Waktu berlalu dengan damai dan tenang.
Kadang-kadang, hidup itu seperti seekor kupu-kupu yang menengadah menatap langit biru nan luas. Kau mendongak, terpesona oleh keindahannya, membentangkan sayap hendak terbang, namun pada akhirnya, kau tetap berada di tempat yang sama, berputar-putar tanpa henti hingga waktu seolah berhenti.
Hujan di musim gugur terasa agak berbeda. Rintiknya halus, dinginnya menusuk. Langit, apakah kau sedang menangis? Angin yang tak berperasaan itu, apakah membuatmu menggigil hingga ke tulang? Bisakah kau memberitahuku, bagaimana masa depanku?
“Yuji!”
Suara yang begitu akrab terdengar dari belakang. Seorang gadis berbaju putih tersenyum lalu berhenti melangkah. Ia berbalik perlahan, gerakannya nyaris tak meninggalkan jejak, namun hanya satu putaran sederhana itu sudah cukup membuat siapa pun terkesima. Ia begitu cantik, kecantikannya sanggup menawan hati siapa pun, seolah segalanya di sekitarnya tampak pucat, hanya untuk menonjolkan sinar dirinya.
Poni hitam berkilau yang menawan diikat rapi dengan jepit sederhana di atas dahi. Alisnya yang panjang seperti daun willow tampak tenang dan damai. Sepasang mata di bawah alis itu, sanggup membuat jantung siapa pun berdebar, menorehkan siluet di hadapan, dalam seperti lautan, sunyi seperti rembulan, jernih seperti aliran sungai, dan diam seperti kelap-kelip bintang. Dalam matanya, tersembunyi dunia lain. Bulu matanya lebat, seperti sayap kupu-kupu. Hidungnya yang mancung dan mungil menghirup kesegaran dunia, bibir merahnya yang menggoda membisikkan suka dan duka kehidupan. Wajah putih bersihnya juga memperlihatkan ekspresi yang begitu hidup. Rambut panjang yang diikat sederhana di belakang kepala tampak sedikit berantakan di antara kegersangan musim gugur, menari-nari di udara bersama rok yang ditiup angin.
Pemandangan itu begitu sunyi, sunyi hingga menusuk kalbu.
“Yuji, akhirnya aku berhasil menyusulmu!” Gadis yang berlari ke arahnya langsung memeluk leher Yuji tanpa ragu, menggesekkan pipinya dengan tawa riang.
“Koko.” Yuji tersenyum sambil melepaskan pelukan Koko dari tubuhnya. “Mulai lagi deh jurus lengketmu!”
Koko adalah gadis yang sangat ceria dan manis. Matanya besar, bola matanya seperti anggur yang bening berputar-putar, tak pernah kehabisan kata-kata dan tingkah lucu tiap hari, kepalanya dipenuhi hal-hal ganjil dan aneh yang tak terduga. Wajah mungilnya yang kemerahan, kadang-kadang mulutnya manyun, dan sifatnya yang cuek membuat siapa pun sulit untuk tidak menyukainya.
“Yuji, kau tahu tidak, aku sangat merindukanmu, haha!” Koko berdiri di depan Yuji, menggoyang-goyangkan tangan Yuji yang ramping ke kiri dan ke kanan. “Dua minggu tanpa dirimu, rasanya tiap hari berjalan begitu lambat!”
Yuji tanpa belas kasihan mencubit pipi temannya itu. “Baru dua minggu tak bertemu, kulitmu jadi makin tebal!”
Koko kembali bergelayut di tubuh Yuji, “Hehe, ya tentu saja!”
“Yuji!”
Mendengar panggilan itu, Yuji dan Koko berhenti bercanda, menoleh ke arah suara berat yang memikat.
Yuji tersenyum menatap pemuda yang berdiri di depannya.
“Chen, kau datang!” Koko begitu senang melihat kedatangan Chen, langsung melompat lalu menggandeng lengan pemuda itu.
Chen tersenyum, mengeluarkan tangan dari saku celananya, lalu menepuk kepala Koko dengan akrab. “Xuan dan yang lainnya ke mana?”
“Tidak tahu, mungkin lagi cari gebetan, haha.” Koko menjawab riang.
“Bukankah gebetannya berdiri di sini?” Pemuda itu menoleh, mengangkat alis sambil melirik gadis di sampingnya, seolah tak habis pikir.
“Yu Youchen! Mau dicubit ya?!” Koko mengepalkan tinjunya, “Hei, Yu Youchen, kamu keren banget sih, lihat itu—” Koko berkata sambil mengarahkan dagunya ke sekelompok gadis yang lewat, tersenyum penuh arti.
Memang keren. Gadis-gadis yang lewat ada saja yang menoleh hingga tiga kali, ada yang pipinya bersemu merah menatap penuh perasaan, ada pula yang saking malunya langsung menunduk dan berlari seperti anak panah.