Bab 144: Taman Burung Pipit Kecil
Su Xun tidak bergeming sedikit pun, sikapnya sangat tegas. Jika hari ini tidak ada hukuman yang memuaskan untuk Su Fu, dia tidak akan lagi menganggap keluarga kakak sulungnya itu sebagai bagian dari keluarganya.
Bagaimana pun dekatnya hubungan dengan kakak sulung, dia sendiri adalah seorang ayah yang memiliki anak. Dia sama sekali tidak sanggup membiarkan anak-anaknya menelan ludah dan menahan penghinaan demi sang kakak. Kemarin di perjamuan, jika jarak mereka tidak begitu jauh, dia pasti sudah menerjang maju dan menampar wajah Su Fu beberapa kali.
Berani merunduk putrinya, itu sama saja mencari mati.
Lagi pula, ucapannya ini juga sekaligus menunggu sikap dari Su Wang. Seperti yang sudah dikatakan, mereka adalah saudara sedarah dalam satu kediaman yang seharusnya bersatu padu demi keluarga. Namun, jika Su Wang menoleransi tindakan Su Fu yang merunduk Su Guan, bagaimana bisa dia memastikan bahwa di kemudian hari Su Fu tidak akan merunduk anak-anaknya lagi?
Jika dia terus-menerus mengalah, orang lain justru akan menganggapnya lemah dan semakin mudah ditindas, sehingga kelak anak-anaknya akan semakin sering menjadi korban perundungan.
Oleh karena itu, pada saat ini ia sama sekali tidak akan mundur.
Jika Su Wang menghukum Su Fu dan menegakkan keadilan, maka keduanya akan tetap menjadi saudara yang baik dan hubungan mereka tidak akan berubah. Namun, jika Su Wang bersikap pilih kasih terhadap putrinya sendiri, maka mohon maaf, dia juga seorang ayah yang memiliki anak. Biarlah masing-masing membela anak sendiri dan mereka bisa berjalan di jalur masing-masing.
Su Wang menatap adiknya yang selama ini selalu menghormatinya itu, hatinya merasa begitu lelah. "Apakah kau benar-benar harus bersikap seperti ini?!"
Su Xun berkata, "Tentu saja. Jika kita bersama-sama berusaha mencari kejayaan dan kekayaan untuk kediaman ini, di mana anak-anakmu menikmati seluruh keuntungan sementara anak-anakku ditindas oleh anakmu dan hanya bisa menahan diri dalam diam, apa gunanya aku melakukan semua ini? Lebih baik aku meninggalkan kediaman ini dan mencari jalan hidupku sendiri."
"Sekalipun keadaannya tidak sebaik ini, di dalam keluargaku tidak ada seorang pun yang boleh menindas anak-anakku."
Dia adalah seorang pria, tulang punggung bagi istri dan anak-anaknya. Betapa pun tidak bergunanya dia di mata orang lain, dia tetap akan merentangkan langit untuk melindungi mereka. Dia tidak akan memilih untuk menelan ludah demi kekayaan dan kemuliaan sementara istri dan anak-anaknya menderita ketidakadilan yang mendalam.
Su Wang memejamkan matanya sejenak, lalu memanggil putrinya, "A-Fu, kemarilah."
Su Fu mengira ayahnya hendak membela dan menegakkan keadilan untuknya, seketika itu juga ia bangkit berdiri dengan gembira dan berjalan menghampiri Su Wang.
Tanpa diduga, tepat saat ia mendekat, Su Wang yang tadinya memejamkan mata tiba-tiba membukanya, mengangkat tangan, dan melayangkan tamparan keras.
Su Wang mengerahkan seluruh tenaganya dalam tamparan tersebut, menghasilkan suara hantaman yang nyaring, membuat seluruh ruangan jatuh dalam keheningan yang mematikan.
Wajah Su Fu terpelanting ke samping akibat hantaman itu. Otaknya mendadak kosong, sementara telinganya menangkap suara pekikan dan jeritan Nyonya Yang. Rasa terbakar yang luar biasa di pipinya menjadi bukti nyata atas apa baru saja ia alami.
Matanya seketika memerah, dipenuhi rasa terkejut, murka, dan benci yang mendalam. Sambil menggertakkan gigi hingga hampir hancur, ia berseru, "Ayah, kau menamparku?!"
Tangan Su Wang bergetar hebat karena amarah. Sambil menunjuk ke arah Su Fu, ia berkata, "Aku menghukummu karena memang sudah seharusnya! Aku gagal mendidikmu dengan benar, makanya kau menjadi begitu liar dan tidak tahu aturan. Bukan hanya merusak hubungan antar saudara di dalam kediaman ini, kau bahkan membuat paman ketigamu menyalahkan diriku!"
"Apa yang dikatakan kakek dan nenekmu benar, dosa seorang anak adalah buah dari kegagalan ayahnya dalam mendidik. Aku gagal mendidikmu dengan baik, itu adalah kesalahanku. Sudah sepantasnya kau diberi pelajaran yang setimpal, agar kau tahu apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan!"
"Bawa dia ke Taman Queque! Tanpa perintahku, tidak seorang pun diizinkan mengeluarkan dia dari sana. Mengenai bordiran pakaian pengantin, ada banyak penyulam lain di bawah sana, biarkan dia merenungkan perbuatannya di sana seorang diri. Jika hari pernikahan tiba dan dia masih bernyawa, maka nikahkan saja dia. Namun, jika dia tidak mampu bertahan, biarkan saja urusannya berakhir sampai di sini!"
Su Fu terperanjat kaget. "Ayah!"
Taman Queque adalah pekarangan paling terpencil di seluruh kediaman ini. Tempatnya kecil dan terisolasi, lembap di musim panas dan membeku di musim dingin, bahkan para pelayan di kediaman ini pun enggan tinggal di sana. Tempat itu biasanya digunakan untuk mengurung para pelayan yang melakukan kesalahan berat. Jika harus diibaratkan dengan satu istilah, tempat itu hampir serupa dengan istana dingin atau penjara bawah tanah tempat eksekusi.
Semua jendela di sekeliling pekarangan itu telah disegel rapat, hanya menyisakan satu gerbang utama sebagai satu-satunya akses keluar masuk, demi mencegah orang yang dikurung di dalamnya melarikan diri atau melakukan kontak dengan dunia luar.
Begitu mendengar bahwa Su Wang hendak mengirimnya ke Taman Queque, warna wajah Su Fu langsung memucat seketika. Ia bahkan tidak lagi peduli pada rasa sakit di pipinya akibat tamparan sang ayah.
Ia buru-buru berlutut, mencengkeram ujung jubah Su Wang, dan memohon sambil menangis, "Ayah, A-Fu tahu, A-Fu salah. A-Fu mengakui kesalahan A-Fu, A-Fu akan meminta maaf. Mohon Ayah, jangan kurung aku di tempat terkutuk itu!"
"Ayah, kudengar sudah ada banyak orang yang tewas di sana, A-Fu takut!"
Setiap keluarga bangsawan pasti memiliki satu tempat terlarang yang dianggap angker. Di Kediaman Adipati Jinning, para mata-mata yang menyusup dari luar atau para pelayan yang berkhianat pada majikan mereka biasanya juga diselesaikan di Taman Queque. Tanah di sana telah menyerap darah dari begitu banyak orang.
Mengurung Su Fu di tempat semacam itu, bahkan tanpa perlu menjatuhkan hukuman fisik apa pun, sekadar dikurung di sana saja sudah cukup membuatnya hidup dalam ketakutan dan kecemasan setiap hari hingga jiwanya terguncang.
Jika ia dikurung di sana selama dua bulan, gadis yang bermental lemah pasti akan berujung gila.
Sebelumnya, pernah ada seorang pelayan wanita yang berkhianat dikurung di sana, dan belum sampai setengah bulan berlalu, pelayan itu memilih menggigit lidahnya sendiri hingga tewas karena tidak tahan.
"Ayah, Ayah, A-Fu mohon padamu, jangan, kumohon jangan kurung A-Fu di Taman Queque! A-Fu tahu salah, A-Fu benar-benar tahu salah. Ayah, Ayah!"
Nyonya Yang juga ikut berlutut di sampingnya sambil menangis meratap dan memohon, "Tuan Muda, A-Fu adalah putri kandungmu sendiri! Bagaimana hatimu sanggup membiarkan dia menderita siksaan seperti itu? Tempat macam apa Taman Queque itu, bagaimana mungkin seorang gadis muda sepertinya dikurung di tempat mengerikan tersebut!"
"Tuan Muda, A-Fu masih muda. Sekalipun dia melakukan kesalahan, kita bisa mendidiknya kembali secara perlahan. Kau tidak boleh memperlakukannya seperti ini!"
Setelah memohon kepada Su Wang namun tidak mendapati tanggapan, Nyonya Yang beralih memohon kepada Adipati Jinning dan Nyonya Besar Wang. "Ayah mertua, Ibu mertua, cepatlah bujuk Tuan Muda! Jika A-Fu benar-benar pergi ke Taman Queque, entah seberapa besar penderitaan yang harus ia tanggung. A-Fu sejak kecil tidak pernah menderita kesusahan apa pun, bagaimana mungkin dia sanggup bertahan!"
"Lagipula, lagipula, dua bulan lagi A-Fu akan menikah dengan Tuan Muda Ketiga. Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, apa yang harus kita lakukan?!"
"Pernikahan dengan Kediaman Pangeran Zhao saat ini sangat menguntungkan keluarga kita, masalah ini sama sekali tidak boleh sampai gagal."
Adipati Jinning tetap bungkam dan tidak menyatakan pendapatnya. Nyonya Besar Wang merasa sedikit tidak tega; bagaimanapun juga, Su Fu adalah cucu kandungnya sendiri. Jika gadis itu benar-benar dimasukkan ke sana hingga jatuh sakit karena ketakutan, dia juga akan merasa sangat iba. Namun, saat ini dia tidak mudah untuk bersuara, sehingga ia hanya bisa mengalihkan pandangannya kepada Su Xun.
Su Wang berkata dengan dingin, "Bawa dia pergi!"
"Tidak, tidak!" Air mata Su Fu menetes satu per satu, merusak riasan di wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan liar, mencengkeram erat ujung jubah Su Wang dan enggan melepaskannya.
"Ayah, aku tidak mau pergi, aku tidak mau pergi! Ayah, aku akan pergi meminta maaf kepada Keenam, aku akan memohon pengampunannya, memohon agar dia memaafkanku! Kumohon, jangan kurung A-Fu di Taman Queque!"
Mendengar nama Taman Queque saja sudah membuat sekujur tubuh Su Fu merinding ketakutan. Ia merasa jika dirinya benar-benar dimasukkan ke sana, kalaupun tidak sampai gila, separuh nyawanya pasti akan melayang. Tempat itu sama sekali bukan tempat yang layak dihuni oleh manusia.
"Ayah, aku akan meminta maaf, aku akan meminta maaf! Aku akan meminta maaf sampai Paman Ketiga dan Keenam merasa puas, aku akan meminta maaf!"
"Aku minta maaf!"
Tangan Su Fu bergetar hebat. Ia lantas menoleh ke arah Su Xun dan berkata, "Paman Ketiga, semua ini adalah kesalahanku! Seharusnya aku tidak merunduk Keenam, tidak boleh merasa bangga karena merebut pertunangannya, dan mengejek Keenam karena latar belakang Tuan Li!"
"Semua ini murni kesalahanku sehingga Keenam akhirnya mendapatkan pertunangan seperti itu. Ini semua adalah salahku!"
"Keenam, ini semua adalah kesalahan Kakak Empat. Kakak Empat meminta maaf padamu. Apa pun syarat yang kau inginkan, katakan saja, Kakak Empat pasti akan menurutinya!"