Bab Tiga Puluh Dua: Ganti Rugi
Mendengar ucapan Su Ren, Su Shijie kembali melirik wanita di lantai yang bahkan gaya jatuhnya pun dipenuhi nuansa pura-pura lemah. Terlihat saat ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan menangis, mulutnya di balik tangan itu bergerak-gerak cepat ke arah mereka, sepertinya bermaksud menyampaikan, “Bagi hasil.”
Ternyata ini benar-benar jebakan! Dalam hati Su Shijie berseru, lalu diam-diam mengendalikan jarum baja yang tadi sudah dipersiapkan, menariknya kembali tanpa suara. Setelah terlepas dari reaksi spontan tadi, pikirannya pun mulai berjalan normal. Sebenarnya, jika ia bekerja sama dengan wanita ini, mungkin saja benar-benar bisa mendapatkan ganti rugi yang tidak sedikit. Sama seperti yang ia pikirkan saat meneliti aturan kota ini, semua syarat yang tertulis jelas bertujuan membuat orang biasa kehilangan keberanian untuk melawan, dan karena harus diawasi oleh Sang Dewi Fajar, memang sengaja meninggalkan celah untuk jalan keluar.
Jumlah ganti rugi yang diberikan memang cukup besar, karena bagaimanapun juga tak mungkin mendorong perilaku semacam ini. Namun, jelas sekali, si pirang bodoh yang jadi korban jebakan ini, meski tampak polos, tetap saja punya dua pengawal di sisinya; setidaknya ia pasti punya kedudukan tertentu, minimal masuk golongan berprivilegi. Meski wanita ini jelas tak akan nekat mencari mati, status si pirang pun pasti tak terlalu tinggi, tapi tetap saja bisa menimbulkan masalah. Lagi pula, Su Shijie sendiri tidak menyukai tindakan semacam ini, apalagi sampai mau “bekerja sama”.
Saat Su Shijie melintas semua pikiran itu dengan cepat, Su Ren sudah bicara dengan nada santai, “Kami tidak tertarik dengan urusanmu, juga tak berminat memperkarakan pelecehanmu, ataupun mencari tahu siapa rekanmu yang menjual informasi tentang kami. Jadi, kami harap kau juga tidak mencari masalah sendiri.”
Meski Su Ren tidak menunjukkan tekanan apa pun, kata-kata santainya justru membuat si wanita di lantai itu langsung berhenti menangis.
“Oh, jadi karena tahu kami baru masuk kota, kau jadikan kamar kami sebagai ‘saksi’ ya,” gumam Su Shijie, sedikit menyadari apa yang sedang terjadi. Sementara itu, si pirang kecil yang tadinya mengamuk, kini sudah ditahan oleh dua pengawalnya dan dijaga di belakang, memandangi Su Ren dengan waspada. Si pirang itu tampaknya mulai sedikit tenang setelah emosi mereda, mengamati keadaan dari belakang pengawalnya.
Setelah mendengar percakapan mereka, meski otaknya masih belum sepenuhnya paham, pengawal di sampingnya pun membisikkan penjelasan. Setelah mendengarkan, wajah si pirang langsung berubah seolah baru sadar dan dengan marah berteriak, “Sialan! Terulang lagi?! Kalian kira aku mudah ditipu? Sudah puluhan kali aku kena, kira-kira aku masih mau tertipu lagi?!”
Melihat reaksi putus asa dan marah si pirang, Su Shijie pun tak bisa menahan diri untuk meliriknya dengan rasa iba. Puluhan kali kena tipu, astaga… Ini benar-benar seperti kambing yang terus-menerus dicukur bulunya, pasti sudah habis tuh! Tapi setidaknya, orang ini pasti tak kekurangan uang. Denda kompensasi untuk kasus seperti ini, minimal pasti di atas seratus ribu. Di Kota Melayang, di bawah pengawasan Dewi Fajar, secara prosedural tak ada celah hukum yang bisa dimanipulasi. Jika ada saksi yang pas, ditambah rekaman hotel, sidik jari, atau bukti biometrik lainnya, sudah pasti kerugian tak bisa dihindari.
“Cih~ sialan,” gumam wanita itu, lalu tiba-tiba berhenti berpura-pura. Mendengar si pirang masih mengoceh, ia malah membalas dengan suara lebih keras, “Lalu kenapa? Mau bunuh aku? Memangnya kalau kau bunuh aku, paling-paling juga cuma kena denda dan ganti rugi, ayo, bunuhlah!” Sikap galaknya ini malah membuat si pirang tak bisa membalas sepatah kata pun, wajahnya merah padam, entah harus berkata apa.
Setelah menyemprot si pirang, wanita itu kembali melotot ke arah Su Shijie, lalu maju dua langkah dengan marah. Su Shijie pun sudah mengepalkan tinjunya, siap membalas dalam batas aturan kota kalau dirinya dimaki-maki. Namun tindakan wanita itu berikutnya sungguh di luar dugaan.
Ia tiba-tiba meraih tangan kiri Su Shijie dan berkata, “Apa silikon? Matamu rusak ya? Parfumku merek Eushi! Jangan sebarangan ngomong!” Saat memarahi si pirang tadi, ia masih kuat, tapi ketika berkata sampai di sini, matanya malah berkaca-kaca, tampaknya benar-benar tersinggung...
“Biar aku yang cek, aku bisa bedakan, biar aku saja…” Si pirang membelalak memandang Su Shijie, mengacungkan tangan. Kedua pengawalnya tampak salah tingkah.
“Kau lihat apa? Kalau kau setampan dia, buat apa bayar?” Setelah melepaskan tangan Su Shijie dengan kesal, wanita itu pergi dengan perasaan dongkol.
Baru dua langkah berjalan, Su Shijie tiba-tiba melangkah cepat menghadangnya, membuat wanita itu menabrak dadanya tanpa sempat bersiap.
“Eh, apa-apaan sih? Lagi nggak mood nih!” Protes wanita itu sambil duduk di lantai, mengusap bagian yang sakit dan melotot ke arah Su Shijie.
“Kau melanggar aturan kota. Pilihannya, kita selesaikan secara pribadi dan kau bayar ganti rugi, atau langsung kulaporkan ke Penjaga Kota,” balas Su Shijie dengan dingin, membalas dengan cara yang sama.
“Hah? Kau kira aku sebodoh dia? Apa aku minta uang? Apa aku memeras?” Tadi ia kira Su Shijie cuma mau minta nomor kontak kota, ternyata malah bicara soal ini, wanita itu pun nyaris meledak. Dengan tubuh dan wajah begini, apa matamu buta? Ia pun masih kesal dengan ucapan Su Shijie sebelumnya soal silikon.
“Bukan itu, maksudku kau tadi sudah melecehkanku.” Su Shijie menjawab dengan tenang. Dalam aturan kota yang baru saja ia baca, pelecehan tak membedakan laki-laki atau perempuan, sangat adil.
“Di lorong hotel ada kamera, kau tadi menarik tanganku, itu sudah termasuk pelecehan,” lanjutnya.
Wanita itu pun terpaku, tak percaya. Aku melecehkanmu? Tapi sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia ini, ia tentu hafal segala aturan. Setelah diingat-ingat, ternyata memang benar! Biasanya, pelaku perempuan sangat jarang, sesekali saja ada tante kaya yang genit, itu pun tak sampai dilaporkan ke Penjaga Kota. Tapi bukan berarti tidak berlaku.
Dengan pengawasan Dewi Fajar, jika ia melapor, pasti langsung diproses sesuai aturan; denda, ganti rugi, bahkan penahanan. Seketika itu juga, wanita itu panik, bibirnya yang semula merah pun mulai bergetar. Namun akhirnya, ia menarik napas dalam-dalam, bangkit, dan berkata, “Baik, kita selesaikan pribadi saja. Kau mau bagaimana?”
Kalau lewat jalur resmi pasti rugi besar, jadi satu-satunya jalan adalah meminimalkan kerugian.
“Denda untuk pelecehan biasanya dua ribu, kompensasi umumnya lima ribu, ditambah penahanan lima belas hari. Kau beri aku tujuh ribu kredit, lupakan soal penahanan, kau masih untung,” kata Su Shijie, mulai menghitungkan semuanya dengan rinci pada lawannya...