Seratus Lima Puluh Dua: Perubahan Rencana: Meminjam Pisau untuk Membunuh!
Pernah memikirkan beberapa kemungkinan.
Namun, Zhu Shen sama sekali tidak pernah menyangka akan menyaksikan adegan seperti itu di tempat ini! Keluarga Zhang ternyata berani bersekutu dengan iblis! Terlebih lagi, pemandangan tersebut secara jelas sedang memasok sumber daya bagi iblis untuk berkultivasi...! Benar-benar biadab dan sangat mengerikan...!
Satu demi satu tragedi kemanusiaan dilihatnya melalui bilah pedang.
"Tuan, ada apa dengan Anda?"
Pertanyaan itu dilontarkan karena tubuh fisik Zhu Shen yang duduk bersila dengan mata terpejam bahkan sedikit bergetar akibat pemandangan yang begitu mengerikan dan membangkitkan kemarahan tersebut, "Apakah Anda baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa."
Mendengar itu, Zhu Shen pun membuka matanya, "Hanya saja, aku melihat sesuatu...!" Ia memang menyisakan sebagian kesadarannya di dalam tubuh fisiknya, sehingga saat itu ia sebenarnya mampu mengendalikan tubuhnya sendiri. Hanya saja, dengan memejamkan mata dan mengerahkan seluruh perhatian untuk mengendalikan pedang terbang di dalam sana jauh lebih aman dan terjamin. Jika tidak, membagi fokus ke dua hal sekaligus akan mendatangkan risiko pedang terbang di dalam sana tepergok secara tidak sengaja.
"Apa yang Anda lihat?"
Qingyao tadinya mengira Zhu Shen berada di dalam dan ketahuan oleh Zhang Moyi, itulah sebabnya ia merasa cemas. Namun, setelah mendengar ucapan Zhu Shen barusan, ia pun menjadi bingung, "Apa yang membuat Anda sampai seperti ini?" Ia tahu betul bagaimana sifat Zhu Shen yang angkuh dan memandang rendah segalanya, bahkan para empu pil maupun empu formasi agung sama sekali tidak dipandangnya sebelah mata... Sangat jarang ia kehilangan kendali seperti ini...!
"Ulurkan tanganmu."
Mendengar pertanyaan itu, Zhu Shen mengulurkan tangannya ke arah Qingyao dan berkata, "Lihat sendiri."
"Ini..."
Qingyao tertegun sejenak. Namun, karena sebelumnya mereka sudah sering berbagi pandangan melalui pedang terbang dengan cara seperti ini, ia tidak ambil pusing lagi. Tangan halusnya yang putih mulus langsung menggenggam tangan Zhu Shen. Seiring dengan aliran energi dewa Zhu Shen yang menyusul masuk, bayangan demi bayangan itu seketika merasuk ke dalam benak Qingyao, "Makhluk apa ini? Iblis, itu iblis... Sialan, iblis keparat! Begitu kejam dan sangat jahat...!!!"
Begitu melihatnya, ia pun langsung gemetar seluruh tubuh.
Zhu Shen memang mampu membagikan apa pun yang dilihat dan didengar oleh pedang terbang tersebut kepada Qingyao. Oleh karena itu, Qingyao juga dapat mendengar berbagai jeritan kesakitan dari dalam sana. Menyaksikan adegan-adegan yang tingkat kekejamannya di luar batas nalar, berpadu dengan jeritan keputusasaan, ketidakberdayaan, serta kebencian yang mendalam. Berbagai kosakata seperti biadab, gila, mengerikan, atau mencengangkan... sama sekali tidak cukup untuk mewakili atau menggambarkan perasaan mereka saat menyaksikan pemandangan tersebut.
"Bayangan hitam itu, energi iblis yang begitu pekat..."
Merasakan kemarahan yang sama dengan Qingyao, Zhu Shen berkata, "Entah sudah berapa lama orang-orang ini disiksa, entah berapa lama kebencian mereka diserap... Selain mereka, entah sudah berapa banyak manusia tak berdosa yang telah disiksa... Singkatnya, jumlahnya pasti tidak sedikit. Mereka harus mati! Begitu juga dengan Keluarga Zhang ini, membantu iblis melakukan kejahatan adalah dosa yang tidak terampuni! Jika Keluarga Zhang tidak dibinasakan, tidak akan ada keadilan di dunia ini!"
"Terlalu menderita, penderitaan yang luar biasa... Kenapa mereka bahkan tidak diberi kematian yang cepat dan mudah...!"
Qingyao masih belum pulih sepenuhnya dari keterkejutannya, "Menyiksa orang-orang tak berdosa seperti ini hanya untuk berlatih ilmu! Apakah kekuatan yang diperoleh dengan cara seperti ini akan mendatangkan kebahagiaan? Aku pernah mendengar tentang iblis, tetapi belum pernah melihatnya secara langsung... pemandangan nyata iblis menyiksa orang tak berdosa demi berkultivasi... Sekarang aku mengerti. Semua iblis harus dibunuh dan dimusnahkan!"
Ia juga gemetar karena amarah yang meluap-luap, sangat ingin langsung menerobos masuk untuk membasmi iblis tersebut dan menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah itu... Meskipun, sekiranya mereka berhasil diselamatkan sekalipun, orang-orang itu kemungkinan besar tidak akan bisa bertahan hidup, atau tubuhnya sudah cacat tak dikenali, atau bahkan akal sehatnya sudah hilang.
Namun, ia juga tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertindak. Membunuh seorang Zhang Moyi saja mereka punya keyakinan penuh... tetapi sekarang, di dalam sana selain Zhang Moyi, masih ada iblis bayangan hitam tersebut. Meskipun wajahnya tidak terlihat jelas, dari kepekatan serta kekuatan gelombang energi hitam itu, sudah bisa dipastikan bahwa iblis tersebut sama sekali tidak lemah.
Oleh karena itu, ia hanya bisa menahan diri.
Kendati demikian, justru karena itulah amarah dan rasa sesak di dadanya semakin membuncah.
"Sudahlah. Aku tidak boleh membiarkanmu melihatnya terlalu lama. Itu hanya membuang-buang energi spiritualku."
Pada saat ini, Zhu Shen melepaskan genggaman tangan Qingyao dan berkata, "Teruskan berjaga untukku. Aku harus berkonsentrasi mengendalikan pedang... Mendekatlah sedikit lagi, mari kita dengar apa yang sedang dibicarakan oleh Zhang Moyi dan bayangan hitam itu...!"
Usai berkata demikian.
Zhu Shen kembali terpejam dalam keadaan tenang. Kesadaran pada tubuh fisiknya tidak berniat dicurahkan ke sisi ini. Ia tidak mengaktifkan kesadaran di sisi luar. Seluruh perhatiannya... dipusatkan sepenuhnya pada pedang terbang di dalam sana.
Syuut!
Secara diam-diam, Zhu Shen mengendalikan pedang terbang yang telah menyusut menjadi sebesar sehelai rambut untuk merayap semakin dekat ke arah Zhang Moyi.
"Lapor, Penguasa Iblis!"
"Penguasa Iblis. Orang-orang ini sudah hampir tidak bertahan..."
"Kita harus segera mencari tambahan korban persembahan..."
Pada saat ini, beberapa bayangan hitam yang sebelumnya menyiksa para korban di berbagai sudut juga tampak maju dan melapor kepada iblis bayangan hitam yang paling besar di tengah. Baru pada saat itulah Zhu Shen menyadari bahwa di sisi lain, masih ada beberapa iblis bayangan hitam lainnya yang sedang menyerap energi kebencian untuk melatih ilmu iblis mereka. Tentu saja, aura mereka jelas tidak sehebat Penguasa Iblis yang berada di hadapan Zhang Moyi tersebut.
Melihat hal itu.
Penguasa Iblis itu memberikan beberapa patah kata, dan para bawahan itu pun mundur.
"Kau juga mendengarnya, orang-orang ini sudah hampir tewas, potensi di dalam jiwa mereka hampir terkuras habis...!"
Setelah itu, suara aneh dan parau terdengar dari dalam bayangan hitam tersebut, berkata kepada Zhang Moyi, "Aku akan menyerapnya sehari atau dua hari lagi, setelah itu mereka mungkin sudah tidak berguna... semuanya harus dibunuh dan dilenyapkan. Benar, apakah korban persembahan yang baru sudah disiapkan? Aku butuh lebih banyak orang, lebih banyak energi kebencian...!"
"Melenyapkannya tentu saja tidak masalah. Ini bukan pertama kalinya. Aku akan menyerahkannya kepada para orang kepercayaan makhluk itu, mereka akan mengurus mayat-mayat ini dengan bersih tanpa meninggalkan jejak apa pun."
Zhang Moyi pun menukas, "Hanya saja, sudah begitu banyak orang yang didatangkan, dan masih kurang...? Keadaan belakangan ini juga sedang tidak kondusif, aku khawatir..."
"Jika ilmu iblasku gagal..."
Namun, bayangan hitam itu hanya berkata, "Maka urusan tuanmu tidak akan bisa kuselesaikan dengan baik... Jika kau tidak sanggup melakukannya, ya sudah, aku akan kembali dan melaporkannya sendiri kepada Yang Mulia."
"Jangan. Kita semua bekerja untuk Yang Mulia."
Mendengar itu, Zhang Moyi buru-buru berkata, "Tidak perlu merepotkan Yang Mulia untuk segala hal... Namun, ini adalah gelompokan terakhir. Pengemis dan gelandangan di ibu kota ini sudah terlalu banyak yang mati dan menghilang... Jadi aku hanya bisa mengerahkan orang dari wilayah lain... Setelah urusan ini selesai, kuharap kau benar-benar bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh Yang Mulia darimu!"
"Bagus sekali... Hahaha..."
Mendengar ucapan tersebut, bayangan hitam itu mengeluarkan tawa yang terdengar mengerikan, "Kita bekerja sama dengan tulus dan saling memanfaatkan, bagus sekali! Yang Mulia dapat meraih hal besar, ilmu ku pun berhasil sempurna, dan kalian Keluarga Zhang, setelah Yang Mulia sukses nanti, juga akan mendapatkan kekayaan dan kehormatan... Semua pihak diuntungkan, inilah cara terbaik... Mengenai rakyat jelata rendahan ini, mati beberapa ribu atau belasan ribu orang, apa hebatnya sih?"
"Benar. Toh hanya mati beberapa orang rendahan..."
Zhang Moyi turut tersenyum dan menimpali. Namun, di dalam tatapan matanya, ia menyimpan niat membunuh yang tersembunyi terhadap bayangan hitam tersebut. Dirinya sendiri pada dasarnya adalah seorang pendekar pedang spiritual yang menempuh jalur kultivasi aliran lurus. Jatinya, ia pun tidak menyukai bangsa iblis, hanya saja saat ini ia tidak punya pilihan selain menyediakan manusia bagi iblis tersebut untuk disiksa demi tujuan berkultivasi. Oleh karena itu, meskipun di dalam hatinya ia diam-diam merencanakan untuk mencari kesempatan membasmi iblis ini setelah urusan tersebut selesai, ia tetap berkata kepada bawahannya di samping, "Kapan kelompok korban persembahan berikutnya akan tiba?"
"Menjawab Leluhur, tepat besok malam..."
Bawahan kepercayaan Zhang Moyi di samping langsung berlutut dengan satu kaki dan menjawab, "Mereka pasti akan tiba tepat waktu...!"
"Bagus..."
Zhang Moyi menganggukkan kepalanya, "Lakukan seperti sebelumnya... secara diam-diam, masukkan ke dalam... jangan tinggalkan celah."
"Baik, Leluhur."
Bawahan itu menjawab patuh.
Pedang terbang milik Zhu Shen menancap tersembunyi di sudut dinding, menyerupai sehelai rambut yang sangat kecil. Tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya. Setelah mendengarkan beberapa saat sampai titik itu, Zhang Moyi tidak lagi membicarakan hal-hal khusus lainnya. Selepas itu, Zhang Moyi bahkan berbalik pergi menuju bagian lain dari lumbung besar tersebut. Ia tiba di sebuah ruangan yang kelihatannya merupakan tempat kultivasi pribadinya di tempat ini.
Setelah mengamatinya sejenak.
Zhu Shen pun berhenti memperhatikan.
Meskipun tidak ketahuan.
Namun tetap tidak bijaksana untuk tinggal terlalu lama...
Ia segera menarik diri mundur.
Pedang terbang itu secara diam-diam kembali ke kamar loteng tempat mereka berada sebelumnya.
Bung...
Pedang terbang yang ukurannya sekecil sehelai rambut itu, setibanya di sana langsung bergetar hebat dan kembali ke ukuran aslinya.
"Hm? Tuan, Anda sudah kembali?"
Melihat hal itu, Qingyao bertanya kepada pedang terbang tersebut.
"Benar, aku sudah kembali...!"
Tubuh fisik Zhu Shen yang sedang duduk bersila membuka matanya. Ia melambaikan tangan, dan pedang terbang itu melesat kembali ke dalam genggamannya. Pada saat yang sama, sebuah batu hitam turut serta muncul menyertai kemunculan pedang terbang tersebut, tergenggam erat di telapak tangannya.
"Kalau begitu, malam ini kita..."
Qingyao langsung menanyakannya tanpa basa-basi, "Apakah kita tetap akan bertindak untuk membunuh Zhang Moyi? Apakah Zhang Moyi saat ini masih bersama dengan iblis bayangan hitam itu? Ataukah mereka sudah berpisah? Apakah ada kesempatan untuk menyerang?"
"Tidak usah terburu-buru."
Zhu Shen pun berkata, "Zhang Moyi saat ini sudah berpisah dari iblis bayangan hitam itu! Jika kita menyusup masuk, dengan kemampuanku, kita bisa masuk tanpa suara... Kita berdua menyerang bersama-sama, dipadukan dengan Jarum Pemusnah Jiwa Alam Baka milikku, seharusnya kita mampu membasmi Zhang Moyi itu! Namun, jika kita berbuat demikian, hal itu pasti akan menimbulkan keributan... Bagaimanapun juga, Zhang Moyi adalah pendekar pedang spiritual di puncak Alam Pemecah Baja, dia tidak akan langsung mati dalam sekali serang. Begitu keributan terjadi, tempat ini... dikhawatirkan akan segera memicu kehebohan. Aku khawatir malam itu juga mereka akan memindahkan dan membersihkan tempat ini tanpa sisa. Segala kejahatan di tempat ini... akan terkubur begitu saja."
"Kalau begitu, apa rencana kita?"
Qingyao bertanya meminta petunjuk.
"Rencana diubah."
Zhu Shen lantas berdiri, "Malam ini, kita tidak akan membunuh Zhang Moyi terlebih dahulu! Biarkan si Zhang Moyi itu hidup lebih lama sedikit... Kita runtuhkan dulu 'kekuatan' Keluarga Zhang... Keluarga Zhang ini ternyata begitu berani dan sangat biadab hingga berani bersekutu serta membantu iblis untuk menyiksa rakyat dan orang-orang tak berdosa... Ini adalah dosa besar! Awalnya mereka mengira di bawah lapisan formasi pertahanan yang berlapis-lapis tidak akan ada seorang pun yang bisa mendeteksi, sayangnya mereka malah berurusan denganku... Baguslah kalau begitu, biarkan aku... yang menegakkan keadilan bagi mereka yang mati secara mengenaskan serta mereka yang masih disiksa dengan keji ini...! Membalas dendam atas penderitaan mereka. Lagipula, dengan cara ini, tampaknya... segalanya menjadi lebih mudah... Sebenarnya jika aku memusnahkan Keluarga Zhang sendirian, aku punya banyak cara, tetapi akan ada banyak urusan sepele yang merepotkan... Namun, dengan tumpukan dosa besar yang melekat pada diri mereka, Keluarga Zhang ini hanya bisa dikatakan mencari binasa karena perbuatan mereka sendiri!"
"Bagaimana cara kita membalas dendam bagi orang-orang tak berdosa itu?"
Mendengar ucapan tersebut, semangat Qingyao tersulut seketika, dan ia bertanya, "Bagaimana cara kita menegakkan keadilan bagi mereka? Bagaimana cara memusnahkan Keluarga Zhang? Apakah benar, Tuan... Selama para bajingan keji ini, para iblis jahat ini, mendapatkan hukuman yang setimpal, Qingyao rela menempuh bahaya maut... demi membantu Anda!"
Ia begitu diliputi emosi yang meluap-luap.
Sampai-sampai ia mengucapkan kalimat rela menempuh bahaya maut.
Dari sini bisa dibayangkan seberapa besar guncangan yang ditimbulkan oleh pemandangan kejam tadi di dalam lubuk hatinya.
"Bahaya maut apa? Tidak perlu sampai separah itu."
Namun, mendengar perkataan tersebut, Zhu Shen justru melambaikan tangannya, "Hanya sebuah Keluarga Zhang. Nyawamu jauh lebih berharga dari itu. Kau bahkan belum genap tiga tahun mengabdi sebagai pelayanku, aku tentu tidak rela jika kau mati... Lagipula, Keluarga Zhang berani melakukan perbuatan sebiadab itu, berarti mereka memang sedang menggali kubur mereka sendiri... Dengan dosa sebesar itu yang melekat pada diri mereka, untuk apa kita harus repot-repot bertindak sendiri? Kita hanya perlu... meminjam pisau untuk membunuh orang."