Bab 41: Pertarungan Memperebutkan Roh Makanan
“Benar-benar membosankan…” Terdengar suara helaan napas seorang gadis.
Langit yang putih bersih, tanah yang juga putih, di antara hamparan luas dunia ini hanya ada satu orang saja.
Di dekatnya terdapat aneka camilan, di belakangnya deretan rak buku yang tak terhitung jumlahnya, dan di depannya sebuah layar virtual yang terus-menerus menghitung sesuatu.
“Apa sebenarnya ini?” Gadis itu berdiri, membentangkan sayap di punggungnya, memejamkan mata, lalu terbang bebas ke angkasa.
Tempat itu adalah sebuah ruang yang tak bisa disentuh siapa pun, sekaligus penjara yang mengurungnya.
…
“Mimpi yang aneh…” Yun Xuan duduk dan menatap cahaya matahari yang masuk melalui jendela.
Tadi malam ia memang kelelahan. Setelah melihat resep emas dan mencatat satu olahan seafood, ia pun tertidur.
Baru saja dalam mimpi, sepertinya seseorang memanggil namanya, tapi ia tak bisa mengingat siapa.
Hanya perasaan sakit yang tertinggal di hatinya, begitu menyakitkan hingga membuat napasnya terasa berat.
“Tok tok.” Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Yun Xuan menggeleng, mengusir pikiran itu, lalu segera mengenakan pakaian dan membuka pintu.
“Kakak, mari kita berangkat bersama?” Di luar berdiri Yun Xue.
Yun Xue mengenakan celana jins biru muda, kaos putih yang imut, menunduk dengan wajah bersemu merah.
“Xue, hari ini kamu sangat cantik.” Yun Xuan mengelus rambut panjang Yun Xue.
“Kakak selalu berkata seperti itu…” Yun Xue bergumam pelan, tapi ia tidak menghindar, membiarkan Yun Xuan mengelus rambutnya.
“Xue, kakak ingin selamanya bersama kalian, sungguh-sungguh dari hati.” Suara Yun Xuan lirih, lalu ia memeluk Yun Xue.
“Kakak? Xue juga sama.” Yun Xue balas memeluk Yun Xuan dengan lembut.
“Wah, Xue dan Xiao Xuan sudah pamer kemesraan dari pagi, ya?” Suara menggoda Yun Xun’er terdengar dari samping.
“Tidak… tidak pamer kemesraan!” Yun Xue buru-buru mendorong Yun Xuan, mundur dua langkah dengan gugup.
“Xue memang mudah ditebak.” Yun Xun’er tertawa lepas.
“Kak Xun’er…” Yun Xue sadar, wajahnya semakin merah.
“Xue malu lagi, padahal kakak cuma memelukmu sebentar, kok.” Yun Xuan ikut menggoda.
“Kakak juga menggoda aku, huh, Xue tak mau bicara lagi dengan kalian.” Yun Xue memanyunkan bibir, membalikkan badan.
“Begini, barulah terasa seperti sebuah keluarga.” Yun Xun’er berkata lirih, lalu memeluk Yun Xue.
“Kakak lagi-lagi pakai gaya dari komik, tidak tulus sama sekali.” Yun Xue pun tertawa.
“Kalau segitu mudahnya, lain kali aku harus lebih menggoda Xue lagi.” Yun Xun’er tersenyum dan melipir pergi.
“Selamat pagi, Xuan, Xue, Kak Xun’er.” Lin Qingyu menguap, berjalan keluar dari kamarnya.
“Qingyu terlihat imut begini, kan, Xuan?” Yun Xun’er berkata sambil menoleh pada Yun Xuan.
“Iya, sangat imut, untuk ukuran anak laki-laki.” Yun Xuan mengangguk.
“Jangan bicara seperti itu! Aku kan anak laki-laki, masa dibilang imut? Xuan, kau keterlaluan.” Lin Qingyu memonyongkan pipi.
“Hahaha, benar-benar lucu sekali.” Yun Xun’er tertawa tanpa menjaga citra.
“Selamat pagi.” Nangong Xiaomeng dan Qin Yue datang menghampiri.
“Selamat pagi, ayo berangkat.” Yun Xuan melihat jam, meski sudah berlatih, ia tetap belum tenang.
Kali ini hidangan seafood yang akan dibuat tidak sembarangan, setiap langkah harus sangat teliti, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.
…
Tepat pukul sembilan, mereka berenam tiba di Akademi Kuliner.
Sebuah kedai kecil kembali ramai. Yun Xuan sudah berbicara dengan Ye Shan Yuanting, jika mereka memenangkan juara satu, maka Ye Shan Yuanting akan mendapat hak pakai tiga kios kelas menengah yang dijanjikan oleh Shangchuan.
Kedai kecil ini hanyalah toko biasa di Taman Kuliner, sedangkan kios kelas menengah terletak di bagian tengah, tempat arus pengunjung paling ramai.
Bagi Ye Shan Yuanting, tawaran itu tak bisa ditolak. Ia butuh uang untuk membuktikan dirinya.
Sebagai gantinya, Ye Shan Yuanting bertugas membantu Yun Xuan menyiapkan hidangan.
Seperti persiapan kali ini.
“Ini bahan jamu?” Ye Shan Yuanting menatap daftar belanjaan yang dibuat Yun Xuan, sedikit heran.
“Benar, tolong belikan. Aku akan mulai persiapan.” Yun Xuan menatap kepiting di depannya.
“Berikan aku waktu setengah jam.” Ye Shan Yuanting berpikir sejenak, lalu pergi keluar.
Yun Xuan melirik resep di layar virtual, lalu menggerakkan pisau dapur, dengan cekatan memotong kepiting.
Kemudian ia menggoreng kepiting bersama rempah-rempah, lalu semua kepiting goreng itu dihancurkan dengan mesin hingga menjadi bubuk halus.
Mesin seperti itu memang biasa digunakan di Akademi Kuliner. Pada resep, tertulis seharusnya menghancurkan dengan tenaga dalam, namun Yun Xuan hanya bisa mendesah: “Lupakan saja!”
Setelah serbuknya kering, Yun Xuan memasukkannya ke dalam botol. Serbuk yang telah menyerap aroma rempah-rempah inilah inti dari hidangan kali ini.
Serbuk keemasan yang memikat, dipadukan dengan bahan jamu, sebenarnya Yun Xuan hendak membuat masakan seperti apa?
…
Pukul dua lima puluh sore.
Penonton mulai berdatangan, kelima orang Yun Xuan menunggu di ruang istirahat, semua persiapan telah rampung, grand final kali ini hanya satu babak, bahan bisa dipilih sendiri.
“Saatnya tampil.” Sakagami Ginzi melihat Chishima Mingyin di televisi, lalu buru-buru berkata.
“Ayo, ini pertandingan terakhir, perebutan gelar Dewa Rasa!” Senyum di wajah Yun Xuan begitu penuh percaya diri, seolah kemenangan sudah di tangan.
Empat orang lainnya tampak serius. Dalam panggung sebesar ini, setiap hidangan akan masuk arsip Dewan Kuliner, dan nilainya bisa menjadi batu loncatan untuk menjadi koki bintang tiga.
“Aula Dewa Rasa sudah berdiri selama tiga puluh tahun. Dalam tiga puluh tahun, lahir dua puluh pemilik gelar Dewa Rasa. Setiap tahunnya, pertandingan perebutan gelar ini selalu menjadi pertarungan yang paling seru, ada yang berhasil juara berulang kali, ada juga yang langsung terkenal dalam sekejap. Hari ini, akan lahir Dewa Rasa ke-21! Silakan kelima peserta naik ke panggung!” Chishima Mingyin berkata dengan senyum.
Kelima orang Yun Xuan berjalan di lorong samping menuju panggung, berdiri di depan meja masak masing-masing, bahan-bahan sudah disiapkan di sana.
“Tema kali ini adalah hidangan laut, waktu dua jam, mulai memasak!” Melihat kelima peserta sudah siap, Chishima Mingyin langsung memulai tanpa basa-basi.
Kelima orang itu mulai bergerak serempak.
Namun, yang membuat semua orang tercengang, Yun Xuan malah mengambil bahan jamu?
“Jangan-jangan… resep orisinal lagi?!” Dongfang Aoxue menatap Yun Xuan penuh keterkejutan.
“Ehem, izinkan aku memperkenalkan hidanganku. Semua mahasiswa Akademi Kuliner pasti tahu, di Huaxia ada jenis masakan khusus yang memanfaatkan bahan jamu sebagai bagian dari pengolahannya.” Yun Xuan berbalik menghadap para mahasiswa.
“Masakan jamu?” Shangchuan bertanya dengan nada serius, tampak menantikan sesuatu.
“Benar, hari ini aku akan mengolah hidangan jamu berbahan dasar seafood. Resep ini punya khasiat menyehatkan, bisa membantu mengatasi anemia, bahkan untuk sakit flu bisa langsung memperlihatkan hasilnya.” Yun Xuan tersenyum tipis.
“Serius?”
“Ini masakan jamu? Luar biasa!”
“Efek tonik, seafood dicampur jamu bisa menyaingi obat medis?”
Para mahasiswa Akademi Kuliner tampak tak percaya, benarkah masakan jamu sehebat itu?
“Jadi… silakan buka mata lebar-lebar dan saksikan.” Yun Xuan mengambil serbuk keemasan, tersenyum penuh percaya diri.