Bab 68 Apakah mungkin, Su Fu akan menikah?!
Keesokan paginya, setelah selesai berdandan, Su Wan pergi menemani Nyonya Wang menikmati sarapan. Saat itu Su Xun juga ada di sana, namun ia tidak berlama-lama. Usai makan, ia berpamitan dan kembali ke Taman Yuhua.
Sekarang, ia hanya bermalam di sana, sedangkan siang hari, selama ada Nyonya Wang, ia bisa pergi. Nyonya Wang masih harus mengawasi para penjahit yang sedang membuat pakaian untuk Adipati Jinning. Su Wan pun ikut duduk di sampingnya, belajar memilih kain; kain seperti apa untuk pakaian seperti apa, kapan waktu yang tepat mengenakannya—semua itu ada aturannya.
Dulu, saat menonton televisi, Su Wan sering melihat orang-orang memakai pakaian serba putih, tampak anggun dan menawan bak dewa-dewi. Namun di sini, orang-orang tidak mengenakan pakaian serba putih. Warna putih dianggap tidak membawa keberuntungan karena pakaian berkabung umumnya berwarna putih. Kalaupun harus mengenakan, itu pun hanya sebagai lapisan dalam, seperti baju tidur atau pakaian dalam, tidak pernah dipakai sebagai pakaian luar.
Model kerah dan tepi pakaian pun sangat diperhatikan.
Nyonya Wang berkata, "Kelak, semua ini harus kau pahami sendiri."
Su Wan mengangguk serius, "Saya mengerti, Nenek."
Setelah berbincang sebentar dengan penjahit, Nyonya Wang menarik Su Wan duduk di bangku kayu di samping. Melihat kesempatan, Su Wan pun membicarakan soal Su Fu, "Kemarin Kakak Keempat mengirimi saya surat, katanya ia ingin saya memohonkan keringanan untuknya. Menurut Nenek, bagaimana?"
Mendengar nama Su Fu, senyum di wajah Nyonya Wang langsung memudar, "Jangan dulu membahas dia. Kakekmu sudah bilang, ia harus diberi pelajaran. Baru saja dihukum karena kesalahan terakhirnya, kalau sekarang langsung dibebaskan, lain kali ia pasti akan berani lagi."
Persoalan antara Su Fu dan Putra Mahkota sudah diketahui oleh Adipati Jinning, membuatnya sangat marah hingga Nyonya Wang pun tak bisa menenangkan. Kini, bahkan Nyonya Wang pun tak berani menyebut nama Su Fu di depannya.
Adipati Jinning benar-benar terluka. Sepanjang hidupnya ia sudah berjuang demi keturunannya, kini satu per satu malah melanggar nasihatnya, bertindak egois dan hanya mempersulit keluarga.
Soal Su Ling, meski hatinya hancur, ia masih bisa memahami alasannya bersiasat demi diri sendiri.
Su Ran dan Su Lin, anak-anak dari selir, meski membuatnya kecewa, ia tidak terlalu peduli, sebab perhatian dan pemberian untuk mereka pun tak banyak.
Namun Su Fu adalah putri sah Adipati Jinning, gadis dengan kedudukan tertinggi di keluarga, dibesarkan dengan penuh perhatian dan segala yang terbaik. Justru kekecewaan terbesar pun datang darinya.
Su Wan tersenyum, "Tetapi, dalam suratnya Kakak Keempat berjanji jika saya menolongnya, kelak saat saya menikah, ia akan meminta Ibu Besar lebih memperhatikan saya. Saya jadi berpikir, kalau saya tidak menolong, mungkin ia tetap akan menyuruh Ibu Besar lebih memperhatikan saya."
Su Wan memang tak pandai banyak hal, tapi urusan mengadu ia sangat lihai. Jika Su Fu ingin menindasnya, tentu ia akan membalas diam-diam. Soal apa akibat dari kata-katanya bagi Su Fu, itu urusan Su Fu sendiri.
Kalau berani menindas orang, harus siap menanggung akibatnya.
Wajah Nyonya Wang langsung berubah muram, "Berani-beraninya dia?!"
Tentu saja Nyonya Wang paham maksud Su Wan. Su Fu ternyata berani mengancam Su Wan—benar-benar keterlaluan.
Su Wan berkata, "Nenek jangan marah. Saya menceritakan ini hanya agar kelak Nenek bisa lebih memperhatikan saya. Kalau sampai terjadi sesuatu, saya harap Nenek bisa membantu. Soal permohonan untuk Kakak Keempat, jika Nenek tidak berkenan, anggap saja saya tidak pernah menyebutkannya."
"Tapi, saya mohon, jangan hukum Kakak Keempat karena hal ini. Jika ia tahu semua ini karena saya, pasti akan terus menyimpan dendam."
Hati Nyonya Wang terasa sesak, ingin rasanya ia menghentakkan kaki, "Celaka benar, Kakak Keempatmu itu memang pembawa masalah. Sudah menyulitkan A Ling, kini malah hendak mencelakai dirimu!"
"Maafkan Nenek, kau sampai harus menanggung semuanya."
"Saya tidak merasa tersiksa, Nenek jangan terlalu marah, nanti malah sakit."
"Tak apa," jawab Nyonya Wang setelah menenangkan diri, lalu menepuk tangan Su Wan, "Tenang saja, kelak saat kau menikah, Nenek pasti akan memperhatikan segalanya, tidak akan terjadi apa-apa."
Dalam hati, Nyonya Wang sudah benar-benar kecewa pada Su Fu. Ia berpikir, daripada Su Fu terus membuat onar di keluarga dan sulit diatur karena selalu dilindungi oleh Nyonyah Yang, lebih baik segera menikahkannya saja, biar keluarga suaminya yang mengurus.
Dengan begitu...
Nyonya Wang mencengkeram saputangan di tangannya, lalu menepuk tangan Su Wan, "Kau kembali saja, urusan ini tak perlu kau pikirkan. Nenek pasti akan mengurusnya untukmu."
"Terima kasih, Nenek."
Su Wan berpamitan dan pergi. Baru saja tiba di pintu, ia mendengar ada yang melapor kepada Nyonya Wang bahwa Tuan Muda Ketiga dari Kediaman Pangeran Zhao datang berkunjung.
Ia tersenyum, berpikir besok adalah Festival Duanwu, Li Lin akan menjemputnya. Ia pun bertanya-tanya, pakaian seperti apa yang pantas dipadukan dengan tusuk konde indah itu.
Sambil tersenyum, ia berkata kepada Xiao Sang, "Nanti, mari kita lihat-lihat pakaian apa saja yang ada, pilih satu yang bagus untuk besok. Segala persiapan juga harus dilakukan. Kalian berdua pun pilih pakaian yang cantik."
"Baik."
Rombongan itu pun pulang ke Yuan Wan dengan penuh semangat. Xiao Zhen dikirim untuk mencari kabar, sementara Xiao Sang mengeluarkan semua pakaian Su Wan dan memilih dengan saksama.
"Nona, coba lihat yang ini. Cantik, kan? Kain ini hadiah dari Nyonya Ketiga waktu itu, sudah dijahit oleh penjahit, tapi Anda belum sempat memakainya."
Su Wan menggeleng, "Ganti yang lain, ini terlalu panjang. Siapkan saja atasan dan rok, modelnya juga terlalu ramai. Tuan Muda Li suka pakaian biru, jadi pilih yang sederhana dan elegan saja."
Kain itu memang Su Wan pilih bersama Nyonyah Li waktu ke toko kain, motif kupu-kupu emas di atas putih, sangat mencolok. Kalau untuk jamuan atau pesta, pakaian ini sangat cocok, tapi jika hendak keluar bersama Li Lin, rasanya tidak tepat.
Model baju berlengan lebar, lengan dan bagian bawahnya panjang, sulit dipakai berjalan, dan juga tidak cocok dengan Li Lin.
"Untuk atasan dan rok, ada satu set baru, motifnya juga Nona yang pilih waktu itu, corak anggur biru muda, dibuat dua set, Nona belum pernah memakainya."
Su Wan mengingat, kain itu memang bagus, "Coba perlihatkan."
Xiao Sang segera mengambilkan atasan dan rok itu. Setelah mencoba, Su Wan merasa cocok. Pakaian biru muda dipadukan dengan tusuk konde delima di rambut, tampak seperti setitik merah di tengah hijaunya dedaunan, membuatnya tampak manis dan anggun, layaknya gadis keluarga baik-baik.
Meski tidak bisa dibilang benar-benar serasi, Su Wan sudah cukup puas.
Tak lama, Xiao Zhen pun kembali.
"Nona, sudah jelas. Tuan Muda Ketiga datang untuk mengurus izin keluar Kakak Keempat besok. Ia datang membawa hadiah dan Ibu sudah mengizinkan. Besok, Kakak Keempat boleh keluar dari rumah."
Su Wan terkejut, "Benarkah?!"
"Seratus persen benar."
Su Wan merasa aneh. Dengan watak Adipati Jinning dan Nyonya Wang, seharusnya mustahil mereka membiarkan Su Fu keluar saat ini. Apalagi, baru saja ia mengadu tentang Su Fu pada Nyonya Wang, seharusnya pengawasannya makin ketat, kenapa malah diizinkan keluar?
Xiao Zhen melanjutkan, "Nona, ada lagi. Setelah Tuan Muda Ketiga pergi, Ibu menyuruh Bibi Mei menanyakan persiapan barang hantaran pernikahan Kakak Keempat."
Su Wan terkejut, "Jangan-jangan, Su Fu akan segera menikah?!"