Pemakaman Tenggara
Entah karena ingin menikmati sisa-sisa nuansa musim gugur yang terakhir sebelum musim dingin benar-benar tiba, sinar matahari hari ini terasa hangat sekali. Sudut taman pemakaman di tenggara tetap tenang, tanpa suara riuh atau tawa ceria. Jika didengarkan dengan saksama, mungkin masih bisa terdengar suara serangga yang berdesir pelan, seolah menyambut kelembutan musim gugur yang akan segera berlalu.
Rain Ji menatap sekali lagi foto seseorang yang tersenyum ramah di hadapannya, lalu berbisik lembut, “Ayah, lain kali aku akan datang menjengukmu lagi.”
Setelah menoleh sekali lagi, Rain Ji mengatupkan bibirnya dan pergi. Penantian kuat selama lebih dari sepuluh tahun masih belum mampu menerima kenyataan ini. Ayah, selama sepuluh tahun ini, apa sebenarnya yang telah terjadi?
Meskipun ayah pergi lebih awal, Rain Ji sangat mengenal kepribadiannya. Jika tidak ada sesuatu yang benar-benar tidak bisa dia tanggung, dia tidak akan mengakhiri hidupnya sendiri. Saat itu, dia adalah seorang guru SD yang menjalani kehidupan sederhana, namun tetap memiliki banyak cita-cita. Dia ingin hidup nyaman, anak-anak desa bisa makan kenyang, dan masih banyak hal yang ingin dia lakukan, banyak mimpi yang ingin dia wujudkan. Ayah bukan orang yang tampak sangat tangguh, bahkan cenderung terlalu jujur, tapi Rain Ji tahu, hati ayahnya lebih teguh, lebih kuat, dan lebih tabah dari siapa pun.
Tanpa terasa, Rain Ji sudah meninggalkan taman pemakaman dan berjalan hingga tiba di depan sebuah rumah besar tak jauh dari sana.
Banyak anak-anak sedang bermain dan berebut sebuah bola kaki yang kulitnya sudah terkelupas.
Panti asuhan?
Bagaimana mungkin panti asuhan dibangun begitu dekat dengan pemakaman?
Tiba-tiba, seorang gadis kecil tersenggol saat berlari, jatuh di atas tumpukan batu kerikil, kedua tangannya terluka. Anak-anak lain tidak menyadarinya, tetap riuh bermain bola.
Hati Rain Ji terenyuh, melihat gadis kecil itu menangis sedih. Tanpa pikir panjang, ia membuka pagar kayu tua dan masuk ke dalam.
Dia berjongkok, memeriksa tangan si gadis kecil yang terluka, keningnya mengerut.
“Adik kecil, sakit ya?”
Gadis kecil itu mengangkat wajah yang basah oleh air mata, memandang kakak perempuan di depannya, dan mengangguk pelan.
Rain Ji tersenyum menenangkan, menggenggam tangan gadis kecil itu. “Coba bilang ke kakak, di mana ada air? Tanganmu kotor dan lecet, harus dicuci dulu dengan air. Ayo, kakak antar kamu cuci tangan, ya?”
“Terima kasih, Kakak.” Gadis kecil itu menurut, berdiri dan menggandeng tangan Rain Ji menuju tempat mencuci tangan.
“Adik, siapa namamu?”
“Ling Ling, Wang Jia Ling, Ling seperti ‘perintah’.”
Air bening mengalir, terasa sejuk, membuat gadis kecil itu merasa nyaman.
“Ling Ling, namanya lucu sekali. Ling Ling, di sini cuma ada kalian saja?”
“Iya, ibu besar keluar belanja, kami disuruh diam di halaman.”
Rain Ji mengamati tangan Ling Ling dengan hati-hati sambil mengerutkan kening. Disebut sebagai ibu besar, bukan ibu, sepertinya benar ini panti asuhan. Sekumpulan anak-anak malang.
“Kakak, terima kasih. Aku sudah nggak sakit lagi.”
“Sudah nggak sakit? Kalau begitu, nanti harus lebih hati-hati.”
Ling Ling menatap Rain Ji, tersenyum bahagia. “Iya, terima kasih Kakak. Kakak cantik banget!”
“Haha, masa?”
“Iya, Kakak paling cantik yang pernah aku lihat, lebih cantik dari Kakak Hao Lin!”
“Kakak Hao Lin?”
“Iya, Kakak Hao Lin juga cantik, keren banget, dia kakak paling keren di sini! Tapi sudah lama nggak datang ke sini. Kakak, aku nggak punya teman main, Kakak temani aku main, ya?”
Melihat ekspresi penuh harap di wajah anak itu, Rain Ji mengangguk. Anak-anak yang tumbuh di panti asuhan, betapa sunyinya hati mereka?
Rain Ji menemani Ling Ling bermain pasir di sudut halaman. Anak-anak lain yang melihat mereka ikut bergabung, meninggalkan bola dan datang mendekat. Semakin banyak yang ikut, permainan jadi semakin seru, tawa pun mengisi udara, bergema tanpa henti.