Dulu, itu adalah dirinya.
Entah mengapa, beberapa hari kemudian, Direktur Huang Yao Hua sendiri menelepon dengan ramah, memintaku kembali bekerja. Ia mengatakan semuanya telah jelas, pelaku yang selama ini membuat onar telah ditemukan. Ia juga berkata tidak ingin kehilangan seseorang seberbakat diriku. Saat itu aku benar-benar merasa aneh, mengapa bisa terjadi hal semacam ini. Namun, ketika aku menanyakan lebih lanjut pada Huang Yao Hua, ia hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa, sekadar menyiratkan bahwa ada seseorang di belakang yang melindungiku. Sampai suatu hari, saat hendak menyerahkan dokumen, aku tanpa sengaja mendengar percakapan antara sekretaris dan Huang Yao Hua. Barulah aku tahu, ternyata Direktur E-Time telah membantuku atas permintaan seseorang.
Rasa penasaranku makin besar, aku pun tidak ingin berutang budi pada siapa pun. Akhirnya, suatu hari aku berkesempatan bertemu dengan sekretaris Direktur E-Time. Ia menepuk bahuku dengan ramah sambil berkata bahwa aku harus berterima kasih kepada Nona Mo, seorang gadis yang sangat berkelas. Setelah mencari tahu ke sana kemari, aku akhirnya mengetahui ternyata semua ini adalah bantuan dari Yu Ji. Ia meminta Direktur E-Time menawarkan kerja sama proyek inovasi yang sedang dikembangkan kepada Mingyuan Properti, dengan syarat Huang Yao Hua harus menyelidiki kasus pencurian itu dengan sungguh-sungguh.
Sungguh, saat itu aku tidak percaya. Setelah itu aku menemui Yu Ji, namun ia hanya tersenyum dan berkata, “Bukankah kita teman?” Hanya dengan kata “teman” itu, hatiku sungguh tersentuh. Saat itulah aku berjanji, jika suatu saat Yu Ji menghadapi kesulitan, aku pasti akan membantunya sekuat tenaga. Meski aku sadar, latar belakang keluargaku sangat jauh jika dibandingkan dengannya. Namun, aku benar-benar berterima kasih padanya. E-Time tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan properti lain, tapi sekarang mereka melakukannya hanya demi aku yang tak seberapa ini. Aku tidak pernah bertanya siapa sebenarnya Yu Ji, aku bisa menebaknya, dan ia pun tahu aku memahaminya. Senyum tenangnya saat itu sudah menjelaskan segalanya—ia bukan tipe perempuan yang suka menonjolkan diri, dan selama ia percaya aku bisa menjaga rahasia, maka aku pun akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Sebuah Audi kuning melaju perlahan di pusat kota. Jalanan di pusat kota memang selalu ramai dan mudah macet.
“Ah, itu Hei Yu! Ia syuting film lagi!” seru Dai Ping Ting yang duduk di kursi penumpang, takjub melihat poster raksasa di pusat perbelanjaan.
“Kamu sangat mengagumi Hei Yu?”
“Iya, dari sekian banyak bintang, aku paling suka Hei Yu. Tatapan matanya sangat menjiwai, bisa membuat banyak orang terpesona!”
Chi Xuanyu menoleh melihat poster yang penuh wibawa itu. Hei Yu mengenakan baju zirah, kepala berhelm, menggenggam tombak panjang yang ujungnya berlumur darah, wajahnya penuh luka, tampak seperti baru kembali dari medan perang. Memang, sorotan mata penuh tekad dan rela berkorban dalam poster itu benar-benar menghidupkan karakter yang ia perankan.
Film baru, “Dewa Penentang Takdir”?
“Kalau kamu suka sekali, lain kali kalau ada kesempatan, aku ajak kamu bertemu Hei Yu.”
“Benarkah? Wah, Xuanyu, kamu benar-benar baik! Eh, kamu kenal Hei Yu?”
“Iya. Hei Yu dan Chen sudah berteman lama, jadi aku pun mengenalnya.”
“Wah, kalian benar-benar luar biasa, hehe!”
**************************
“Mo, kopinya.”
Di ruang kerja. Yu Ji perlahan meletakkan secangkir kopi di atas meja, melihat Mo Yan tengah serius membaca peraturan perusahaan, lalu bersiap keluar dengan tenang.
“Tunggu sebentar.”
Mo Yan menarik Yu Ji kembali. “Yu Er, nanti kita pergi melihat pohon huai tua itu bersama, ya?”
Yu Ji tersenyum bahagia, sudah lama sekali ia tak mengunjungi pohon huai tua. “Tentu saja.”
Pohon huai tua itu sebenarnya hanyalah sebatang pohon, tapi sangat besar, sudah melewati ratusan tahun. Tingginya lebih dari tujuh belas meter, butuh lima orang dewasa untuk memeluk batangnya. Akar-akarnya yang menjulur di permukaan tanah tampak kokoh seperti jangkar kapal raksasa, mencengkeram bumi, menembus jauh ke dalam tanah, sementara tajuknya terus merentang ke langit. Permukaan batangnya kasar namun berkilau, lingkaran-lingkaran keriputnya menjadi saksi perjalanan waktu. Ranting-ranting pohon huai tua itu saling bersilangan rapat, dedaunan yang lebat saling menyelimuti, ada yang menunduk malu-malu, ada juga yang menengadah memandang langit.