014: Pertemuan
Pintu terbuka dengan suara keras, dan saat itu ayah Feng Li menatapku, alisnya mengernyit penuh rasa ingin tahu.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanyanya dengan heran.
Setengah tahun yang lalu di pasar tenaga kerja, dia pernah melihatku, jadi tentu saja masih mengingatku.
"Li Fei?" Feng Li berlari keluar dari belakangnya, menatapku dengan penuh semangat dan berkata, "Kenapa kamu datang? Kamu..." Ia menoleh dengan gugup ke belakang, lalu hendak menarik tanganku pergi.
"Tunggu sebentar!" Tiba-tiba ayahnya menghentikanku.
"Ada apa?" Feng Li menoleh dengan bingung.
Ayahnya tidak menghiraukannya, melainkan menatapku tajam dan bertanya, "Apa saja yang kamu lihat barusan?"
Memang, aku tadi melihat sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan. Aku jadi bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa saja yang kamu lihat barusan?" Tatapan ayahnya perlahan berubah menjadi garang, seolah-olah ada sesuatu yang tidak boleh terlihat orang lain telah tertangkap olehku, dan dia ingin menghilangkan saksi.
"Aku... aku..."
"Dia adikku! Jangan bicara seperti itu padanya!" Feng Li menegakkan lehernya, membelaiku dengan suara lantang.
Dia tidak pernah membiarkan siapa pun memperlakukanku dengan buruk, siapa pun juga!
Dulu, dia berani melawan Li Sheng dan Feng Yan, sekarang pun demi melindungiku, ia berani melawan ayah kandungnya sendiri.
Satu tamparan keras mendarat di kepala Feng Li, "Kamu diam saja! Katakan!" Ia berbalik menatapku garang, "Apa saja yang kamu lihat barusan?"
"Aku... aku melihat kalian menggiling tepung..." Hatiku sudah gemetar saat itu, jadi hanya bisa berkata jujur.
Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, hanya saja benda-benda putih itu seperti tepung terigu, jadi aku menambahkan, "Aku tidak tahu apakah kalian menggiling tepung atau susu bubuk, aku belum pernah melihat sebelumnya..."
Mendengar jawabanku, ekspresi tajamnya sedikit mereda. Ia menoleh pada Feng Li dan berkata, "Kalau mau bicara, masuk ke dalam! Jangan ribut di luar sini, bikin pusing saja!"
Setelah berkata demikian, ia pun masuk ke dalam.
Rumah itu hanya punya dua kamar, satu dijadikan tempat kerja untuk menggiling tepung, satunya lagi tempat tidur.
Ayahnya melarang kami berbicara di ruang kerja, setelah menutupi mesin-mesin itu dengan kain lusuh, ia mengusir kami berdua masuk ke kamar dalam.
Di kamar dalam, selain tempat tidur, ada dua kursi kuno model Taishi.
Kami duduk berhadapan di kursi masing-masing, saling memandang dalam diam...
Melihat ayahnya menutupi barang-barang di ruang luar, lalu berbaring di tempat tidur, kami berdua semakin canggung.
"Ayo bicaralah... Katanya selalu ingin pulang cari Li Fei, sekarang ketemu orangnya malah diam saja?" Ayahnya setengah berbaring di atas ranjang, menyalakan sebatang rokok dan bertanya.
Melihat wajah ayahnya yang garang, aku jadi takut. Takut ia mengusirku dan melarangku berbicara dengan Feng Li.
Karena itu, aku agak gugup bertanya, "Kak, kenapa kamu tidak cari aku ke sekolah?"
"Setelah hari itu kita berpisah di pasar tenaga kerja, ayah langsung membawaku ke luar kota."
"Ke luar kota?"
"Hoi!" Ayah Feng Li mengingatkan dengan suara dingin, "Kamu cuma boleh bicara yang perlu saja! Yang tak perlu simpan saja! Paham?!"
Menghadapi sikap keras itu, Feng Li hanya mengangguk.
Gerakan kecil itu membuatku merasa ia telah berubah, atau mungkin memang urusan mereka di luar kota itu sangat aneh!
Sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain.
"Aku dan ayah pergi berdagang, baru beberapa hari lalu kembali. Setelah pulang aku ke sekolah cari kamu, tapi sekolah sudah libur musim panas."
"Oh... Lalu, apakah kamu akan terus tinggal di Kota Hanjiang?" tanyaku. Soalnya tadi aku sempat dengar mereka bilang, setelah dapat penghasilan pertama di Hanjiang, akan pindah ke luar kota.
Feng Li menggeleng, "Itu tergantung ayah. Tahukah kamu? Sekarang namaku bukan Feng Li lagi, aku pakai marga ayah, jadi Lu Li..."
"Lu Li..."
"Benar, ayahku Lu Feng, aku pakai marganya juga."
"Oh, jadi kalau nanti aku mau cari kamu..."
"Hoi, hoi, hoi!" Ayahnya bangkit dari ranjang dengan kesal, membuang puntung rokok, "Kalian berdua ribut saja, pacaran ya? Gadis kecil, aku tahu betul asal-usulmu, tidak mungkin kalian berdua bersama! Paham?!"
Aku hanya terdiam menatapnya. Bagi gadis dua belas tahun, mana tahu apa itu cinta-cintaan.
Melihatku terpaku, ia tiba-tiba berkata, "Kamu anak ini, jangan-jangan seperti ibumu, gila juga?"
"Kok tahu ibuku sakit jiwa?" tanyaku heran.
"Aku tahu banyak! Coba cari tahu dulu Lu Feng dulu itu siapa! Hmph..." katanya, sambil kembali setengah berbaring di tempat tidur, lalu memandangku, "Ibumu jadi gila itu salahnya sendiri, siapa suruh jatuh cinta pada orang yang salah? Jadi, gadis kecil, kalau kamu cerdas, jangan pilih anakku! Kalian bersama pasti jadi tragedi! Lu Li, dengar tidak?!"
Mendengar itu, mata Lu Li sedikit redup, tapi saat menatapku lagi, ada keteguhan di matanya.
"Li Fei, tenang saja, setelah kakak berhasil, aku pasti kembali mencarimu!"
"Dasar anak bodoh! Kalian tak mungkin bersama!" Ayahnya menyepelekannya.
Namun, saat itu pikiranku malah tertahan pada asal-usulku sendiri.
Kurasa Lu Feng ini tahu banyak tentang ibuku, jadi aku bertanya padanya, "Kamu... bisa ceritakan tentang ibuku padaku?"
"Ah, sudah berapa tahun lalu itu, dibahas lagi buat apa? Heh..."
"Li Fei tanya, jawab saja! Tidak lihat dia cemas?" Lu Li membelaku dengan suara keras.
Lu Feng mengernyit, lalu menatapku seperti sedang mengenang, "Tapi ya, kamu mirip sekali dengan ibumu waktu muda... Tahukah kamu? Dulu ibumu itu idola para lelaki Hanjiang, meski latar belakangnya biasa saja, tapi tubuhnya paling aduhai di Hanjiang!"
Sambil bicara, ia menunjuk ke luar ke arah klub malam, wajahnya penuh semangat, "Waktu kamu masuk tadi lihat klub malam itu, kan? Dulu itu hotel terbesar Hanjiang! Dulu ibumu kerja jadi penyambut tamu di sana! Pakai cheongsam merah, tubuhnya, aku bilang, bahkan model-model terkenal sekarang pun kalah! Tak ada yang bisa menandingi ibumu! Serius, tak ada satu pun! Kalau saja ibumu hidup di zaman sekarang, pasti jadi model top! Bukan, model paling terkenal!"
Aku tidak punya gambaran soal model.
Bagi anak seumurku saat itu, model hanya berarti perempuan telanjang di kartu remi milik keluarga Li Sheng atau patung plastik hitam putih di toko.
"Sayang, itu sudah belasan tahun lalu... Selama itu, ibumu gila entah ke mana, begitu pulang pun sudah lusuh, di Hanjiang hampir tidak ada yang mengenal dia lagi... Takdir memang kejam... heh."
"Bagaimana ibuku bisa gila?" Aku bertanya lagi.
Mendengar pertanyaanku, matanya jadi lebih hati-hati, dan ia menjawab tidak terlalu yakin, "Kan sudah kubilang, jatuh cinta pada orang yang salah, ya akhirnya gila!"
"Siapa ayahku?" tanyaku lagi.
"Eh, umurmu berapa?" tiba-tiba ia balik bertanya.
"Dua belas..." jawabku.
Ia lalu menatapku bingung, "Jangan-jangan setelah aku dipenjara, ibumu sembuh? Ayahmu itu orang hebat... Dulu dia perwira termuda di Satuan 138 Hanjiang!"
"Militer?"
"Benar, tapi tidak tahu sekarang masih dinas atau tidak! Kalau masih, mungkin sudah jadi jenderal! Tapi aku sudah kapok berurusan dengan mereka, tidak pernah cari tahu lagi... Eh?" Tiba-tiba ia teringat sesuatu, "Dengar-dengar ayahmu asli orang Beijing, kenapa kamu tidak cari ayahmu ke sana?"
"Siapa namanya? Di mana aku bisa menemukannya?" Aku menahan kegugupan dalam hati.
"Lu Feng!!" Terdengar suara berat seorang pria dari luar.
"Iya, iya! Datang!" Lu Feng meloncat dari ranjang, memakai sandal, lalu buru-buru keluar, "Liu, semua barang sudah siap, kita bayar tunai ya!"
"Jangan banyak omong! Pernah aku utang padamu? Cepat, bawa barangmu, ikut aku!" teriak pria itu.
Setelah itu terdengar langkah kaki mereka menjauh.
Ruangan mendadak jadi hening, tapi pikiranku tetap tidak tenang.
Ternyata ibuku dulu orang terkenal, tapi itu pasti sudah belasan tahun lalu. Juga, selama bertahun-tahun ia gila, sampai akhirnya tak banyak lagi yang mengenalnya.
Dulu, waktu ia meninggal, ia mengejar mobil tentara, jadi Lu Feng tidak berbohong. Ayah kandungku seharusnya memang tentara seperti yang diceritakannya.
"Li Fei?" Lu Li memanggil saat aku terdiam.
"Kak..." Aku menoleh padanya, dan saat itu di wajahnya yang tegas terlihat kesungguhan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Apa yang kulakukan belakangan ini bukan pekerjaan baik."
"Kalau begitu jangan lakukan lagi, ya?"
Ia menggeleng, "Tak bisa, Li Sheng pasti akan keluar dari penjara, aku harus cari uang sebanyak mungkin sebelum itu, supaya nanti bisa membawamu hidup bahagia!"
Mendengar dia ingin membawaku hidup bersama, hatiku tiba-tiba seperti digelitik rasa yang aneh.
Perasaan itu di usia sekecil itu sulit dimengerti, kini baru kusadari itu adalah cinta polos yang samar.
Tak ada rasa canggung, juga tak terlalu manis, hanya perasaan yang mengalir alami.
Hanya ingin selalu bersama dia, ingin terus memandangnya.
Walau ia miskin, walau sudah tak sekolah, di hatiku ia tetaplah abang yang menutup telingaku di malam gelap, tetap orang yang bisa kuikuti dengan tenang sepulang sekolah...
"Li Fei, kapan Li Sheng keluar? Ibu kita masih kerja di pasar tenaga kerja?" tanyanya.