Bertingkah dengan tidak masuk akal
Lan Jiaguo benar-benar marah, terutama pada Dai Pingting, dan lebih lagi pada Chi Xuanyu! Kini bahkan hujan yang turun pun tak mampu meredakan amarahnya.
Lan Jiaguo dengan kasar menyingkirkan tangan Dai Pingting dan baru saja hendak memperdebatkan sesuatu dengan Chi Xuanyu, ketika tiba-tiba Dai Pingting terjatuh di atas rerumputan, air matanya mengalir deras.
Hujan yang turun seakan terhenti, Lan Jiaguo tertegun, Chi Xuanyu pun diam membeku, lalu dengan langkah cepat ia berlari menghampiri Dai Pingting untuk membantunya berdiri.
Melihat Dai Pingting menahan perasaan dan tampak begitu tersakiti, kemarahan Chi Xuanyu pun kembali tersulut.
“Lan Jiaguo, kamu benar-benar keterlaluan!” Chi Xuanyu sambil membantu Dai Pingting berdiri, memarahi Lan Jiaguo dengan suara keras.
“Xuanyu, aku tidak apa-apa, jangan salahkan Guoguo. Dia tidak sengaja melakukannya, mungkin dia hanya sedang tidak enak hati hari ini,” ucap Dai Pingting sambil bersandar di pelukan Chi Xuanyu, berusaha memberi penjelasan.
Penjelasan itu justru membuat Lan Jiaguo semakin geram.
“Kau bilang aku keterlaluan!? Kenapa kau tidak tanya dulu, apa yang sebenarnya telah dilakukan perempuanmu itu! Chi Xuanyu, ternyata matamu benar-benar buta, seperti mata anjing yang tak bisa melihat!” serunya sambil menusuk bahu Chi Xuanyu dengan jarinya, keras dan penuh amarah.
Chi Xuanyu langsung mengibaskan tangan Lan Jiaguo tanpa ragu. Namun, gerakan kasar dan rasa sakit yang tiba-tiba di bahunya membuat Lan Jiaguo mengerutkan dahi.
“Aku tidak peduli apa yang telah dilakukan Tingting padamu sebelumnya, yang jelas sekarang kamu harus meminta maaf pada kami!”
“Kenapa harus aku?”
“Minta maaf!”
“Tidak mungkin! Chi Xuanyu, lupakan saja harapanmu itu. Aku, Lan Jiaguo, tidak akan pernah meminta maaf!!”
“Xuanyu, jangan seperti ini. Guoguo tidak sepenuhnya salah, kenapa harus minta maaf?” Dai Pingting kembali menyela dengan nada tidak tepat pada waktunya.
“Dia tidak salah? Lalu apakah semua ini salah kita? Setiap kali selalu saja membuat keributan!” seru Chi Xuanyu.
Mendadak, Lan Jiaguo terdiam. Ia memandang Chi Xuanyu tanpa bicara, jelas sekali ketidakpercayaannya.
“Ada apa!? Kalau mau bicara, bicara saja! Jangan hanya diam menatapku!” seru Chi Xuanyu, merasa tidak nyaman dipandangi seperti itu, hingga akhirnya ia membentak lagi.
Lan Jiaguo tidak mengacuhkannya, hanya menoleh pada Yujing, lalu berbalik pergi tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Yujing menangkap keteguhan di mata Lan Jiaguo, serta kekecewaan dan kesedihan dalam langkahnya saat berbalik pergi.
“Xuanyu, kali ini kau benar-benar salah,” ucap Yujing sebelum bergegas menyusul Lan Jiaguo, meninggalkan Chi Xuanyu yang kini terdiam kaku.
*********************************************
Moyan berdiri di dekat jendela, menatap ponselnya yang bergetar di tangannya. Ia menekan tombol jawab. “Halo.”
“Moyan.”
“Ada apa, Yu’er?”
“Apakah lomba desain busana tahun ini kau yang bertanggung jawab?”
“Ada apa?”
“Bisakah kau menambah satu slot untuk sekolah kami di babak final?”
Moyan mengernyit. “Yu’er, aku penasaran.”
“Aku hanya ingin memberikan kesempatan pada temanku. Dia sangat berbakat, seorang desainer yang luar biasa.”
“Bagaimanapun juga, dia tidak lolos ke babak final, itu kenyataannya.”
“Karyanya dicuri orang lain, dan hasil curian itu malah jadi juara pertama di sekolah kami.”
“Yu’er, kau sudah berubah.”
“Hmm?”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Mata Moyan tetap tenang, tanpa gelombang emosi.
“Itu hasil yang sudah ditetapkan, tak bisa diubah lagi. Kalau dia memang berbakat, kesempatan lain pasti akan datang.” Ucap Moyan dengan tenang, hanya disambut keheningan yang lebih lama di seberang sana.
“Yu’er, akhir pekan ini pulang ke rumah?”
Sepertinya Yu’er berpikir sejenak. “Iya.”
“Baik.”
Setelah menutup telepon, Moyan menuang anggur merah ke dalam gelasnya, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.