Bab 36: Memikat Mata
Halaman (1/3)
Tu Qingshan murka saat mendengar Tu Huiyun mengaku menyukai Chen Yu.
"Tu Huiyun, bagaimana bisa kau menaruh hati pada orang seperti Chen Yu?"
Tu Qingshan tidak menyangka Chen Yu berani menggoda adiknya. Ia pun merasa Tu Huiyun benar-benar tidak punya otak; bukankah sudah jelas orang tua mereka tidak merestuinya? Mengapa adiknya tidak pernah berpikir sedikit pun mengapa hal itu terjadi?
Tu Huiyun tersentak oleh perubahan sikap kakaknya yang tiba-tiba. Ia belum pernah melihat Tu Qingshan semarah ini. Dengan tatapan yang menghindar, ia berbisik, "Dia... dia bersikap baik padaku."
Urat-urat menonjol di dahi Tu Qingshan. Ia memotong perkataan kedua orang tuanya dan membentak, "Bersikap baik padamu? Tu Huiyun, di mana otakmu?"
"Ayah dan Ibu melarangmu menyukainya karena dia sudah memiliki istri dan anak di desa. Kau dijuluki sebagai wanita berbakat di ibu kota, tapi kenapa kau tidak pernah mempertanyakan alasan kami melarangmu berurusan dengannya? Mengapa kami langsung mengusirnya saat kau mengaku menyukainya?"
"Apa kau pikir kami mengusirnya hanya karena kau menyukainya?"
Tu Qingshan hampir tertawa karena marah. Untuk pertama kalinya, ia merasa adiknya benar-benar bodoh. Karena ulah adiknya, keluarga Tu memutuskan hubungan dengan keluarga He. Jika kabar ini tersebar, reputasi putri-putri lain di keluarga Tu juga akan tercoreng.
Melihat keadaan adiknya, Tu Qingshan merasa tidak aman membiarkannya tetap di sini. Ia memutuskan untuk mengirimnya ke provinsi lain selama satu atau dua tahun untuk menenangkan diri. Ia menyampaikan rencananya tanpa tedeng aling-aling, tidak lagi memanjakan adiknya.
Tu Huiyun tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan perasaan hancur, ia bertanya, "Kak, kau pasti berbohong, kan? Bagaimana mungkin Chen Yu sudah punya istri dan anak di desa? Kau pasti membohongiku, bukan?"
Halaman (2/3)
Tu Qingshan menatapnya dengan senyum sinis. "Untuk apa aku membohongimu? Tu Huiyun, gunakanlah otakmu. Otak itu barang yang berguna."
Tu Huiyun tahu betul bahwa kakaknya adalah orang yang terlalu angkuh untuk berbohong. Dunianya pun runtuh seketika.
Tuan Tu menatap putrinya yang terduduk lemas di lantai sambil menghela napas panjang. Nyonya Tu pun merasa iba, namun ini bukan saatnya untuk bersikap lembut. Kesalahan besar harus diganjar dengan hukuman.
Nyonya Tu berdiri, melangkah ke luar halaman, dan memerintahkan pelayan kepercayaannya, "Siapkan bangku. Hari ini kita akan menegakkan hukum keluarga."
Masalah Tu Huiyun tidak bisa diselesaikan hanya dengan omelan ringan. Keluarga Tu harus menunjukkan sikap tegas mereka.
Tu Huiyun dijatuhi hukuman sepuluh kali cambukan, begitu pula dengan Zheng Weiwei yang ikut terlibat dalam kebodohan tersebut. Setelah menjalani masa pemulihan selama sebulan, keduanya diperintahkan untuk pergi ke keluarga He guna meminta maaf.
Sementara itu, Chen Yu langsung dipatahkan kakinya oleh orang suruhan keluarga Tu pada hari kejadian dan dikirim paksa kembali ke desa.
Sejauh mana permintaan maaf itu diterima, hanya ketiga keluarga tersebut yang tahu. Keluarga Tu dan keluarga Zheng mengirimkan banyak barang berharga sebagai tanda penyesalan kepada keluarga He.
Halaman (3/3)
Keluarga He tidak menerima barang-barang tersebut dan tetap bersikap dingin terhadap kedua keluarga itu. Baru setelah Tu Huiyun dan Zheng Weiwei dikirim pergi, suasana di keluarga He perlahan mulai mereda. Namun, hubungan ketiga keluarga tersebut tidak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala.
Zhong Ningyue mengetahui rahasia ini langsung dari surat yang dikirimkan He Qingzhou. Sebenarnya, He Qingzhou ingin menemuinya secara langsung, tetapi ia dilarang oleh Nyonya He untuk bepergian.
Setelah membaca surat itu, Zhong Ningyue menghela napas. "Cinta memang membutakan mata."
Ia pun membakar surat itu hingga menjadi abu. Tiba-tiba, pintu kamarnya berderit. Itu adalah Zhong Ningyu yang datang mencarinya.
Beberapa hari ini, Zhong Ningyu terus datang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga He. Zhong Ningyue tentu saja tidak akan membocorkannya, namun Zhong Ningyu tidak mau menyerah. Dan sekarang, ia datang lagi.