Bab 83: Tak Seorang Pun Dapat Menyakiti Dia
Perempuan itu mengenakan mantel militer yang kebesaran, di pelukannya ada satu jaket putih tahan dingin; dia adalah penyintas yang pernah diselamatkan Jiang Fei di kantin Surga Dunia.
"Terima kasih sudah meminjamkan jaketmu. Aku sudah membersihkannya dengan salju, mungkin masih kurang bersih..."
"Tidak apa-apa," jawab Jiang Fei sambil menerima jaket itu tanpa sedikit pun rasa jijik atau tidak suka, membuat perempuan itu menghela napas lega dan tersenyum.
Wajahnya memang cantik, namun senyum itu membuatnya makin memikat.
"Penolongku, namaku Zhou Wanqing. Kau telah menyelamatkanku, aku rela bekerja keras untukmu, apapun itu."
Tak ingin membuat lawan bicara terbebani, Jiang Fei langsung saja berkata, "Aku hanya sekadar menolong, tak perlu kau balas."
Zhou Wanqing tertegun, namun ia tak beranjak pergi, malah berjalan ke bagian belakang tim kecil Jiang Fei.
Tampaknya ia sudah bertekad bulat untuk mengikuti mereka.
Jiang Fei baru ingin menyuruh perempuan itu ke gedung hunian, tiba-tiba terdengar suara panik.
"Nona Jiang!"
He Da Hong yang lusuh berlari mendekat sambil menyeret seseorang yang pakaiannya compang-camping.
Begitu mendekat, Jiang Fei baru sadar orang yang terbaring di salju itu adalah Yu Xuanjiao.
Wajahnya penuh luka bakar bekas sundutan rokok, kulit yang terlihat memerah keunguan menakutkan, entah itu bekas pukulan atau karena beku, yang jelas orang itu hampir tak selamat.
He Da Hong bertanya dengan nada menjilat, "Bolehkah aku menukar nyawa Yu Xuanjiao demi kesempatan bergabung dengan tim kalian?"
Begitu menyadari ada kejanggalan di markas Surga Dunia, ia rela menyerahkan Yu Xuanjiao untuk dijadikan korban, sebagai tanda pengabdiannya.
Tak disangka, baru beberapa hari merasa aman, pihak berwenang datang membersihkan tempat itu.
Kalau saja ia tak berpura-pura menjadi korban, mungkin ia sudah tewas ditembaki.
Tatapan Jiang Fei penuh sindiran. "Kau merasa layak?"
"Dulu kau bilang, kalau aku mengusir Yu Xuanjiao dari komunitas, kau akan berteman denganku!"
"Sekarang temanmu sedang dalam bahaya! Kau harus membantuku!"
"Aku bilang akan kupikirkan, bukan pasti setuju." Malas berdebat, Jiang Fei memberi kode pada rekan-rekannya.
Mereka semua langsung paham, menutup mulut He Da Hong dan menyeretnya ke pojok, lalu menghajarnya habis-habisan.
Jiang Fei pun ikut menendang beberapa kali.
Sementara Yu Xuanjiao yang terlalu lama terkapar di suhu rendah dan luka parah, akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Mata itu membelalak ke arah Jiang Fei, penuh kebencian.
Xiao Chuxia menendang jasad itu jauh-jauh.
Menatap siapa kau!
He Da Hong babak belur, beberapa giginya tanggal, namun ia tak berani minta tolong, takut Jiang Fei benar-benar membunuhnya, hanya bisa memendam dendam di hati.
Ling Zhaorui mengacungkan tinju. "Jangan ganggu kami lagi, kalau tidak, tiap kali ketemu, akan kami hajar!"
Setelah berkata begitu, Ling Zhaorui langsung mengikuti Jiang Fei dan yang lain.
Tak ada yang menyadari Zhou Wanqing yang tadinya berdiri di samping, kini telah menghilang.
He Da Hong berdiri dengan bertumpu pada tembok, lalu terpincang menuju gedung hunian.
Sakit sekujur tubuh, ia benar-benar tak punya niat mengurus mayat Yu Xuanjiao.
Suatu hari nanti, ia bersumpah akan membuat Jiang Fei memohon padanya seperti anjing!
"Kau ingin balas dendam pada mereka?"
Tiba-tiba seorang perempuan cantik muncul di hadapan He Da Hong.
"Aku punya cara untuk mengatasi mereka, mau bekerja sama denganku?"
He Da Hong tergoda. "Coba jelaskan."
"Di sini terlalu banyak orang, kita bicara di sana saja."
Zhou Wanqing mengajak He Da Hong ke sebuah toko yang telah lama terbengkalai.
"Apa rencanamu..."
Ceklak—
Sepotong kaca tajam menusuk dada He Da Hong, berkali-kali.
Hingga darah membasahi mantel tebalnya, Zhou Wanqing baru menghentikan tangannya, tatapan matanya berubah bengis dan penuh kebencian.
Tak seorang pun boleh menyakiti penolongnya.
—
Xu Qianyao butuh dua hari untuk mengangkut semua persediaan dari Desa Liu Jiazi ke Kota Longxing.
Makanan saja ada 300 dus. Kepala Ning tak lupa janji pada Jiang Fei, setibanya di tempat aman, ia akan diberikan tempat tinggal, memastikan tiap anggota tim mendapat kamar sendiri.
Salju pun sudah berhenti.
Tim penyelamat segera membersihkan salju dari kendaraan dan membuka jalan dengan sekop.
Pagi keesokan harinya, rombongan kembali melanjutkan perjalanan.
Lu Yu dan yang lain masih menggunakan mobil yang sama, Jiang Fei dan Xiao Chuxia tetap menyetir mobil rumah.
Namun, menjelang siang, angin mulai bertiup kencang.
Angin menggulung salju, membatasi jarak pandang.
Orang yang berada di dalam mobil tak begitu terganggu, cukup berkendara hati-hati.
Tim penyelamat yang bertugas membuka jalan harus menahan angin dingin yang menusuk, tetap bekerja meski kadang-kadang terhempas ke tumpukan salju, atau sekop yang terlepas terhempas keras ke mobil di belakang, membuat penyok besar.
Akhirnya mereka mengikat sekop dan lengan dengan tali.
Setiap tiga jam, tim diganti, sehingga rombongan bisa beristirahat.
Saat Xiao Chuxia menyetir, Jiang Fei mengurung Da Huang di kandang, mengambil beberapa kantong besar gelas sekali pakai dari gudang supermarket, lalu memasak wedang jahe untuk dibagikan pada tim penyelamat.
Kali ini jumlahnya banyak, gula merah terlalu mencolok, jadi Jiang Fei menggantinya dengan gula batu.
Saat rombongan berhenti istirahat, Jiang Fei sudah menuang semua wedang jahe ke dalam gelas.
Melihat lebih dari seratus gelas tertata di meja dan dapur, Xiao Chuxia langsung paham maksud Jiang Fei. "Biar aku cari Yin Jing, minta dia panggil tim penyelamat kemari untuk minum wedang jahe."
Begitu pintu mobil dibuka, Xiao Chuxia hampir saja terhempas angin, untung sempat berpegangan. Untuk pertama kalinya ia menyesal diet!
Tak lama, Xiao Chuxia kembali bersama Yin Jing dan tiga anggota tim penyelamat, berjuang melawan angin untuk masuk ke mobil.
Masing-masing membawa dua termos, sementara Yin Jing menenteng kantong kain besar berwarna hijau tentara.
Keempatnya berdiri di depan pintu, tak masuk lebih jauh.
"Tim penyelamat terlalu banyak orang, salju menempel di badan dan sepatu, takut mengotori mobil rumah. Biar wedang jahenya kami bawa saja, ini sebagai bentuk terima kasih, tak mungkin cuma-cuma," kata Yin Jing sambil meletakkan kantong besar di rak sepatu dekat pintu dan tersenyum, "Kalau kau tak terima, kami tak akan minum wedang jahenya."
Melihat itu, Jiang Fei pun menelan kembali kata-kata penolakannya, bersama Xiao Chuxia menuangkan wedang jahe ke enam termos, sekalian memberikan gelas kosong.
Takut termosnya terbang, mereka melindunginya dengan baju, setelah mengucapkan terima kasih, segera turun dari mobil.
Jiang Fei mengambil kantong besar itu, memasukkannya ke lemari, dan tanpa sengaja melihat isinya.
Penuh dengan batangan energi.
Pada bungkusnya ada lingkaran merah yang digambar dengan spidol.
Persediaan yang dulu ia bagikan, kini kembali lagi padanya.
Perasaannya campur aduk, baru saja menutup lemari, tiba-tiba—
Tok tok tok—
Seseorang mengetuk jendela mobil dari luar.
Sepertinya sedang bicara, tapi angin terlalu kencang untuk terdengar jelas.
Jendela mobil rumah berjenis geser, Jiang Fei membuka sedikit celah.
"Jiang... eh, Jiang Fei, kau masih ingat aku? Aku penghuni Gedung A Yulan Yuan, dulu pernah menukar emas dengan persediaan darimu."
"Aku tadi lihat tim penyelamat ambil wedang jahe, aku juga mau satu."
Jiang Fei menjawab, "Tim penyelamat sudah bekerja membuka jalan, apa kontribusimu?"
Laki-laki itu terdiam.
"Kalau aku tukar dengan gelang perak, boleh?"
"Tidak," Jiang Fei langsung menutup jendela dan menurunkan tirai.
Pria di luar tak berani lagi mencari Jiang Fei, hanya meludahi ban mobil lalu bergumam pelan.
"Hanya karena dia punya senjata, pilih kasih seenaknya. Tunggu saja, kalau aku dapat senjata, kau yang pertama kubunuh dan kuambil semua persediaan!"
—
Tim bisa istirahat setengah jam, Jiang Fei memasak beberapa bungkus mi instan, menambahkan sosis dan telur mata sapi, lalu memanggil Lu Yu dan yang lain lewat radio untuk makan di mobil rumah.
Kalau bisa masak, kenapa harus makan makanan kering yang dingin?
Lu Yu dan yang lain segera datang.
"Wah, angin hari ini luar biasa, kalau nggak nunduk, nggak bisa jalan," keluh Ling Zhaorui yang paling belakang, sambil menepukkan salju tipis dari bajunya di pintu.
Tiba-tiba matanya membelalak melihat perempuan yang berdiri menempel pada pintu mobil.
"Kapan kau masuk ke sini?!!!"