Bab 65 - Mencurigai
Tuan Muda Li sendiri terbiasa menahan penderitaan, berada dalam situasi apa pun baginya tidak masalah, namun ia tidak tega melihat Su Wan mengalami kesulitan. Karena itu, ia berulang kali membuat pengecualian, segala sesuatu yang ia siapkan untuk Su Wan selalu yang terbaik, hingga akhirnya identitas aslinya nyaris terbongkar.
Mendengar ucapan Nyonya Wang, Su Wan pun merasa sedikit heran, “Bagaimana mungkin Aku berani membohongi Nenek? Ini baru saja diberikan Tuan Muda Li di depan pintu tadi, beliau juga memintaku untuk mengenakannya pada hari Duanwu nanti.”
Pada perayaan Duanwu, sudah menjadi tradisi bagi perempuan untuk mengenakan bunga delima atau daun calamus. Meski Su Wan dan Li Lin belum resmi bertunangan dengan upacara besar, namun hal tersebut sudah tak dapat diubah lagi. Tuan Muda Li memberinya sebuah tusuk rambut, dan memang hal itu masih dapat diterima.
Nyonya Wang mengamati tusuk rambut delima itu sejenak, hatinya semakin dipenuhi kecurigaan.
Ada sesuatu yang aneh dengan Li Lin.
Dalam ingatannya, Li Lin hanyalah seorang sarjana dari keluarga sederhana, bahkan pada ujian musim semi tahun ini ia tidak lulus. Jika dilihat dari kedudukannya, ia hanyalah seorang peserta ujian tingkat dasar. Namun, dalam berbagai peristiwa setelahnya, sikap Li Lin benar-benar membuatnya bingung.
Awalnya, ia mengundang Nyonya Jing untuk meminang secara resmi dan menyebutkan bahwa ayahnya dulu pernah berjasa pada keluarga Jing, sehingga keluarga Jing membantunya. Mahar yang diberikan pun sangat besar, Nyonya Wang mengira itu adalah bantuan dari keluarga Jing.
Namun, batu giok yang dipilih dan tusuk rambut yang diberikan kepada Su Wan, bukanlah barang yang mudah didapatkan oleh orang biasa.
Andai ia tidak tahu identitasnya, Nyonya Wang pasti mengira calon tunangan Su Wan adalah putra sulung dari keluarga terpandang, sehingga mampu memberikan mahar yang begitu mewah pada Su Wan.
Su Wan bertanya pada Nyonya Wang, “Nenek, apakah ada yang salah dengan tusuk rambut ini?”
Nyonya Wang menggeleng, lalu menyematkan kembali tusuk rambut itu di kepala Su Wan, “Tentu saja tidak ada yang salah. Kau pasti lelah, pergilah beristirahat.”
Memang Su Wan merasa lelah, jadi ia pun tidak menolak, “Kalau begitu, aku pamit dulu. Ayah bilang beliau akan datang agak belakangan.”
Nyonya Wang menepuk tangannya, “Nenek tahu, istirahatlah dengan baik.”
Setelah Su Wan pamit dan baru saja melangkah keluar, senyum di wajah Nyonya Wang perlahan menghilang, wajahnya menjadi dingin. Ia pun berbalik menuju kamar untuk menemui Adipati Jinning.
“Kau tugaskan dua orang untuk menyelidiki Li Lin.”
Selama Adipati Jinning ‘beristirahat’ karena luka, ia tak punya pekerjaan dan tak bisa keluar rumah, jadi ia menghabiskan waktu dengan membaca buku strategi militer. Saat Nyonya Wang memintanya menyelidiki Li Lin, ia tampak heran.
Nyonya Wang menghampiri, duduk di bangku bundar di sampingnya, mengambil buku dari tangan suaminya, lalu berkata, “Aku merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya.”
Adipati Jinning mengerutkan kening, “Aneh apanya?”
Nyonya Wang meletakkan buku itu di samping, “Tak usah kau pikirkan apa yang aneh, yang penting tetap harus diselidiki. Kalau benar-benar ada masalah, yang akan menanggung akibatnya seumur hidup adalah Su Wan.”
Pasangan suami istri ini bukanlah orang biasa, kepandaian dan kecerdasan mereka tidak kekurangan. Jika tidak, bocah liar dari desa dan perempuan muda dari pedesaan dulu tidak akan bisa menjadi Adipati Jinning dan istrinya yang sekarang, serta memikirkan kesejahteraan keturunan mereka hingga seratus tahun ke depan.
Nyonya Wang memang berasal dari desa pegunungan. Saat baru mengikuti Adipati Jinning ke ibu kota, ia memang diremehkan banyak orang. Namun, dua puluh tahun telah berlalu, kini siapa pun yang menyebut namanya pasti menyebutnya sebagai Ibu Adipati Jinning, bukan lagi perempuan desa yang dulu sering jadi bahan ejekan.
Adipati Jinning merenung sejenak, “Kalau begitu, selidiki saja, lebih baik semuanya jelas.”
Dengan menyelidiki, mereka bisa tahu latar belakang yang sebenarnya, tak ada ruginya.
“Hari ini dia membawa pasangan anak ketiga dan Su Wan untuk melihat-lihat rumah. Bagaimana hasilnya?”
Nyonya Wang menjawab, “Sudah diputuskan memilih Paviliun Angin Sejuk, dulu milik Kepala Akademi Zhao dan Nyonya Zhenhua. Kukira rumah itu masih milik keluarga Zhao, ternyata entah kapan sudah dijual.”
Paviliun Angin Sejuk dulu sering digunakan Kepala Akademi Zhao dan Nyonya Zhenhua untuk menerima tamu, mengadakan pesta teh atau pertemuan puisi. Orang-orang menyebutnya Pesta Angin Sejuk, cukup terkenal.
Setelah Kepala Akademi Zhao dan Nyonya Zhenhua wafat, semua mengira keluarga Zhao akan menyimpan rumah itu, sehingga meski ada yang menginginkan, tak ada yang berani menawar.
“Bukankah katanya itu hadiah dari Baginda? Jangan-jangan rumah itu sudah jatuh ke tangan Baginda?”
Nyonya Wang meliriknya, “Menurutmu benar itu hadiah Baginda?”
Jika Baginda hendak memberikan Su Wan istana, pasti tidak akan seribet ini. Tinggal menyuruh bawahannya memilihkan yang terbaik, lalu menghadiahkannya. Tidak mungkin membiarkan Su Wan memilih sendiri, itu bukan gaya Baginda.
Adipati Jinning merenung sejenak, “Tapi kalau bukan perintah Baginda, dari mana ia mendapatkan rumah itu dan berani mengatasnamakan Baginda? Kalau sampai kabar ini tersebar, ia bisa dituduh memalsukan titah kerajaan, dan itu kejahatan berat.”
Nyonya Wang mengerutkan kening, “Memang ada yang janggal dari urusan ini.”
Adipati Jinning pun tak berani menyepelekan, segera mengutus orang untuk menyelidiki latar belakang Li Lin.
Saat itu, Mei Gu mengetuk pintu dari luar dan melapor, “Tuan, Nyonya, Nyonya Putra Mahkota ingin menghadap.”
“Ada keperluan apa dia datang?” Nyonya Wang tampak kesal mengingat Nyonya Yang, enggan menemuinya. “Suruh dia pulang saja, bilang aku sedang beristirahat.”
Mei Gu menjawab, “Nyonya Putra Mahkota bilang ada urusan penting. Jika Tuan dan Nyonya tak menemuinya, dia tidak akan pergi.”
Nyonya Wang mengerutkan kening, sementara Adipati Jinning menutupi tubuhnya dengan selimut tipis. Nyonya Wang pun tak punya pilihan, ia menekan selimut itu dan berkata, “Suruh Nyonya Putra Mahkota masuk.”
Nyonya Yang sudah siap, jika Nyonya Wang dan Adipati Jinning tidak menemuinya, ia akan menunggu sampai mereka mau keluar. Tak disangka, permintaannya langsung dipenuhi. Ia pun diam-diam merasa lega dan lebih percaya diri.
Dibimbing oleh Mei Gu ke dalam, Nyonya Yang segera mencium aroma obat yang kuat di dalam ruangan, pahit dan getir, menusuk hidung hingga membuatnya mual dan merasa seluruh tubuhnya terbalut bau obat.
Saat itu, Adipati Jinning sedang berbaring di kursi panjang, berselimut tipis, sedangkan Nyonya Wang sedang menyuapinya air.
Nyonya Yang tak punya pilihan selain mendekat dan memberi salam, “Ayah mertua, Ibu mertua, bagaimana kondisi Ayah hari ini? Sudah membaik?”
Nyonya Wang menjawab, “Lumayan. Jadi, ada urusan apa kau datang hari ini?”
Nyonya Yang tahu benar Nyonya Wang tak menyukainya, ia pun tidak berniat berlama-lama, langsung menyampaikan maksud, “Sebenarnya tidak ada hal penting, hanya saja Putra Ketiga dari Kediaman Pangeran Zhao mengirim undangan, mengajak Afu menonton lomba perahu naga bersama.”
“Karena tahun ini keluarga kita tidak ikut, anak-anak yang kecil ingin pergi, biarkan saja mereka pergi agar tidak perlu menemani kami para orang tua di rumah.”
Zhao Mingyan dan Su Fu sudah bertunangan. Seandainya Kediaman Pangeran Zhao mengundang Su Fu, Nyonya Yang bisa langsung mengizinkan.
Namun, sejak hari itu ketika Su Ran pulang, Su Fu menyerang Su Ran lalu memukul Putra Mahkota, kini ia tengah dihukum kurung oleh Adipati Jinning. Tanpa izin Adipati Jinning, siapa pun tak berani membebaskannya.
Karena itu, Nyonya Yang terpaksa datang sendiri, memohon agar Adipati Jinning mau melepaskan Su Fu.