Bab 157: Keagungan Phoenix Es, Membekukan dan Memecahkan Segalanya
Di tepi Kolam Naga Hantu.
Sun Hao dan Huang Rumeng mengambil kursi lalu langsung duduk.
Dua buah joran pancing, yang satu buatan sistem, dan yang satu lagi dibuat sendiri.
"Tuan, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan ikan?" tanya Huang Rumeng.
"Sangat mudah, lemparkan saja kailnya, lalu tunggu dengan tenang!" jawab Sun Hao.
Huang Rumeng tertegun sejenak. "Tuan, apakah kita tidak perlu menaburkan umpan?"
"Itu adalah cara memancing orang biasa. Kailku ini terbuat dari bahan khusus. Di mata ikan, kail ini bagaikan sebuah hidangan lezat, mereka akan menerkamnya tanpa peduli apa pun!" ucap Sun Hao.
"Benarkah?" Binar kekaguman terpancar di mata Huang Rumeng.
"Tentu saja, jika tidak percaya, cobalah sendiri!" kata Sun Hao.
"Baik!"
Kail dilemparkan, menciptakan riak berlapis-lapis di permukaan air.
Kail itu perlahan-lahan tenggelam ke dalam air dan menghilang dari pandangan.
Namun.
Setelah menunggu selama setengah jam, tetap saja tidak ada satu pun tangkapan yang didapat.
Melihat adegan ini, Sun Hao sedikit mengerutkan keningnya.
Seharusnya tidak seperti ini. Masuk akal jika paling lama dalam sepuluh menit ikan sudah bisa dipancing.
Mungkinkah tidak ada ikan di dalam sini?
Lalu, bagaimana aku bisa mendapatkan belut sawah waktu itu?
"Tuan, Kolam Naga Hantu ini sudah tidak memiliki naga lagi. Ikan biasa sepertinya tidak akan mau menyambar kail seperti ini!"
"Duh, semua ini salahku karena kemampuanku terlalu kecil. Kalau tidak, alangkah baiknya jika aku bisa membantu Tuan menangkap seekor naga ke sini!"
Huang Rumeng menatap Sun Hao dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Biar kucoba. Aku tidak percaya ini!"
Usai berkata demikian, Sun Hao mengambil joran pancingnya lalu melemparkannya langsung ke dalam air.
"Makhluk besar, kemarilah!"
Seiring dengan seruan itu, permukaan air bergetar hebat menghasilkan riak berlapis-lapis.
Begitu kail memasuki permukaan air, benda itu langsung lenyap seketika.
Bagai memasuki dimensi ruang dan waktu yang lain.
Melihat pemandangan ini, pupil mata Huang Rumeng menyusut, matanya membelalak lebar.
"Ini... Ini adalah Dao Memancing! Tuan benar-benar menguasai Dao Memancing?"
Dao Memancing tergolong sebagai Dao Tertinggi yang sangat sulit untuk dipahami.
Konon, jika Dao Memancing dipahami hingga tingkat kesempurnaan tertinggi, kailnya dapat menembus dimensi ruang dan waktu yang lain dan memancing apa pun yang diinginkan!
Bahkan, ia mampu memancing sebab akibat, sungguh mengerikan.
Dao setinggi itu ternyata telah dikuasai oleh Tuan hingga tingkat kesempurnaan!
Huang Rumeng menatap Sun Hao dengan wajah yang dipenuhi rasa kagum.
……
……
Di atas Kota Abadi Xifu.
"Matilah kalian!"
Tiga ekor naga raksasa memuntahkan tiga semburan napas naga yang langsung melesat ke arah leluhur keempat keluarga Mu.
Semburan napas naga itu hampir saja menghantam keempat orang tersebut.
Pada saat ini.
"Cuit..."
Suara pekikan burung phoenix bergema.
Seekor phoenix es memenuhi separuh langit, mengepakkan sayapnya dengan lembut.
Angin dingin berhembus, membekukan segalanya di tempat.
Ketiga semburan napas naga itu langsung membeku di udara, jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan es.
"Phoenix Es!?"
Ketiga naga raksasa itu menatap phoenix es di langit dengan ekspresi penuh kewaspadaan di wajah mereka.
"Serang!"
Ketiga naga raksasa itu melesat ke udara, mengepung phoenix es, membuka lebar mulut mereka, dan memuntahkan napas naga.
Di atas punggung phoenix es, Mu Bing memegang pedang abadi sambil menatap dingin ke arah ketiga naga raksasa tersebut.
Ia melambaikan tangan kanannya.
"Ciut..."
Phoenix es mendongak dan memekik ke langit, sayapnya bergetar hebat.
"Hah..."
Hawa dingin yang menusuk tulang melonjak ke segala arah.
Napas naga yang datang menyerang hancur berkeping-keping karena membeku, lalu berjatuhan ke tanah.
Di sekeliling phoenix es terbentuk sebuah perisai es elemental yang menangkis segala serangan.
"Kakak Kedua, jika begini terus, kita sama sekali tidak bisa melukainya!"
"Keluarkan jurus itu!"
"Baik!"
Tubuh ketiga naga raksasa itu berkelebat dan berkumpul menjadi satu.
Tubuh mereka saling melilit, memadukan tiga kekuatan menjadi satu, lalu mulai berputar dengan sangat cepat.
Jika dilihat dari jauh, mereka tampak seperti sebuah bor angin dengan kekuatan yang mampu menembus apa saja, melesat dengan kecepatan tinggi menghantam phoenix es.
"Bum..."
Ruang di sekelilingnya bergetar hebat, suara ledakan terus-menerus terdengar.
Gelombang kejut yang tak terbatas menyapu ke segala arah, melejitkan debu di bawah sana kembali ke udara.
Seluruh langit dan bumi terselimuti oleh debu.
Tubuh leluhur keempat keluarga Mu terlempar seperti tertiup gelombang kejut, bergesekan dengan debu hingga menimbulkan berbagai luka gores.
"Bar..."
Perisai pelindung di tubuh Luo Liuyan dan yang lainnya langsung hancur seketika, tubuh mereka terpelanting mundur bagai layang-layang yang putus benangnya.
"Uhuk..."
Mereka memuntahkan darah ke udara, mengerahkan banyak tenaga barulah berhasil menstabilkan tubuh masing-masing.
Melihat pemandangan ini, ekspresi Mu Bing sedikit berubah.
"Kumpul!"
Mu Bing mengeluarkan seruan ringan.
"Ciut..."
Phoenix es mendongak memekik ke langit, memuntahkan gelombang energi es yang membentuk sebuah bola kristal es dan melayang di depannya.
"Kriet..."
Ruang di sekitarnya seakan tidak mampu menahan kekuatan sebesar itu, retakan menyerupai jaring laba-laba menyebar ke segala arah.
Di dalam bola kristal es tersebut, sambaran petir dan kilat terkurung di dalamnya, memancarkan kekuatan yang mampu menghancurkan langit dan bumi.
"Pergilah!"
Mu Bing berteriak rendah, memadukan kekuatan bola kristal es itu ke dalam pedang abadinya.
"Syu..."
Pedang abadi itu melintas dan langsung menghilang, melesat dalam sekejap mata.
Dalam sekejap mata, pedang itu telah berbenturan dengan ketiga naga raksasa tersebut.
"Bum!"
Suara hantaman tumpul bergema menembus angkasa raya.
Langit pecah berkeping-keping bagaikan cermin, retakannya dengan cepat menyebar ke sekeliling.
Dalam sekejap mata, retakan itu telah membungkus ketiga naga raksasa tersebut.
"Bum! Bum..."
Bagaikan rentetan petasan yang meledak di tubuh ketiga naga raksasa itu.
Tubuh mereka bagaikan layang-layang putus yang langsung menghujam jatuh ke tanah.
"Bum! Bum..."
Tanah kembali meledak.
Debu mengepul menutupi segala penjuru.
Semuanya kembali sunyi senyap.
"Kenapa Xiao Bing bisa begitu hebat?" gumam Wenren Shi.
"Itu adalah Akar Roh Phoenix Es! Kapan aku juga bisa mendapatkan akar roh, alangkah senangnya jika itu terjadi!"
Su Yiling mengepalkan tangan kecilnya, sementara binar ketajaman di matanya berbinar tak menentu.
"Hebat! Aku harus lebih bekerja keras lagi!" ucap Chen Daoming dengan ekspresi penuh tekad.
"Xiao Bing, bakatmu jauh melampaui diriku!" Luo Liuyan membatin dalam hati.
Leluhur keempat keluarga Mu terpaku di tempat, memperlihatkan ekspresi tidak percaya.
Mereka benar-benar mengalahkan tiga Jenderal Naga?
Apakah ini sebuah mimpi?
Mereka menatap Mu Bing dengan wajah yang dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa.
Tampak Mu Bing berdiri di langit sambil menekan dadanya, wajahnya pucat pasi.
Serangan tadi telah menguras seluruh tenaga di tubuhnya.
Saat ini, ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk bertarung lagi!
Untungnya, ketiga naga raksasa itu berhasil dikalahkan.
"Tuan, urusan yang Anda berikan telah selesai!"
Mu Bing menatap ke arah Pegunungan Setan Besar, seulas senyum terukir di sudut bibirnya.
Tiba-tiba, rasa pusing yang hebat menyerang, Mu Bing memegangi kepalanya seolah hendak jatuh ke tanah.
"Xiao Bing!"
Luo Liuyan terbang dengan cepat dan langsung merengkuh tubuh Mu Bing.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja kekuatan abadiku sudah habis!"
Mu Bing melambaikan tangannya, memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kamu ini ya, sungguh sesosok monster. Baru berada di alam kenaikan tingkat sepuluh, tapi sudah bisa mengalahkan tiga Jenderal Naga di alam setengah abadi tingkat sembilan. Jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan percaya?" ujar Luo Liuyan.
Kata-kata itu baru saja diucapkan.
"Aum..."
Tiga aum naga mengguncang langit dan bumi.
"Sialan, semut terkutuk, kamu benar-benar telah menyulut kemurkaanku!"
"Hari ini, jika aku tidak mencabut jiwa dewa kalian, amarah di hatiku tidak akan reda!"
Ketiga naga raksasa itu melesat naik ke udara.
Dalam sekejap, mereka telah mengepung kedua wanita tersebut.
"Hah..."
Tanpa ragu sedikit pun, mereka langsung memuntahkan mutiara naga di saat yang bersamaan.
Tiga butir mutiara naga dengan tiga warna berbeda saling melilit dan berputar.
Kekuatan mengerikan itu berlipat ganda dengan sangat cepat.
"Hah..."
Di atas mutiara naga tersebut, tekanan yang mengguncang langit bagaikan sungai bintang yang tumpah ke segala arah.
Pada saat ini, semua orang merasa seolah terjebak di dalam lumpur, tidak bisa bergerak sama sekali.
"Hehe, sekumpulan semut, matilah kalian!"
Sebuah raungan menggelegar di benak setiap orang.
Mu Bing dan Luo Liuyan berdiri di tempat, sudut bibir mereka sedikit terangkat tanpa ada rasa panik sedikit pun.
Ekspresi leluhur keempat keluarga Mu berubah drastis, mereka meronta-ronta dengan liar.
Namun, semua itu tidak ada gunanya.
"Habislah sudah!"
……