, Gao Qi menceritakan detail percakapannya sebelumnya kepada Su Yu.
Su Yu melanjutkan, “Masih ada kemungkinan kedua, yaitu orang yang kau bantu itu sebenarnya tidak benar-benar kesusahan, mungkin saja ia menipumu.”
“Tidak mungkin!” Gao Qi langsung menolak dugaan Su Yu.
Setelah itu, Gao Qi merenung sejenak, lalu berkata agak ragu, “Aku sudah cek, kok. Identitas, foto, semua ada.”
Melihat ekspresi Gao Qi, Su Yu merasa kemungkinan temannya itu tertipu cukup besar.
Tapi itu wajar saja, penipu memang sering memanfaatkan niat baik anak muda seperti Gao Qi untuk menjalankan aksinya.
Hal seperti ini memang sudah ada sejak dulu.
Su Yu menggeleng, “Berbuat baik tentu patut dihargai, tapi tetap harus hati-hati dan teliti. Bulan ini kau belum mengirim uang, kan?”
Gao Qi menggeleng, lalu menjelaskan, “Rencananya hari ini, tapi karena kejadian tadi, belum aku kirim.”
Su Yu tersenyum, “Mudah saja. Kalau kau mau tahu reaksi mereka, tinggal tunda saja uangnya. Lihat saja sikap mereka. Kalau bulan ini tidak ada uang, mereka pun tidak akan mati kelaparan, kan? Kalau sekadar untuk makan, lima ratus per orang itu sudah sangat mewah…”
Su Yu menggeleng lagi.
Jumlah uang yang Gao Qi berikan memang lumayan besar.
Di daerah pelosok, harga kebutuhan pokok jauh lebih murah.
Untuk sekadar tidak kelaparan, seratus saja sudah cukup per orang.
Gao Qi berpikir sejenak, lalu mengangguk, “Baiklah, bulan ini aku tidak akan mengirim uang. Lihat saja apa reaksi mereka.”
“Kau juga harus siap-siap, menurutku, kali ini kau memang ketemu penipu…”
Su Yu menepuk bahu Gao Qi.
Setelah itu, ia tinggal sebentar di kamar, lalu keluar.
Beberapa hari belakangan ini, kemajuan eksperimen Lin Xiaoxiao juga berjalan lancar.
Menurut Lin Xiaoxiao, jika eksperimen kali ini berhasil, sekitar bulan April atau Mei tahun ini, mereka sudah bisa mengirimkan artikel ke jurnal Nature.
Dan karena kontribusinya yang besar selama eksperimen, ia pasti akan menjadi penulis utama.
Mendengar itu, Su Yu tercengang cukup lama.
Baozi melakukan eksperimen seperti pakai cheat!
Apa harus secepat itu?