Bab 143: Lagi-lagi Orang dari Keluarga Bai
Setelah beranjak pergi, Xiyan sempat terdiam sejenak di tempatnya. Ia menoleh ke arah pintu masuk rumah hantu di belakangnya, di mana masih banyak pemain yang mengantre untuk masuk secara berkelompok yang terdiri dari sepuluh orang.
"Xiyan, apa yang sedang kau perhatikan? Apakah kau ingin masuk ke sana lagi?" tanya Qingyan.
Namun, dari nadanya sudah sangat jelas bahwa ia tidak ingin Xiyan kembali ke sana.
Xiyan tersenyum kecil dan menjawab, "Bukan begitu. Aku hanya berpikir, mendapatkan lima puluh ribu poin dari rumah hantu ini ternyata tidak begitu sulit. Salinan dunia ini rasanya benar-benar seperti arena hiburan; selama tidak melanggar aturan, pihak yang diuntungkan adalah para penyintas."
"Hmm... Memang benar." Meskipun enggan mengakuinya, Qingyan harus mengakui bahwa ini adalah pertama kalinya ia menemui salinan dunia seperti itu.
"Menurutmu, apa maksud Kela menyuruhku masuk ke salinan dunia ini?" tanya Xiyan.
Qingyan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak seorang pun pernah bisa menebak isi kepala Kela. Apa yang ia pikirkan selalu sulit dipahami, dan tindakan-tindakannya sering kali di luar dugaan."
"Lupakan saja, tidak usah memikirkan itu. Mari kita pergi ke papan peringkat untuk melihat peringkat kita dengan lima puluh ribu poin ini," jawab Xiyan.
Mereka berdua pun berjalan mendekati papan peringkat tersebut.
Papan peringkat ini dapat dioperasikan secara manual untuk melakukan pencarian. Di bagian paling bawah papan peringkat terdapat sebuah kaca pembesar kecil yang berfungsi untuk mencari data.
Xiyan mengetikkan namanya sendiri, lalu mengetuk ikon kaca pembesar kecil tersebut.
Seketika itu juga, informasi mengenai peringkatnya pun muncul.
"Nama: Xiyan
Peringkat: 999+
Berharap pemain terus berusaha dan mendobrak peringkat!"
Hasil pencarian ini bahkan ditutup dengan sebuah kalimat penyemangat di bagian akhirnya.
Namun, memiliki lima puluh ribu poin ternyata bahkan belum cukup untuk masuk ke dalam peringkat 999 besar, hal ini sedikit di luar dugaan Xiyan.
Papan peringkat tersebut hanya menampilkan sepuluh besar, dan jika ingin mencari nama lainnya, seseorang harus memasukkannya secara manual.
Sementara itu, pemilik peringkat kesepuluh terbawah dalam sepuluh besar memiliki enam puluh ribu poin.
Oleh karena itu, Xiyan tadinya mengira lima puluh ribu poin miliknya akan menempatkannya di posisi yang cukup tinggi.
"Kenapa kau berada di posisi 999+, sedangkan aku berada di posisi 99..." Qingyan tiba-tiba menunjuk ke layar papan peringkat di hadapannya.
Xiyan tadi sedang berpikir dan merasa kebingungan, jadi Qingyan juga mengetikkan namanya sendiri. Namun, hasil yang mereka peroleh justru membuat keduanya terpaku.
Dengan jumlah poin yang sama yaitu lima puluh ribu, mengapa yang satu berada di luar peringkat 999, sementara yang satunya lagi berada di peringkat 99? Bagaimana pun cara melihatnya, ini terasa tidak masuk akal.
"Kenapa bisa seperti ini?" Xiyan juga merasa bingung.
Namun, sedetik kemudian ia menyadari perbedaan di antara keduanya.
"Nama: Qingyan
Jenis Kelamin: Perempuan!
Peringkat: 99
Berharap perempuan cantik terus berusaha dan mendobrak peringkat!!"
Xiyan mendapati bahwa informasi hasil pencarian Qingyan memiliki tambahan kolom jenis kelamin, bahkan kalimat terakhir pada informasi milik Qingyan memiliki satu tanda seru lebih banyak daripada kalimat penutup pada informasi miliknya.
Kenapa rasanya salinan dunia ini sedikit memihak perempuan dan meremehkan laki-laki...
Mereka berdua berdiri begitu saja di depan papan peringkat, menatap informasi yang tertera tanpa ada seorang pun yang berbicara.
Tidak banyak orang yang berada di depan papan peringkat, hanya ada segelintir orang yang sedang melihat-lihat informasi di sana, sementara sisanya sibuk berpartisipasi dalam fasilitas hiburan di taman bermain untuk mendapatkan poin yang lebih tinggi lalu pergi dari tempat ini.
Meskipun dikatakan bahwa hanya peringkat pertama yang bisa pergi dalam waktu sebulan dan harapannya sangat tipis, jika tidak berusaha, maka secercah harapan untuk pergi pun tidak akan ada.
Meskipun tempat ini menyediakan penjualan makanan, harganya sangat mahal. Mata uang yang digunakan juga adalah poin permainan di tempat ini, bukan poin yang biasa mereka gunakan di tanah penyintaan.
Oleh karena itu, jika para penyintas telah menghabiskan persediaan makanan mereka, mau tidak mau mereka harus mengikuti permainan di tempat ini untuk mendapatkan poin guna ditukar dengan makanan.
"Bagaimana, sudah dipikirkan baik-baik? Melihat kalian menatap papan peringkat, sepertinya kalian sedang kebingungan mengapa selisih skor di sepuluh besar begitu jauh?"
Pria yang sebelumnya menawarkan paket jasa kepada mereka berdua kini muncul kembali di hadapan mereka.
Melihat pria itu, alis Xiyan langsung berkerut. Kali ini pun ia sama sekali tidak menyadari kapan pria itu muncul di belakangnya.
Jika pria itu berniat menyerang mereka berdua secara diam-diam, ia pasti akan berhasil seratus persen.
"Apakah aku harus membayar poin untuk menanyakan pertanyaan ini?" Xiyan mengajukan pertanyaan yang sangat realistis, membuat pria itu tertegun sejenak.
Pria itu tersenyum dan menjawab, "Tentu saja ini tidak memerlukan poin, silakan tanyakan saja sesuka kalian."
"Kalau begitu..." Xiyan tiba-tiba mengulurkan tangan menunjuk ke arah peringkat pertama di papan peringkat dan berkata, "Kenapa peringkat pertama ini memiliki lebih dari lima ratus ribu poin, sedangkan peringkat kesepuluh hanya butuh enam poin saja untuk masuk papan peringkat? Kenapa selisih di antara mereka bisa begitu jauh?"
"Karena peringkat pertama ini membeli paket layanan saya," ucap pria itu dengan nada yang sangat bangga.
Setelah pria itu menjawab, suasana di antara mereka bertiga mendadak menjadi senyap.
Melihat keduanya tidak menanggapinya, pria itu menggaruk kepalanya dengan bingung dan bertanya, "Ada apa? Apakah ada yang salah dengan jawabannya?"
"Tidak... tidak ada apa-apa..." Jawaban ini benar-benar di luar dugaan Xiyan.
"Lalu kenapa aku punya lima puluh ribu poin tapi berada di luar peringkat 999, sedangkan dia dengan lima puluh ribu poin yang sama berada di peringkat 99?" Xiyan kembali bertanya.
Pria itu melihat ke arah papan peringkat. Informasi pencarian milik Qingyan tadi belum hilang, dan setelah melihat peringkat Qingyan, pria itu tersenyum.
"Karena papan peringkat ini lebih memihak perempuan." Saat menjawab pertanyaan ini, pria itu tampak sedikit merasa sungkan.
"Maksudmu papan peringkat ini diskriminatif terhadap laki-laki?" Xiyan menatap pria itu dengan terkejut.
"Hmm... Kalian tidak salah dengar, memang papan peringkat inilah yang diskriminatif. Hal semacam itu tidak berlaku pada hal lain di seluruh salinan dunia ini," jawab pria itu melanjutkan.
"..." Xiyan merasa sangat tak bisa berkata-kata. Awalnya ia mengira seluruh salinan dunia ini yang memihak perempuan, tak disangka ternyata justru papan peringkatnya yang seperti itu.
Apakah papan peringkat ini merupakan makhluk hidup? Pria itu dapat melihat kebingungan di wajah Xiyan, lalu melanjutkan penjelasannya.
"Apakah kalian sedang memikirkan mengapa papan peringkat ini memiliki pemikiran yang begitu mirip manusia? Sebenarnya, karena papan peringkat inilah yang menjadi inti dari seluruh salinan dunia ini. Seluruh salinan dunia ini berjalan berkat adanya papan peringkat ini."
"Begitu rupanya." Xiyan seketika memahami situasinya. "Aku belum menanyakan nama Tuan."
Xiyan saat ini sudah mulai merasa tertarik pada pria ini.
"Jangan panggil Tuan atau apa pun itu, aku hanyalah seorang penyintas biasa. Berada di sini pun tujuannya sekadar mencari beberapa poin lalu keluar untuk ditukar dengan makanan dan semacamnya. Namaku Bai Yuan," jawab pria itu.
Setelah mendengar nama pria itu, Xiyan tidak menunjukkan reaksi yang terlalu besar, tetapi Qingyan justru membelalakkan matanya karena terkejut begitu mendengarnya. Ia kemudian menarik-narik ujung pakaian Xiyan secara perlahan.
Dengan suara berbisik ia berkata, "Xiyan, orang ini berasal dari keluarga Bai, dan dia adalah seseorang yang sama sekali tidak boleh disinggung."
Jika seseorang seperti Qingyan saja sudah mengatakan bahwa orang ini tidak boleh disinggung, maka pria itu benar-benar sosok yang sama sekali tidak boleh disentuh.