Bab 36 Menyilaukan Mata
Tu Qingshan, setelah mendengar Tu Huiyun menyatakan rasa sukanya kepada Chen Yu, murka seketika.
"Tu Huiyun, bagaimana bisa kau menaruh hati pada Chen Yu?"
Tu Qingshan sama sekali tidak menyangka bahwa Chen Yu begitu berani menggoda adiknya.
Tu Huiyun ini benar-benar tidak berotak. Ketika orang tua mereka tidak memberikan restu, tidakkah ia mau berpikir mengapa hal itu bisa terjadi?
Tu Huiyun sempat terkejut melihat perubahan ekspresi wajah Tu Qingshan yang begitu drastis.
Ia belum pernah melihat Tu Qingshan semarah ini. Dengan pandangan yang menghindari tatapan kakaknya, ia berbisik ragu, "Dia baik padaku."
Urat-urat di pelipis Tu Qingshan menonjol. Ia memotong ucapan kedua orang tuanya dan berkata dengan nada tegas, "Baik padamu? Tu Huiyun, di mana akal sehatmu?"
"Ayah dan Ibu melarangmu menyukai Chen Yu karena pria itu sudah beristri dan memiliki anak di desa. Sungguh memalukan kau menyandang gelar sebagai wanita terpelajar ibu kota, tetapi tidak pernah terbesit di benakmu untuk bertanya mengapa kami melarangmu berurusan dengan Chen Yu, mengapa begitu kau mengaku menyukainya, kami langsung mengusirnya."
"Apa kau pikir kami mengusirnya semata-mata hanya karena kau menyukainya?"
Tu Qingshan nyaris tertawa karena amarahnya pada Tu Huiyun. Untuk pertama kalinya, ia berpikir secara blak-blakan bahwa adiknya ini benar-benar berotak udang.
Gara-gara perbuatan adiknya itu, hubungan keluarga Tu dan keluarga He terputus. Belum lagi jika masalah ini sampai tersebar luas, putri-putri lain dari keluarga Tu juga akan ikut terseret dalam keburukan ini.
Memiliki saudari seperti ini membuatnya tidak tenang untuk segera menikahkannya. Lebih baik ia mengirim adiknya itu ke provinsi lain untuk menenangkan diri selama satu atau dua tahun terlebih dahulu.
Tu Qingshan langsung mengutarakan niatnya tanpa bermaksud memanjakan Tu Huiyun lagi.
Namun, Tu Huiyun sama sekali tidak dapat mempercayai perkataan Tu Qingshan. Dengan perasaan yang hampir runtuh, ia berkata, "Kak, kau pasti sedang berbohong padaku. Bagaimana mungkin Chen Yu sudah beristri dan punya anak di desa? Kau sedang membohongiku, kan?"
Tu Qingshan menatap Tu Huiyun dengan senyum dingin. "Untuk apa aku membohongimu? Tu Huiyun, gunakanlah otakmu dalam menjalani hidup. Otak itu benda yang sangat berguna."
Dalam lubuk hatinya, Tu Huiyun tahu betul bahwa kakaknya itu terlalu angkuh untuk sekadar berbohong padanya.
Hatinya hancur berkeping-keping, tak mampu menerima kenyataan pahit ini.
Tuan Tu memandangi putrinya yang terduduk lemas di lantai, lalu menghela napas panjang.
Nyonya Tu juga merasa iba pada putrinya, tetapi sekarang bukanlah saatnya untuk bersikap lembut.
Kesalahan besar telah diperbuat, dan hukuman harus ditegakkan.
Nyonya Tu bangkit berdiri, melangkah keluar halaman, lalu berpesan kepada pelayan kepercayaan yang berdiri di sana, "Ambilkan bangku kemari. Hari ini kita akan menegakkan hukum keluarga."
Kesalahan Tu Huiyun tidak bisa diselesaikan begitu saja hanya dengan beberapa patah kata amarah.
Sikap tegas keluarga Tu harus ditunjukkan kepada dunia.
Tu Huiyun langsung dijatuhi hukuman sepuluh pukulan papan tanpa ampun. Begitu pula dengan Zheng Weiwei yang ikut terseret dalam kebodohan itu, ia juga menerima sepuluh pukulan papan di kediamannya.
Setelah beristirahat selama sebulan penuh untuk memulihkan diri, kedua wanita itu diperintahkan untuk pergi ke kediaman keluarga He guna menyampaikan permintaan maaf.
Sementara itu, mengenai nasib Chen Yu, di hari insiden itu terjadi, orang-orang suruhan keluarga Tu langsung mematahkan kakinya dan mengirimnya kembali ke desa.
Seberapa tulus permintaan maaf itu dilakukan, hanya ketiga keluarga itulah yang mengetahuinya secara pasti.
Keluarga Tu dan keluarga Zheng mengirimkan banyak barang berharga sebagai hadiah permintaan maaf ke kediaman keluarga He.
Keluarga He sama sekali tidak menerima satupun hadiah tersebut, dan tetap memperlihatkan sikap dingin kepada kedua keluarga itu.
Baru setelah Tu Huiyun dan Zheng Weiwei sama-sama dikirim pergi, suasana di kediaman keluarga He berangsur-angsur mereda.
Kendati demikian, hubungan di antara ketiga keluarga tersebut tidak akan pernah pulih seperti sedia kala.
Zhong Ningyue mengetahui semua rahasia di balik layar ini melalui surat yang dikirimkan oleh He Qingzhou kepadanya.
Sebenarnya He Qingzhou berniat datang langsung menemuinya, tetapi ia diawasi ketat oleh Nyonya He dan tidak diizinkan pergi kemana-mana.
Setelah selesai membaca surat tersebut, Zhong Ningyue menghela napas dan berujar, "Cinta memang benar-benar membutakan mata."
Sesaat kemudian, ia langsung membakar lembaran surat itu hingga menjadi abu.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamarnya berderit pelan.
Zhong Ningyu datang mencarinya.
Sudah beberapa hari ini Zhong Ningyu terus mendatangi kamarnya, penasaran ingin mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi di kediaman keluarga He.
Zhong Ningyue tentu saja tidak berniat menceritakan apapun, tetapi Zhong Ningyu tidak mudah menyerah.
Dan kini, gadis itu datang lagi.