Bab 127: Cabang Restoran Salju Misterius
Yun Xuan menatap Qin Yue yang sedang tertidur. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Situasi Qin Yue cukup unik. Hari ini Kepala Sekolah Qin Yun datang secara pribadi untuk memohon agar Qin Yue tinggal di rumah ini. Selama ada kau di dekatnya, kondisinya bisa mereda," ujar Yun Xun'er sembari melangkah mendekat dan berdiri di samping Yun Xuan, suaranya terdengar lembut.
"Lalu aku tidur di mana?" tanya Yun Xuan dengan senyum getir.
"Kakak, tidurlah di kamark. Aku akan tidur bersama Kakak," sahut Yun Xue sambil menaiki tangga.
"Baiklah." Yun Xuan melirik Qin Yue sekilas, lalu mematikan lampu, menutup pintu, dan beranjak ke kamar Yun Xue.
Di kamar Yun Xue tercium aroma harum yang tidak diketahui asalnya. Yun Xuan menyingkap selimut, namun ia sulit sekali memejamkan mata.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh," gumam Yun Xuan pada dirinya sendiri. Pandangannya sempat teralihkan oleh sesuatu yang berwarna biru putih bergaris di tepi tempat tidur.
...
Malam berlalu. Sinar matahari pagi menyinari selimut, dan Yun Xuan pun bangkit dari tidurnya. Setelah membersihkan diri, ia turun ke lantai bawah.
"Selamat pagi," sapa Qin Yue lembut yang sudah duduk di meja makan.
"Selamat pagi. Xun'er, Xue'er, beberapa hari ke depan aku harus pergi ke Negara Kepulauan karena ada urusan. Aku titip rumah ini pada kalian. Jika Qin Yue merasa bosan, dia bisa pergi ke Restoran Xuan Xue untuk melihat-lihat," ujar Yun Xuan sembari duduk.
"Pergilah, jangan cari masalah dan berhati-hatilah," ucap Yun Xun'er sambil tersenyum.
"Kak, bolehkah aku minta tolong untuk dibelikan sesuatu?" tanya Yun Xue dengan raut wajah ragu.
"Tentu saja boleh," jawab Yun Xuan mengangguk.
Setelah makan, Yun Xuan berangkat membawa buku catatan milik Yun Xue. Kali ini, tujuannya bukan hanya untuk menaklukkan organisasi Haku, tetapi juga meminta Sanjo Kamikawa membantu mendapatkan 500.000 kaleng makanan.
Mengenai masalah Liu Mengyan, Yun Zhongxian sudah menemui keluarga Liu. Keluarga Liu tidak berkata apa-apa dan langsung membatalkan pertunangan Liu Mengyan. Alasan mengapa pertunangan tidak dilanjutkan di keluarga Qin adalah karena Yun Xuan merasa dirinya sedang diawasi. Begitu ia keluar dari Tiongkok, situasinya akan sedikit lebih baik. Yun Xuan bukanlah sosok berbahaya, ia hanya dilindungi karena keberadaan Yun Zhongxian. Jika pihak unit intelijen tahu bahwa kaleng-kaleng pesanan Yun Xuan menghilang begitu saja, apa yang akan mereka pikirkan?
Yun Xuan pun menaiki pesawat menuju Negara Kepulauan.
...
Horie Kanon merasa sangat canggung. Pria muda yang duduk di sampingnya ini benar-benar mengabaikannya dan terus menatap ke luar jendela.
"Jangan-jangan dia mengenaliku dan sengaja pura-pura tidak tahu untuk menarik perhatianku?" pikir Kanon sembari sesekali melirik Yun Xuan.
Setelah menunggu lama, Yun Xuan bahkan tidak menoleh sedikit pun. Kanon membuka mulutnya. Dia adalah seorang idola populer! Apakah mungkin pria ini tidak mengenalnya? Padahal dia sangat terkenal!
Yun Xuan tetap menatap jendela, atau lebih tepatnya, menatap layar virtual yang menampilkan dokumen. Uzumaki Kushina telah mengajarinya beberapa teknik segel sederhana yang kini ia catat agar bisa dibaca kapan saja.
"Tuan, apakah Anda... tidak mengenal saya?" suara seorang gadis terdengar dari samping Yun Xuan.
"Ding dong, ditemukan gadis cantik dengan penilaian komprehensif delapan poin."
"Tidak kenal," jawab Yun Xuan singkat sambil melirik gadis itu. Tidak ada kesan apa pun di benaknya, hanya merasa suara itu terdengar familier.
"Eh..." Kanon terdiam kaku. Ternyata benar-benar ada orang yang tidak mengenal dirinya.
"Ada apa?" tanya Yun Xuan.
"Ti... tidak ada apa-apa..." Kanon tentu tidak mungkin mengaku bahwa dia memanggil Yun Xuan hanya karena kesal tidak dihiraukan.
Yun Xuan melirik Kanon yang tampak aneh, lalu kembali memalingkan wajah untuk mempelajari teknik segel. Kanon hampir menangis; dia diabaikan lagi! Padahal dia seorang idola!
...
Pukul sebelas siang lebih, pesawat mendarat di Bandara Tokyo. Begitu turun dari pesawat, Yun Xuan langsung disambut oleh kerumunan massa yang membludak.
"Kanon-chan!"
"Kanon-chan!"
"Kanon-chan!"
Orang-orang yang mengenakan pakaian aneh sambil membawa spanduk berteriak keras, tak ketinggalan banyak wartawan yang meliput.
"Tuan Yun Xuan, lewat sini. Kakek meminta saya menjemput Anda," ucap Sanjo Hiyori yang segera menghampirinya.
"Terima kasih atas kerja kerasmu," kata Yun Xuan mengangguk, lalu mengikuti Sanjo Hiyori masuk ke dalam mobil.
"Jalan," perintah Sanjo Hiyori kepada sopir setelah menutup pintu mobil.
Yun Xuan mengeluarkan ponselnya dan menelepon Haku. "Aku sudah sampai. Jam satu nanti, jemput aku di Akademi Kuliner," perintahnya langsung.
"Baik," jawab Haku dari seberang telepon.
"Bagaimana kabar Hayama dan yang lainnya?" tanya Sanjo Hiyori dengan kepala tertunduk, memperhatikan Yun Xuan yang baru saja mematikan telepon.
"Baik-baik saja. Aku sudah lama tidak mampir ke tokoku," jawab Yun Xuan berpikir sejenak.
"Tuan Yun Xuan, bakat Hayama tidak buruk. Jika Anda mengajarinya, tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi koki bintang tiga..." ada nada khawatir di mata Sanjo Hiyori.
"Apakah kau takut dia akan kembali mencarimu? Atau kau terpaksa harus mematuhi perjodohan keluarga?" Yun Xuan cukup memahami situasi Sanjo Hiyori.
"Perintah Kakek tidak akan berubah. Selama itu bisa memperluas Akademi Kuliner, dia akan melakukan apa pun," jawab Sanjo Hiyori dengan raut wajah muram. Perjodohan keluarga adalah takdir yang tidak bisa dihindari oleh banyak gadis dari keluarga terpandang.
"Bagaimana jika aku yang membujuknya?" tanya Yun Xuan datar.
"Mustahil. Kakek tidak akan mendengarkan siapa pun," Sanjo Hiyori menggeleng.
"Jika aku berhasil, imbalan apa yang akan kau berikan?" tanya Yun Xuan lagi.
"Aku..." Sanjo Hiyori tertegun, dia benar-benar bingung harus menawarkan apa.
"Aku menginginkanmu," ucap Yun Xuan serius.
"Eh?" Wajah Sanjo Hiyori memerah. Apakah Yun Xuan baru saja mengatakannya secara langsung? Sopir di depan hanya bisa mengernyitkan bibir, tetap fokus menatap jalan di depannya.
"Aku butuh seseorang untuk mengelola cabang Restoran Xuan Xue di Negara Kepulauan ini. Aku yang menyediakan teknologi dan modalnya, aku hanya mengambil tiga puluh persen dari pendapatan tahunan," jelas Yun Xuan.
Membuka cabang dengan basis resep masakan orisinal yang telah disempurnakan pasti akan menarik banyak pelanggan.
"Kalau itu, mungkin bisa," jawab Sanjo Hiyori dengan wajah memerah. Tadi dia sempat mengira Yun Xuan benar-benar menginginkannya dalam arti yang lain.
...
Mobil berhenti di kediaman keluarga Sanjo di Akademi Kuliner. Yun Xuan dan Sanjo Hiyori turun, lalu Sanjo Hiyori mengantar Yun Xuan ke ruang tamu dan menyajikan teh hangat sebelum pamit undur diri.
"Barang yang Anda minta sudah saya siapkan. Totalnya 15 juta dan sudah dikirim ke gudang Akademi Kuliner," ujar Sanjo Kamikawa sembari menyesap tehnya. Ia tidak bertanya untuk apa Yun Xuan membutuhkan kaleng-kaleng itu, karena itu adalah pertanyaan bodoh.
"Terima kasih. Mengenai perjodohan Sanjo Hiyori, saya harap itu dibatalkan. Sebagai gantinya, saya akan memberikan sebuah resep masakan orisinal, serta memberikan tujuh puluh persen pendapatan tahunan cabang Restoran Xuan Xue kepadanya. Semua modal dan teknologi dari saya," kata Yun Xuan setelah ragu sejenak.
"Baiklah," Sanjo Kamikawa terdiam sejenak lalu mengangguk. Dia kini yakin bahwa Yun Xuan benar-benar memiliki resep kuno yang sudah hilang.
"Saya masih ada urusan, jadi saya pamit. Soal barangnya, orang dari Kabut Tersembunyi yang akan mengambilnya. Anda seharusnya tahu siapa mereka," ucap Yun Xuan sambil berdiri setelah menghabiskan tehnya.
"Saya mengerti," kilatan terkejut tampak di mata Sanjo Kamikawa. Kabut Tersembunyi, yaitu organisasi Haku, memiliki pengaruh yang sangat besar di Negara Kepulauan.