Tertangkap oleh paparazi.
Tak disangka sama sekali bahwa Jin Haolin akan bicara sejujur itu, membuat Yu Ji kikuk menatapnya sambil menggigit bibir tanpa berkata apa-apa.
Ekspresinya yang serius membuat Jin Haolin tak tahan untuk mengelus kepalanya. "Cantik, lagi mikirin apa? Jangan lupa kita ini teman!"
"Aku—"
"Yu Ji, kamu sedang takut!"
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
"Yu Ji, kamu melindungi dirimu dengan bersikap dingin, apa kamu tidak lelah?"
"Kamu juga begitu, kan?"
Beberapa saat kemudian, baru terdengar suara, "Heh, kita memang tidak tahu kisah hidup masing-masing, tapi kita bisa melihat topeng satu sama lain."
Mendengar helaan napas Jin Haolin, Yu Ji menatap ke depan, ke arah malam yang remang-remang, terdiam tanpa suara.
"Yu Ji, kamu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bilang aku memakai topeng."
"Kamu juga," balas Yu Ji, berbalik menatap lelaki yang berbaring di atas rumput menatap langit malam, tetap dengan wajah tenangnya.
"Sudahlah, jangan jadi seperti landak terus, aku cuma ingin kamu tidak terlalu lelah."
Menatap sorot mata Jin Haolin, Yu Ji tersenyum tipis, "Hmm."
"Jika hati sederhana, dunia pun sederhana, kebahagiaan akan tumbuh. Jika hati bebas, hidup pun bebas, di mana pun ada kebahagiaan. Yu Ji, kalimat ini dulu diberikan Bibi Xin padaku, sekarang, aku ingin memberikannya padamu."
"Kebahagiaan—Haolin, terima kasih."
Mendengar ucapan itu, Jin Haolin lagi-lagi mengelus kepala Yu Ji.
"Aku juga berharap suatu hari nanti bisa mendengar kisahmu, dan semoga kamu juga bahagia." Melihat gerak-geriknya yang alami, Yu Ji menjawab gugup.
Sejenak terdiam, Jin Haolin tersenyum lebar, lalu sekali lagi mengelus kepala Yu Ji, dan memaksakan satu kata keluar, "Baik."
Benar-benar seperti mengelus anjing saja.
"Haha, ayo, Jin si tampan traktir Yu Ji si cantik makan malam!" Setelah berkata demikian, ia langsung bangkit dari rerumputan, menarik tangan Yu Ji dan berlari.
"Lari cepat, cantik, si tampan sudah kelaparan!"
Melihat punggung di depannya yang menggandengnya berlari bersama, Yu Ji akhirnya tersenyum lepas.
**************************************
Yu Ji tak pernah menyangka, bintang besar yang terkenal di dunia hiburan, Hei Yu—yang nama aslinya Jin Haolin—ternyata seorang laki-laki muda tetangga yang begitu sederhana, santai, humoris, dan berhati baik.
Hanya saja, laki-laki tetangga sekaligus bintang besar ini, esok harinya langsung dihadang di depan pintu perusahaan.
Ternyata, kemarin para paparazi menyerang dan memotret adegan Hei Yu sedang "berkencan" dengan seorang gadis.
Seperti yang tertulis di halaman utama berita hiburan pagi itu, "Hei Yu sang dingin diam-diam bertemu wanita misterius, kelembutan dan perhatiannya membuat orang lain iri." Di tengah-tengah koran tertera beberapa foto: satu saat Hei Yu seolah menghapus air mata gadis itu di jembatan kemarin, satu saat Hei Yu memeluk gadis itu erat, dan satu lagi saat Hei Yu membukakan pintu mobil untuk gadis tersebut. Setiap foto kebetulan menangkap momen Hei Yu menatap gadis itu dengan dalam. Namun karena sudut pengambilan gambar, wajah gadis itu tidak pernah tampak jelas.
Begitu Jin Haolin melihat laporan itu, ia sempat tertegun. Begitu sadar, hal pertama yang ia syukuri adalah wajah Yu Ji tidak tertangkap jelas oleh paparazi. Namun setelah itu, ia duduk di ruang istirahat dengan bingung, bertanya-tanya. Hei Yu, yang biasanya sangat peka terhadap paparazi, kemarin kok bisa-bisanya tertangkap juga. Saat ia memegang koran sambil bertanya-tanya pada nasib, tiba-tiba seseorang melangkah masuk dengan riang di depan pintu.
"Waduh, Hei Yu Oppa, sebenarnya apa yang terjadi, sih?"
Orang yang datang bertubuh gemuk, wajah anggun, suara manis, tangan melambai lembut—tak lain adalah manajer legendaris sekaligus paling bernilai, RickLee.
"Apa yang terjadi, maksudmu?"
"Coba lihat, coba lihat!" RickLee langsung merebut koran dari tangan Hei Yu, tersenyum lebar menatapnya.
"Aku tidak tahu."