Bibir merah menyala adalah riasan paling menggoda yang dapat dikenakan seorang wanita. Bahkan para model di klub malam pun belum tentu mampu membawanya dengan sempurna. Namun aku mampu memancarkan daya tarik yang begitu kuat, karena aku bukan sekadar seorang model berlipstik merah, melainkan juga...
Bibir merah membara adalah riasan paling menggoda yang bisa dipakai seorang wanita. Namun, pada umumnya, ketika wanita biasa mencoba riasan semacam itu, mereka tidak mampu menunjukkan daya tarik liar yang sesungguhnya. Bahkan di antara para model di klub malam tempatku bekerja, tidak banyak yang benar-benar mampu membawanya dengan baik.
Kemampuanku untuk menguasai pesona itu berasal dari masa laluku yang kelam. Aku percaya, tanpa pernah melewati kegelapan, tanpa pahit getir cinta dan lika-liku antara hidup dan mati, seorang wanita takkan pernah bisa menaklukkan riasan seperti itu. Setelah melalui semua itu, seseorang akan belajar untuk memandang segalanya dengan ringan. Saat segala hal tampak remeh, hanya dengan sedikit sentuhan merah di bibir dan sekali lirikan mata, bibir merah membara itu seakan hidup dan menyala.
Namun, andai aku bisa terlahir kembali, aku tak ingin hidup dengan hati sedingin ini. Jika mungkin, aku lebih memilih hidup biasa saja—keluarga sederhana, orang tua yang sehat, dan jalan hidup yang damai tanpa riak. Tapi, aku tidak memilikinya. Sejak aku dilahirkan, takdirku sudah ditentukan.
Aku tidak tahu di mana aku dilahirkan. Sejak aku bisa mengingat sesuatu, aku sudah berkeliaran bersama ibuku yang mengidap gangguan jiwa. Ibuku meninggal saat aku berumur sekitar empat tahun. Itu terjadi setelah kami berdua ditampung di sebuah panti sosial. Tapi ia bukan meninggal di panti, melainkan di jalan saat "mengejar seseorang".
Terus terang, kenanganku tentang masa itu sudah samar, tetapi aku masih sangat ingat wajahnya ketika m