Bab 152 Panggil Aku Kakak
Halaman 1 dari 3
Feng Chenlu berkata dengan cepat, “Sebelumnya, warga yang tidak mau menutup jendela mengalami kerugian besar akibat badai pasir. Bahkan ada yang kehilangan anggota keluarga. Mereka menganggap Xu Qianyao sebagai penyebabnya, lalu mendatangi rumahnya untuk menuntut ganti rugi.”
“Sekarang mereka semua mengepung rumah Nenek Xu dan hendak menerobos masuk. Xu Qianyao tidak ada di rumah, sementara Jia Kecil tidak mampu menahan orang-orang gila itu. Jadi aku hanya bisa keluar mencari bantuan!”
Ia datang ke Gedung Nomor 2 dengan harapan bisa bertemu Jiang Fei jika wanita itu sedang berada di rumah.
Jiang Fei segera menuju Gedung Nomor 5. Di tengah perjalanan, ia mengeluarkan radio komunikasi dan memanggil regu patroli terdekat untuk menangani keadaan.
Lorong lantai dua tempat tinggal Nenek Xu kini dipenuhi orang.
Jia Kecil dipukul hingga kepalanya robek dan terkapar tak sadarkan diri di tangga.
Orang-orang yang mengepung pintu rumah nomor 201 menggedor-gedor pintu sambil berteriak.
“Pengamanan Ming Shang menjadi tanggung jawab cucumu! Dia tidak menyiapkan langkah pencegahan badai pasir dengan baik! Gara-gara itu rumah kami semua rusak! Hari ini kalian harus membayar ganti rugi!”
“Rumah kami hancur diterjang badai pasir hanya karena regu penyelamat tidak mau membantu kami menutup jendela! Kenapa rumah kalian tidak apa-apa?! Buka pintunya!”
“Minggir! Akan kuhancurkan pintunya dengan kapak!”
Seorang pria bertubuh besar mengangkat kapak dan berjalan ke depan pintu. Baru saja ia hendak mengayunkannya—
Dentuman!
Seb butir peluru menembus pergelangan tangannya.
Pria itu menjerit dan menjatuhkan kapaknya. Kapak tersebut tanpa sengaja melukai orang di sebelahnya.
“Aduh, telingaku!!!”
Darah memercik ke mana-mana. Orang-orang pun langsung panik dan berdesakan.
Hingga terdengar suara tembakan kedua.
Berdiri di ujung tangga, Jiang Fei berseru lantang, “Semuanya, berjongkoklah sambil memegang kepala! Kalau tidak, kalian akan ditembak mati!”
Takut ditembak, semua orang buru-buru menuruti perintahnya.
Seseorang mengenali Jiang Fei dan berkata dengan marah, “Kalian, regu penyelamat, membawa senjata untuk melindungi rakyat! Bukan untuk menyakiti kami!”
“Aku akan mengadukanmu!”
“Kalian juga pantas disebut manusia?” Jiang Fei menyapu mereka dengan pandangan mengejek. “Sebelum badai pasir datang, regu penyelamat sudah berulang kali mengumumkan lewat pengeras suara di kompleks agar kalian mengambil papan, perlengkapan penahan pasir, serta meminjam alat untuk menutup jendela secara cuma-cuma.”
“Kalian sendiri yang tidak mau mengambilnya dan malah mengatakan pemerintah hanya mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”
“Sekarang kalian datang membuat keributan di rumah nomor 201 hanya karena ingin menindas Nenek Xu yang sendirian di rumah. Kalau memang berani, pergilah membuat keributan di kantor polisi atau markas regu penyelamat!”
Pria yang tadi berbicara langsung bungkam setelah dibalas Jiang Fei.
Mereka memang tidak berani membuat keributan di kantor polisi atau markas regu penyelamat. Mereka hanya ingin memanfaatkan ketidakhadiran Xu Qianyao untuk mendatangi neneknya dan menguras persediaannya.
Setelah itu, mereka bisa saja bersikeras menyangkal pernah datang ke rumah nomor 201. Xu Qianyao pun tidak memiliki bukti, sehingga tidak akan mampu berbuat apa-apa terhadap mereka.
Saat itu, anggota regu patroli tiba. Mereka memborgol para pembuat keributan satu per satu dan membawa mereka pergi.
Lorong itu seketika menjadi lapang.
Feng Chenlu meminta beberapa orang mengantar Jia Kecil yang pingsan ke rumah sakit.
Jiang Fei naik ke atas dan mengetuk pintu dengan lembut. “Nenek, ini aku, Jiang Fei.”
Pintu segera terbuka.
Nenek Xu, yang sejak tadi berdiri di balik pintu, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Halaman 1 dari 3
“Cucu Jiang, bagaimana dunia bisa berubah menjadi seperti ini…”
“Qianyao jelas tidak melakukan kesalahan… Mengapa orang-orang itu datang membuat keributan…”
Jiang Fei memeluk Nenek Xu yang menangis dan menghiburnya, “Itu masalah mereka sendiri. Mereka menghancurkan diri sendiri, tetapi sekarang ingin mencari orang lain untuk menanggung akibat perbuatan mereka. Semua itu tidak ada hubungannya dengan Qianyao.”
Setelah membantu Nenek Xu masuk ke dalam, Jiang Fei menuangkan segelas air untuknya. Barulah ia mengambil radio komunikasi dan menghubungi Xu Qianyao untuk memberitahukan apa yang terjadi hari itu.
Xu Qianyao berkata, “Aku akan segera pulang!”
Setelah Xu Qianyao kembali, Jiang Fei pun pergi dengan sukarela.
Mobil jip itu berhenti di bawah Gedung Nomor 2.
Jiang Fei naik ke mobil, mengambil dua peti besar berisi benih buah dan sayuran serta satu peti kecil berisi perlengkapan pelindung dari gudang supermarket, lalu menaruhnya di kursi belakang sebelum melaju ke pangkalan pertanian.
Langkah-langkah perlindungan terhadap badai pasir di pangkalan itu sudah dilakukan dengan sangat baik. Letaknya juga terpencil, sehingga tidak ada benda berbahaya seperti mobil atau bangunan yang tertiup angin ke sana dan kerusakan yang terjadi tidak terlalu parah.
Namun, lahan pertanian di area penanaman telah tertimbun pasir kuning. Para pekerja sedang sibuk memanen tanaman yang masih bisa diselamatkan.
Setelah mengetahui bahwa Ling Zhaorui berada di asrama, Jiang Fei berkendara ke sana.
Ling Zhaorui baru saja kembali dan sedang menepuk-nepuk debu dari rambutnya.
“Kak Jiang, kenapa datang?”
“Aku mengantarkan perlengkapan pelindung untukmu. Sekalian aku ingin membicarakan sebuah bisnis dengan Tuan Kang.” Jiang Fei menurunkan peti kecil dari mobil dan meletakkannya di tanah.
“Kebetulan sekali. Hari ini guru juga menyuruhku menjemputmu ke pangkalan pertanian.”
“Aku akan mengantarmu menemuinya.”
—
Di dalam kantor kepala pangkalan.
Melihat Jiang Fei dan Ling Zhaorui masuk berurutan sambil membawa dua peti benih buah dan sayuran, Kang Ansheng tidak menyembunyikan kegembiraannya.
“Nona Jiang, silakan duduk.”
“Kau cepat sekali, Nak. Siang tadi baru kubicarakan denganmu, sore ini kau sudah membawa orangnya kemari.”
Ling Zhaorui berkata, “Dia datang sendiri.”
Jiang Fei meletakkan peti-peti itu. “Mesin pertanian yang disewa bosku dari pangkalan pertanian sudah lama melewati masa sewa. Ini pembayaran sewanya.”
“Tuan Kang, bosku juga ingin menyewa beberapa mesin pertanian dari pangkalan ini.”
“Sebagai bayaran, bosku dapat menyediakan tiga ratus kantong benih, dua puluh ekor ikan gabus, dan dua puluh ekor kepiting sungai. Semuanya masih hidup dan dapat dibudidayakan oleh pangkalan pertanian. Pembayarannya sama seperti sewa mesin pertanian sebelumnya: dibayar setiap tiga bulan.”
Masa budidaya ikan gabus dan kepiting sungai lebih lama dibandingkan udang galah, kira-kira tiga sampai enam bulan.
Saat pangkalan itu berhasil membudidayakannya, keuntungan Jiang Fei mungkin sudah cukup banyak.
Nanti ia bisa menjual produk baru tanpa memengaruhi bisnisnya.
Kang Ansheng meraih tangan Ling Zhaorui dengan linglung. “Dia bilang… ikan dan kepiting hidup?”
“Benar, Guru… Aduh, sakit! Jangan cubit tanganku!”
“Aku hanya ingin memastikan pendengaranku tidak salah.”
Ling Zhaorui terdiam.
Apakah gurunya tidak mencubit dirinya sendiri karena takut sakit?
Ling Zhaorui tidak berani menanyakan hal itu. Ia hanya mengusap punggung tangannya yang memerah dengan wajah merana.
Kang Ansheng mengeluarkan sebotol air mineral dingin dari lemari es dan menyerahkannya kepada Jiang Fei. Senyumnya tampak sangat ramah.
“Bosmu mau menyewa selama apa pun, tidak masalah.”
Halaman 2 dari 3
“Nanti beri tahu Xiaorui mesin pertanian apa saja yang kalian perlukan. Besok akan kucari orang untuk mengantarkannya ke Ming Shang.”
“Kalau begitu, kapan ikan gabus dan kepiting sungainya akan kau kirim?”
Tidak ada yang tahu berapa lama badai pasir akan berlangsung.
Begitu tanah berubah menjadi gurun, tanaman akan sulit dibudidayakan.
Ia mencari Jiang Fei untuk menanyakan apakah bos wanita itu masih memiliki hasil perairan lainnya, agar dapat menyiapkan dua kemungkinan sekaligus.
Jika kelak mereka benar-benar tidak bisa lagi bercocok tanam, para penyintas masih akan memiliki makanan.
Jiang Fei berpikir sejenak. “Besok atau lusa.”
Kang Ansheng menyetujuinya. “Lain kali saat datang ke pangkalan pertanian, langsung temui aku. Tidak perlu lagi meminta Xiaorui mengantarmu.”
“Oh, ya. Beberapa waktu lalu Rongrong ketakutan oleh badai pasir. Setiap malam ia bermimpi buruk dan tidak bisa tidur nyenyak. Siang hari ia juga sering menangis karena ingin mencari kakaknya.”
“Aku tidak memiliki kontak keluarganya. Bisakah kau menjemput kakaknya dan membawanya tinggal di sini selama beberapa hari?”
“Atau kau juga bisa mengantarnya pulang. Dengan begitu, pemulihannya mungkin akan lebih cepat.”
Pria berjanggut luka itu pasti tidak berani tinggal di pangkalan pertanian. Jiang Fei pun memilih pilihan kedua.
Setelah memberi tahu Ling Zhaorui jenis mesin pertanian yang diperlukan, Jiang Fei berkendara ke asrama putri untuk menjemput Dao Rong.
Asrama di pangkalan pertanian itu berupa rumah-rumah kecil yang berdiri sendiri.
Setelah menemukan rumah tempat Dao Rong tinggal, Jiang Fei mengangkat tangan dan mengetuk pintu.
“Rongrong, ini aku, Kakak berbaju putih.”
Kreeet—
Begitu pintu terbuka, Dao Rong langsung menerjang ke dalam pelukan Jiang Fei.
Tangan mungilnya memeluk erat pinggang Jiang Fei. Ingus dan air matanya semua terhapus di pakaian wanita itu.
“Ibu Jiang! Aku mau Kakak!”
Jiang Fei terdiam.
Panggilan menyebalkan ini rupanya tidak bisa diubah lagi.
Jiang Fei mengeluarkan sebatang lolipop dari sakunya dan membujuk Dao Rong, “Aku akan mengantarmu pulang. Jangan menangis lagi, ya?”
Dao Rong mengendus-endus. “Baik, Ibu Jiang!”
“Panggil aku Kakak, atau panggil namaku, Jiang Fei.”
“Ibu Jiang! Kedengarannya bagus!”
Jiang Fei menyerah untuk melawan.
Sudahlah, biarkan saja anak itu memanggilnya sesuka hati.
Setelah membantu Dao Rong membereskan barang-barangnya dan memasangkan masker pelindung, Jiang Fei menyuruhnya duduk di kursi penumpang depan dan memasangkan sabuk pengaman.
Baru saja hendak kembali ke kursi pengemudi, Jiang Fei mendengar suara asing terdengar.
“Kau siapa?”
Halaman 3 dari 3