Bab Dua Puluh Dua: Harta Tak Terduga
Meng Qinggu berlutut dan membenturkan kepalanya ke tanah, “Kakak tertua, juga para adik seperguruan, kini arwah kalian di alam baka boleh beristirahat dengan tenang. Hari ini kami telah membalaskan dendam kalian dengan menewaskan tunggangan sang iblis. Mohon restui kami agar di masa mendatang dapat menebas kepala sang iblis dan mempersembahkannya untuk kalian.”
Para murid Wudang lainnya serempak berteriak penuh amarah, “Kami bersumpah membalas dendam, membasmi sang iblis!”
Meng Qinggu berdiri, membungkuk di hadapan Qiu Suo dan berkata dengan hormat, “Saudara Qiu, aku telah berbuat lancang dan tidak mengenal kehebatanmu, mohon maklum atas segala ketidaksopananku tadi.”
Qiu Suo pun membalas hormat, “Kakak Meng, jangan berkata demikian. Tanpa bantuan kalian para murid Wudang, aku pun tidak akan mampu melakukan semua ini.”
“Saudara Qiu, selanjutnya apa yang harus kami lakukan?”
Qiu Suo merenung sejenak, memandang ke arah mulut gua kelelawar. Yang paling ia khawatirkan sekarang adalah Xiangcao. Ia tidak tahu bagaimana keadaannya.
“Kakak Meng, semuanya sudah selesai. Kalian boleh pergi sekarang. Sebelum para murid iblis keluar, sebaiknya kalian segera kembali ke Gunung Wudang!”
“Bagaimana denganmu? Kau tidak ikut?” tanya Meng Qinggu.
“Aku? Aku harus menunggu Xiangcao.”
“Baiklah,” Meng Qinggu membungkuk dalam-dalam kepada Qiu Suo. “Saudara Qiu, kami pamit!”
“Tunggu sebentar.” Qiu Suo tiba-tiba teringat sesuatu.
“Ada apa, Saudara Qiu?”
“Tolong bantu aku membawa bangkai binatang singa-harimau dan beruang bertaring itu ke sini. Kita panggang dan makan bersama.”
“Panggang dan makan?” Meng Qinggu hampir tidak percaya pada pendengarannya.
“Ya, apa kalian tidak lapar? Aku hampir mati kelaparan. Jika binatang aneh seperti ini tidak kita makan, masa mau dibiarkan jadi santapan semut dan anjing liar!”
Tak lama kemudian, kedua bangkai binatang itu sudah dibawa dan dilemparkan ke dalam perapian. Segera saja aroma daging panggang yang kuat memenuhi seluruh hutan pegunungan.
Qiu Suo menggunakan pedangnya untuk memotong sepotong besar daging yang telah matang.
“Kakak Meng, juga para saudara Tao, makanlah. Ini daging binatang buas yang hampir menjadi makhluk sakti. Memakan daging dan darah mereka dapat menambah kekuatan dalam berlatih ilmu!” Qiu Suo asal bicara saja.
Meng Qinggu berkata, “Saudara Qiu benar, mari kita makan.”
Sebenarnya para murid Wudang itu sejak tadi sudah menahan lapar, begitu mendengar izin dari kakak seperguruan, mereka langsung menerima daging dan melahapnya dengan lahap. Tak sampai lama, enam orang itu menghabiskan empat kaki harimau dan sepasang telapak beruang, semuanya kekenyangan hingga perut membuncit.
Meng Qinggu menepuk perutnya, lalu berdiri dan berkata, “Saudara Qiu, hari sudah larut, kami berpamitan.”
“Baik, aku tak akan mengantar. Eh, bawa saja sepotong daging untuk bekal di jalan!” Qiu Suo berkata, lalu menyodorkan sepotong besar daging harimau ke pelukan Meng Qinggu.
Meng Qinggu agak terkejut. Sebagai seorang pendeta, ia biasa hidup sederhana, tiba-tiba bertemu Qiu Suo yang begitu hangat membuatnya agak canggung.
“Saudara Qiu, aku akan menunggumu di Gunung Wudang.”
Sebelum pergi, Meng Qinggu meninggalkan kata-kata yang terasa janggal. Qiu Suo dalam hati bertanya, untuk apa aku ke Gunung Wudang? Bukankah perguruan Wudang kalian hampir dihancurkan oleh Sekte Iblis?
Saat ini, Qiu Suo sama sekali tak pernah membayangkan dirinya suatu hari akan punya hubungan dengan Wudang.
Baru beberapa langkah berjalan, salah satu murid Wudang berbisik, “Kakak kelima, di Lembah Awan Melayang ini banyak binatang buas, bagaimana kita bisa turun gunung?”
Ucapan itu terdengar jelas oleh Qiu Suo. Ia buru-buru menimpali, “Saudara Tao, jangan terlalu khawatir. Setelah kegaduhan barusan dengan belasan binatang aneh, harimau, serigala, dan macan tutul di gunung ini pasti sudah kabur jauh-jauh. Mana ada yang berani keluar? Tenang saja, turunlah, tak apa-apa.”
Setelah mereka pergi, hutan pegunungan itu menjadi sangat sunyi.
Angin gunung berhembus melewati abu di dalam kandang besi, mengangkat bara-bara kecil, menguar aroma segar dari dedaunan dan bau hangus dari bulu binatang yang terbakar. Tak jauh dari sana, Puncak Awan Melayang berdiri sendiri di antara langit dan bumi. Beberapa gumpal awan putih melintas di puncaknya, seekor bangau putih berputar-putar sendirian.
Qiu Suo memandangi semuanya dengan gelisah. Banyak hal melintas di benaknya, namun tak satu pun ia temukan jawabannya.
Bagaimana keadaan Xiangcao sekarang? Apa yang terjadi di dalam gua? Apakah mereka segera keluar? Haruskah aku masuk mencarinya?...
Bagaimana cara memanjat Puncak Awan Melayang? Di mana sarang madu Bunga Suci itu? Bagaimana cara mendapatkannya? Untuk apa bangau putih itu berputar-putar di sana?...
Bagaimana jika para sepuluh murid Sekte Iblis dan Kepala Huang tidak terperangkap di gua kelelawar? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana caranya menghindari mereka? Bagaimana bisa merebut madu Bunga Suci dari tangan mereka?...
Pertanyaan demi pertanyaan bersarang di benak Qiu Suo. Ia tak menemukan jawaban, tak juga solusi.
Tiba-tiba, matanya menatap tumpukan abu itu.
Bangkai para binatang buas telah hangus terbakar, angin gunung meniup abu hingga berterbangan. Di antara abu itu, sepasang benda putih berkilau seperti giok menarik rasa ingin tahu Qiu Suo.
Ia mendekat, mengais abu, dan mengambil dua taring binatang yang panjang.
Itulah dua taring raksasa dari beruang bertaring! Kedua taring itu telah dilalap api, namun bukan saja tak hancur, malah tetap utuh bentuk dan warnanya—benar-benar ajaib!
Qiu Suo membelai kedua taring itu. Permukaannya halus, dingin hingga menembus kulit, dan yang paling aneh, kedua taring besar itu ternyata sangat berat, seperti dua batang besi murni.
Qiu Suo diam-diam heran, bagaimana bisa ada binatang buas dengan taring seperti ini?
Ia teringat ketika di Lembah Yin Yang, saat ia menyerang binatang itu secara diam-diam, sang beruang mengayunkan taringnya dan berhasil menjatuhkan pedangnya, bahkan membuat telapak tangannya terluka. Jelaslah, taring ini tidak kalah kuat dibanding pedang pusaka.
Ia berdiri, mencoba mengayunkan salah satunya dengan ringan. Terdengar suara nyaring, taring itu membentur kandang besi dan sebatang besi langsung patah. Ia menambah tenaga, mengayunkan kedua taring itu dengan keras, dan seketika lima batang besi kandang terpotong seolah tanpa perlawanan.
Sungguh harta karun yang mampu membelah besi seperti membelah tahu!
Qiu Suo tak henti-hentinya terkagum-kagum.
Ia juga merasa sangat beruntung. Jika bukan karena singa-harimau dan beruang bertaring itu saling membinasakan, jelas mereka berlima tidak akan mampu menaklukkan binatang itu. Walau sudah terjebak di kandang, cukup sekali ayunan taring saja...
“Ah, akibatnya pasti mengerikan!” gumam Qiu Suo sambil menggeleng.
Ia menyembunyikan kedua taring itu di tubuhnya. Barang berharga seperti ini tak boleh sembarangan diperlihatkan.
Saat itu, ia mendengar suara dari arah mulut gua.
Cepat-cepat ia bersembunyi di balik gundukan tanah, mengintip diam-diam.
Apakah itu Xiangcao yang keluar?