Ibu Yuchen
“Rainqi, biasanya kamu memberikan apa untuk ulang tahun orang tuamu tiap tahun?”
“Aku? Biasanya hanya ucapan selamat atau lukisan potret yang kubuat untuk mereka.”
Yu Youchen memandang Rainqi dengan heran, lalu tersenyum seolah mengerti. Rainqi pun tersenyum. Baginya, sebuah ucapan selamat jauh lebih berharga daripada apa pun. Beberapa tahun yang lalu, saat ulang tahun ayah dan ibunya, ia tak punya uang dan tak mampu membeli hadiah. Belakangan, setiap ulang tahun orang tuanya, mereka selalu berada di luar negeri. Selama bertahun-tahun, hadiahnya tampaknya tidak pernah berubah, selalu hanya ucapan selamat ulang tahun yang disampaikan meski jarak memisahkan mereka ribuan kilometer, atau bahkan ketika mereka berdekatan.
Entah ucapan itu terasa terlalu sederhana, tetapi bagi orang tuanya, itulah hadiah terbaik. Karena doa dan harapan baik darinya, mereka merasa sangat bahagia dan puas. Hadiah lain pun tak menarik bagi mereka, karena mereka menganggap memiliki keluarga yang utuh sudah setara dengan memiliki segalanya. Dan itulah sumber kebahagiaan terbesar bagi Rainqi. Lagipula, lukisan potret yang ia buat untuk mereka selalu dipigura dan digantung di ruang kerja.
“Chen, ibumu paling suka apa?”
“Ayahku.”
Rainqi sempat terdiam, lalu tertawa, “Kalau begitu, bungkus saja ayahmu dan berikan pada ibumu, jangan lupa kalungkan pita di lehernya sebagai tanda hadiah.”
“Haha!” Mereka berdua pun tertawa lepas. Saat sedang asyik tertawa, Rainqi merasa ada dua tatapan tajam menancap di punggungnya. Ia menoleh, dan melihat seorang wanita anggun dan berwibawa menatapnya lekat-lekat, ekspresi wajahnya berubah dari terkejut menjadi penuh sukacita.
Melihat Rainqi menoleh, Yu Youchen pun ikut menoleh dan seketika tertegun.
“Ibu!?”
Ibu!? Itu ibu Yu Youchen!?
Rainqi melihat wanita yang berjarak sepuluh meter di depannya itu berlari kecil dengan penuh semangat, meski memakai sepatu hak tinggi, tetap saja tak mengurangi kemolehannya. Wanita itu langsung mengabaikan keberadaan Yu Youchen dan menatap Rainqi dengan seksama, hampir dari atas sampai bawah berkali-kali.
Rainqi merasa sedikit canggung dan dengan sopan menyapa, “Selamat siang, Tante.”
Sapaan itu justru membuat senyum di wajah wanita itu makin merekah. Ia langsung menggenggam tangan Rainqi dan berkata, “Nak, sudah berapa lama kau berpacaran dengan putra kami, Chen?”
“Ibu!”
“Hah?” Rainqi langsung kikuk.
“Ibu, kami tidak seperti yang ibu pikirkan. Tolong jangan seperti itu, nanti Rainqi jadi takut.”
“Wah, kau malah membela gadis ini!”
“Ibu!”
“Baiklah, baiklah. Nak, ibu suka sekali dengan gadis ini!”
Rainqi hanya bisa pasrah, sementara Yu Youchen memandang ibunya dengan tak berdaya.
Rainqi tiba-tiba menyadari, ia dan ibu Ye Xintong punya kemiripan dalam sifat. Apa semua ibu-ibu dari kalangan terhormat sekarang seperti ini?
“Lihat gadis ini, cantik sekali, berwibawa, tubuhnya pun bagus. Ibu memang suka sekali. Gadis, menurutmu putra kami Chen bagaimana?”
Melihat antusiasme lawan bicaranya, Rainqi pun melirik pasrah ke arah Yu Youchen. “Baik sekali, Tante.”
“Kalau baik, itu sudah cukup. Kau anak siapa? Biar tante datang melamar ke rumahmu!”
“Apa!?” Seketika, Yu Youchen dan Rainqi merasa seperti sekawanan gagak beterbangan di atas kepala mereka.
“Tante, aku dan Yu Youchen hanya teman, Tante salah paham.”
Melihat Rainqi buru-buru menjelaskan, cahaya di mata Yu Youchen sempat redup, namun segera kembali jernih. Tapi perubahan singkat itu tak luput dari mata wanita itu.
“Kalau kalian cuma teman, kenapa di akhir pekan begini masih sempat berkencan dengan gembira?”
Kenapa mereka datang ke tempat ini? Ah, susah juga menjelaskannya.
Rainqi dan Yu Youchen saling berpandangan, dalam hati berkata, Tante, bagaimana kami harus menjelaskan? Kami di akhir pekan ini ingin membelikan hadiah untuk Tante, lho.