Bab 85: Kantor Keamanan Kota Qingyang
Xu Qianyao dan Yin Jing segera tiba di lokasi kejadian, Kepala Ning sudah ada di sana. Sebuah truk pengangkut logistik, pintu bak belakangnya terbuka lebar, tampak bekas congkelan pada pintunya. Dua kotak yang diletakkan di dekat pintu bak sudah kosong. Di tanah, tepat di bawah pintu bak, tersusun lebih dari tiga puluh tangan yang membeku dan terputus.
Petugas yang bertugas menjaga truk itu menundukkan kepala dengan rasa bersalah. “Barusan ada seorang wanita yang datang tergesa-gesa mencari saya, katanya ada ibu hamil di truk yang akan melahirkan dan banyak mengeluarkan darah. Dia memohon saya untuk mencari dokter dari rombongan, jadi saya setuju membantunya.”
“Setelah saya kembali bersama dokter, wanita itu sudah menghilang, pintu bak truk juga sudah terbuka secara paksa. Saya tidak menemukan dia di antara para penyintas, seharusnya dia sudah kabur.”
“Maaf, Kepala Ning, saya meninggalkan tugas sehingga dua kotak logistik hilang. Saya siap menerima hukuman apa pun.”
“Nyawa lebih penting, pilihanmu tidak salah.” Kepala Ning menepuk pundak petugas itu. “Ini bukan salahmu.”
“Petugas penjaga logistik akhir-akhir ini juga harus membantu tim penyelamat membersihkan salju dan membuka jalan. Wajar saja kalau kau kewalahan sendirian.”
“Pencuri memanfaatkan pergantian regu di kendaraan belakang, bisa membongkar pintu dan mencuri logistik dalam waktu singkat lalu kabur. Jelas ini sudah direncanakan sejak lama.”
“Qianyao, apakah Jiang Fei pernah meninggalkan mobil RV?”
Xu Qianyao menggeleng. “Dia dan anggota tim lain selalu berada di sekitar kendaraan, juga tidak berinteraksi dengan orang luar.”
“Kelihatannya pelaku ketakutan tertangkap sehingga mencuri logistik dan melarikan diri,” Kepala Ning menatap tangan-tangan terputus itu.
Kenapa pelaku tidak sekadar kabur, malah meninggalkan tangan-tangan itu? Apakah ini sebuah tantangan, atau diam-diam ingin membuktikan bahwa kematian itu tidak ada hubungannya dengan Jiang Fei?
Kepala Ning tidak dapat memahami motifnya, lalu menyuruh Xu Qianyao memimpin pencarian di sekitar lokasi.
Sementara itu, di sebuah lereng bukit.
Zhou Wanqing membawa banyak barang, lalu menoleh memandang rombongan besar di kejauhan. Tangannya yang bersarung meraba kotak obat kosong di sakunya.
Maafkan aku, penolongku. Aku ingin membalas budimu dengan caraku sendiri, namun aku gagal mengurus jenazah itu dan malah menyeretmu ke dalam masalah.
Semoga kita bertemu lagi di tempat yang aman.
—
Selama tiga hari berturut-turut, Xu Qianyao tak menemukan jejak pelaku. Kasus itu pun dibiarkan begitu saja.
Total yang hilang adalah 3 senjata api, 3 pisau militer, 5 kotak peluru masing-masing 50 butir, 20 kantong roti, dan 10 botol air mineral.
Kepala Ning juga membersihkan nama Jiang Fei, bahkan mengirimkan 5 kotak hot pot daging sapi instan sebagai kompensasi.
Melihat lingkaran merah kecil pada hot pot instan itu, Jiang Fei hanya terdiam.
Logistik yang dulu dikirim keluar, kini kembali padanya.
Sejak hari itu, tak ada lagi korban jiwa di rombongan. Seolah-olah pembunuh berantai itu hanyalah bayangan dalam benak semua orang.
Namun, tak seorang pun lagi berani mendekati RV Jiang Fei.
Banyak yang pernah melihat jenazah mengenaskan itu, juga tangan yang membeku seperti kaki babi.
Siapa yang tahu kapan pembunuh itu muncul lagi? Tak ada yang mau menjadi korban berikutnya.
Rombongan terus berjalan tertatih-tatih, hingga akhirnya pada hari keempat mereka tiba di Kota Qingyang.
Di Qingyang, tak ada genangan pasca banjir. Jalan yang tampak adalah aspal, sesuatu yang sudah lama tak mereka jumpai.
Salju dan es di jalan sudah dibersihkan tepat waktu, jalanan lebar dan rata. Rombongan besar itu pun segera tiba di gerbang masuk lokasi perlindungan.
Terdapat 18 pintu masuk, memastikan arus keluar masuk tetap lancar.
Di setiap pintu masuk, ada empat tentara bersenjata dan sebuah pos kecil untuk registrasi identitas, di dalamnya duduk para petugas.
—
Pengeras suara resmi terdengar: “Semua turun dari kendaraan, antre di pos registrasi untuk pendataan identitas dan pengukuran suhu tubuh. Tanpa ini, tidak boleh masuk ke lokasi perlindungan.”
“Setelah selesai registrasi, segera kembali ke kendaraan dan tunggu instruksi. Jangan berkeliaran di luar.”
“Bagi yang membawa hewan peliharaan, juga wajib menurunkannya untuk diukur suhu tubuh.”
Semua ini dilakukan untuk mencegah masuknya virus flu.
Di dalam RV, Jiang Fei mengenakan jaket bulu angsa. Suhu saat ini minus tiga puluh derajat, tak perlu lagi mengenakan pakaian khusus kutub.
Ia mengeluarkan tas kucing dari lemari, melapisinya dengan selimut tebal dan menempelkan beberapa penghangat, lalu memasukkan Da Huang ke dalamnya. Ia memanggul tas itu dan turun bersama Xiao Chuxia.
Lu Yu dan yang lain juga ikut, memilih antrean di pintu masuk terdekat.
Tas kucing itu tertutup rapat, tapi bagian atasnya ada lubang udara sehingga Da Huang tetap terlihat.
“Di zaman seperti ini, masih ada yang memelihara kucing. Benar-benar tak punya kerjaan.”
“Mungkin itu persediaan makanan mereka, kalau sudah gemuk baru disembelih untuk dimakan.”
“Nona kecil, kucingmu dijual tidak?”
Orang-orang di depan dan belakang antrean menatap tas kucing itu dengan mata berbinar, seperti serigala kelaparan yang melihat daging.
“Tidak dijual.” Jiang Fei sengaja memperlihatkan pisau yang tersembunyi di lengan bajunya, menatap tajam ke sekeliling.
“Aku ini orang dengan gangguan jiwa, jangan coba-coba memancing emosiku.”
Jangan pernah berniat pada Da Huang!
Sikap Jiang Fei yang galak membuat orang-orang di sekitar langsung mengurungkan niat makan kucing.
Tak sepadan mempertaruhkan nyawa demi sepotong daging.
Proses registrasi identitas di Qingyang ialah dengan memindai kartu identitas penyintas, lalu mengisi beberapa data sederhana seperti nama, umur, dan nomor identitas.
Bagi yang suhu tubuhnya normal, boleh kembali ke kendaraan.
Yang demam atau panas, langsung dibawa ke tempat karantina untuk perawatan.
Antrean yang diikuti Jiang Fei tidak terlalu panjang, hampir dua jam kemudian gilirannya tiba.
Da Huang dengan patuh membiarkan suhu tubuhnya diukur, bahkan menggesekkan kepalanya ke tangan petugas untuk manja.
Petugas itu pun tak tahan mengelus wajah Da Huang, lalu mengingatkan Jiang Fei, “Setelah masuk lokasi perlindungan, jangan sering-sering membawa kucingmu keluar.”
Kucing gemuk dan lucu seperti Da Huang sangat mudah dicuri untuk dimakan.
Di Qingyang, hampir tak ada lagi kucing dan anjing peliharaan yang terlihat.
“Terima kasih.” Setelah suhu tubuhnya dinyatakan normal, Jiang Fei mengemasi Da Huang dan keluar dari antrean.
Lu Yu dan yang lain juga segera selesai registrasi.
Saat itu, Xu Qianyao datang tergesa-gesa. “Kepala Ning menyuruhku mengantar kalian ke rumah penampungan.”
“Kalian naik mobilku saja, tak perlu menunggu rombongan besar berangkat.”
Jiang Fei dan teman-temannya naik kendaraan masing-masing, mengikuti SUV Xu Qianyao, masuk ke lokasi perlindungan melalui pintu bertanda “Jalur Khusus”.
Rumah-rumah yang pernah terkena bencana sudah diperbaiki, meski cat dinding luar banyak yang terkelupas dan permukaannya tak rata, tapi masih cukup layak untuk berlindung dari angin dan hujan.
Di kedua sisi jalan, tampak beberapa toko buka, restoran kecil, rumah makan barat, dan lainnya.
Beberapa toko bahkan memasang genset dan menyalakan lampu.
Ada juga pejalan kaki yang membawa sebungkus sayuran layu.
Di mana-mana tampak regu patroli berseragam yang berkeliling.
—
Andai bukan karena bangunan-bangunan yang tertutup es dan salju, Jiang Fei hampir saja merasa kiamat belum benar-benar terjadi.
Di kehidupan sebelumnya, dia tak sempat datang ke sini, hanya mendengar cerita para penyintas bahwa lokasi perlindungan Qingyang sangat baik.
Kali ini, dia berkesempatan menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Xu Qianyao berhenti di depan pintu Apartemen Mingshang, masuk ke kantor komunitas untuk mengambil kunci, lalu naik ke RV Jiang Fei.
“Kepala Ning memberikan lima unit rumah untuk kalian, semuanya di lantai tiga gedung nomor dua, yakni unit 301, 302, 303, 304, dan 305. Sengaja diatur satu lantai agar mudah saling membantu.”
“Ini peta lokasi perlindungan dan buku panduan peraturan. Kalau ada waktu, bacalah. Aku masih harus pergi, jadi tidak bisa mengantar kalian masuk.”
“Aku dan nenekku nanti tinggal di gedung lima unit 201. Kalau ada keperluan, cari aku di sana.”
Setelah menyerahkan barang-barang itu pada Jiang Fei, Xu Qianyao langsung turun dan pergi.
Jiang Fei tidak langsung membaca peta dan buku panduan, tapi bersama rekan-rekannya menuju gedung dua.
Apartemen Mingshang adalah bangunan tua yang tidak memiliki lift, setiap gedung terdiri dari delapan lantai.
Mereka memindahkan barang dan Da Huang ke unit 301 yang paling dekat tangga, lalu berpencar mencari tempat untuk menyembunyikan kendaraan.
Lu Yu bertanggung jawab atas MPV, Su Liuyuan mengurus pick up, Jiang Fei mengurus RV.
Setelah memastikan situasi sekitar aman, Jiang Fei langsung menyimpan RV-nya ke dalam gudang supermarket, lalu berjalan kaki kembali ke kompleks apartemen.
RV besar dan mencolok harus disimpan di supermarket agar aman.
Jiang Fei menjadi yang pertama kembali ke 301.
Unit itu sekitar 70 meter persegi, terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu kamar mandi, dan satu dapur, dilengkapi perabotan dasar serta lampu minyak tanah. Dindingnya baru dicat putih, tampak bersih, jendela dilapisi busa penahan angin, cukup layak dihuni.
Dapur bahkan dilengkapi tungku arang dan panci keramik, bisa digunakan untuk memasak.
Di ruang tamu, tergantung papan pengumuman:
[Setiap hari air mengalir pukul 07:00—08:00 dan 18:00—19:00]
Jiang Fei sempat melihat ke unit lain, pada dasarnya semua berukuran dan berperabot sama, tidak tampak pernah terendam banjir. Ini menandakan pengelolaan Qingyang memang sangat baik.
Namun jika dicium baik-baik, udara masih menyisakan aroma lembab samar.
Jiang Fei pun mengambil permen mint dan mengulum untuk menghilangkan bau itu.
Kembali ke 301, Lu Yu dan Su Liuyuan juga sudah selesai menyembunyikan kendaraan.
“Kakak, bagaimana pembagian unit rumah?”
Karena tipe unit hampir sama, Jiang Fei membagikan kunci secara acak. Di kunci tertera nomor unit.
Dia mendapat 302, Lu Yu 301, Xiao Chuxia 303, Ling Zhaorui 304, dan Su Liuyuan 305.
“Semuanya silakan bereskan barang di rumah masing-masing. Nanti kumpul di 302 untuk makan malam dan membaca buku panduan.”
Setelah berkata demikian, Jiang Fei membawa barangnya ke 302, merapikan kamar seadanya, lalu menggunakan kompor portabel, panci, dan bahan makanan dari RV untuk memasak sepanci mi telur.
Tak lama kemudian, Lu Yu dan yang lain pun datang.
Mereka duduk melingkar di meja, makan mi sambil membaca buku panduan lokasi perlindungan.
Ling Zhaorui berkata, “Peraturan di sini sangat ketat. Dilarang berkelahi, merampas logistik orang lain, baik secara aktif maupun pasif. Siapa pun yang tiga kali tertangkap regu patroli resmi akan diusir dari lokasi perlindungan.”
“Kalau ada yang cari masalah, bagaimana? Apa kita tak boleh membela diri?”