Menarik juga.
“Xuan, kenapa sih kamu? Jelas-jelas soal itu Guo Guo masih marah, kenapa kamu malah ngomong begitu, makin bikin dia kesal,” Yu Ji tak tahan lagi, menatap Chi Xuanyu dengan putus asa.
“Yu Ji, jangan ikut campur. Dia bukan cuma bikin aku kesal, matanya juga kayak nempel di bokong!”
“Kamu—!”
Yu Youchen pun ikut tersulut emosi. “Guo Guo, kamu nggak bisa sedikit aja ngomongnya? Soal kemarin itu Xuan juga udah sadar dia keterlaluan, kan juga udah minta maaf berkali-kali. Masa ada yang nggak bisa dimaafin sih! Kapan selesainya kalian ini!”
“Udah, udah, semua ada baiknya ngomong baik-baik, jangan bertengkar lagi.” Yu Ji menarik lengan Yu Youchen, memberi isyarat dengan mata supaya dia jangan memperkeruh suasana.
Tadinya cuma dua orang yang saling ngotot, sekarang malah jadi tiga orang yang terdiam kaku di tempat.
“Udah ya, Guo Guo, jangan marah lagi. Xuan barusan ngomong juga karena dia peduli sama kamu. Jangan bertengkar di antara kita sendiri,” ujar Yu Ji sambil mencubit pipi Lan Jiaguo, berusaha menenangkannya.
“Siapa bilang dia peduli sama aku!”
“Siapa yang peduli sama dia!”
Serempak, keduanya tertegun, lalu sama-sama mendengus dan memalingkan muka, membuat Yu Youchen dan Yu Ji saling pandang dan tertawa kecil.
“Udah deh, jangan ngambek lagi. Nggak ada yang nggak bisa dilewati. Sekarang yang paling penting itu kan soal masalah pianomu, Guo Guo,” kata Yu Ji, lalu menarik lengan Yu Youchen, memberi isyarat supaya dia bicara.
Yu Youchen menangkap isyarat itu, lalu menatap Lan Jiaguo. “Menurutmu, kemampuan pianomu sekarang di tingkat mana?”
“Nggak tahu.”
“Jadi kamu yakin bisa ngalahin Dai Pingting?” Chi Xuanyu masih kesal, tapi kalau soal serius, dia tetap tegas.
Guo Guo masih saja keras kepala, “Ngapain kamu urus!” Tapi suaranya memang jauh lebih pelan dari sebelumnya.
“Kamu—!”
“Guo Guo!” Kali ini belum sempat Chi Xuanyu bicara, malah Yu Ji dan Yu Youchen yang lebih dulu bersuara tegas.
“Iya, iya, aku juga nggak yakin. Waktu lulus SD dulu kayaknya kita pernah ikut lomba piano anak-anak tingkat nasional. Dia juara satu kota ini, aku juara dua.”
“Lomba piano anak-anak tingkat nasional?” Yu Youchen menaikkan alis, menatap Lan Jiaguo. Saat itu seingatnya dia sudah ikut lomba tingkat remaja.
“Kalau kemampuanmu di bawah dia, kenapa masih mau terima tantangan!” Chi Xuanyu tak tahan lagi dan berseru.
Lan Jiaguo menatap Chi Xuanyu, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, “Aku memang mau tanding sama dia. Mulai sekarang, di mana pun dia ada, aku pasti mau lebih hebat dari dia!”
“Chen, beberapa hari ke depan, kamu bimbing Guo Guo ya. Aku yakin peluang menang masih besar,” ucap Yu Ji dengan serius.
“Ya, aku tahu. Masih sama-sama anak-anak, juara satu dan dua juga tekniknya pasti nggak beda jauh. Toh levelnya sama, tinggal latihan serius beberapa hari ini, pasti nggak masalah.”
“Tentu saja, aku, Lan Jiaguo, memang pintar!”
“Tuh kan, aku bilang juga, anak ini cepat banget pulih semangatnya!” Chi Xuanyu menyilangkan tangan di dada, menyenggol Yu Youchen dengan sikunya, langsung mendapat tatapan tajam dari Lan Jiaguo.
“Haha!”
Sekejap, suasana yang tadinya agak tegang jadi lebih hangat, hubungan keempatnya kembali membaik.
************************
Beberapa hari berikutnya, Lan Jiaguo dan Yu Youchen begitu ada waktu langsung masuk ruang musik, berlatih tanpa kenal waktu. Yu Ji kalau sedang luang, ikut menemani mereka dan menjadi pendengar. Chi Xuanyu malah makin semangat, sering datang melaporkan perkembangan latihan Dai Pingting. Walaupun dia benar-benar tidak berbakat dalam musik, tapi soal membedakan yang bagus dan yang jelek, masih bisa. Kadang, baru sampai pintu ruang musik, melihat Lan Jiaguo duduk di bangku piano, bermain dengan serius dan manis, Chi Xuanyu tak bisa menahan diri untuk berhenti sejenak, mengangguk-angguk sambil berkomentar, “Lumayan juga!”