Bukanlah Sebuah Eceng Gondok yang Terdampar
"Dulu aku selalu hidup mengembara, sudah terbiasa berpindah-pindah. Sekarang aku ingin menetap. Dulu pekerjaanku juga tidak menentu, banyak hal terpaksa harus mengikuti arahan perusahaan. Tapi sekarang semuanya berbeda."
"Ya. Pada akhirnya, kau tak perlu lagi hidup seperti eceng gondok yang terapung-apung."
"Eceng gondok? Kalau sudah punya rumah, itu berarti aku bukan lagi eceng gondok, tak perlu lagi terombang-ambing di lautan." Setelah berkata begitu, Jin Haolin menoleh menatap Yu Ji, seakan ingin berbagi impiannya dengan gadis itu.
Tatapan Yu Ji bertemu matanya, dan ia bisa melihat dengan jelas ada sesuatu yang disebut kesungguhan berpendar di mata laki-laki itu.
"Akan tiba harinya seperti itu."
"Ya, aku juga percaya."
"Oh iya, Haolin, suaramu enak sekali didengar saat bernyanyi." Mendadak teringat sesuatu, Yu Ji menatap Jin Haolin dengan senyuman.
Awalnya Jin Haolin tampak heran, jarang-jarang Yu Ji memuji orang. Tapi tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu, lalu berkata dengan nada tak berdaya, "Sepertinya... Yu Ji, hari ini baru pertama kali kau dengar aku bernyanyi, ya?"
Yu Ji menatapnya sekilas dengan canggung, memilih diam.
Jin Haolin tampak kecewa, "Astaga, coba bayangkan, seorang bintang besar seperti Hei Yu, meskipun ada banyak kelebihan, bernyanyi pasti keahlian utamanya, kan? Eh, Yu Ji, waktu itu ke bioskop baru tahu aku bisa berakting, sekarang baru tahu aku bisa bernyanyi dan lumayan juga, bukankah ini terlambat sekali?"
"Haha..." Yu Ji hanya bisa tertawa kaku. "Maklum, bintang besar!"
"Astaga, diriku yang begitu memesona malah dilupakan oleh seorang gadis, sungguh menyedihkan!"
"Haolin, sebenarnya—"
Melihat Yu Ji bingung mencari kata-kata, menatapnya dengan mata polos, Jin Haolin tiba-tiba tertawa, lalu tanpa sadar mengusap kepala Yu Ji. Ia baru menyadari, ternyata gadis cantik dan dingin seperti Yu Ji juga bisa begitu menggemaskan.
Yu Ji terkejut dengan sikap akrab itu, sepertinya ini sudah kedua kalinya ia diusap kepalanya.
"Kenapa rasanya kau seperti sedang mengelus anjing saja!"
Jin Haolin sempat tertegun, lalu tertawa lebih keras lagi. Ternyata saat Yu Ji sesekali menurunkan pertahanannya, ia begitu mirip gadis tetangga yang sederhana.
Dengan nada kagum, ia menatap Yu Ji, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya, "Dengan ini, aku resmi mengumumkan, kita jadi teman, bagaimana?"
Melihat Jin Haolin seperti itu, Yu Ji tersenyum dan mengangguk, tanpa ragu menyodorkan tangannya, "Baik, kita teman."
Jabat tangan itu seakan menegaskan bahwa persahabatan mereka akan tumbuh kuat sejak saat itu.
Yu Ji sendiri pun tidak tahu kenapa ia begitu mudah menerima, namun ia jelas merasakan bahwa bersama Jin Haolin ia lebih bebas dan nyaman, juga ada rasa percaya yang muncul begitu saja.
****************************************
Di perjalanan saat Jin Haolin mengantar Yu Ji kembali ke kampus, Mo Yan menelepon.
Melihat nama "Mo" berkedip di layar ponsel, berbagai pikiran berkecamuk di benaknya. Diangkat salah, tidak diangkat pun salah.
"Mengapa tidak kau angkat?" tanya Jin Haolin santai sambil memegang kemudi, meski sebenarnya ia jelas melihat raut bingung di wajah Yu Ji.
"Haolin, bisakah kau menepikan mobil sebentar? Aku ingin turun untuk mengangkat telepon."
Kebetulan mereka sedang di atas jembatan, Jin Haolin tanpa ragu menghentikan mobil, lalu dengan tenang mengambil kucing kecil dari pangkuan Yu Ji, memperhatikan gadis itu turun dan berjalan menjauh sekitar lima meter.
"Kucing kecil, sepertinya tuanmu sedang punya masalah," Jin Haolin mengelus bulu Si Hujan Kecil, bergumam pelan sambil berpikir.
Kucing putih kecil itu menengadah menatapnya, lalu berbalik memperhatikan punggung Yu Ji, dan dengan patuh tetap bersandar di dada Jin Haolin.