Bab 33: Musyawarah
“Kita berdua akan berbisnis bersama?”
Nyonyah Qiu mengangkat kepala, terkejut memandang Nyonyah Ding, hampir saja mengira dirinya salah dengar. Keluarganya, yang hanya seorang nelayan miskin, bisa berbisnis dengan keluarga Ding? Bisnis apa? Apakah Nyonyah Ding akan membantu keluarganya menangkap dan menjual ikan? Tapi desa Jiangjiaba berada di tepi danau dan sungai, kekurangan apapun, mungkin yang paling tidak kurang adalah ikan.
“Benar, memang ingin berbisnis dengan keluargamu.”
Nyonyah Ding meneguk air hangat yang dituangkan oleh Lu Xiaoqing, lalu melanjutkan, “Kemarin sore, kau suruh anak keempatmu mengantar usus babi yang diolah, suamiku sangat menyukainya, bilang enak sekali, dan memintaku bertanya padamu, apakah kami boleh menjual usus babi olahan itu?”
Nyonyah Qiu sempat tidak bereaksi, kebingungan memandang Lu Yaoge, namun secara naluriah menjawab, “Apa yang tidak boleh? Keluargamu mau menjual usus babi ya silakan saja.”
Keluarga Ding punya toko daging, mau menjual usus babi, kenapa harus meminta izin darinya?
Melihat Nyonyah Qiu belum mengerti, Nyonyah Ding langsung meraih tangan Nyonyah Qiu dengan sikap tulus, “Tidak bisa begitu, usus babi ini hasil keahlianmu, meski aku ingin menjualnya, keuntungan harus dibagi denganmu. Sebelum ke sini, aku sudah diskusikan dengan suamiku, usus babi dari kami, kau yang mengolah, aku yang menjual. Kita bagi tiga dan tujuh, kau tiga aku tujuh, bagaimana?”
Tentu saja ia ingin menjual sendiri, tapi tidak punya keahlian itu. Keluarga sudah bertahun-tahun menjual daging babi, sudah berapa banyak usus babi yang dibuang, tak terhitung. Belum pernah makan usus babi seenak ini, rasanya sampai ingin menelan lidah sendiri.
“Tiga tujuh bagi?”
Lu Xiaoli yang pertama bereaksi, terkejut hingga segera menutup mulutnya. Sepasang mata besarnya yang jernih menatap malu-malu pada Nyonyah Ding, lalu dengan rasa bersalah memandang Nyonyah Qiu.
Ia tidak bisa menahan rasa terkejut, makanya jadi tidak sopan.
Nyonyah Qiu melirik putri keduanya dengan tenang, lalu memandang putri sulungnya yang tengah menjahit sepatu di samping, tanpa berkata apa-apa.
Lu Xiaoqing segera paham, bangkit dan menarik Lu Xiaoli keluar, “Ayo, kita keluar.”
Ia tahu ibunya sedang tidak senang, kalau tidak segera membawa Lu Xiaoli pergi, nanti kalau Lu Xiaoli mengucapkan sesuatu yang buruk, ibunya pasti tidak akan memaafkannya.
Lu Yaoge tidak merasa ada yang aneh dengan sikap kakaknya, di desa, kedatangan Nyonyah Ding saja sudah sangat mengejutkan. Apalagi beliau mengajak berbisnis bersama, dengan pembagian tiga tujuh.
Keluarga Ding menyediakan usus babi, keluarganya hanya perlu mengolahnya, pembagian tiga tujuh itu benar-benar keuntungan bersih.
Paling hanya butuh tenaga, kayu bakar dan bumbu.
Bukan hanya Lu Xiaoli yang terkejut, bahkan dirinya pun kagum dengan ketegasan dan kemurahan hati Nyonyah Ding.
Nyonyah Qiu tersenyum canggung pada Nyonyah Ding, “Kakak jangan tersinggung, ini salahku belum mendidik anak dengan baik.”
“Apa-apaan, aku justru suka anakmu yang apa adanya.”
Nyonyah Ding tidak mempermasalahkan, malah merasa senang melihat keterkejutan Lu Xiaoli, “Jadi bagaimana menurutmu, bisa kita berbisnis bersama?”
“Ini...” Nyonyah Qiu termenung.
Nyonyah Ding datang menawarkan kerja sama, usus babi dari keluarga Ding, resep dari keluarganya, pembagian tiga tujuh, terlihat keluarganya sangat diuntungkan.
Tapi...
Setelah berpikir lama, Nyonyah Qiu tetap menggeleng, menolak, “Kurasa ini kurang tepat.”
“Kenapa tidak tepat?”
Nyonyah Qiu mengangkat tangan, tidak menutupi kemiskinan keluarganya, “Kakak lihat sendiri, rumah kami bahkan tidak punya dapur layak, bagaimana bisa berbisnis usus babi?”
Dapur keluarga hanya tungku lumpur buatan Lu Quan sendiri, satu panci kecil dipakai masak dan memasak lauk, yang penting bisa memasak beras sudah cukup, siapa peduli soal rasa.
Tapi kalau mau berbisnis dengan keluarga Ding, paling tidak harus ada dapur yang layak, tungku yang benar, dan panci besar.
“Tidak masalah.”
Nyonyah Ding tertawa lebar, “Kalau tidak ada tempat, kau masak di rumahku saja, keluarga kami banyak orang, sering menyembelih babi dan memasak air, punya dua dapur, pancinya besar.”
Nyonyah Qiu tetap menolak, “Tidak bisa, kurang nyaman.”
Dia tidak bodoh, kalau masak di rumah Ding, dalam beberapa hari saja resep usus babi olahan pasti akan dipelajari keluarga Ding, nanti mereka bisa mengusir keluarganya dan mengolah sendiri, lalu apa gunanya berbisnis bersama?
Nyonyah Ding tidak malu meski niatnya ketahuan, malah antusias menawarkan solusi, “Kalau tidak, sewalah rumah di kota. Anak-anakmu masih kecil, hidup di atas air sepanjang tahun juga bukan solusi.”
Melihat Nyonyah Qiu diam, Nyonyah Ding menawarkan, “Uang sewa rumah, keluarga kami yang bayarkan dulu, nanti setelah bisnis jalan, dikurangi dari keuntungan.”
Ia benar-benar yakin usus babi olahan keluarga Lu ini enak, makanya begitu semangat.
Melihat kondisi keluarga Lu, Nyonyah Ding pikir, asal ia tawarkan usus babi dari keluarga Ding, resep dari keluarga Lu, pembagian tiga tujuh, keluarga Lu pasti mau.
Keluarga Lu memang sangat miskin, hanya punya satu perahu, meski terlihat lumayan besar, paling tidak sudah belasan tahun.
Sekalipun dirawat dengan baik, tetap saja perahu kecil yang sudah tua.
Tidak bisa bawa barang dagangan, hanya bisa menangkap ikan di sekitar, kebutuhan keluarga pun masih bergantung pada Lu Quan yang bekerja di pintu air.
Setelah Lu Xiaoqing dan Lu Xiaoli keluar, di ruang depan hanya tinggal Nyonyah Ding dan Nyonyah Qiu, juga Lu Xiaowu yang sedang tidur dan Lu Xiaosi yang duduk diam.
Nyonyah Qiu menunduk, kedua tangan saling menggenggam dengan canggung. Melihat Nyonyah Ding menunggu jawabannya, ia pun menuangkan teh ke cangkir Nyonyah Ding.
“Hal ini harus aku diskusikan dulu dengan suamiku.”
Kali ini, Nyonyah Qiu tidak bilang setuju atau tidak, tapi dengan berkata harus berdiskusi, artinya tidak menolak.
Soal bagaimana berdiskusi, dan apa yang didiskusikan, itu urusan suami istri.
“Baik, kau diskusikan dulu dengan suamimu.” Nyonyah Ding meneguk teh di cangkir dengan tenang, tidak terlihat terburu-buru.
Sebenarnya, hatinya cukup gelisah, hanya saja tidak tampak.
Cuaca semakin panas, daging tidak bisa disimpan lama, apalagi usus babi dan jeroan, cepat sekali rusak.
Kalau siang tidak laku, tidak bisa dibagikan, hanya dimakan sendiri.
Keluarganya penyembelih babi, setiap hari lihat daging, tidak ada yang suka usus babi yang berbau.
Nyonyah Ding tidak bisa bilang agar mereka segera berdiskusi, ia masih menunggu bisnis usus babi ini berjalan.
Sebenarnya, setelah makan usus babi dari keluarga Lu kemarin, Nyonyah Ding sudah memutuskan ingin menjual usus babi olahan.
Keluarga Ding penyembelih babi, daging babi laku, usus babi jarang ada yang beli.
Karena bau, meski sudah dimasak, keluarga pun enggan makan, biasanya lebih sering dibagikan daripada dijual.
Kalau ia bisa membuat usus babi olahan yang enak, nanti usus babi dari rumahnya tidak perlu dibagikan gratis, malah bisa menghasilkan uang. Kalau pun usus babi jadi tidak laku, ia tidak khawatir, anaknya banyak, usus yang enak dibagi saja.
Alasan Nyonyah Ding tidak langsung datang kemarin adalah karena ia mencoba bersama menantu membuat usus babi olahan dengan rasa seperti keluarga Lu.
Entah dimana letak kesalahannya, ia mencoba beberapa macam, tapi hasil akhirnya semua rasanya sulit dijelaskan.
Bukan tidak enak, tapi memang jauh dari kata lezat.
Usus babi seperti itu masih bisa dimakan sekali-sekali, namun kalau dijual, hanya orang bodoh yang mau membeli.