Nomor Tujuh yang Anggun
“Aku menonton video perkenalan dan merasa pria itu begitu luar biasa. Di sekelilingnya pun banyak orang hebat, sementara aku hanyalah mahasiswi biasa dari universitas yang juga biasa saja. Aku merasa tidak pantas untuknya, jadi aku kurang percaya diri.”
Sejak saat itu, Xuanyu mulai memperhatikan peserta nomor tujuh. Rambutnya panjang, hitam pekat dan bergelombang, wajahnya kecil dan berbentuk lonjong, matanya besar, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih dengan bibir merah muda. Tubuhnya ramping, tampak semakin mungil dalam balutan gaun kuning. Namanya Dai Pingting, ya? Sepertinya menarik.
“Baiklah, pria pilihan, begitu banyak wanita yang menyukaimu. Kini giliranmu, silakan pilih dua wanita yang menurutmu berkesan.”
Para peserta wanita di atas panggung jantungnya berdebar kencang, bahkan hati para penonton pun ikut larut dalam ketegangan.
Xuanyu mengangguk pada Wu Di, lalu kembali memandang Dai Pingting yang menunduk, diam-diam memainkan jemarinya dengan bibir terkatup. Sudut bibirnya terangkat, diiringi teriakan penonton, ia melangkah mantap ke depan podium nomor tujuh. “Aku memilihnya.”
Sontak, suasana di atas maupun bawah panggung menjadi riuh.
Dai Pingting menutup mulutnya, matanya berbinar dengan air mata haru yang nyaris jatuh.
Xuanyu mengulurkan tangan kanannya dengan gaya cuek, tersenyum nakal.
“Ini adalah momen paling menegangkan dalam sejarah! Pria pilihan justru memilih nomor tujuh yang tadi mematikan lampunya. Belum pernah ada kejadian seperti ini! Kini, kami beri kesempatan pada pria pilihan, asalkan gadis nomor tujuh bersedia, pria pilihan boleh membawanya pergi!”
“Bagaimana? Bersediakah kau pergi bersamaku?”
“A-aku... aku takut!”
“Kenapa? Bukankah aku ada di sampingmu, kenapa masih takut?”
Dai Pingting memandang pria di depannya, dalam hati ingin sekali berkata, justru karena kau aku jadi takut. Di sisimu aku merasa tertekan, tapi aku juga tak bisa menahan diri pada tatapan matamu yang penuh senyum. Aku benar-benar terpikat.
Mau! Tidak mau! Mau! Tidak mau! Para penonton di bawah panggung mulai berseru-seru, suasana jadi kacau.
“Ayo, jadi kamu mau atau tidak?” Seseorang di bawah panggung mulai tak sabar dan berteriak.
“A-aku... aku mau!”
Xuanyu tersenyum puas. Lanjia Guo, bawalah pulang seorang gadis, mari kita lihat apa katamu nanti.
Lagu bahagia mulai diputar, tepuk tangan membahana di seluruh ruangan. “Selamat untuk pria pilihan, selamat untuk wanita pilihan! Cupid, berikan bunga cinta untuk pasangan kita!”
****************************
Xuanyu berjalan santai di kampus sambil bergandengan tangan dengan Dai Pingting yang mungil dan manis. Mereka jadi pusat perhatian ke mana pun melangkah.
“Haha, Xuanyu si kepala babi, bawa pacar keliling kampus nih!” Guoguo bersama dua temannya hendak pergi makan, lalu berpapasan dengan mereka.
“Chen, Yu Ji,” Xuanyu sengaja mengabaikan Lanjia Guo.
“Halo, namaku Dai Pingting.” Dai Pingting baru teringat, ketiga orang ini adalah teman-teman yang muncul di video perkenalan dan membuat semua orang terkejut. Ternyata, berinteraksi langsung memang terasa beda.
“Halo, aku Yu Ji,” sapa Yu Ji sambil tersenyum.
“Halo cantik, aku Yu Youchen.” Yu Youchen tersenyum pada Xuanyu, tatapan matanya seolah berkata, “Anak muda, lumayan juga kau.”
“Tingting, aku Lanjia Guo. Panggil saja aku Guoguo.” Lanjia Guo tetap antusias, meski tidak terlihat terlalu bersemangat, karena ia tak menyangka Xuanyu benar-benar membawa seorang gadis pulang.
“Kalian mau pergi makan, ya?”
“Iya, kenapa tidak ikut saja? Kalian berdua kan...”
Xuanyu jadi serba salah, memang perlu begini?
“Tak apa, mari makan bersama.” Dai Pingting berkata lembut dan tulus, membuat ketiganya tak bisa menolak.