Bab Delapan Belas: Bertemu Lagi dengan Liu Feng
Sudah beberapa hari sejak Ling'er dan yang lainnya kembali dari hutan. Sejak berpisah dari mereka, "Pendekar Bebas" belum juga datang mencarinya. Beberapa hari ini, Ling'er pun semakin giat berlatih jurus Pedang Terbang Phoenix. Hubungan antara Yun Li dan Xia Yuan, setelah sama-sama melewati bahaya maut, kini tak lagi saling menyerang satu sama lain.
Ling'er sedang bermeditasi di luar, ketika terdengar suara, "Ibu, kenapa akhir-akhir ini Ibu tidak memperdulikan Jue'er? Apakah Jue'er ada salah?"
Mendengar itu, Ling'er tersenyum dan berkata pada Jue'er, "Jue'er mana mungkin membuat Ibu marah, hanya saja beberapa hari ini Ibu memang agak sibuk, jadi mungkin sedikit mengabaikanmu. Jangan dimasukkan ke dalam hati ya, sayang?"
"Benarkah? Ibu benar-benar tidak membenci Jue'er?"
Ling'er mengangkat kedua tangan di atas kepala, bersumpah, "Ibu takkan pernah membenci Jue'er," seketika wajah Jue'er pun berseri-seri bahagia.
"Kalau begitu, Ibu, hari ini kita pergi jalan-jalan, ya?" Dengan polos menatap Ling'er, Ling'er menatap wajah polos Jue'er dan berpikir, setelah beberapa hari terus berlatih, memang sudah saatnya istirahat.
"Baiklah, kau panggil juga Kakak Yun dan Kakak Xia, ya." Begitu mendengar itu, wajah Jue'er langsung cemberut, lalu berkata pelan, "Aku cuma ingin jalan-jalan berdua saja dengan Ibu." Ling'er tak bisa berbuat apa-apa.
"Baik, baik, hari ini Jue'er yang paling besar. Tunggu sebentar ya, Ibu ganti baju dulu."
Ling'er mengenakan pakaian ungu yang kemarin sudah dicuci oleh Xing'er, lalu menggandeng tangan Jue'er dan berangkat keluar.
Sementara itu, Liu Feng juga sudah beberapa hari berlatih di rumah. Latihan keras itu ternyata tidak membuat tubuhnya lelah, justru lemak di tubuhnya mulai berkurang. Ia mengenakan jubah panjang putih kebiruan. Dulu, tubuhnya yang gemuk membuat orang tak sadar bahwa ia sebenarnya bertubuh tinggi. Kini, setelah berat badannya turun, semangatnya jadi lebih terpancar, dan ia tampak sangat gagah. Wajahnya pun memiliki daya tarik yang mampu membuat para wanita terpesona. Di bawah sinar matahari, wajahnya tampak seputih giok. Dahulu, kegemukan mungkin memengaruhi bentuk alisnya, kini sepasang alis tebal itu justru memberi kesan gagah pada wajahnya. Meski penampilannya sedemikian rupa, Liu Feng tetap tampak sangat tenang.
Liu Feng sedang berlatih di taman kediaman perdana menteri, ketika terdengar teriakan gembira, "Kakak kedua, kakak kedua! Hari ini ada pasar malam di luar, pasti ramai sekali. Yuk, kita keluar main." Tanpa menoleh pun ia tahu adik keduanya itu pasti sedang bersemangat. Adiknya memang polos seperti anak kecil, selalu penuh harapan pada segala sesuatu yang indah. Liu Feng menoleh, menatap senyum polos adiknya, dan tak kuasa ikut tersenyum.
"Kakak kedua, ayo, kita pergi!" sambil berkata, adiknya menggoyang-goyangkan lengannya. Liu Feng mengalah, tak ingin mengecewakan adiknya.
"Ayo, kita berangkat!" katanya sambil berjalan duluan, meninggalkan Liu Jie yang sempat tertegun, namun segera berlari gembira menyusul, "Kakak kedua, tunggu aku!" serunya.
Ling'er menggandeng Jue'er menuju pasar. Begitu sampai, mereka baru tahu bahwa hari ini ada pasar malam. Selama ini Ling'er jarang keluar istana, tapi sering mendengar dari para kasim dan dayang betapa ramainya pasar setiap kali ada pasar malam. Ia selalu ingin keluar untuk melihatnya sendiri, namun pengawasan ibunya terlalu ketat sehingga tidak pernah mendapat kesempatan. Lama-lama, keinginan itu pun terlupakan. Tak disangka, hari ini ia akhirnya bisa melihat keramaian pasar malam.
Jue'er begitu penasaran pada segala hal, sebentar melihat ini, sebentar melihat itu, sama persis seperti Ling'er saat pertama kali keluar istana. Benar-benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya!
"Jual permen buah! Permen buah yang harum dan manis, ayo dibeli!" terdengar suara penjaja di pinggir jalan.
Ling'er dan Jue'er menoleh ke arah penjaja itu. Penjaja itu pun pandai berdagang, begitu melihat ada yang melirik, ia segera berkata,
"Tuan muda, ingin beli permen buah? Permen buah buatan kami dijamin enak, pasti ketagihan setelah mencobanya."
Sambil berkata, ia menyodorkan masing-masing satu tusuk pada Jue'er dan Ling'er. Keduanya langsung memakannya tanpa peduli penampilan. Satu tusuk permen buah ternyata tidak cukup, mereka pun mengambil satu lagi masing-masing dan terus makan. Entah berapa lama setelah itu, barulah mereka merasa kenyang, sambil mengelus perut sendiri.
"Aduh, kenyang sekali." Usai makan, mereka pun hendak pergi. Awalnya sang penjaja melihat pakaian mereka yang bagus dan mengira mereka orang kaya, jadi ia membiarkan saja mereka makan sepuasnya. Semakin banyak makan, semakin besar keuntungannya. Tapi begitu mereka selesai dan hendak pergi tanpa membayar, ia pun tidak terima.
Penjaja itu rupanya bukan orang yang mudah ditipu.
"Kalian belum bayar, kok mau pergi begitu saja?" Ling'er yang terlalu kenyang sampai lupa membayar, menepuk kepala dan tersenyum minta maaf pada penjaja itu. Penjaja itu sejenak terpana melihat kecantikan Ling'er.
Ling'er menggeledah kantong bajunya, tapi ternyata ia lupa membawa uang. Biasanya, urusan seperti ini selalu diurus oleh Xing'er atau Yue'er.
Penjaja itu masih terpesona oleh kecantikan Ling'er, hingga suara Ling'er yang agak malu-malu terdengar,
"Maaf, aku lupa membawa kantong uang. Nanti aku pulang dulu, setelah itu aku akan membayar. Bagaimana, bolehkah?"
Begitu mendengar itu, penjaja itu menduga mereka memang berniat makan gratis. Wajahnya pun langsung berubah dingin.
"Lupa bawa uang? Huh, jadi keluar rumah mau apa?" Ling'er pun wajahnya menjadi dingin.
"Kau mau cari masalah denganku?"
"Wah, zaman sekarang, makan tak bayar saja sudah berani sombong. Percaya tidak, sebentar lagi bakal kuantar kalian ke penjara," kata penjaja itu dengan galak. Rupanya ia memang sering mentraktir sipir penjara minum arak dengan uang hasil dagangan, dan kali ini ia ingin memanfaatkannya.
Ling'er pun mulai kesal.
"Penjara? Ha, hanya karena kau? Percaya tidak, aku bisa membuatmu tak bisa bertahan hidup di kota ini!"
Namun penjaja itu tidak gentar, malah makin galak.
"Wah, aku takut sekali! Bayar permen buah saja tidak mampu, masih belagu. Hati-hati, jangan sampai suatu hari mati tanpa tahu sebabnya," katanya sambil melotot pada Ling'er.
"Kalau memang benar-benar tak mampu membayar, aku tidak memaksa, tapi kau harus kerja padaku sampai lunas hutangmu!" tambahnya lagi.
Sebenarnya perkataan itu tak terlalu masalah, tapi Ling'er yang sudah marah sama sekali tak menghiraukannya. Akhirnya, orang-orang mulai berkumpul mengelilingi mereka.
Penjaja itu berkata, "Kalau begitu, jangan salahkan aku!" Lalu ia memanggil seorang anak kecil di dekatnya, "Kau, pergi ke kantor pengadilan, sampaikan pesanku." Anak itu yang ketakutan segera lari pergi.
"Kau akan menyesal," kata Jue'er dengan wajah seperti menonton pertunjukan. Penjaja itu mulai agak takut, jangan-jangan mereka benar-benar punya latar belakang? Ia melirik Ling'er, dan mendapati bahwa aura wanita itu memang berbeda, ada aura kebangsawanan yang sulit ditutupi. Tapi, melihat kerumunan orang, ia tak mau kehilangan muka. Kalau ia membiarkan mereka pergi begitu saja, bukan hanya hari ini ia rugi, ke depannya juga akan kehilangan wibawa. Maka ia pun mengangkat dagu, semakin mantap.
Liu Jie yang penasaran ikut melihat ke arah Ling'er. "Kakak kedua, kakak kedua, di sana ramai sekali, ayo kita lihat!" Liu Jie memang suka keramaian. Tapi Liu Feng kurang tertarik, "Kau saja yang pergi, aku tunggu di sini." Liu Jie sudah berlari tanpa menoleh lagi. Liu Feng tersenyum tak berdaya, lalu mengamati sekeliling dengan matanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara keributan dari kerumunan, suara Liu Jie juga terdengar. "Berapa sih, biar aku bayar?" Liu Jie memang berhati baik, melihat kejadian seperti ini ia ingin membantu Ling'er. Menurutnya, Ling'er tak tampak seperti orang yang suka berutang. Liu Feng, khawatir adiknya tertipu, segera berjalan cepat ke arah kerumunan. Ia menyibak orang-orang dan bertanya pada Liu Jie apa yang terjadi. Liu Jie pun menjelaskan apa yang ia tahu, lalu bertanya, "Kakak kedua, menurutmu, dia itu tipe orang yang suka ngemplang utang?" sambil menunjuk Ling'er. Baru saat itu Liu Feng memperhatikan Ling'er, hatinya bergetar, bukankah ini orang yang waktu itu pernah membantunya? Ling'er masih menunduk diam menunggu aparat pengadilan datang, tak menoleh sedikit pun, sampai merasakan ada yang menatapnya; ia mengira aparat sudah datang.
"Tangkap saja! Masukkan ke penjara, aku..." Baru saja mengangkat tangan, ia menoleh dan melihat Liu Feng, merasa agak familiar. Memang, perubahan Liu Feng sangat besar, sementara Ling'er, selain makin tampan, tak banyak berubah. Maka Liu Feng langsung mengenali Ling'er, tapi Ling'er tidak mengenali Liu Feng.
Liu Feng berpikir, "Tampaknya dia sudah melupakanku." Ia merasa sedikit kecewa. Lalu ia berbalik dan berkata pada penjaja,
"Aku yang akan membayar utangnya, tak usah kembalian." Ia pun mengeluarkan selembar uang perak dari lengan bajunya.
Penjaja itu melotot, seratus tael! Itu penghasilannya selama beberapa tahun! Matanya berbinar, langsung menerima uang itu, lalu membungkuk-bungkuk hormat pada Liu Feng, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan saat menghadapi Ling'er tadi.
Ling'er menatapnya dingin, tak berkata apa-apa lagi, lalu memandang Liu Feng dan berkata, "Terima kasih atas bantuan Tuan barusan. Tolong beri tahu alamat rumahmu, nanti aku akan mengembalikan uangnya." Liu Feng menggeleng,
"Tidak usah dikembalikan. Anggap saja sebagai balas budi karena dulu kau telah membuatku sadar."
Begitu mendengar kata 'membuat sadar', Ling'er langsung teringat kejadian di penginapan waktu itu.
"Si gendut bertelinga lebar, kau itu siapa sih?" Setelah berkata begitu, Ling'er pun menyesal, kenapa harus mengungkit luka lama orang lain? Tapi sungguh, perubahannya luar biasa. Sekarang sudah jadi pria tampan.
Liu Feng malah merasa hangat mendengar panggilan itu, tidak merasa tersinggung, malah merasa akrab. Ia pun tersenyum lembut pada Ling'er.
----------------------
Catatan penulis:
Bab berikutnya adalah bagian utama, jangan lewatkan!